
Suara tangisan bayi cantik itu menggema saat Arfi memarkirkan mobilnya. Lelaki berambut pirang kecokelatan itu mengerutkan dahi. Langsung turun untuk melihat Yena. Sementara Nigar langsung masuk ke rumah.
"Ada apa, Pa?" tanya Arfi melihat Gerald tengah kelabakan mendiamkan Yena.
Lelaki berambut putih itu berpeluh, mendekap Yena, dan itu membuat alis Arfi naik sebelah.
"Pa?" panggil Arfi, Gerald hanya tak acuh.
"Berikan Yena padaku," pinta Arfi dan Gerald menggeleng, menjauhkan tubuh mungil cucunya dari tangan Arfi.
"Pa, ada apa? Tidak biasanya Yena menangis kejer seperti itu?" tanya Arfi dan Gerald semakin kelabakan.
Melihat gelagat sang Papa, Arfi memaksa. Mencoba meraih tubuh mungil itu dan membalikkan tubuhnya agar wajah Yena kelihatan.
"Astaga, Papa. Kenapa bisa seperti ini?" tanya sang putra kaget, dahi mungil bayi cantik itu sedikit memar kebiruan.
"Ayo kita bawa ke dokter, Fi. Papa takut dia kenapa-napa, dari tadi nangis terus."
Bungsu Erlangga itu menggelung kausnya, mencoba mengompres dahi Yena dan bayi Ardan itu semakin menangis kejer.
"Kenapa bisa begini, sih, Pa?" tanya Arfi menatap wajah Gerald.
Wajah tua itu tampak gelisah, takut jika Ardan mengetahuinya, pasti dia akan murka.
"Pa," panggil Arfi dan Gerald semakin mendekap badan Yena. Menciumi kepala bocah kecil itu, menghirup harum tubuhnya.
Arfi menarik napas, menggeleng pelan saat melihat kebucinan sang papa terhadap cucunya.
"Jangan beri tau Ardan, ya."
"Jangan beri tau apanya?" tanya Arfi sembari mengompres dahi Yena. "Ardan pasti akan tau."
"Tau apanya?" Bariton suara itu membuat Gerald gelapan. Dia membalik badan Yena yang masih menangis kencang.
"Tidak ada apa-apa," kata Gerald tersenyum kaku.
"Berikan Yena padaku. Aku ingin menggendongnya sebelum ke kantor," pinta Ardan dan Gerald semakin mendekapnya.
Melihat ulah Gerald Arfi hanya menarik napas. Baru kali ini, lelaki tua itu tampak takut menghadapi putranya.
"Apa-apaan ini? Berikan padaku!" perintah Ardan dan Gerald semakin menjauh.
"Pa!" bentak Ardan geram. "Aku hanya ingin menggendongnya sebentar, kenapa Papa terus memonopolinya?" tanya Ardan meradang.
Mendengar bentakan suaminya, Hazel mendekat. Dengan sebotol susu yang sudah ia siapkan.
"Yena mungkin haus, Pak. Berikan pada saya dulu, biar dia tidak menangis terus." Lembut suara gadis itu membuat Gerald takut.
Terlebih mengetahui sifat Ardan yang sangat posesif. Siapkah dia jika harus dijauhkan dengan sang cucu?
Gerald menatap wajah Hazel dan Ardan bergantian. Bagaimana dia akan menjelaskan?
Ardan mendesis geram, ia menatap Hazel kesal.
"Lihat, Hazel. Dia padahal anakku, kenapa jadi dimonopoli sama Opanya?" adu Ardan.
"Mas." Tangan putih itu mengelus lengan sang suami.
Mata berwarna madunya menatapi Gerald dan Yena secara bergantian. Tidak biasanya Yena menangis sepagi ini, dan tumben sekali Gerald mendekapnya sangat kuat.
Hazel menarik napas, pasti terjadi sesuatu pada bayi cantiknya. Dan Gerald, takut untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Pak," panggil Hazel dan Gerald menoleh.
"Kasihan Yena kalau dibiarkan nangis seperti itu. Biarkan saya diamkan dia dulu, setelah itu Anda bisa menggendongnya lagi."
Pandangan Gerald tertunduk, sadar cepat atau lambat Ardan pasti tahu. Tidak mungkin dia menahan bayinya lebih lama.
"Maaf," sesal Gerald lembut membuat kakak beradik itu tercekat. Sejak kapan Gerald mengenal kata maaf?
Selama ini bahkan lelaki itu sangat angkuh. Jangankan meminta maaf, mengakui kesalahan saja tidak mau.
"Maaf, Istri Ardan. Bayimu terluka." Pelan Gerald membalikkan tubuh mungil itu, seketika wajah Ardan memerah.
Ingin meledakkan amarahnya, pantas saja Gerald menyembunyikan bayinya.
"Pa ...." Ucapan itu terhenti saat Hazel mencubit lengan Ardan kuat. Pandangan tajam itu teralih ke arah sang istri.
Cepat tangan Hazel mengambil Yena yang Gerald sodorkan, lalu mengelus dahi putih sang bayi lembut.
"Kalo saya boleh tau, Yena kenapa, Pak?" tanya Hazel lembut.
"Maaf, saya teledor menjaganya, tadi ada yang menelpon. Saya menerima panggilan dan meninggalkan dia di rerumputan. Saat saya berbalik dia ingin berdiri memegang besi kursi. Ternyata dia tersungkur sebelum saya sempat menangkapnya."
"Hah? Yang benar saja? Yena duduk saja masih belum bisa ...."
Lagi, perkataan itu berhenti, kali ini Hazel mengenggam erat tangan Ardan.
"Tidak apa-apa. Yena jatuh mau cepat pintar, ya, kan, Nak?" kata Hazel mengecup lebam di sudut dahi Yena.
Ardan terkekeh getir mendengar ucapan sang istri.
"Hazel, bagaimana bisa kamu mengatakan tidak apa-apa? Kepala anakku terbentur, bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?" tanya Ardan ketus dan semakin membuat pandangan Gerald tertunduk.
"Mana bisa seperti itu. Ini anakku, Hazel!"
"Mas, sudahlah. Yena sedang bertumbuh, dia pasti lasak."
Ardan melepaskan tawa mirisnya, menggeleng pelan. Bagaimana bisa gadis itu sangat lembut dengan Gerald. Biasanya dia akan selalu cerewet soal anak-anaknya. Lalu, tatapan itu tajam menatap Gerald.
"Apa Papa ingin menyakiti anakku karena Papa tidak mampu menyakitiku, begitu?" tanya Ardan geram.
"Mas!" tekan Hazel tidak suka. "Yena juga cucunya Pak Gerald. Aku yakin Pak Gerald juga tidak ingin Yena terluka. Ini hanya kecelakaan, jangan menyalahkan seperti itu. Yena akan baik-baik saja."
"Dari mana kamu yakin? Bagaimana jika Yena kenapa-napa?"
"Maaf, ini memang salah saya," sesal Gerald tertunduk.
"Maaf, saya sudah melukai bayimu." Tubuh tua itu berlalu, meninggalkan taman dengan tertunduk lesu.
Iba, ibu beranak dua itu menatap tidak tega. Lalu, iris berwarna madunya kembali menatap sang suami.
"Mas kenapa, sih? Papamu juga tidak akan melukai. Dia tulus menyanyangi Yena."
Ardan hanya membuang wajahnya, kesal. Pagi-pagi ada saja yang membuat amarahnya membuncah.
"Maaf, Kak. Bukan aku mau ikut campur, tapi melihat wajah Papa. Dia memang benar-benar tampak menyesal. Bahkan dia bisa mengucapkan maaf hanya karena luka di dahi Yena."
"Ah, terserahlah." Ardan mengibaskan tangannya, berbalik dan berjalan menuju garasi mobil.
Kesal, mengapa semuanya jadi membela Gerald Erlangga?
Arfi dan Hazel saling memandang. Lalu tawa mereka pecah, anak dan ayah itu masih sama-sama gengsi. Namun, sifat dan sikap mereka semakin mirip saja.
Beriringan langkah mereka memasuki rumah. Hazel langsung memasuki kamarnya untuk menidurkan sang bayi.
Pelan jari-jarinya mengelus sudut dahi putrinya. Mengajak bicara bayinya, lalu sesekali tawa Yena pecah. Bermain sambil menyusu.
Di sudut sini ada bibir yang ikut tertarik, sedikit lega saat mendengar cucunya kembali tertawa. Lamat ia memerhatikan ibu dan anak itu di atas kasur.
Lemah lembut gadis keturunan Turki itu merawat bayinya. Sangat sempurna menjaga cucunya.
Setelah lelah bermain, bayi itu tertidur. Telaten, Hazel mengompres dahi mungilnya agar sedikit membaik. Setidaknya agar bayi itu tertidur dengan nyaman.
Suara ketukan di daun pintu yang terbuka mengalihkan pandangan Hazel. Gadis itu tersenyum lembut saat melihat Gerald berada di depan pintu.
"Masuk, Pak," katanya dan Gerald hanya terpaku di ambang pintu.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Gerald dan Hazel mengangguk.
"Apa tidak dibawa ke dokter saja? Bagaimana jika terjadi sesuatu nanti?"
"Tidak apa-apa, itu hanya benturan kecil. Saat ini dia sudah tertidur dan nyaman. Dia akan baik-baik saja, karena dia cucu Anda." Gadis itu kembali tersenyum, mengambil kain kompresannya. Lantas, mengecup dahi yang lebam.
Gerald hanya diam, sudah seperti ini. Namun, mengapa gadis berwajah Timur Tengah itu sama sekali tidak marah? Bahkan kata-katanya masih mampu menenangkan jiwa.
Perlahan Gerald mulai mengerti, mengapa putra sulungnya yang begitu keras kepala dan selalu menginginkan yang sempurna. Bisa memilih dan menikahi janda seperti dia.
Memang ada sisi di mana gadia berwajah cantik itu terlihat lebih unggul dibandingkan gadis-gadis yang dia pilihkan dulu.
Salah satunya, kepiawaannya dalam merawat anak dan suami.
"Istri Ardan," panggil Gerald dan Hazel menoleh.
"Apa setelah ini, saya ... masih boleh menggendongnya?"
Hazel tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja. Dia cucu Anda. Masuklah, Pak. Mungkin Anda ingin menemani dia tidur." Hazel bangkit dari atas kasur. Membereskan sisa kompresan dan berjalan keluar.
Saat berselisihan, Gerald kembali menyapanya.
"Ezgi Hazel Nazha."
Seketika kepala gadis itu menoleh.
"Ya?"
"Terima kasih."
Hazel tersenyum dan mengangguk pelan.
"Sama-sama, Pak." Baru akan melangkah, Gerald kembali memangil ibu dua anak itu.
"Ezgi Hazel Nazha."
Hazel menatap wajah tua itu lamat. Gerald terdiam, seperti bingung mengungkapkan sesuatu, karena bibir tua itu terlihat ingin mengucapkan sesuatu. Namun, suaranya tidak keluar.
"Apa ada yang ingin Anda katakan lagi, Pak?"
Gerald menggeleng, Hazel tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Keluar dari kamar.
"Berhentilah memanggil saya Pak," kata Gerald dan langkah Hazel yang menapaki koridor terhenti.
"Karena saya bukan lagi Presdirmu, tetapi ayah dari suamimu."