
Badan Hazel menegang seketika saat mendengar nama yang terucap dari bibir lelaki itu. Matanya menatap lekat ke arah mobil silver yang terparkir di depan.
Bagaimana ia bisa terjebak oleh situasi ini? Padahal ia hanya ingin berbicara dengan Ardan soal kesalahannya.
Melihat ekspresi Hazel, bibir lelaki itu tersenyum tipis, terlihat dari wajahnya yang belum siap untuk bertemu keluarganya itu.
"Mau turun dan menyapa ayah mertuamu?" tanya Ardan lembut.
Hazel tersenyum kikuk, perlahan ia menggelengkan kepala.
"Bisa nyetir mobil?" tanya Ardan lagi.
Hazel kembali menggelengkan kepalanya.
Ardan menghela napas dan mengendurkan ikatan dasi pada lehernya. Sesak karena melihat orang yang tidak ingin ia lihat berada di sana.
"Kamu agak menunduk sedikit jika tidak ingin terlihat olehnya. Tunggu sebentar saya akan kembali," ucap Ardan segera membuka pintu mobil.
Perlahan langkah besarnya mantap menuju mobil silver itu. Ia kembali menoleh sebelum mengetuk jendela kaca mobil lelaki itu.
Tersenyum saat tidak mendapati wanita itu lagi di sana.
"Kenapa anda di sini?" tanya Ardan saat lelaki berumur 60an tahun itu menuruni kaca mobilnya.
"Ardan, ternyata kamu masih ingat siapa pemilik mobil ini ya." Bukannya menjawab, ia malah tersenyum dan keluar dari mobil itu.
"Mau ke kantor, kan? Ayo bareng Papa saja, parkiran kembali mobilmu kerumah," ucapnya lembut.
"Lalu?" tanya Ardan sinis.
"Lalu? Lalu apa?" tanya lelaki itu tak mengerti.
"Apakah anda sedang membodohi saya?" tanya Ardan terus terang
"Ha ha ha." Kekehan lelaki itu terdengar nyaring di telinga putra pertamanya. Semakin membuat dongkol hati lelaki dewasa itu.
Ardan menyilangkan kedua tangannya di dada, rasanya semakin gerah saat harus bermain-main sepagi ini.
"Kenapa sekaku ini, Ardan? Apakah kamu tidak ingin membawa Papa untuk sarapan bersamamu dan istrimu di rumah?"
"Aku sudah sarapan, dan lagi. Istriku sudah tidak ada di rumah," jawab Ardan ketus.
"Oh ya, ke mana dia?" tanya Gerald membuang pandangan pada mobil Ardan, tetapi tidak ada siapapun di sana.
"Hilang, dibawa angin."
Gerald terkekeh, melihat wajah garang putranya itu semakin senang ia menggodanya.
"Baiklah, naik dan ikut Papa sarapan dulu."
"Ck, jangan main-main. Kembalilah ke Ibu kota, aku tidak ingin bermain saat ini," ucap Ardan semakin kesal.
"Hei, Papa ini sedang melakukan kunjungan ke perusahaan kecilmu. Seperti inikah sambutanmu sebagai General Managernya?" tanya Gerald kembali.
"Baiklah kalau begitu, selamat menikmati perjalanan anda. Saya tidak lagi menganggu," ucap Ardan mengakhiri perdebatan pagi ini.
"Hei ... Ardan. Kembali ke sini!" perintah lelaki itu yang tidak lagi mampu menghentikan langkah besar Ardan.
Ardan menutup pintu mobilnya dengan sedikit kesal, ia tahu Gerlad Erlangga bukan sesuatu yang mudah dilewati. Tetapi kali ini pergerakan Erlangga terlalu cepat, ia belum sanggup meluluhkan wanita ini agar mau tetap bersamanya.
Ardan memundurkan mobilnya, memacu dengan cepat ke arah sebaliknya.
Hazel kembali menegakan duduknya, menghela napas lega saat mobil itu memasuki jalan raya.
"Turuni saya di Halte depan saja, Pak. Saya akan naik bus ke kantor," pinta Hazel lembut.
Ardan mengangguk pelan, melambatkan lajunya saat berada di belakang bus yang baru saja tiba di Halte itu.
Secepatnya, Hazel turun dan berlari memasuki bus itu. Berebut tempat dengan penumpang lainnya.
"Maaf, Hazel. Kita masih harus begini untuk beberapa saat," lirih Ardan saat melihat punggung wanita itu menghilang di balik pintu bus.
***
"Ardan, Papa habis berjalan-jalan di gudang tadi. Stok produk yang ingin kamu pasarkan tidak banyak lagi, sementara kamu menghabiskan anggaran untuk menyewa model remaja itu. Bagaimana kamu menangangani masalah ini?" tanya Gerald tanpa basa-basi.
"Ini perusahaan yang akan aku bangun, anda bisa ikut campur, tetapi bagaimana aku mengaturnya itu urusanku," jawab Ardan ketus.
"Apa kamu butuh bantuan dari pusat? Papa bisa memberikan anggaran dua kali lipat," tawar Gerald lembut.
Ardan menatap sengit lelaki berjas hitam itu. Ia menegakan posisi duduknya dan melipat kedua tangan di atas meja.
"Apa syaratnya?" tanya Ardan terus terang.
"Ardan, jangan terlalu serius. Papa hanya ingin membantumu saja, Nak."
"Aku tidak akan membawanya ke Ibu kota," jawab Ardan terus terang.
"Apa?" tanya Gerald bingung.
"Untuk saat ini aku tidak akan membawanya ke Ibu kota dan bertemu keluarga Erlangga. Jelas? Jadi jangan gunakan trik di depanku lagi."
Gerald terkekeh, ia menggelengkan kepala dan berjalan mendekati putra tertuanya itu. Meletakan tangan di atas bahu kekar putra pertamanya itu.
"Ardan, jangan terlalu pintar. Bermainlah sebentar, Papa hanya ingin berjumpa anggota keluarga baru, kenapa kamu curiga begitu?" tanya Gerald sembari menepuk pundak anaknya tersebut.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyakitinya. Terlebih lagi oleh perlakuan mama. Jadi, berhentilah memaksaku seperti ini!" ancam Ardan sedikit menekan.
"Ardan, mama kamu ... seharusnya kamu bisa mengerti bagaimana emosionalnya saat ini."
"Kalau begitu, tunggulah, aku akan membawanya ke Ibu kota saat aku sudah cukup kuat untuk melindunginya."
"Melindunginya?" tanya Gerald ketus. "Kamu membawanya untuk bertemu keluargamu, Nak. Bukan berperang dan mengangkat senjata."
"Yakin? Hanya bertemu dan saling menyapa? Kenapa aku ragu dengan Papa?" balas Ardan sengit.
Mata elangnya semakin menajam menatap lelaki yang berdiri di sampingnya saat ini.
Gerald menjauhkan tangannya dari atas pundak kekar itu dan menghela napas. Raut wajahnya mulai terlihat serius.
"Melihatmu yang seperti ini, berarti kamu sadar siapa yang kamu nikahi, bukan? Sebelum terlambat dan semakin parah, lepaskan saja dia."
Ardan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia bangkit dan menatap wajah tua lelaki itu dari jarak yang sangat dekat.
"Kalau begitu, lepaskan saya dari posisi CEO saat ini juga, Presdir Gerald Erlangga. Saya berani bertaruh atas nama dia, dan saya lebih memilih dia dibandingkan posisi ini. Bagaimana? Sepakat?" tanya Ardan sengit.
Gerlad menahan buruan napasnya, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap menampar wajah ganteng putranya itu.
Namun tangannya tertahan, ia menggenggam kuat telapak tangan keriput itu dan menyentakan kepalanya. Berjalan meninggalkan ruangan GM itu dengan sengalan napas yang tertahan amarah.
Jika ia melepaskan Ardan dari posisi CEO, maka perusahaan ini akan kehilangan tajinya. Itu sama saja seperti menunggu perusahaan yang telah ia besarkan ini, hancur secara perlahan.
Sudah banyak yang ia korbankan, ia tidak mungkin bisa melepaskan Ardan begitu saja.
Ardan tersenyum simpul saat melihat badan tua lelaki itu keluar dari perusahaan. Entah sejak kapan hubungan anak dan ayah ini menjadi perlawanan tanpa akhir.
Entah kapan pertarungan ini dimulai dan karena apa? Ia juga tidak tahu, rasa kecewa yang pernah ia rasakan terhadap lelaki tua itu, sampai sekarang masih sangat terasa melukai hati saat ia menatap matanya.
Ada benci dan juga rasa dendam. Namun juga masih ada rasa sayang yang tertinggal. Bagaimana juga, ia dibesarkan oleh usaha dan kerja keras tangan keriput itu. Walau pada akhirnya kerja keras itu menelan korban yang menjadi tragedi pahit keluarga mereka.
Ardan menghela napas berat saat melihat punggung tua itu memasuki mobil silver miliknya, hilang di balik pintu mobil mewah itu.
"Pa ... entah sejak kapan peperangan ini dimulai, tetapi aku ingin ini semua segera berakhir. Andai aku bisa memilih, aku ingin kita kembali ke masa itu, tujuh tahun silam. Saat Arsy masih di sini," lirih Ardan sendiri.
Sebuah tepukan tangan di pundaknya membuyarkan lamunan Ardan. Cepat ia menghapus sudut mata dengan punggung tangan. Melihat lelaki yang lebih pendek darinya itu. Tersenyum sendu, berdiri sejajar dengannya memandangi mobil silver yang telah hilang dari perkarangan perusahaannya.
Ferdi menghela napas sedikit berat, ia memasukan kedua tangannya di saku celana. Matanya mulai berembun, saat memdengar nama yang telah lama ia kubur itu kembali terdengar di telinganya.
"Maaf, Ferdi," lirih Ardan pahit.
Ferdi melirik sekilas ke arah Ardan, ia tersenyum getir, lalu kembali menatap ke arah luar dengan menghela napas yang terasa kian berat mengimpit dada.
"Maaf. Aku tidak mampu menjaga Arsy, untukmu," sambungnya sendu.