For My Family

For My Family
257



Dengan tergesa Arfi membuka pintu kamarnya, kini dadanya bukan lagi berdebar karena perasaan senang atau sebagaimana semestinya. Melainkan nyeri dan sakit yang hampir tak bisa dia tahan.


Langkah kaki Arfi sedikit memundur saat melihat badan bidang Kakaknya ada di balik pintu.


"Kak Ardan," katanya sedikit terkejut.


"Ada apa? Kenapa wajahmu kacau?"


Baru akan menjawab pertanyaan Ardan, Khadijah keluar dari kamar mandi dengan sedikit berlari.


"Arfi—" panggilannya terjeda saat gadis itu menatap Ardan di ambang pintu.


Secepatnya Arfi memutar badan Ardan, sedikit tersenyum Ardan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Hei, apa ini? Kau mengatakan aku posesif, tapi kau ternyata lebih parah."


"Maaf, Kak. Istriku sedang tidak pakai hijab. Bisa Kakak tunggu sebentar!" Arfi langsung menutup pintu kasar.


Ardan terekekeh, pelan. Menggelengkan kepala. "Apa kau pikir aku akan tergoda? Kakaknya istrimu jauh lebih menggoda!"


"Ini bukan masalah siapa yang paling menggoda! Ini masalah aurat! Kau mengerti aurat?!" teriakan dari dalam semakin membuat tawa Ardan pecah.


"Aku tunggu di bawah, ada yang ingin kubicarakan. Cepatlah turun!"


Tak lagi menjawab Arfi hanya menghela napasnya, ia menatap Khadijah tak suka.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan ceroboh seperti ini lagi, walau Kak Ardan Kakakku, aku tak suka auratmu terlihat olehnya."


Khadijah menundukkan pandangannya, menyesal karena tidak hati-hati dalam bertindak.


"Maaf," sesalnya semakin menunduk.


Arfi menghela napasnya, dia tangkupkan tangan dan mencoba mendongakkan wajah cantik itu.


"Maaf, ya. Aku terkejut saat melihat test pack di tanganku menunjukkan garis dua. Karena untuk pertama kalinya, benda itu membuat luka paling pahit yang tak pernah bisa kuterima."


Sepasang binar indah itu menatap wajah Arfi kebingungan.


"Kamu tidak bahagia aku hamil?"


Arfi menggeleng, "sumpah aku bahagia!" Dia tarik tubuh itu ke dalam dekapan.


"Tapi aku terkejut saat liat test pack yang sama dengan yang kutemukan di lantai Arsy dulu. Sekilas bayangannya terlihat di mataku, sayangnya sakitnya terasa sangat menusuk di jantungku. Aku tak bisa bernapas melihat benda itu, entahlah aku bingung menjelaskannya." Perlahan dekapan tangan Arfi terasa sangat menguat.


Pada dasarnya setiap personel Erlangga memiliki traumanya masing-masing, hanya saja mereka terlihat kuat dan baik-baik saja untuk menyamarkan segalanya. Sejatinya tak ada trauma yang hilang hanya karena waktu yang berjalan, semuanya butuh penyelesaian, dan obat yang menyembuhkan.


"Besok kita ke dokter, ya. Maafin aku sekali lagi."


Kepala di dalam dekapan itu mengangguk pelan, dia mendongak. Tak seperti biasa, kini tatapan Arfi terlihat tidak baik-baik saja.


Lelaki itu kembali menangkupkan tangannya di wajah kekasihnya. Mencium dahi mulus itu lembut.


"Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Kak Ardan, kamu istirahatlah lebih dulu. Jangan keluar lagi, dengar!"


Khadijah meleraikan senyum terbaiknya, dia mengangguk dan sebuah kecupan kembali menyentuh dahinya.


Tegap langkah itu menuruni tangga, menemui Ardan yang sudah menunggunya di ruang tengah. Lelaki itu langsung menjatuhkan badannya di sebelah Arfan.


"Ada apa, Kak?" tanya Arfi tanpa basa-basi.


"Aku akan keluar pulau untuk mengurus pemisahan anak perusahaan bersama Evan dan Ferdi. Arfan akan menggantikan posisi Ferdi sementara dan aku memintamu untuk mengawasi perusahaan pusat selama aku tidak di sini. Kau sanggup?" tanya Ardan tanpa basa-basi.


Lelaki yang paling muda itu menghela napas berat. "Memang aku punya pilihan lain?"


"Tapi kali ini tolong seriuslah! Aku berjuang untuk kau, jadi jangan seenaknya saja seperti biasa!"


"Iya, aku tau. Aku juga akan bertanggung jawab kali ini. Selain tak menginginkan istri kedua, aku juga akan menjadi ayah."


Mendengar itu, seketika Arfan dan Ardan menatap Arfi. Akhirnya masa ini tiba, masa di mana mereka menemukan cara masing-masing untuk bahagia. Tak menyangka bahwa Arfi bisa dewasa secepat ini.


"Hei, kenapa kalian melihatku seperti itu? Aku tidak melakukan kesalahan! Aku menghamili istriku sendiri!"


Ardan dan Arfan tersenyum jahil, mereka menyerang Arfi yang tak siap. Satu tangan Ardan terus menjitak kepala Arfi yang tengah dikunci oleh Arfan.


"Apa-apaan kalian? Hei!" teriak si Bungsu itu tak berdaya.


"Akhirnya, ada masa di mana kau tidak membutuhkan kami untuk menghasilkan sesuatu."


Arfi mengumpat kasar, bibirnya terkekeh geli. "Tentu saja! Siapa yang butuh bantuan orang lain untuk membuat anak?"


"Kupikir kau membutuhkan bantuan dalam segala hal. Termasuk membuat anak!" celetuk Arfan.


Ardan terkekeh mendengar jawaban Arfan, sementara mereka berdua masih beradu kekuatan, sesekali Arfan kewalahan menghadapi perlawan adik bungsu mereka.


Setelah sekian lama, akhirnya ada sesuatu yang bisa mereka bercandakan, dan tak semua yang mereka bahas hanya tentang masalah perusahaan.


"Aku rindu kalian," lirihnya pelan. Sayangnya lirihan itu terdengar jelas di kedua telinga adiknya.


"Kalau begitu cepatlah kembali dan selesaikan pekerjaanmu dengan cepat. Karena bukan hanya kau, aku pun juga ingin cepat pulang," kata Arfan dan hanya dijawab anggukan oleh Ardan.


Hangat, walau ada yang kurang, tetapi setidaknya mereka masih bisa berdekatan.


Plaaak! Ardan memukul kepala belakang Arfi gemas.


"Akhirnya akan ada anggota baru dari keturunan lelaki paling manja di rumah ini."


Kilatan mata Arfi tajam menatap kakaknya, ia elus belakang kepala yang sakit.


"Ini sakit sekali, Ardan!" Arfi ingin bangkit, sayangnya badannya masih terkunci oleh Arfan. Seketika perkelahian tiga saduara Erlangga itu berlangsung sengit.


Arfi yang terpojokkan sesekali memaki kasar karena tak sanggup melawan. Sementara, si kembar tak henti-hentinya terus memojokkan. Bukannya membahas rencana mereka malah larut dalam candaan yang selama ini terlupakan.


...***...


Susah payah ibu beranak dua itu menghentikan gelak tawanya, entah apa saja yang mereka ceritakan sampai membuat gelak tawa dari keduanya pecah.


Hazel menarik napasnya, membereskan anak rambut dengan sesekali masih tertawa kecil. Gejolak dalam perutnya masih sangat geli.


Sedangkan, Gerald hanya menggeleng pelan. Gara-gara bercerita dengan Hazel, stresnya sedikit menguap, anehnya saat ini dia malah lebih merasa nyaman dan tenang.


Mungkin benar, jika beban akan terbagi saat ada seseorang yang ingin menampung ceritanya. Walau tak memberikan solusi, tapi setidaknya dengan berbagi cerita membuat hati sedikit lebih lega.


"Akhirnya saya tau mengapa Ardan memilihmu di antara banyaknya wanita yang pernah dia kencani dulu," kata Gerald membuat pandangan Hazel teralih.


"Eh, apa?"


"Ardan adalah lelaki teliti, bahkan dia tidak pernah melakukan kesalahan saat mengencani banyak wanita. Alasan kenapa dia masih bebas sampai usia matang, itu karena tak ada yang bisa menjebaknya atau menariknya. Kau tau kan suamimu itu orang yang bagaimana dalam menghadapi wanita?"


Hazel hanya mengangguk pelan, dia pernah dengar kalau Ardan hanya sebatas mengencani dan tidak pernah sampai meniduri. Dia pikir itu hanya sebuah kebohongan saja, siapa yang tidak tergoda oleh tubuh wanita saat lelaki itu memiliki segalanya?


"Dia memang sedikit unik. Pemikirannya kadang tak bisa dipahami oleh orang lain. Itu karenanya, Ardan adalah ujung tombak Erlangga yang tak pernah bisa digantikan saudara-saudaranya. Seperti yang kau liat, saat dia yang memegang permasalahan, maka semuanya menjadi lebih terkendalikan."


Mendengar itu membuat pandangan Hazel tertunduk. Ada kenyataan yang tak bisa dia hindari, siapa Ardan sebenarnya tak bisa terus dia tutupi.


Melihat perubahan wajah Hazel membuat Gerald tersenyum simpul. Dia raih tangan putih wanita itu dan mengelusnya lembut. Saat Hazel melihat ke arah Gerald, lelaki itu berkata.


"Ini sudah sangat larut, masuklah! Nanti suamimu akan memarahiku jika kau kenapa-kenapa."


Senyum dari bibir mungil itu berderai indah. Dia ambil cangkir teh kosong milik Gerald dan beranjak dari tempat duduknya. Sebelum benar-benar pergi, Hazel kembali menoleh.


"Anda juga harus istirahat, Pak. Udara ini juga tidak bagus untuk Opanya Yena."


Gerald terkekeh dan mengangguk lemah, tubuh tinggi itu bangkit. Namun, masih tetap terpaku pada tempatnya. Hanya memandangi punggung mungil Hazel yang berjarak tiga meter di depannya. Berjalan pelan.


"Hazel," panggilnya lagi dan Hazel menoleh.


"Terima kasih."


"Sama-sama, Pak." Hazel kembali tersenyum dengan lebar, dia mengangguk dan ingin melanjutkan langkahnya.


"Saya sudah pernah katakan padamu, bukan?"


Hazel kembali menoleh.


"Saya bukan lagi Presdir kamu, saya adalah ayah dari suamimu. Sebaiknya kamu juga memanggil saya sama dengan anggota Erlangga lainnya."


Wanita itu sempat terdiam, seperti tak percaya bahwa ucapan itu akan datang lagi dari bibir Gerald. Lelaki paling angkuh di rumah ini.


Sudut bibir keriput itu ditarik tipis, dia menarik napas lantas membentangkan sedikit kedua tangannya.


"Mungkin ini terdengar sangat terlambat. Tapi, Papa ingin menggantikan Aulia mengatakannya."


Dahi mulus milik Hazel berkerut, dia masih bingung oleh arah pembicaraan Gerald. Perlahan-lahan tangan yang Gerald bentangkan semakin melebar.


"Selamat datang di keluarga Erlangga."


Terpaku, Hazel hanya bergeming dengan lintasan air dari dua mata indahnya. Memandangi wajah tua itu dengan pias.


"Hem," kata Gerald semakin melebarkan bentangan tangannya.


Gadis itu langsung melepaskan gelas di tangannya, berlari seraya terseduh-seduh. Berulang kali menghapus sudut dagunya yang berair. Langsung memeluk tubuh Gerald yang tak kalah besar dari suaminya tersebut.


Terisak pelan, lalu menjadi terseduh-seduh dengan dalam.


Gerald tersenyum lembut, dia elus puncak kepala Hazel pelan.


"Selamat datang menantu sulung kami."