
Pedro memasangkan dasi pada lehernya. Melengkapi penampilannya yang telah sempurna dengan setelan jas berwarna broken white.
Lelaki itu mendesah panjang, dia merasa tercekik menggunakan kain panjang tersebut.
"Kenapa orang-orang seperti Ardan bisa sangat santai memakai ini?" gumamnya seraya melilitkan dasi itu.
Tengah sibuk pada dasi di lehernya, gerakan tangan itu terdiam saat mata mendapati pantulan sang istri dari cermin yang ada di depan.
Baru kelur dari ruang fitting dengan gaun putih yang menampilkan bahunya. Sebuah mahkota sederhana yang Nara kenakan sangat sepadan dengan sanggulan tinggi ke atas. Pedro bergeming, memandangi bayangan itu dari dalam cermin.
Bibir sensual gadis itu melengkung dengan sangat indah. Terlebih, melihat reaksi Pedro yang terpaku di depan cermin.
"Bagaimana menurut kamu, Dokter?" tanya Nara.
Pedro berdehem, tangannya kembali sibuk melilitkan dasi di leher. Kenapa benda itu tidak mau bersahabat?
Kinara terkikik, dengan menyingkap gaun lebar itu ia mendekati Pedro.
Tangannya mengambil alih, binar jernih itu menatap wajah Pedro lamat.
"Biar aku bantu," kata Nara dengan senyum yang terkulum lebar.
Lelaki itu mengalah, sedikit mendongak ia membiarkan Nara membenarkan letak dasi yang akan dikenakan.
Tajam iris kecokelatan itu menatapi wajah sang istri. Dengan rambut yang tersanggul tinggi ke atas, bagian bahu yang terbuka.
Membuat Pedro menelan salivanya berat. Lelaki itu mendesah seraya memejamkan matanya. Mati-matian meredam hasrat.
"Sudah." Kinara mendongak, tanpa sengaja mata mereka bertemu.
Lamat, Pedro menatapi binar jernih itu. Lalu kedua tangannya menarik pinggang Nara untuk mendekat.
Sedikit terkejut, Kinara maju ke depan. Kepalanya menoleh, melihat tangan Pedro yang melingkari pinggangnya.
Saat kepala itu berbalik, sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Mata bulat itu melebar, terdiam dengan gemuruh di dada yang tidak bisa diam.
Lelaki itu mensesap pelan, deru hangat napasnya semakin membuat jantung Kinara berdegup tidak karuan.
"Berjanjilah untuk selalu menjadi pendampingku, Kinara," ucap Pedro lembut.
"Dokter--" Ucapan itu terhenti saat Pedro kembali mengecup bibirnya.
Kedua tangan lelaki itu menaik, menangkup di pipi Kinara. Menempelkan dahinya pada dahi Kinara.
"Jangan panggil aku Dokter lagi. Biasakan panggil aku Pedro, Nara."
Gadis itu bergeming, matanya terus menatapi wajah Pedro dengan jarak yang sangat dekat. Kedua mata tajam itu terpejam dengan helaan napas panjang yang terdengar.
"Berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkanku, Nara."
Lelaki itu membuka matanya, menautkan dua binar itu ke dalam mata Nara.
"Hari ini aku ingin melamarmu kembali. Tanpa kesalahan dan tanpa paksaan keadaan."
Manik hitam pekat itu bermain, bingung oleh keadaan yang terlanjur intens.
"Menikahlah denganku, Kinara."
Netra hitam itu menatap wajah. Perlahan bibir sensualnya terkembang, pelan anggukan dia berikan.
Pedro mendekap badan itu erat. Menghela napas yang sangat lega. Beberapa kali hidung mancung itu menyentuh bahu terbuka milik Nara.
Membuat sang gadis bergidik, merinding karena sentuhan lembut itu.
"Em, Dokter. Kita masih di toko baju." Risi, wanita itu meleraikan pelukan Pedro.
"Biasakan panggil aku Pedro, Nara."
"Em, aku tidak terbiasa menyebut nama seseorang saja."
"Lalu?"
Kinara memainkan bibirnya, pendar mata bundar itu menatap ke arah wajah.
"Kak?"
Lelaki berdarah Spanyol itu mengangguk, menyentuh pucuk kepala Nara.
"Apa pun yang kamu suka."
***
Arfi memerhatikan wajah cantik itu lamat-lamat. Tersenyum lebar melihat Surya yang sedang bermain di rerumputan.
Sementara tangan masih mendekap Yena dengan erat. Sesekali menepuk tangannya, agar bayi mungil itu tidak rewel dan menangis.
Lelaki berambut pirang itu mendesah panjang. Semakin dekat, semakin erat pula rasa ingin memiliki gadis berhijab ini.
Ikhlas? Bisakah dia melakukannya?
"Hem." Gadis itu menoleh, melihat Arfi yang duduk di sebelahnya. Lalu, pandangan menunduk ke bawah.
"Pernah gak kamu berangan, bahwa suatu hari kita akan duduk seperti ini? Ada kamu, ada aku dan anak-anak. Bukan menjaga dan memerhatikan anak orang lain, melainkan anak-anak kita sendiri?"
Gadis itu menelan saliva, getir. Bibir ranumnya mengembang, pertanyaan itu bagaikan pedang yang menghunjam perasaan.
"Jujur padaku, Khadijah. Kali saja, pernahkah rasa itu menyapa hatimu?"
Gadis itu menunduk, lantas mengubah posisi Yena agar bayi cantik itu tetap nyaman.
"Khadijah," panggil Arfi lagi.
Mata indah itu melirik, tetapi tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
"Jujurlah sekali ini saja. Apa yang mau disembunyikan lagi? Bukankah saat ini semua juga sudah serumit ini?"
"Apa yang harus aku akui, Arfi?" tanya gadis itu lembut.
"Akuilah perasaanmu saat ini. Kumohon jujurlah padaku, walau kita memang tidak bisa bersatu. Setidaknya pertanyaan itu tidak lagi menganggu." Arfi menarik napas, matanya melirik ke arah Khadijah.
"Pertanyaan tentang perasaanmu selama ini padaku, misalnya."
Mata bundar itu melirik sekilas, lalu menatap mega di atas sana, senja, sebagian oranye telah tercetak di ufuk sana.
"Dulu, aku memang pernah menyanyangimu. Pernah mencintaimu dan percaya sepenuh hati padamu. Dulu, itu dulu, Arfi." Mata itu melirik kembali, menatap Arfi yang tertunduk perlahan.
Ada yang sakit, walau dia yang salah. Mengapa melepaskan Khadijah sangatlah susah?
Hatinya terpaut akan cinta yang sesungguhnya. Selama ini dia bisa mendapatkan wanita mana saja, kali ini sekuat tenaga ia mengejar. Bukannya semakin dekat, malah semakin susah didapat.
Tidak rela, terlebih gadis itu akan menjadi istri sahabat kakaknya. Kedepannya? Entah bagaimana dia akan berhadapan dengan mereka.
Arfi mendesah, mengusap rambutnya. Kenapa harus serumit ini pada akhirnya?
"Mungkin ... masih sampai saat ini."
Kepala lelaki itu menoleh, kaget. Memandangi wajah sendu yang tengah tersenyum lembut itu.
"Tetapi ada yang tidak bisa diulangi lagi, sekuat apa kita menginginkannya. Ada yang telah terlewat, dan saat kamu kembali, dia tidak akan sama lagi."
Gadis itu menoleh, memandangi wajah Arfi.
"Waktu yang telah terbuang. Tidak akan bisa kamu pungut ulang. Ada yang terlewatkan olehmu, saat kamu kembali. Dia tidak ada lagi di sana. Karena meninggalkan itu lebih mudah dibandingkan ditinggalkan. Kamu bisa saja menyesal, tetapi apa yang telah kamu tinggalkan telah melangkah ke arah lainnya. Lantas, apakah kamu pikir bisa kembali ke semula? Sebab apa yang kamu tinggalkan sudah tidak lagi sama."
"Khadijah, jika tidak ada Kak Ferdi di antara kita. Bisakah? Bisakah kita menikah?"
"Tapi kenyataannya ada Pak Ferdi di antara kita. Jangan berandai-andai, tentang apa yang tidak mungkin hilang, Arfi."
"Jika aku katakan pada Kak Ferdi untuk mengalah. Bisakah?"
Gadis itu tersenyum, wajahnya tertunduk dengan elusan di kepala Yena.
"Kamu tega menyakitinya? Arfi percaya jodoh, gak?"
Lelaki itu terdiam, lalu kepalanya mengangguk pelan.
"Yang berjodoh tidak akan pernah bisa terpisah, Arfi. Bahkan, yang terbenam di belahan bumi yang entah. Tetap akan bertemu. Karena jodoh, bukan perkara kamu mencintainya atau bukan. Atau kamu menginginkannya atau tidak. Tetapi jodoh, perkara Allah merestui, atau tidak."
"Bisakah aku menikungmu di sepertiga malam? Aku pernah mendengarnya, apakah itu bisa?"
Bibir ranum itu terkembang, lebar.
"Coba saja. Tapi aku percaya, apa pun yang telah ditakdirkan untuk kita. Tidak akan pernah ditikung, direbut atau dirampas oleh orang lain. Karena Dia telah menakarnya, menciptakan untuk saling melengkapi. Percayalah Arfi, jika bukan aku. Akan ada wanita yang akan melengkapimu."
"Tapi yang aku cintai kamu, Khadijah!"
Gadis itu mendesah, ia bangkit dan berjalan ke arah Surya. Menggandeng tangan bocah itu untuk dibawa kembali ke rumah.
Mengakhiri percakapan ini sebelum luka yang berusaha untuk dikubur kembali terbuka dan melebar.
"Ayo pulang. Tidak baik buat bayi ada di luar saat senja begini."
Lelaki itu mengangguk, satu tangannya mendekap Surya dan berjalan di depan Nigar.
Lamat mata bundar itu memerhatikan punggung Arfi. Sebenarnya ada rasa yang sekuat tenaga dia redam untuk tidak kembali terbuka.
Sadar jika sebagai hamba dia adalah peran yang harus menjalankan segala sesuatunya seperti keinginan sang Pencipta.
"Arfi," panggil gadis itu lembut.
Lelaki itu menoleh, melihat Khadijah yang masih berdiri di tempat tadi.
"Berbahagialah .... " Khadijah menarik napas, dengan genangan kaca yang memburamkan pandangan.
"Denganku ... atau tidak nantinya."
Satu air lolos begitu saja saat mata indah itu terpejam. Melukai Arfi, sama seperti melukai hatinya sendiri.