
Ardan mengetuk daun pintu yang sudah terbuka lebar. Masuk dengan segelas cokelat panas buatan bi Indri dan meletakannya di sebelah gadis belia yang sedang mewarnai gambar.
"Kamu buat apa?" tanya Ardan mengelus lembut rambut berwarna pirang gadis kecil itu.
Tangannya sibuk mewarnai pendekar lelaki berbalut baju warna hitam legam. Setelahnya, bibir mungil itu mengembang, memberikan gambar ke tangan Ardan.
"Ini pendekar naga, Ardan Erlangga," ucapnya manja."
"Ini pendekar singa Arfan Erlangga, ini pendekar macan Arfi Erlangga."
"Dan ini?" Tunjuk Ardan ke sebuah kertas dengan gambar wanita berpita panjang.
"Ini tentu saja Dewi bulan Arsy Erlangga, hem." Gadis itu merebut kertas yang ditunjuk oleh Ardan, menyunggingkan bibirnya sembari menyimpan di dalam laci.
Ardan tertawa sembari mengacak puncak kepala gadis itu.
"Kenapa kami pendekar dan kamu Dewinya?"
"Tentu saja karena aku sangat cantik."
Ardan terkekeh, ia mengambil buku komik yang ada di rak buku dan membukanya.
"Kak Ardan."
"Hem."
"Aku dengar, katanya kak Ardan mau menikah dengan wanita dewasa ya?"
Ardan memalingkan mata, tangannya terhenti saat ingin membalik lembaran komik itu.
"Kamu dengar dari mana?"
"Aku gak sengaja dengar saat ayah dan kak Arfan bertengkar di ruang baca. Kak Arfan bilang dia hanya mau menikahi kak Ferla, tetapi sepertinya kak Ferla menyukai kak Ardan. Jadi ayah mau mencarikan calon untuk kak Ardan."
Ardan tersenyum dan mengacak rambut gadis belia itu.
"Hei, pikirkan ujianmu. Jangan pikirkan apa yang seharusnya tidak kamu pikirkan," ucap Ardan menenangkan.
"Hem, aku juga tidak akan menikahi pria lain selain kak Ferdi," lirih Arsy sembari terkekeh kecil.
Ardan yang mendengarkan itu ikut terkekeh, ia kembali mengacak rambut adiknya tersebut.
"Hei, Ferdi itu sudah tua. Dia seumuran denganku, apa kamu pikir dia mau memacari bocah kecil sepertimu? Bahkan berciuman saja kamu tidak tahu."
Kekesalan jelas tergambar di wajah belia gadis itu. Ia bangkit dan mencubiti dada kekar kakaknya itu.
"Yang kakak bilang gak bisa ciuman itu siapa? Ha?" tanyanya kesal.
Ardan menunjuk ke arah Arsy dengan senyuman yang tertahan.
"Aku bisa ciuman, aku juga sudah tahu caranya pacaran." Arsy menjatuhkan bokongnya di sebelah Ardan. Menyilangkan kedua tangan di dada dan memunggungi kakaknya tersebut.
"Dari mana kamu tahu caranya pacaran, hm?"
"Tentu saja dari pengalaman." Gadis itu menutupi mulutnya dengan tangan. Matanya membulat lebar dengan jari kecil menggaruk kulit kepala yang tidak gatal.
"Oh ... pengalaman." Ardan mendekatkan bibirnya ke telinga gadis kecil itu.
"Katakan, pria mana yang berani memacari adiknya Ardan Erlangga, hm?" Ardan menghujani pinggang gadis kecil itu dengan gelitikan dari jari kekarnya.
Kekehan terdengar keluar dari bibir gadis itu. Sesekali suaranya berteriak, menggema ke seluruh ruangan.
"Ehem, Ardan." Deheman dari pria tua di ambang pintu menghentikan candaan putra-putrinya tersebut.
"Ikut Papa sebentar, ada yang ingin Papa bicarakan."
Ardan mengangguk, tangannya mengelus puncak kepala gadis kecil itu sebelum berjalan keluar.
Beberapa foto gadis cantik dilemparkan Gerald ke atas meja. Perlahan jari kekar Ardan meraihnya dan memperhatikan satu persatu.
"Ini semua anak dari Dewan Direksi dan beberapa pengusaha teman Papa. Pilihlah satu yang paling cocok untukmu, nikahi dia."
"Ha? Apa?" Ardan terkejut dan membanting foto itu kembali ke atas meja.
"Ardan, umurmu sudah matang. Papa ingin kamu menikahi salah satu dari mereka agar perusahaan kita bisa berkembang."
"Sungguh aku bosan! Dulu aku disuruh kuliah, setelah lulus kuliah aku dipaksa masuk perusahaan dan bekerja. Sekarang aku dipaksa menikah, setelah ini aku dipaksa apalagi? Dipaksa mati?"
Plaaak
Tamparan keras mendarat di pipi lelaki berkulit sawo matang tersebut.
"Jaga ucapanmu! Apa yang Papa lakuin, semua untuk kebaikanmu dan keluarga ini."
Ardan tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.
"Benarkah untuk kebaikanku dan keluarga kita? Atau untuk ambisi Papa yang ingin mengembangkan perusahaan Erlangga hingga diakui dunia?"
Plaaak
Kembali tamparan mendarat di pipi lelaki itu. Gerald Erlangga yang terkenal dengan kebijaksanaan dan kebiwaannya di luar sana. Hanyalah seorang ayah yang sangat tegas dan kejam terhadap anak-anaknya.
Tidak ingin dilawan dan tidak ingin dibantah. Apapun yang ia inginkan harus mendapatkan jalan. Mau itu mudah atau susah sekalipun, ia tetap harus meraihnya. Mau itu sebuah pilihan ataupun pengorbanan, ia sanggup melakukannya tanpa memikirkan perasaan keluarganya.
"Aku mau memacarinya, tetapi aku tidak akan menikahinya."
"Ardan, jangan main-main kamu. Jangan cari masalah dengan anak Dewan Direksi atau perusahaan kita dipertaruhkan."
"Kalau begitu jangan memaksa aku!"
"Ardan, tidak bisakah kamu melihat keadaan? Saat ini perusahaan butuh bantuan. Apa yang kamu lakukan dengan Arfan? Main dan terus main, bahkan kalian bisa meninggalkan rapat hanya gara-gara urusan luar. Apa kalian pikir Papa punya cara untuk mempertahankan perusahaan selain dengan cara menikahkan kalian?"
"Kalau begitu nikahkan Arfan, atau Arfi. Jangan nikahkan aku! Aku tidak akan menikahi siapapun yang menjadi pilihan keluarga ini!"
Ardan keluar dari ruang baca itu dengan sedikit membanting daun pintu. Memasuki kamarnya, menyambar jaket dan segera berlalu pergi.
Membelah jalanan malam, untuk mendatangi kelab malam. Menikmati indahnya malam yang terus membawanya ke dalam jurang kehidupan.
Tidak sadar, apa yang ia nikmati di masa ini. Membawanya ke dalam bencana di masa depan.
Yang ia tahu hanyalah berjalan, menikmati setiap sentuhan tangan wanita yang sedang ia butuhkan untuk menenangkan pikiran.
***
Dua kembar itu sedang fokus pada layar datar yang ada di depannya. Duduk tanpa alas di lantai marmer kamar Ardan.
Menyiapkan bahan-bahan teori untuk membantu Arfi menyusun skiripsinya. Sedang yang dibantu malah asyik bermain game playstation bersama sahabat wanita mereka. Ferla.
"Ini letakan di tengah bab, Ardan. Kalau begini nanti Dosen Arfi pasti bakalan coret-coret berkasnya."
"Oh," jawab Ardan cuek. Tangannya masih sibuk dengan keyboard laptop, sementara telinganya mendengarkan apa yang dibacakan oleh kembarannya itu.
"Hei, Arfi. Janji setelah ini kamu akan memberikan nomor Dosen cantik itu ya," ucap Ardan senang.
"Siapa?" tanya Arfi cuek.
"Hei ... jangan main-main kamu!" teriak Ardan kesal.
Arfi terkekeh, ia menggelengkan kepala sembari memainkan stik game dengan lihai.
"Baiklah, tumben kak Ardan mendekati gadis berkacamata dan tanpa riasan seperti itu? Biasa juga sukanya yang seksi dan kerjaannya clubing tiap malam."
"Bosan! Sesekali pingin pacaran sama yang alim."
Tiga pemuda itu terkekeh, sementara gadia manis yang sedang bermain dengan Arfi, hanya bisa diam saat merasakan remasan di dalam dadanya yang kian terasa mendalam.
Bertahun-tahun ia memendam perasaan terhadap lelaki berkulit sawo matang itu. Tetapi selain mendekat sebagai sahabat, ia sama sekali tidak bisa mendekati lebih dari itu.
Ardan selalu tersentuh oleh wanita-wanita seksi dan cantik yang ia pacari. Bersikap manis dan juga bisa mengatakan gombalan yang menghanyutkan. Tetapi kenapa? Mata tajamnya itu tidak pernah sekalipun memandang ke arahnya.
Suara gebrakan pintu terbanting kuat, Arsy masuk dengan melemparkan tasnya di atas kasur. Menjatuhkan kepala di atas pangkuan Arfan.
"Ada apa?" tanya Arfan saat melihat gadis kecil itu menekuk wajahnya.
Mendengar pertanyaan Arfan, Ardan memalingkan matanya dari layar laptop. Melihat Arsy yang mengerucutkan bibirnya panjang.
"Hei, Dewi Bulan. Tadi pergi masih anggun banget, kenapa saat pulang jadi iblis neraka jahanam?"
Arsy menarik kulit perut Ardan, geram oleh pertanyaan kakaknya itu. Ia memalingkan wajah, membenamkan di perut lelaki berkulit putih itu.
Perlahan tubuh mungilnya bergetar, menangis menyembunyikan wajah jauh ke dalam.
Arfan menyenggol bahu bidang Ardan, menunjuk dengan dagu ke arah Arsy yang sedang menangis dalam.
"Arsy, kamu kenapa, Sayang?" tanya Ardan mengambil kepala gadis belia itu dan memindahkannya ke atas pangkuan.
Bukannya berhenti, gadis belia itu mengencangkan tangisannya. Kini Arfi yang sedang asyik bermain game pun ikut menghentikan kegiataannya. Mendekati gadis bungsu, Dewi satu-satunya dirumah ini.
"Ada apa?" tanya Arfi yang ikut berjongkok di sebelah Arfan.
Semakin ditanya gadis kecil itu semakin mengencangkan tangisannya.
"Arsy, bukannya tadi kamu makan malam sama papa dan mama? Kenapa pulang-pulang kamu nangis, Sayang?" bujuk Ardan lembut.
"Ayah, dia ngelarang aku pacaran."
Seketika jawaban gadis kecil itu membuat tiga kakaknya menghela napas. Tak terkecuali Ferla, ia hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum.
"Ayah bilang aku tidak boleh pacaran sama kak Ferdi yang tidak punya masa depan. Karena itu ayah mau menjodohkan aku dengan anak temannya. Ayah bilang, kami akan bertunangan setelah lulus kuliah."
Ardan menarik bahu gadis kecil itu dan menududukannya. Menangkupkan kedua tangannya di pipi chubby gadis belia itu.
"Memang seperti itu papamu, jangan dipikiri, saat ini fokuslah pada ujian kelulusan. Nanti saat kamu dewasa, kamu punya cara untuk menentang keinginannya, hm."
Gadis belia itu menganggukan kepala, punggung tangannya menghapus sudut pipi yang sudah terlanjur basah.
Ardan tersenyum dan mengacak pucuk kepalanya. Gadis belia ini, terkadang buat khawatir saja.
Sedang dua kakak yang lainnya mulai usil dengan menggodai gadis kecil itu.
Menganggap enteng permasalahan yang sedang dihadapi adik bungsunya itu.
Masalah yang mereka anggap sepele dan bisa teratasi seiring berjalannya waktu. Ternyata menjadi ancaman besar yang tanpa mereka sadari menjadi tragedi mengenaskan yang berujung perperangan panjang yang tak kunjung usai.