For My Family

For My Family
208



"Opa ...!" Gadis kecil berumur empat tahun itu berlari ke arah Gerald. Langsung memeluk kaki sang Opa, manja. Padahal dulu dia tidak seberani itu.


"Eh, cucu Opa. Sama siapa ke sini?" tanya Gerald saat sang Kakak datang menghampiri untuk meminta salim.


"Sama Mommy," jawab Percy tak acuh.


"Ma, Pa, apa kabar?" tanya Ferla yang menyusul di belakang.


"Baik," kata Gerald dan sang istri masih tak peduli. Sibuk bermain bersama bayi mungil di pangkuannya.


"Ma, itu bayi siapa?" tanya sang menantu penasaran.


"Anak, Arsy." Jawab Aulia menoleh sekilas.


"Arsy?"


"Ya. Arsy. Ini anak Arsy, lihat mirip sekali sama Arsy, kan?" Aulia membalik badan mungil itu.


Ferla terdiam, bayi mungil itu sangat cantik, binar jernih hitam pekatnya menatap polos ke arah sang tante.


"Dia cantik, kan, Ferla?"


"Ya. Sangat cantik. Tapi dia anak siapa?" tanya Ferla lagi.


"Anak Ardan," jawab Gerald pelan.


"Oh. Ardan di sini?"


Gerald hanya mengangguk, mengambil cucu lelaki satu-satunya dari dekapan tangan Ferla. Sedikit bingung, wanita beranak tiga itu memberikannya.


Tak biasa Gerald mau menggendong anak kecil. Benar yang Arfan katakan. Gerald tidak baik-baik saja.


"Biar Bayezid bermain bersama di sini. Kamu kalau mau masuk, masuk saja."


"Tapi dia belum makan, Pa. Aku takut dia rewel."


"Nanti Papa akan membawanya ke dalam jika dia rewel."


Wanita berambut hitam itu hanya mengangguk, meninggalkan tiga anaknya bersama Gerald di taman depan.


Berjalan ke arah dalam dengan pandangan yang terus terarah ke belakang. Bingung dan terheran-heran, sejak kapan lelaki itu memiliki waktu senggang untuk bermain.


Biasanya dia selalu terfokus akan perusahaan dan bisnis. Bahkan Gerald hampir tidak pernah menggendong Bayezid. Putra Arfan.


"Auww," rintih Hazel saat seseorang menabraknya.


"Maaf." Ferla menoleh, lalu terdiam saat melihat Hazel di depannya.


"Tidak masalah." Gadis itu tersenyum lembut, kembali membungkuk untuk membereskan sisa-sisa gelas teh di meja teras.


"Kamu istri Ardan, kan?"


Hazel mengangguk.


"Kita pernah bertemu sekali, namun belum sempat berkenalan. Aku Ferla, istrinya Arfan." Satu tangannya terulur.


Iris berwarna madu itu menatap uluran tangan Ferla. Kembali tegap seraya mengelap tangannya di gaun.


"Hazel," jawabnya menyambut uluran tangan itu.


"Bayi perempuan itu ... bayimu?"


"Ya. Anaknya Mas Ardan."


Ferla hanya menggulum bibirnya, lalu kekehan suara dua lelaki terdengar memasuki perkarangan rumah.


"Mas sudah pulang?" tanya Hazel beralih ke arah Ardan.


"Assalamualaikum, Sayang."


"Waalaikum salam." Gadis itu menyambut tangan Ardan menciumnya takzim, sedangkan Arfi langsung memasuki rumah.


"Hai, Ferla," sapa Ardan dan wanita berambut sebahu itu hanya tersenyum.


"Tumben ke sini?"


"Hum, Arfan memintaku ke sini. Dia bilang Papa sedang tidak sehat. Makanya aku datang untuk melihat, aku pikir kau dan Arfi tak ada di ibu kota."


"Memang si tua itu sakit?" Kedua mata Ardan menyipit, menahan tarikan tangan sang istri di perutnya.


"Sopanlah sedikit, Mas." Tekan Hazel sedikit berbisik.


Lalu gadis itu menyeringai, saat Ferla memandangi tarikan tangannya.


"Mas mau aku siapin makanan sekarang?" tanya Hazel mengalihkan.


"Boleh."


Setelah Hazel masuk ke dalam, Ardan mengendurkan dasi dan melepaskan jasnya. Terduduk di kursi depan sekadar melepaskan penat.


"Kau pulang siang hanya untuk makan?" tanya Ferla ikut duduk berseberangan meja dengan Ardan.


"Ya. Jadi buat apa?"


"Ardan, apa aku tidak salah? Kamu? Mau cape-cape pulang hanya demi makan siang?"


Ardan menarik napasnya, lalu kepala itu menoleh menatap sahabat lamanya tersebut.


"Memang apa yang salah?"


Ferla tertawa getir. "Aku kenal kamu, Ardan. Kamu adalah lelaki yang sangat tidak suka repot. Hanya terkejut saja melihatmu mau repot-repot kembali hanya untuk makan siang bersama."


Ardan tersenyum lembut, menggelung lengan kemejanya seraya menghela napas.


"Bukan masalah makan bersamanya, Ferla. Tapi tentang usaha dia yang menyiapkan makan siang untuk suaminya. Hanya perlu pulang dan makan, apa susahnya?"


Wanita berkepala tiga itu terdiam, sedikit tertampar mendengar ucapan Ardan. Karena hampir selama umur pernikahan. Dia jarang melihat Arfan makan di rumah jika tidak libur. Jangankan makan siang, bahkan makan malam saja sering terlewat.


"Tidak sulit meluangkan waktu sejam atau dua jam saat makan siang. Dia sudah berusaha, hargai saja. Itu saja, cukup membuat dia bahagia." Ardan mengedipkan sebelah matanya, menarik jas dan berjalan ke dalam.


Saat melewati Ferla, tangan itu mengacak puncak kepala sang sahabat. Tidak ada perasaan, hanya sebatas hubungan lama yang pernah rekat.


Sementara Ibu tiga anak itu masih terdiam. Tersenyum getir jika mengingat perlakuan sang suami yang sangat berbeda. Memang pernikahan itu karena kesalahan, namun bukankah Arfan mencintainya?


Gadis itu beranjak, ingin masuk dan istirahat di lantai atas. Terlihat lagi oleh matanya. Ardan yang tengah meraih pinggang sang istri, mendaratkan kecupan di kepala sang wanita dan tak henti-hentinya menggoda. Sementara yang digoda kadang hanya tak acuh, sibuk menyiapkan makan siang.


Memang tampak sederhana, perlahan perbandingan akan kehidupan pernikahannya terlintas. Mengapa? Tidak ada sikap yang serupa dari sang suami, walau darah mereka sama.


Gadis itu mengalihkan pandangannya, menaiki lantai dua dari tangga yang ada di ruang tengah.


Memasuki bekas kamar sang suami. Masih terpajang beberapa foto lama. Wanita dewasa itu meraih sebuah pigura, foto sang suami dan kembarannya.


"Sudah sangat lama aku membenam impian itu. Semenjak menikahimu, aku berusaha lupa dan menjadi istri yang sempurna. Tapi melihat perlakuan Ardan membuat aku mengerti. Bahwa selama ini kita memang tidak pernah saling cinta."


Ferla menarik napas, meletakan pigura itu dengan sedikit membanting.


Menjatuhkan tubuh lelahnya ddi atas kasur. Sekilas terbayang lagi perlakuan hangat Ardan. Lalu bibir itu tersenyum getir.


"Kadang hati memang tidak salah memilih. Mengapa dari dulu yang terpatri adalah Ardan, karena perasaan mengerti. Siapa yang memang pantas untuk dicintai."


...***...


Sepasang mata elang itu menatap ke arah taman. Melihat Aulia dan Hazel yang tampak akrab berdua. Minum teh bersama dan menghabiskan penghujung senja dengan cerita-cerita yang mengukir tawa di wajah mereka.


Bibir tipis itu ikut tersenyum, menumpuhkan kedua tangan di pagar balkon lantai dua. Dengan tatapan yang terus tertuju ke arah sang istri.


"Aku sempat bertanya, mengapa gadis sesempurna Sharon kau tolak mentah-mentah. Akan seperti apakah istri yang kau pilih nanti?" kata Ferla berdiri di sebelah Ardan.


Sepasang mata itu ikut menatap ke arah Hazel dan Aulia.


"Dia memang sangat cantik. Tapi kurasa masih banyak mantan-mantanmu yang lebih cantik. Dia juga tidak terlihat sangat pintar. Malah terkesan polos dan lugu. Apa yang menarik sampai seorang Ardan Erlangga, yang suka dengan kesempurnaan. Mau menikahi janda beranak satu?"


Ardan tertawa, lalu sedikit menoleh ke arah Ferla.


"Dia memang tidak terlihat istimewa, dia juga tidak sempurna. Banyak hal-hal dan juga karakter yang sulit bersatu di antara kami berdua. Dia memang banyak memiliki cela, dan karena cela itu. Yang membuat aku bisa masuk ke dalam hidupnya."


Wanita beranak tiga itu mengerutkan dahi. Memandang Ardan yang ada di sebelah.


"Karena cela itu yang membuat aku bisa mendampinginya. Menjadikannya sempurna, dan membuat aku merasakan dibutuhkan dan digunakan."


Ardan tersenyum, tak berpaling mata itu menatapi sang istri di bawah sana.


"Dia memang tidak glamour seperti gadis-gadis yang pernah kutemui. Tapi sebagai ibu, dia gadis yang sangat tangguh. Dia memang tidak terlihat pintar seperti gadis yang kau kenali padaku. Namun, sebagai istri, dia sangat memahami dan mengerti. Dia memang hanya gadis biasa, sebagai anak dia sangat patuh dan berbakti."


Ardan menarik napas, membalikkan badannya dengan siku tangan yang tertumpuh pada pagar balkon.


"Ferla," panggil Ardan dan gadis itu menoleh.


"Jika kau bertanya apa yang kulihat darinya? Aku tidak tau. Karena alasan mengapa harus dia, itu terlalu banyak untuk dijabarkan. Namun, jika kau bertanya, seperti apa dia di mataku?"


Ardan tersenyum lembut, menoleh ke arah Ferla.


"Bidadari tidak bersayap. Itu adalah ... dia."


🌹🌹🌹



Kemarin saat opa dan Oma baikan, Yena seneng.


Hari ini tante Ferla bilangi Bunda gak pinter, Yenanya sebel, Tante 😂😂😂