For My Family

For My Family
159



Dari balik kaca mobil, lelaki berparas teduh itu memerhatikan Sasy yang tengah duduk di halte busway.


Memainkan kakinya dengan bibir yang digulum. Wajah belianya terekam di dalam ingatan, tidak ingin pergi, wajah itu selalu menganggu hari-hari yang dilalui.


Ferdi mencengkeram kemudi dengan kuat. Ia geram, entah pada siapa. Ingin mengakhiri segala rasa, sebelum ada yang tersakiti pada akhirnya.


Lelaki itu turun, lantas ia membuka payung dan menghampiri sang belia.


Gadis kecil itu langsung berlari saat melihat Ferdi. Memeluk badan tegap itu dengan erat. Sudah menjadi kebiasaan, dia suka bermanja dengan lelaki dewasa tersebut.


"Kak Ferdi," panggilnya manja.


Ferdi terpaku, melirik pucuk kepala gadis itu yang tepat berada di bawah dagu.


Hatinya terenyuh, tetapi logika meminta untuk tetap tega mengatakan hal yang mungkin saja menyakiti rasa yang baru tumbuh.


Lelaki itu menarik napas, lantas ia menarik badan mungil itu menjauh dari dekapan. Lilitan tangan Sasy belum terlepas, belia itu mendongak, bibirnya mengembang, menampilkan sederet jajaran giginya yang menawan.


"Sasy."


"Hem." Mata bundarnya berbinar.


Ferdi menghela napas, pendar harapan itu tak sanggup ia lukai. Ia menarik tangan Sasy yang masih melingkari pinggangnya, duduk di kursi halte.


"Belia nakal, kenapa kamu tidak ke kampus?" Satu jari Ferdi menyentik dahi gadis itu.


Sasy berdecak, kesal. Tangannya mengelus dahi yang sedikit nyeri. Bibirnya memanyun, panjang. Sayangnya ekspresi itu semakin membuat Ferdi terpukau.


"Aku masuk kelas jam sebelas."


"Jadi kenapa sudah di sini sepagi ini?" tanya Ferdi lagi.


"Sengaja, abisnya di rumah gak enak."


"Kamu itu terlalu nakal. Makanya dimarahi terus."


Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada. "Ish, gak gitu!"


"Apanya gak gitu?"


Sasy terdiam, ia memalingkan wajah.


Lelaki itu mendesah, mencoba merangkai kata agar ucapan dia tidak melukai. Bagaimana juga, perasaan anak remaja masih tidak terlalu sulit untuk dipatahkan.


Masa depannya masih panjang, dan dia akan melupakan cintanya dengan cepat.


"Kak Ferdi."


"Hem."


"Sabtu malam ini, Kak Ferdi mau ke mana?"


"Kenapa?" tanya Ferdi datar.


"Ayo kita kencan." Antusias, gadis belia itu menatap Ferdi dengan bibir yang terkembang.


Iris pekat itu menaruh harapan. Bagaimana bisa dia mematahkan? Bagaimana jika keceriaan gadis ini menghilang?


"Aku tidak bisa!" tolak Ferdi tegas, walau dalam hati dia tidak tega sebenarnya.


"Kenapa?"


"Sasy, aku ini lelaki dewasa dengan segudang masalah dan pekerjaan. Bukan waktunya lagi bermain-main dan berkencan layaknya anak remaja."


"Dih ... Kak Ferdi kuno. Memang orang dewasa gak berkencan apa?"


"Kamu, gak malu berkencan dengan lelaki dewasa?"


Pipi belia itu memerah, sedikit menggulum senyum dia menjawab.


"Kenapa harus malu? Kak Ferdi gantengnya paripurna gitu," lirihnya malu-malu.


Semburat kemerahan mulai tampak di pipi gembilnya. Membuat hati Ferdi semakin lemah untuk melukai.


"Sasy." Ferdi meneguk salivanya, getir. Bingung mau mengucapkan apa.


"Kenapa? Kakak pasti berubah pikiran, ya. Pasti mau kencan, kan, ya?" Gadis itu mengancungkan telunjuknya, memainkan di depan wajah Ferdi.


Lelaki itu menahan senyum, sulit baginya untuk melukai. Sebelum menyakiti, dia bahkan sudah merasa terlukai lebih dulu.


"Jangan dekati aku lagi."


"Eh, maksudnya?" tanya Sasy bingung.


"Aku tidak akan pernah bisa menerimamu. Ada yang kucintai, dan itu bukan kamu."


Sasy terdiam, lantas kepalanya menunduk. Hari-harinya sudah sangat buruk. Mengapa mendengar ucapan Ferdi lebih buruk dari apa pun itu.


"Aku mengerti." Gadis itu berucap getir. Sementara Ferdi terus memandangi kepala yang tengah tertunduk itu.


Hatinya berdenyut, sakit dan remuk saat raut wajah itu terlihat pias.


Berusaha untuk memalingkan segalanya, menginjak kelopak yang baru saja tumbuh dalam hatinya.


Terlalu takut untuk memulai, karena dia sadar. Hatinya masih terpatri akan sebuah nama. Dan Sasy, hanya sebagai pengganti. Bukan cinta yang sejati.


Satu tangan Ferdi meraih pucuk kepala Sasy. Gadis itu mengempaskannya. Tidak menangis, tetapi pendar itu berkaca-kaca.


"Kalo gak mau nerima hatiku, jangan peduli sama aku. Jangan buat aku nyaman, Kak. Jangan terus usap kepala, jangan sok peduli, jangan dan jangan! Bagi Kakak aku memang hanya belia, tapi aku juga punya rasa, Kak. Aku juga bisa terluka!"


Gadis belia itu mengusap wajah, lantas ia berlari. Menembus rinai hujan yang masih deras menyapa.


Ferdi mendesah, memerhatikan punggung mungil itu berlari. Semakin jauh dan menjauh.


Ferdi memejamkan mata, ada yang ikut redam. Sayang logika membenarkan sebuah tindakan. Bahwa belia itu akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.


"Maaf, Sasy. Aku hanya tidak mampu membedakan, antara pengganti dan sejati. Ini lebih baik, karena aku tidak ingin mencintai Arsy, dalam nama Sasy."


***


Gerald membanting sebuah berkas ke atas meja. Menahan amarah yang hampir pecah.


"Sudah pernah aku katakan pada Papa, jangan pernah satukan Ferdi dan Ardan. Mereka akan menjadi boomerang. Ardan yang kuat, akan semakin tangguh saat menemukan sebelah sayapnya."


Gerald mengusap wajah kasar. Ia mengempaskan badan di kursi Presdir. Gelisah, pikirannya kacau.


"Kalau kamu tidak membuat Green Kosmetik kolaps, apa kamu pikir Ardan akan ke sana? Kau yang tidak becus mengurus perusahaanmu!"


"Kenapa gak Papa lepasi saja? Hanya anak perusahaan, bukan?"


Gerald tertawa sinis. "Lepaskan? Kau bilang lepaskan? Green Kosmetik itu perusahaan yang paling besar di kota! Banyak investor yang melirik perusahaan itu!"


"Lalu kita harus bagaimana? Saat ini kita malah terancam akan kehilangan keduanya."


Gerald membuang pandangannya, mendesah berat.


Arfan menarik napasnya, mengeratkan kepalan tangannya. Ia benci saat sudah dibandingkan dengan Ardan. Iri, rasa itu kini semakin mendominan.


"Lalu, Papa mau aku bagaimana?" sahut Arfan sedikit geram.


"Telepon anak itu!"


Arfan hanya mengangguk, mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang di seberang sana.


Sementara di sini, Ardan masih memandangi raut wajah cantik istrinya yang berdiri di atas sofa. Melilitkan dasi pada lehernya. Lamat, ia menelik setiap ukiran di seraut wajah bundar itu.


"Kenapa lihati aku begitu, Mas?" tanya Hazel.


"Kamu semakin cantik, Sayang."


Pipi putih itu memerah, kini bibirnya terkulum. Dengan hiasan lesung di kedua pipinya.


"Bagaimana keadaan Surya, apa kamu sudah melakukan cek tulang belakang secara rutin?"


"Iya, sudah. Selama kurva gawat daruratnya tidak mencapai 90%, Surya masih bisa ditangani oleh fisioterapi."


"Hem, baiklah. Bukannya umur Surya sudah bisa memasuki taman kanak-kanak, ya? Apa kamu ingin aku carikan sekolah yang bagus?"


Gadis itu terdiam, perlahan kepalanya menunduk, kedua tangannya yang tertumpuh pada bahu Ardan teremas.


"Ada apa?" tanya Ardan bingung.


"Aku rasa tidak usah terburu-buru, Mas. Surya masih kecil."


"Terburu-buru? Aku rasa ini sudah waktunya, Sayang."


Hazel melirik ke arah Ardan. Hanya diam, dia bingung mau mengutarakan alasan apa.


"Hei, Nazha. Ada apa?" tanya Ardan lagi.


"Kamu tidak mengerti, Mas."


"Apanya yang tidak mengerti?"


"Surya berbeda, Mas. Mas tau itu, dia bukan seperti anak-anak pada umumnya. Bagaimana jika Surya diejek oleh anak-anak lain saat masuk ke sekolah umum?"


Binar berwarna madu itu menatap Ardan lekat dan dalam. Satu bulir jatuh saat ia mengedipkan mata.


Sebagai seorang ibu, hatinya tidak akan sanggup jika harus menghadapi hal itu, bahkan memikirkannya saja membuat ia terluka.


"Hei, Sayang. Siapa yang berani mengejek Putraku? Dia adalah jagoan Ardan Erlangga, tidak akan ada yang berani melawan dia, hem."


Hazel menggeleng, sesak. Kini dadanya terasa berat saat ia memikirkan masa depan Surya.


"Aku tidak ingin Surya terluka, Mas. Dia akan berbeda, aku tidak mau dia kenapa-napa."


Satu jari Ardan menyelipkan anak rambut Hazel ke balik telinga. Mengecup air mata yang sempat luruh di wajah.


"Baiklah. Aku akan carikan guru. Surya akan home schooling saja. Begini saja, apa kamu senang?"


"Tidak perlu pikiri Surya sekarang, Mas. Mas saja masih banyak masalah yang harus dipikiri. Surya akan baik-baik saja, aku akan mengajarinya."


"Harus dipikiri dari sekarang, Sayang. Surya anak pintar, banyak potensi dari dalam dirinya yang bisa digali sejak dini. Jadi kita harus memikirkan masa depan Surya dari sekarang. Jangan takut, Surya pasti akan terbiasa, dan aku pasti akan melindunginya, aku janji."


Iris berwarna madu itu menatap wajah Ardan lamat-lamat. Hatinya terenyuh akan segala kebaikan lelaki tersebut.


Perlahan dia menarik bahu Ardan dan menjatuhkan kepalanya di sana. Mendekap erat pundak kekar itu.


Terasa usapan lembut pada bahu wanita itu. Ardan hanya tersenyum, entah kenapa Hazel jadi begini.


"Kadang aku bertanya, Mas. Seberapa banyak beban yang Mas pikul pada pundak ini? Kenapa Mas selalu kuat dan tidak pernah mengeluh, Mas bahkan masih memikirkan Surya. Surya itu siapa? Dia bukan darah keturunanmu, Mas."


Ardan tersenyum lebar, dia menarik bahu itu dan menangkupkan dua tangannya di pipi Hazel.


"Dengar Hazel, Surya itu anakku. Sampai kapanpun dia tetap anakku."


"Apa ... Mas gak merasa bahwa Surya itu asing? Surya adalah anak Iqbal Sandyka, bukan anak Ardan Erlangga."


Ardan tersenyum simpul dan menggeleng pelan.


"Jujur aku memang benci, benci jika mengingat kamu pernah menikahi dia. Lelaki yang memberikanmu Mama sekejam itu dan dia bahkan tidak berupaya untuk melindungimu."


Pendar mata bundar itu menatap wajah Ardan.


"Tetapi Surya tidak bersalah, aku menyanyanginya karena dia adalah bagian dari dirimu, Hazel. Tidak peduli siapa ayahnya, asalkan dia adalah bagian darimu, darahmu yang sama mengalir dalam darahnya, hatinya yang sebagian dari hatimu. Detak jantungnya yang membuat nadimu berdenyut, aku tidak peduli siapa ayahnya, siapa keturunannya. Selama dia bagian darimu, maka aku akan mencintainya, sebesar aku mencintaimu."


Lara dari mata wanita itu menyapa wajah. Hatinya kembali mendesir, bahagia, dan dia tidak tahu mengungkapkannya bagaimana.


Hazel menarik kepala Ardan, mencium bibir tipis itu. Memang Ardan terlahir sebagai penggoda, bahkan ucapannya lebih manis dari gula.


Lelaki itu menarik pinggang gadisnya lebih erat. Perlahan desahan napasnya memberat, mata tajam itu menatap dengan segala hasrat.


"Kamu membuat aku malas ke kantor, Sayang. Ditambah hujan seperti ini." Dia mengerling nakal, membuat tawa Hazel pecah.


"Ayo sarapan. Aku sudah masak makanan kesukaan, Mas."


"Sebelum sarapan, boleh gak aku makan kamu dulu. Aku rasa Yena butuh adik, Sayang."


Hazel terkekeh, ia menggeleng dan turun dari atas sofa dengan cepat.


"Hargai usahaku yang harus memanjat hanya untuk memasang dasimu, Mas."


Ardan merenggangkan dasinya, membukanya dengan cepat. Lalu memperlihatkannya ke Hazel.


"Hem," katanya seraya memainkan alis mata.


"Ck ... dasar." Tersenyum gadis itu menyilangkan tangan di dada.


Ardan merentangkan kedua tangannya. "Kemarilah, Sayang."


Hazel bergeming, matanya menatap Ardan yang tengah merentangkan tangannya dengan pendar harapan akan sebuah pelukan terhias di wajah garangnya.


"Aku tidak mau!" Gadis itu berbalik, langsung berlari ke arah pintu.


Tegap langkah Ardan mengerjarnya, menarik pinggang ramping itu sebelum menuju pintu.


Teriakan Hazel menggema, disusul gelak tawa keduanya. Dentuman pintu beradu memudarkan suara keduanya di dalam sana.


"Aku mengerti," jawab Arfi seraya menutup teleponnya.


Mata sayup itu menatapi pintu kamar Kakaknya lamat-lamat. Perlahan senyumnya yang sempat mengembang mendengar candaan Kakak dan istrinya itu memudar.


Lelaki berambut pirang itu mendesah, membalikkan badan seraya menatap rinai hujan dari balik kaca jendela lantai dua.


Kosong, iris pekat itu menatap ke arah luar. Lantas ia menggeleng pelan.


"Maafkan aku, Kak. Bagaimana juga, kalian berdua tetaplah Kakakku."