
"M-m-mas, maksudnya?" tanya Hazel tergagap.
"Aku ingin seorang putra, Hazel."
Dahi mulus itu berkerut, menatap wajah Ardan bingung.
"Bukan, bukan aku tidak menyukai Yena. Bukan juga aku tidak menyanyangi dia. Aku sungguh sangat sayang pada mereka. Tapi aku juga ingin seorang putra." Dua tangan kekar itu meraih wajah sang istri.
"Agar kamu, tidak akan pernah terganti."
Hazel tersenyum kecut, ia melepaskan tangkupan tangan Ardan pada pipinya.
"Mas, ayolah! Kita tidak lagi hidup di zaman kerajaan. Yang setiap permaisuri dipilih karena melahirkan seorang pangeran."
"Tapi Gerald butuh penerusnya, Hazel."
"Bukan hanya kamu, ada adik-adikmu."
Ardan mengusap kepalanya kasar. "Pernahkah kamu dengar soal bibit seseorang?" tanya Ardan datar.
"Papa akan mencari penerus dari bibit yang lihai bermain bisnis, Hazel."
"Lalu, apa Mas pikir Yena gak akan sanggup jadi penerus? Dia juga anakmu, bukan?"
"Benar. Tapi Yena seorang perempuan."
"Terus apa Mas pikir seseorang wanita tidak akan bisa memimpin perusahaan?"
"Tentu saja bisa! Lalu, saat dia menikah. Apakah mungkin dia akan terus bekerja?" tanya Ardan dan Hazel terdiam.
"Kumohon, Hazel. Aku hanya ingin keberadaanmu diakui papa."
Hazel menarik napasnya, menyilangkan tangan di depan dada. Jenuh saat mengingat peraturan keluarga Ardan.
"Mas tau aku melahirkan dioperasi? Mas tau Yena masih sangat kecil? Putra atau putri bukan kuasa aku, Mas. Itu kuasa Dia. Dan jika aku tidak diakui, memangnya kenapa?" tanya Hazel geram.
Ardan terdiam memerhatikan wajah sang istri yang semakin memerah padam.
"Sungguh aturan keluargamu kolot sekali," kata Hazel seraya berbalik. Meninggalkan Ardan dengan perasaan geram.
"Hazel, dengarkan aku dulu." Ardan mengikuti langkah gadis itu, menuruni tangga dengan sedikit berlari untuk mengejar sang istri.
"Dengarkan aku dulu, Sayang." Satu tangan Ardan menarik lengan Hazel, wanita itu memutar bola mata malas.
"Aku tau itu bukan kuasa kita. Tapi bisakah kamu mencoba?"
Gadis itu berdecak geram, melepaskan silangan tangannya malas.
"Bukan aku gak mau, Mas. Tapi maukah Mas menanggung risiko saat aku hamil lagi? Bekas operasi Yena baru rapat, Mas. Mas mau menanggung segala kemungkinannya?"
Lelaki itu bergeming, menundukkan pandangan seraya berpikir. Lalu, satu tangan itu ditarik untuk mengikuti langkah sang istri.
"Kalau begitu, aku titip Surya padamu, ya."
Spontan Ardan memeluk pundak Hazel yang berjalan di depannya. Memeluk tubuh mungil itu erat.
"Jangan bicara seperti itu, Hazel. Jangan bicara seakan-akan kamu akan meninggalkanku."
"Lalu aku harus bicara bagaimana, Mas? Kamu yang terus memaksa. Saat kuturuti, kenapa kamu pun tidak bersedia?"
Ardan hanya diam, semakin mendekap badan mungil itu erat.
Pikirannya kacau, bayangan tentang sang papa membuat ia takut sendiri. Memang, saat sesuatu memiliki kelemahan, maka banyak hal yang tidak akan mampu dipikirkan. Karena, pasti banyak imbas yang merasakan.
***
Pedro menarik napas, jemarinya menepuk genggaman tangan Arfi yang berada di atas paha.
"Sabar, Pak. Jika kamu tidak bisa sabar menghadapinya, itu malah semakin membuat dia tertekan. Jika memang cara melumpuhkan ingatannya pernah gagal, artinya trauma itu lebih dalam dari yang Anda bayangkan."
Arfi hanya menggeleng, tersenyum kecut. Entah menertawai apa? Hidupnya? Atau nasibnya?
"Yakinlah, jika Anda bisa bersabar perlahan traumanya akan menghilang dengan kebiasaan."
"Apa kita perlu membawanya ke psikiater?"
"Itu terserah Anda. Namun saran saya, jika dia takut pada rangsangan. Maka cara melepaskannya adalah membuat dia terbiasa akan hal itu."
Alis tebal itu bertaut, menilik wajah Pedro yang terlihat sangat tenang. Memang aura seorang dokter akan berbeda, bahkan hanya menatapnya saja seakan bisa mengangkat bebannya.
"Anda tanyakan pada dia. Siapkah istri Anda menemui seorang psikolog atau tidak? Jika dia tidak bersedia, maka Anda sendiri pun bisa melatih traumanya. Anda ... harus paham perubahan sikapnya."
"Bagaimana?" tanya Arfi bingung.
"Dia bahkan berkeringat saat dipandangi saja. Secemas apa dia? Setakut apa dia? Anda harus bisa melihat perbedaan dari sikapnya terhadap Anda. Memaksakan dia yang masih ketakutan itu akan memperparah traumanya."
"Lalu? Saya tidak paham ilmu psikologi. Bagaimana saya bisa tau?"
Pedro tersenyum lembut. "Pak, bukan hanya ilmu psikologi yang membuat Anda memahami segala rasanya. Ada yang lebih paham dan sangat dekat, bahkan tanpa dia bercerita Anda akan paham isi pikirannya."
"Caranya?"
"Jika Anda benar-benar mencintai dia. Maka tak perlu psikologi untuk memahaminya. Karena hati yang terikat, akan sangat dekat. Meski berada di dalam tubuh yang berbeda."
Arfi menundukkan pandangan, mencerna ucapan sang dokter. Mengapa dia masih merasa kecewa, walau dia tahu bagaimana psikis Nigar selama ini.
"Saya tau, berat memang mendapingi seseorang yang menderita PTSD. Tapi menyerah juga bukan jalannya, Pak. Karena mereka yang banyak mengalami trauma akan sangat sensitif pada perasaan. Jika Anda menjadi jauh dan dingin karena masalah ini, Anda hanya semakin membuat dia tertekan."
Arfi bergeming, terus terang dia juga bingung harus bersikap bagaimana?
"Lakukan pelan-pelan."
Arfi menggeleng, "itu tidak akan berhasil."
"Anda belum mencobanya."
"Sudah," jawab Arfi datar.
"Belum! Jika yang Anda maksud menyentuhnya tanpa memikirkan perasaannya. Itu bukan melakukan, tetapi memaksakan."
"Tapi itu hak saya!"
"Saya tau. Dan Anda jauh lebih tau."
Lagi-lagi lelaki itu terdiam.
"Jika Anda ingin dia bisa melakukan, maka buatkan terapi berjalan. Sentuh dia pelan-pelan dan perlahan. Hentikan saat respons pada tubuhnya mulai menunjukkan keterpaksaan."
"Aku tidak mengerti."
"Pak, Anda menikah bukan sama wanita biasa. Yang saat dia bahagia dia bisa menikmati bersenggama. Yang Anda nikahi adalah wanita istimewa yang masih berjuang melawan traumanya. Benarkah Anda tidak mengerti? Bukankah Anda mencintainya?"
Pertanyaan itu menusuk ke dalam hati. Benarkah dia mencintai? Atau masih sekadar penasaran pada sang istri?
Entahlah, kadang saat hubungan harus teruji. Kita akan bingung menentukan hati. Benarkah itu cinta pada hati, atau cinta pada apa yang dia miliki?
***
Arfi berjalan gontai memasuki gerbang rumah Ardan dengan melamun. Satu persatu ucapan Pedro berputar-putar di dalam pikiran.
Mendekati perlahan, melakukan sentuhan-sentuhan kecil lalu menghentikan saat respons Nigar mulai berlebihan?
"Bagaimana aku melakukannya? Dokter itu tidak paham semenggebu apa perasaanku jika berdekatan dengan dia?"
Arfi berdecak geram, lalu langkah itu terhenti saat melihat Mclarent milik sang kakak bertengger di halaman.
"Papa," lirihnya.
.
.
Plaaaakkk
Sebuah tamparan keras terlayang di wajah tampan bungsu Erlangga tersebut. Gerald menatapi wajah Arfi dengan sangat geram.
"Seperti inikah?" tanya Gerald geram, lalu sepasang mata tajam itu menatap ke arah Nigar.
"Seperti inikah caramu? Aku ini Papamu! Arfi Erlangga!" bentak Gerald dan sang anak hanya terdiam.
Sementara ada cengkeraman yang menguat di lantai dua. Ardan memanas, lagi dan lagi, cara Gerald sangat kasar dalam mengajar.
"Aku ini masih Papamu! Aku yang membesarkanmu, menyekolahkanmu, menghidupimu dan segala keinginanmu, itu aku! Aku yang berusaha memenuhinya, Arfi Erlangga!"
Dada tua itu bergemuruh, panas dan semakin berkobar saat melihat wajah putranya yang hanya tertunduk dalam.
"Kau adalah putra kesayanganku. Apa pun itu asal kau mau tak pernah aku membatasimu. Bahkan kau yang tak pernah serius dalam berbisnis. Mengapa kau pun sama saja! Membuatku kecewa, aku rasanya mau mati menghadapi tingkah putra-putraku!" bentak Gerald.
Tangan Nigar yang tergenggam mulai bergetar. Suara Gerald, bahkan lebih menyeramkan dari petir yang menyambar.
"Mengapa kau menyontoh perbuatan buruk kakakmu? Setelah Ardan yang menikah tanpa memberitahu keluarga. Kini kau pun sama! Apa aku ini hanya seonggok daging buat kalian? Hah? Apa aku ini tidak lagi berarti di mata kalian?" tanya Gerald semakin lantang.
"Jawab aku, Arfi Erlangga!" teriak Gerlad dan rahang Ardan semakin bergemalatuk geram. Cengkeremannya di pagar pembatas semakin mengerat.
"Tidak bisakah kamu menghormatiku? Mamamu? Kami ini orangtuamu! Apa kau lahir dari batu?"
Plaaaak
Satu tamparan kembali menghujan pipi sang putra. Ardan semakin tak tahan.
"Jika memang orangtua, mengapa cara Anda mengajarkan hanya dengan memaksa?" sahut Ardan dari lantai atas.
Mata tajam itu memerah, usapan tangan Hazel pada lengannya tak lagi mampu meruntuhkan amarah. Dia geram, dan dia ingin meluapkan.
"Oh. Seperti itukah caramu berkata pada Papamu, Ardan?" tanya Gerlad beralih menatap Ardan.
"Bahkan saat aku berkunjung ke rumahmu. Kau masih di atas dan tak ingin berada satu lantai? Seperti itukah anak memperlakukan orangtua!" bentak Gerald semakin panas.
"Jadi Anda mau diperlakukan seperti apa? Seperti seorang ayah? Tanyakan pada diri Anda, pernahkah Anda melakukan tugas selayaknya ayah?"
Hazel menarik lengan Ardan, mencoba mengalihkan pandangan sang suami yang beradu sengit pada sang papa.
Sementara dada tua itu semakin naik-turun dengan sangat cepat. Mendapatkan perlakuan Ardan yang semakin keras, mengapa semakin sakit hatinya.
Gerald menganggukkan kepala seraya menata Ardan dan Arfi bergantian.
"Baiklah. Jika kalian memang tidak lagi menganggap aku ini orangtua. Kembali ke ibu kota dan kita akhiri hubungan ini."
Nigar langsung melihat ke wajah Arfi, lalu berganti ke arah Gerald.
Gerald mengendurkan ikatan dasinya, lantas berjalan ke arah pintu. Langkah itu terhenti, sempat menoleh sekilas.
"Malam ini. Kalian berdua harus kembali ke ibu kota. Atau ... jangan harap kalian bisa melihat keluarga Erlangga lagi, dan jangan harap kalian bisa menemui istriku lagi!" tekan Gerald.
Itu semakin membuat rahang Ardan mengeras, sementara Arfi mulai gelagapan. Menatap sang kakak yang masih berdiri di lantai dua seraya memandangi punggung sang papa yang hilang di balik pintu.