For My Family

For My Family
58



Ardan menekan klakson mobil hitam legam miliknya, seorang satpam membuka pagar besar itu dengan sedikit tergesa.


Lelaki itu menurunkan kaca mobil, tersenyum lembut saat melewati lelaki tua dengan seragam navy tersebut.


Laju mobil itu menjadi lebih santai saat melewati jalanan dengan tampilan taman luas yang hijau. Beberapa pohon besar tertanam di sana, ada beberapa pohon asing dengan warna pink yang menghiasi seluruh batangnya.


Mata wanita itu menatap kagum. Tak bisa lepas dari pemandangan taman megah dengan segala dekor cantik dan unik.


"Peach blossom," ucapnya sedikit terkejut.


"Dan cherry blossom."


"Mas, bunga itu bisa mekar di daerah sini ya?" tanya Hazel penasaran.


"Tentu saja bisa, apa yang tidak bisa dilakukan oleh Erlangga."


Wanita iu memayunkan bibirnya, kembali duduk dengan benar. Matanya kembali takjub saat mobil itu mulai memasuki perkarangan rumah. Tampilan pilar-pilar besar dengan corak unik.


Rumah yang sangat besar dengan peraduan gaya Asia-Eropa itu terlihat elegan dengan warna cat cokelat muda dan krem. Sebuah air mancur besar dengan lampu bewarna yang menghiasi dekorasi airnya.


Mata Hazel tidak bisa berhenti memandangi ke area sekeliling.


"Aku pernah dengar kalau Gerald Erlangga adalah kolongmerat tersohor ibukota. Tetapi aku tidak menyangka jika kamu sekaya ini, Mas."


Ardan tersenyum dan memasukan mobil hitamya ke dalam garasi rumah. Beberapa mobil dengan merek yang sama, tetapi warna berbeda ada di sana.


Lelaki itu merentangkan badannya, menyentuh tengkuk leher dan menjatuhkan kepala, melepaskan lelah setelah menempuh lima jam perjalanan.


"Kamu suka di sini? Kalau suka tinggal saja di sini."


Hazel tersenyum getir dan menggelengkan kepala.


"Tidak, terima kasih. Rumah kecilmu lebih nyaman dari tempat ini, Mas."


Ardan terkekeh, ia menangkupkan kedua tangannya di kepala wanita itu. Merapikan anak rambut Hazel yang terjuntai ke depan.


Matanya lekat memandangi wajah putih wanita itu, dengan rambut cokelatnya yang terkepang dan di sanggul rapi. Memang wajahnya tidak seperti orang Indonesia sama sekali.


"Melihatmu yang seperti ini, aku jadi ingat film Yunani kuno. Kamu seperti gadis Yunani saja."


"Mas gak tahu ya?"


"Apa?"


"Perbatasan Turki Barat Laut, memang sebagian masyarakatnya percampuran Yunani."


"Masa sih?" tanya Ardan tidak percaya.


"Hem, Mas bisa googling. Daerah asal kedua orang tuaku, memang berbatasan dengan Yunani." Hazel melihat pantulan wajahnya di spion mobil. Melihat kepangan rambutnya yang masih sangat rapi.


"Dan gaya seperti ini, biasa gadis-gadia remaja di sana, suka berdandan seperti ini." Hazel menundukan pandangannya, mengingat bahwa dulu bundanya suka membentuk rambut cokelatnya seperti ini.


Perlahan jari-jarinya menyentuh kepangan tersebut, dia belajar ini semua dari wanita yang telah melahirkannya itu.


Rasanya ia sangat rindu, tetapi sekadar menemukan nisannya saja dia tidak mampu.


Jari Ardan menghapus air mata yang melintasi pipi wanita muda itu.


Hazel melepaskan senyumnya, melihat ke arah Ardan dengan punggung tangan yang menghapus sudut pipi.


"Aku baik-baik saja," ucap Hazel mengembangkan senyumnya.


Ardan ikut tersenyum, bagaimana dia bisa berkata baik-baik saja dengan raut wajah yang seperti ini.


"Aku ... hanya merindukan mereka, Mas."


"Aku tahu."


Ardan menarik kepala wanita itu, mendaratkan sebuah ciuman di dahi putih wanita berdarah Turki tersebut.


Kedua tangan kekarnya mendekap erat wanita tersebut. Menghela napas dengan sedikit berat.


Ardan tahu sekali bagaimana rasanya, merindukan orang yang sangat disayangi. Mencintai orang yang sudah tiada di dunia ini.


Terluka saat mengenangnya, karena menyimpan sebuah penyesal di dalam hati. Penyesalan atas diri yang tak berdaya melawan takdir dunia.


Apalagi saat ia harus menginjakkan kaki di rumah ini. Rumah tempat ia mengubur semua kenangan manis yang terasa pahit saat ini.


Tahu bagaimana kehilangan dan tahu bagaimana rasanya kerinduan yang hanya bisa di sampaikan oleh gelap lewat doa-doa di sepertiga malam.


Lelaki itu mencium puncak kepala Hazel, lalu melepaskan dekapan begitu saja.


"Kita turun?"


Wanita itu menganggukan kepala, merapikan juntaian panjang anak rambutnya dan membuka tuas mobil.


Matanya memandangi setiap mobil yang bersejajar rapi di dalam garasi itu. Dengan tiga warna yang berbeda, tetapi brand yang sama.


"Mas."


"Hm."


"Apa setiap warna mobil itu punya orang yang berbeda?" tanya Hazel saat melihat beberapa brand mobil mewah yang bersejajar rapi dalam garasi besar rumah itu.


Ardan tersenyum dan merengkuh bahu sempit wanita itu.


"Kenapa? Apa kamu mau satu?"


Hazel menggelengkan kepala, matanya masih menilisik mobil-mobil mewah itu satu persatu.


"Itu, m*rcy silver, ferr*ri merah dan mclar*n oranye, punya Arfi. M*rcy hitam, ferr*ri biru, itu punya Arfan. Sisanya punya Gerald," jelas Ardan sembari menunjuk mobil-mobil itu.


"Kenapa? Kamu kecewa kalau suamimu adalah Erlangga yang terbuang?" tanya Ardan menggoda.


"Tidak sih, tetapi sepertinya kamu memang bukan lagi anggota Erlangga, Mas."


Ardan terkekeh, ia menggelengkan kepala sembari menarik bahu Hazel menjauh dari garasi.


Berjalan menuju pintu rumah utama itu. Mata Hazel kembali memandangi rumah mewah tersebut, menatapi gaya arsitek bangunan rumah ini dengan jarak yang lebih dekat.


Tangan kekar itu baru ingin mengetuk, tetapi orang dari dalam sudah membukakan pintu terlebih dulu.


"Mas Ardan," panggil wanita paruh baya yang berada di balik pintu.


"Bi Indri, apa kabar?" tanyanya sembari tersenyum lebar.


"Saya baik, Mas. Mas sendiri bagaimana kabarnya?" tanya wanita bernama Indri itu kembali.


"Saya baik. Mama di rumah?" tanya Ardan lagi.


"Iya, Nyonya baru saja kembali ke kamar setelah ngeteh di taman samping." Mata wanita itu beralih pada wanita yang dirangkul Ardan, bibir Hazel mengembang saat wanita itu menatapnya, tersenyum sembari menganggukan kepala.


"Ini istri mas Ardan?"


"Iya, Hazel namanya."


"Cantik, cocok sama mas Ardan yang gagah ini." Wanita itu mencubit lengan tangan Ardan, sedikit geram.


Ardan hanya terkekeh dan berjalan ke dalam. Memang, Ardan lengket dengan wanita yang ia panggil Indri itu. Karena dari kecil, Bi Indrilah yang mengasuhnya.


Ardan menguatkan rangkulannya saat menyadari ada mata lelaki yang memperhatikan gerakannya.


"Hazel."


"Iya."


"Keadaan mama tidak terlalu baik. Nanti kamu berdiri di belakangku saja ya, kalau bisa menghindar, kamu  lebih baik hindari mama yang ingin menyentuhmu."


"Hem, kenapa begitu, Mas?" tanya Hazel penasaran.


"Mama, tidak terlalu suka dengan wanita cantik. Terlebih lagi, yang sangat cantik."


Hazel mencubit kulit di balik kemeja berwarna hitam itu. Geram oleh pernyataan Ardan.


"Au, ah, ini sakit," ucap Ardan menyipitkan matanya.


"Masih bisa menggodaku di saat seperti ini?" tanya Hazel sedikit geram.


Ardan hanya tersenyum, matanya menantang tatapan tajam yang sedari tadi memandangi dia dan Hazel.


Perlahan bibirnya ditarik sebelah, tersenyum sinis saat kepalan tangan Gerald terlihat semakin menguat.


Ardan menghela napas saat berada di balik pintu berbahan jati itu. Ia melihat sekilas ke arah Hazel yang berdiri di belakang punggungnya.


Perlahan jarinya mengetuk daun pintu dengan lembut, setelah beberapa detik, pintu itu terbuka.


Terlihat wanita yang sudah lumayan tua, tetapi masih terlihat cantik walaupun keriput sudah menutupi raut wajahnya.


"Mama."


"Ardan, kamu di sini?"


Wanita itu memeluk bahu kekar pria gagah tersebut dengan sangat erat. Melepaskan rindunya yang tertahan selama ini.


Detik kemudian, tangannya tertangkup di wajah lelaki berkulit sawo matang tersebut. Menciumi wajah lelaki bermata sayu itu terus menerus.


Setelahnya, mata tua itu teralih pada wanita mungil yang berdiri di belakang putranya.


"Dia siapa?" tanya wanita itu ketus.


Ardan memalingkan kepala, perlahan wanita muda itu menggeser badannya, berdiri di sebelah Ardan.


Bibirnya melebar, mengembangkan sebuah senyuman dengan tampilan gigi kecilnya yang bersajajar rapi. Ditambah dua lesung dalam di pipi putihnya.


Mata wanita tua itu lekat memandangi wajah Hazel. Perlahan tangannya yang tertangkup di pipi Ardan terlepas.


Genangan kaca mulai melapisi netra mata tuanya, sedikit gemetar, tangannya ingin meraih wajah Hazel.


Cepat, tangan Ardan menarik lengan tangan Hazel. Kembali menggeser badan wanita itu ke belakang punggung kekarnya.


"Ardan," panggil wanita itu gemetar.


"Jangan jauhkan dia dari Mama, Nak. Mama mohon," pintanya lembut.


Ardan memalingkan pandangan ke arah Hazel, bibir mungil wanita itu melengkung. Perlahan ia mengangguk dan kembali berjalan mendekati wanita tua dengan sebutan mama itu.


Dengan tertatih, langkah wanita itu mendekati wanita mungil tersebut. Tangan keriputnya gemetaran dengan kuat, sebuah air melintasi pipi keriputnya.


"Ma," panggil Ardan cemas.


Wanita itu merengkuh bahu Hazel, mendekap bahu mungil itu dengan erat.


"Arsy," lirih wanita itu lembut.


"Ini kamu, kan, Nak? Arsy, anak Mama sudah kembali?"


Hazel terkejut, ia memalingkan mata ke arah Ardan yang berdiri di sampingnya. Perlahan bibir lelaki itu melengkung, tersenyum sembari melepaskan air mata secara bersamaan.


"Arsy?" lirih Hazel bingung sendiri.