
Mbok Darmi tersenyum lembut dan meraih sebelah pipi Hazel. Menghapus sisa air mata yang tertinggal di pipinya.
"Kenapa kamu gak bilang sama Mbok lebih awal, Hazel?"
"Mbok gak marah sama aku?"
Mbok Darmi kembali tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Kenapa si Mbok harus marah sama kamu? Menikah adalah hal yang baik. Mbok juga paham, kamu butuh punggung untuk bersandar. Bahagia ya, Nak."
Hazel menggelengkan kepalanya, menarik bahu mbok Darmi untuk ia peluk kembali.
'Daripada punggung untuk bersandar. Aku lebih butuh kaki untuk berjalan, Mbok. Aku ingin berjalan, keluar dari semua ini. Aku tidak ingin menjual anakku sendiri. Tetapi aku bisa apa? Aku harap mas Iqbal mau memaafkanku di surga sana.'
Hazel mengeratkan pelukannya, perlahan isak tangis mulai terdengar. Parau, lalu kian mendalam. Entah harus bagaimana menjelaskannya.
Tetapi ia tidak sanggup mengakuinya pada mbok Darmi. Ia tidak bisa mengatakan akan menjual anaknya demi anak yang lainnya.
Entah bagaimana nanti anak itu akan menganggapnya? Masihkah anak itu mau memanggilnya Bunda? Atau malah mengingatnya sebagai wanita tanpa hati yang tega menjual darah dagingnha sendiri.
Entahlah, bahkan hanya memikirkannya saja mampu membuat Hazel merasa sangat buruk.
Apa Tuhan mau memberikannya kepercayaan itu atau tidak? Ia juga tidak tahu, tetapi ia malah menyanggupi sesuatu yang semua berada di luar kendalinya.
Anak adalah rezeki dari Tuhan, saat ini ia menjadikan nyawa yang bahkan belum terbentuk rohnya hanya demi sejumlah uang.
'Tuhan, bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkannya di hadapanmu kelak? Mohon, ampuni aku.'
***
Hazel berjalan memasuki perusahaan kosmetik itu. Meletakan tasnya di atas meja.
Terdengar suara ketukan kaca dari belakangnya. Hazel memalingkan wajah, melihat Ardan yang berdiri di belik kaca ruangan.
Ardan menggerakan satu jarinya, meminta ia untuk masuk ke ruangan kaca itu.
Hazel mengangguk, menghela napasnya sembari berjalan memasuki ruangan barlapiskan kaca itu.
Ardan meletakan beberapa katalog di hadapan Hazel. Perlahan Hazel mengambil katalog itu dan membukanya. Melihat setiap lembaran itu.
"Pilih gedung dan juga interiornya. Warna ataupun hal-hal yang ingin kamu tambahkan. Catat saja," ucap Ardan lembut.
Lelaki itu kembali menyerahkan sebuah katalog ke hadapan Hazel.
"Pilih kartu undangan yang kamu suka, salon ataupun fashion desaigner yang kamu mau. Nanti saya akan buat janji sama mereka dan kita akan mencobanya," sambung Ardan kembali.
Hazel meletakan katalog itu dan menatap ke arah Ardan.
"Haruskah seperti ini? Apa tidak bisa jika hanya ijab saja?" tanya Hazel lembut.
"Tidak bisa!" sanggah Ardan langsung.
"Kenapa?"
"Pikirkan posisi saya. Saya ini GM sebuah perusahaan. Walaupun pernikahan ini hanya sebatas perjanjian buat kamu. Tetapi kamu istri saya yang sah, kamu akan dikenal dengan nama nyonya Ardan Erlangga. Haruskah kita hanya menikah diam-diam?"
"Tapi bagaimana dengan keluarga anda?" tanya Hazel kembali.
Sesaat Ardan terdiam, benar juga. Keluarga dia pasti akan murka jika tahu anak sulungnya menikahi seorang janda beranak satu.
Apalagi saat ini Arfan sedang menjodohkan ia dengan seorang wanita. Bisa saja keluarganya akan menghancurkan pernikahan ini.
Memberikan Hazel uang dengan jumlah yang sangat besar atau menekan Hazel untuk membatalkan pernikahan.
'Tidak bisa! Jika Presdir sampai tahu. Maka pernikahan ini akan ditekannya terus,' batin Ardan.
Ardan melirik ke arah Hazel, membetulkan posisi duduknya.
"Jadi, kamu maunya bagaimana?" tanya Ardan kembali.
Hazel menghela napasnya, ia membereskan katalog itu dan meletakannya di sudut meja kerja Ardan.
"Lakukan dengan sederhana, walau hanya sekedar akad dan dihadiri teman dekat. Itu tidak masalah."
"Tapi, apa kamu tidak ingin status yang jelas di depan publik? Kamu seorang istri Ardan Erlangga, Hazel."
"Jika memang diperlukan, tanpa harus dipamerkan. Status saya akan jelas dengan sendirinya. Lagi pula, akan menjadi masalah buat anda jika publik mengetahui siapa saya yang sebenarnya. Image anda akan buruk saat orang-orang tahu anda menikahi seorang janda."
"Siapa yang berani mengatakan hal buruk tentang saya? Mau di depan ataupun di belakang, tidak ada yang bisa mengatakan buruk tentang saya. Begitu juga tentangmu, Hazel."
Hazel menggelengkan kepalanya, lucu mendengar ucapan lelaki yang ada di hadapannya saat ini.
"Pak, sebaik apapun kita. Selama kita hidup di dunia. Pasti akan tetap ada orang yang menbenci dan mengomentari hidup kita. Mau kita bahagia ataupun susah, salah ataupun benar, bagaimanapun posisi kita. Orang pasti akan mengomentari kehidupan kita."
"Tapi tidak dalam duniaku, Hazel," jawab Ardan langsung.
Ardan bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Hazel. Duduk di atas meja kerjanya sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Dalam duniaku, hanya ada komentar baik. Walaupun mereka ingin berkomentar buruk, mereka harus berjaga-jaga. Karena siapa yang berkuasa, maka dia punya banyak telinga." Ardan tersenyum sinis dan memainkan kedua alis matanya.
Perlahan ia menundukan badannya, mendekatkan bibir ke telinga Hazel.
"Aku tidak tahu separah apa dunia yang kamu kenal. Tetapi dalam duniaku, tidak ada musuh yang benar-benar kejam ataupun teman yang benar-benar setia. Mereka bisa berubah sikap saat kamu di atas ataupun di bawah. Jadi, mereka hanya bisa menjaga lisan, walaupun tidak mampu menjaga pikiran, hem." Ardan kembali menegakan badannya dan tersenyum lebar.
Memperlihatkan tampilan giginya yang sangat indah. Menambah pesona ketampanannya saat giginya terlihat dengan jelas.
"Haaaah." Ardan menghela napasnya dengan kasar. Membuka jas yang ia kenakan dan meninggalkan kemeja lengan panjang berwarna dongker.
"Apa?"
"Apa yang saya sukai dan apa yang saya tidak sukai."
"Misalnya?" tanya Hazel kembali.
"Saya tidak suka kamu bicara sama lelaki lain."
"Lalu?"
"Saya suka saat kamu tersenyum," goda Ardan lembut.
Seketika Hazel mendongakan kepalanya, melihat wajah Ardan yang sedang tersenyum lembut. Ia menggelengkan kepala dan kembali sibuk pada beberapa berkas yang berserakan di atas meja.
"Hanya itu?" tanya Hazel dingin.
"Ck ... ayolah, Hazel. Kenapa kamu bersikap sangat dingin seperti ini? Saya sedang menggoda kamu," ucap Ardan kesal.
"Lalu anda mau saya bagaimana?"
"Ucapkan terima kasih atau ucapkan hal yang lainnya. Atau kamu juga bisa tersenyum dan berkata, calon suamiku sungguh menggoda." Ardan memainkan kedua alis matanya dengan jejeran gigi yang kembali ia tampilkan.
"Bisakah anda serius? Saya masih banyak pekerjaan," jawab Hazel malas.
Ardan kembali ke tempat duduknya, ia menghela napas sembari menatap wajah dingin wanita itu.
"Baiklah, saya tidak akan menggoda kamu lagi. Tapi kamu harus ingat apa yang saya katakan ini."
"Baik."
"Makanan kesukaan saya adalah steak, dengan kematangan well done, ingat hal ini. Saya tidak suka danging ataupun makanan mentah, jadi setiap saya ajak kamu ke restoran Jepang. Jangan pesankan saya makanan berbahan dasar mentah, seperti sushi ataupun sashimi."
"Baik."
"Saya tidak suka makanan manis, tidak suka makanan terlalu pedas. Saya tidak minum susu, jadi jangan hidangkan saya susu saat pagi. Cukup kopi ataupun teh. Selain putih, saya tidak suka warna terang, jadi jangan siapkan kemeja dengan warna terang, karena kulit saya tidak putih."
"Pantas anda tidak memiliki istri sampai sekarang, ternyata tuntutannya terlalu berlebihan."
"Kenapa? Kamu tidak terima?" tanya Ardan ketus.
Hazel hanya diam, tidak berniat menjawab ucapan lelaki itu.
"Saya alergi pada nenas, tetapi tidak ada alergi pada seafood. Jangan pernah suguhkan saya nenas jika kamu tidak ingin bermasalah. Saya tidak suka dibantah ataupun dicela, jadi dengarkan saya saat saya memberi perintah," sambung Ardan tegas.
"Anda menjadikan istri sebagai sekretaris pribadi? Kenapa banyak sekali yang harus diingat?"
"Saya mencari keduanya. Dan saya rasa, itu hal yang mudah diingat untuk wanita sepintar kamu," jawab Ardan lembut.
"Ada hal yang lainnya?" tanya Hazel malas.
"Saya suka tertidur dengan menggunakan sepatu. Jadi nanti jika kamu melihat saya tertidur dengan sepatu, lepaskan. Ataupun tertidur dengan dasi dan juga jas."
"Apa anda seorang bayi? Kenapa banyak sekali hal yang harus saya lakukan untuk anda?" tanya Hazel mulai kesal.
"Heh, saya ini pihak pertama dan kamu pihak kedua. Dengarkan apa yang saya katakan, dan kerjakan apa yang saya perintahkan."
"Baiklah, masih ada yang lain lagi?"
Ardan memutar bola matanya, mengelus sudut dagunya.
"Saya rasa cukup untuk awalnya, kamu akan mengerti saat kita bersama nanti. Lalu, bagaimana dengan kamu?" tanya Ardan kembali.
"Saya? Tidak ada yang harus anda ingat tentang saya."
"Baiklah," jawab Ardan mengalah.
"Jika tidak ada lagi, saya permisi."
"Hem, silahkan."
Hazel bangkit dari kursinya, berjalan meninggalkan ruangan GM itu. Langkahnya terhenti di depan pintu, ia kembali membalikan badannya, melihat Ardan yang sedang duduk sembari membaca map di tangannya.
"Hem, Pak," panggil Hazel lembut.
"Ada apa?"
"Saya ingin bertanya sesuatu pada anda."
"Katakan."
"Bagaimana jika anak yang saya lahirkan untuk anda nanti menderita kelainan? Mungkin autis atau kelainan sindrome?"
Ardan mengalihkan pandangannya, melihat Hazel yang berdiri di depan pintu ruangan.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Ardan penasaran.
"Karena--" Hazel menatap wajah Ardan, menggenggam jemarinya yang mulai dingin karena keringat.
"Anak yang saya lahirkan tidaklah sempurna. Dia memiliki kelainan." Hazel menghela napasnya dan berjalan kembali ke depan meja Ardan.
"Angelman syndrom," sambung Hazel sembari menundukan pandangannya, sebenarnya ia takut untuk mengatakan kebenarannya, namun dari pada Ardan mengetahui setelah menikah dan menimbulkan masalah.
Lebih baik jujur di awal, mungkin saja Ardan berubah pikiran dan memberikan syarat yang lainnya.
"Benarkah?"