For My Family

For My Family
84



Ardan kembali dengan dua cup es teh manis di genggaman, masih setia menarik tuganggan anaknya itu.


Bibir itu tersenyum saat tangannya terulur ke wanita tersebut.


Ia menjatuhkan bokong di sebelah Hazel, tangannya masih menarik mobil-mobilan itu, setelah mendekat, ia mendorongnya menjauh kembali. Mengulangi itu terus-menerus.


"Kamu nangis?" tanya Ardan saat menyadari binar itu mengembunkan air mata.


Hazel tersenyum, jarinya menghapus sudut mata yang berair.


"Enggak. Aku hanya kepikiran Surya."


"Surya kenapa?"


"Dokter Pedro bilang, Surya harus rongent ulang. Harus cek lagi kondisi dia karena ini sudah setahun pasca operasi."


"Ya sudah. Cek saja, kamu gak usah pikirin yang bukan-bukan."


"Aku takut, Mas."


Ardan menghela napasnya, jarinya mulai meraih helaian rambut Hazel. Merapikan anak rambut di sudut dahi yang sedikit berantakan.


"Aku temani kamu ke rumah sakit."


"Aku bukan takut sama rumah sakit. Tapi aku takut Surya harus berjuang lagi. Aku takut Surya akan divonis yang lain-lain lagi. Dari kecil, setiap kali mengecek keadaan Surya. Selalu saja ada hal yang buat aku sesak, rasanya aku gak mau dia dicek, Mas. Aku gak kuat."


"Sssttt." Ardan menarik kepala Hazel dan membenamkannya di dalam dada.


"Saat ini kamu gak sendiri, Sayang. Ada aku yang mendampingimu, ada aku di dekatmu. Jangan khawatir, jika ada yang buruk, kita akan menghadapinya sama-sama. Jika kamu sesak, maka kamu cukup memelukku saja. Tenang, tak ada apa pun yang akan terjadi."


Hazel mendonggakkan kepalanya, jarinya membasuh lintasan bening yang sempat luruh.


"Mas."


"Hmm."


"Bagaimana jika anak yang aku lahirian nanti tidak sempurna? Bagaimana jika anak ini juga seperti Surya?"


Terdengar helaan napas dari bibir lelaki itu.


"Ini yang menbuat kandunganmu sering kram. Kamu memenuhi ruang otak kecil itu dengan pikiran yang aneh-aneh." Ardan tersenyum lembut, tangannya mengusap puncak kepala Hazel.


Hazel memanyunkan bibirnya, jarinya menarik kulit dada suaminya itu. Gemas.


"Mas, aku serius?"


"Ucapan itu doa, kamu seorang Bunda. Perhatikan ucapanmu, Hazel. Jangan sampai malaikat meng-amini ucapanmu yang sesaat."


Hazel menutupi mulutnya dengan tangan. Matanya teralih pada Surya yang masih duduk di atas tunganggan mininya.


"Jangan suka berbicara yang buruk, terlebih itu untuk anakmu. Berpikir dan berbicaralah yang baik. Anakmu belum keluar, jangan buat sugesti yang akan menjadikannya seperti apa yang kamu pikirkan."


"Tapi, bagaimana jika itu benar."


Ardan menangkupkan kedua tangannya di pipi Hazel. Memandangi binar berwarna madu itu dengan lekat dan dalam.


"Bagaimanapun dia, jelek, atau cantik. Sempurna ataupun tidak. Dia tetaplah anakku, anak kita. Namanya tetap Erlangga, dan aku tak peduli apa pun itu."


"Lalu bagaimana dengan keluargamu, Mas?"


"Ini pernikahan kita. Ini keluarga kita, aku dan kamu adalah penjaganya. Kamu harus menjadi tiang yang kuat untuk kerajaan kita. Percaya dan jangan pernah ragu, kalau aku tak menyerah, kamu pun tak boleh. Dengar!"


Hazel tersenyum lembut, lelaki itu selalu bisa menjadi peneduh hatinya. Punggung kelemahannya dan dada kehangatannya.


"Apa kamu gak malu, Mas? Bagaimana jika kamu dihina?"


"Anak itu titipan Tuhan, mereka yang menghina, artinya mereka tak menghargai Tuhan. Kenapa kamu harus mendengar ucapan orang-orang yang bahkan tak mau menghargai Penciptanya sendiri?"


Ardan mengecup lembut dahi wanita itu. "Dengar, Hazel. Anak itu darahku, mau bagaimana juga aku akan menjaga dan membesarkannya, karena anak itu bukan hanya anugerah tapi juga ujian sebuah keluarga. Aku mau dia dididik dengan benar oleh Ayah, Ibunya. Agar ujian itu membawa pahala yang besar nantinya, agar anak itu menjadi pribadi yang kuat imannya, agar dia mengerti perjuangan ibu yang melahirkannya. Agar dia, menjadi penyejuk dan juga pengantar ayah ibunya ke jannah."


Hazel kembali tersenyum, ia berhambur ke dalam pelukan Ardan. Memeluk badan tegap itu dengan sangat erat. Menghela napas sembari memejamkan kelopak matanya.


'Mas, kamu adalah suami yang sangat bertanggung jawab. Aku gak bisa bayangakan jika aku tak masuk perangkapmu, bagaimana aku masih bisa bertahan di sini. Karena kamu adalah, jebakan yang sangat indah.'


****


"Kalian paham?" tanya Ardan tegas pada tiga wanita yang ada di depannya itu.


"Paham, Pak!" jawab mereka serentak.


"Baiklah, silahkan pergi ke tempat yang sudah saya jelaskan."


Derap suara langkah kaki meninggalkan ruangan Ardan. Setelah tiga wanita itu keluar, Ardan menekan teleponnya, menghubungi wanita yang selalu berada di dekat temannya itu.


"Na, tolong kumpulkan semua kepala bagian dan Direksi. Ada hal genting yang mau saya bahas soal masa depan perusahaan." Ardan menghela napas berat sebelum ia mematikan panggilan itu.


Dua jam, rapat berjalan sengit, beberapa orang tidak mendengarkan lagi perintah GM perusahaan itu. Sementara beberapa lainnya masih bertahan dengan ide pikiran gila itu.


Sampai akhirnya Ferdi membubarkan pertemuannya. Beberapa orang keluar dengan tampang memerah, dan beberapa lainnya masih mencoba menyemangati Ardan.


Setelah ruangan sepi, Ardan tersenyum lembut. Melirik ke arah Ferdi dengan tatapan sinis.


"Bagaimana menurutmu, Ferdi?" tanya Ardan lembut.


"Kurasa belum semuanya, masih ada yang belum keluar dari perangkap."


"Tunggu saja, aku yakin mereka menemukan buktinya." Ardan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Sementara lelai berkacamata itu semakin tidak tenang. Mengingat jika salah satu bagian rencana ini adalah Khadijah, ia takut gadis itu akan terluka.


Sedikit saja dia salah langkah, maka dia akan ketahuan atas misi rahasia ini.


.


.


Terburu, langkah Nara memasuki pintu kaca cafe. Sudah ada empat orang lainnya yang menunggu dia di sana.


Wanita itu meletakkan sebuah laptop di atas meja. Memperlihatkan hasil rekaman cctv yang ia bawa.


Mata dua lelaki dewasa itu menatap dengan lekat, beberapa bukti percakapan ada bersama Echa dan Khadijah.


"Aku tak menyangka kamu bisa mengubah perangkap secepat ini, Ardan. Dan ini sungguh diluar perkiraan."


"Iya, kenapa kamu tidak pernah terpikir bahwa sekrestarismu adalah dalangnya?" tanya Ardan kesal.


"Aku tak ingat. Padahal dulu Nana sangat dekat dengan kembaranmu."


Ardan menghela napas berat, mengusap kepala dengan kasar. Sementara mata itu masih mengawasi layar datar di depannya dengan sangat lekat.


"Pak." Sedikit ragu, Nara memanggil lelaki yang ada di depannya itu.


Ardan hanya mengalihkan tatapan matanya, memandangi gadis cantik itu dengan sedikit tajam.


"Hem, kalau boleh saya bicara. Nana ... pernah jadi pacar Pak Arfan," jelas Nara takut.


Seketika mata Ardan membulat. Tangannya menutup laptop dengan cepat.


"Kamu gak salah?" tanya Ardan serius.


Wanita itu menggigit bibir bawah, lalu menggeleng pelan.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Ardan sengit.


"Saya dan Nana, pernah jadi sahabat dekat, Pak. Saat itu ... Nana masih satu divisi sama saya. Karena Nana mendekati pak Arfan, dia diangkat jadi sekretarisnya."


Ardan menghela napasnya, ia mengusap wajahnya kasar. Tak menyangka jika kembarannya yang sangat mencintai istrinya itu bisa berselingkuh di belakang.


Ardan mengambil napas, menyandarkan punggung di sandaran.


"Ferdi, aku butuh waktu berdua sama Nara." Lelaki itu menatap ke arah luar jendela. Pandangannya menjadi begitu tajam. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.


Ferdi dan dua gadis yang lainnya memilih pindah meja. Membiarkan sahabat karibnya itu mendengarkan luka baru yang akan terbuka.


"Ceritakan pada saya, seluruhnya!" perintah Ardan ketus.


Wanita itu mengangguk, ia menghela napas sebelum memulainya. Sementara tangan Ardan yang terletak di atas meja semakin mengepal. Pandangannya sinis ke arah luar, dengan telinga yang dibuka lebar-lebar.


Nara menceritakan dari awal, semakin gadis itu menceritakan. Semakin memadam wajah Ardan. Sampai kepalan tangannya melukai telapak tangan itu sendiri, kuku-kuku itu semakin dalam menusuk.


Tak lagi merasakan sakit, apa yang dibuka oleh gadis itu lebih sakit merajam hatinya. Bagaimana bisa? Lelaki yang besar bersama dengannya itu, bahkan mereka berbagi kandungan di perut ibu.


Bisa sangat menjadi asing baginya, bahkan sifat Arfan bisa sangat melenceng dari bayangannya. Arfan, bukan lelaki yang mata keranjang. Kenapa? Dia seburuk ini sekarang?


Perlahan, lintasan darah menetes. Nara terkejut, ia langsung menarik tisu dan mencoba membuka kepalan tangan Ardan. Mata elang itu masih lekat memandang keluar, tak peduli pada apa yang wabita itu kerjakan.


Hatinya panas, dadanya bergejolak menahan amarah. Luka, saat tahu bahwa kembarannya telah jauh berubah.


Sementara, di luar jendela ada mata yang memperhatikan mereka. Lelaki berdara setengah Spanyol itu menghela napas. Ia menggeleng pelan ketika menangkap sebuah kejadian.


"Kenapa gadis itu tidak menyerah juga?" tanyanya kesal.


Kesal pada diri sendiri, seharusnya ia senang saat rumah tangga Ardan dan Hazel berantakan. Sayang ia tidak bisa melakukan itu, Hazel berhak bahagia dan dia sadar bahwa lelaki yang bisa membuatnya bahagia adalah Ardan.


"Nona, bahkan lelaki itu terlihat marah saat kamu sentuh. Berpikirlah, kamu melukai sahabatmu," rutuk Pedro geram sendiri.


Jangan percaya apa yang terlihat, karena mata dan telinga mampu menipu. Itulah kenapa pertanyaan harus diajukan, jangan sembarangan menyimpulkan jika kamu hanya melihat tanpa mendengar, pun hanya mendengar tanpa melihat.


Penjelasan tak selamanya dusta, kadang dia realita yang sulit kamu terima.