For My Family

For My Family
93



Nara keluar dari kontrakannya dengan pakaian yang seperti biasa. Berjalan sempoyongan menuju halte bus. Raganya ada, namun, jiwanya entah pergi kemana?


Wajahnya pias, pucat dan juga berantakan. Walau pakaian dan dandanannya rapi. Rautnya terlihat begitu menyedihkan.


Dari balik setir Pedro terus memperhatikannya. Mengawasi gadis yang telah kehilangan semangatnya itu berjalan.


Beberapa kali punggungnya tertabrak pengguna jalan yang lainnya. Bergeser, walau tak sampai terjatuh.


Air mata melintas, tak ada sambutan sebuah tangan yang membasuhnya. Dibiarkan begitu saja. Tak deras, cukup untuk meluruhkan harapan.


Sesal itu sedemikian dalam, Nara si gadis yang tangguh dan juga ceria kehilangan auranya. Hidup dan juga semangatnya.


Pedro menjalankan mobilnya mengikuti langkah gadis itu. Entah apa yang ada di dalam angan Nara, ia sendiri tidak sadar sudah berjalan ke depan sebuah rumah.


Tampak besar dan terawat, rumah yang pernah membuat ia dan Ferdi sangat dekat. Memupuk rasa menjadi asa, ternyata semesta mengkhianatinya. Ia terjatuh dalam jurang kehampaan sebuah angan tanpa tuan.


Mengingat kenangan lama, semakin menambah goresan luka di gumpalan darah dalam diri. Dia yang tak pernah teraih, kini harus terlepas dari angan mimpi.


Gadis itu mulai mengeluarkan ekspresinya, menangis dan terisak sendiri. Lama, bermenit-menit ia menangis di depan rumah Hazel. Entah karena apa, yang ia tahu jiwanya sedang terluka.


***


"Sebentar!" teriak Hazel saat mendengar suara bel ditekan.


Setelah membereskan sisa sarapan, wanita itu bergegas membuka pintu. Sedikit terkejut saat melihat Nara berada di balik pintu.


"Nara," sapanya lembut.


Gadis itu tersenyum, saat matanya menyipit sebuah air melintas di pipi putihnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Hazel cemas.


Gadis itu merengkuh bahu Hazel, membenamkan wajahnya di atas bahu sempit wanita itu. Perlahan isakan tangis terdengar, pelan, lalu menjadi sangat dalam.


Badan langsing itu begetar, meluapkan segala isakan yang berusaha ia tahan. Di kota asing ini, ia menganggap Hazel adalah Kakaknya.


Wanita yang paling dewasa menghadapi segala masalah. Kuat dan sangat tangguh akan kerasnya dunia.


"Nara," panggil Hazel lembut, tangannya mengelus pundak berbalut kemeja putih itu dengan lembut.


"Masuklah dulu, istirahat di kamar Surya. Aku akan membawakan segelas teh hangat untukmu."


Nara melepaskan dekapannya, ia menghapus wajahnya yang basah. Menaiki anak tangga rumahnya menuju kamar Surya.


Saat melewati tangga, gadis itu hanya tertunduk, berpas-pasan dengan Tuan rumah yang sebenarnya.


Tak terlalu peduli, Ardan berlalu menuju istrinya yang masih berada di ambang pintu.


Bibir tipisnya terkembang dengan membawa selembar dasi di tangan.


"Dasar manja." Wanita itu menarik dasi yang ada di tangan Ardan. Badannya mulai naik ke atas sofa. Melilitkan kain panjang itu ke leher Ardan.


Setelah selesai, Ardan mengangkat tubuh mungil itu menuruni sofa. Sebuah kecupan mendarat di bibir Hazel.


"Aku pergi dulu," pamit lelaki itu lembut.


"Hem, hati-hati. Dan selalu hati-hati."


"Kamu mau aku bawakan sesuatu saat pulang?"


"Hem?" Hazel memutar bola matanya, sebuah kecupan kembali mendarat di bibirnya.


"Lama ...," ucap Ardan berjalan menjauh. "Aku udah telat, nanti kamu chat aku jika ingin dibelikan sesuatu."


Hazel hanya menganggukan kepala, tangannya melambai, melepaskan kepergian suaminya tersebut.


Dari atas sini, ada mata yang memperhatikan mereka berdua. Air mata kembali menyapa pipi.


Yang dia tahu, yang dia harapkan. Pernikahan adalah seperti apa yang Hazel jalani saat ini.


Mesra, hangat, romantis dan juga saling menyanyangi. Tak perlu ungkapan atau kegiatan yang diumbar, mereka terlihat sangat serasi dan bahagia menjalani hidupnya.


Dia pernah berharap pernikahan impian itu terjadi, pasti dengan lelaki yang selalu ingin ia raih selama ini.


Nara menghapus sudut dagunya, berlari ke kamar Surya. Masih ada wanita gempal yang mengurus Surya, memandikan dan memakaikan baju ke pada putra Hazel itu.


Nara tersenyum, ia mendekati Surya dan mentoel pipi tembam putra Hazel tersebut.


"Pagi, Surya," sapanya ramah.


"Pagi," jawaban itu berasal dari wanita gembul yang memakaikan baju pada bocah lelaki itu.


Tak lama Hazel datang dengan sebuah baki di tangannya. Makanan Surya dan juga minuman untuk Nara.


"Kamu sudah sarapan, Nara?"


Wanita itu menggeleng, tak mungkin ia selera sarapan dengan keadaan seperti ini.


"Surya makan sama si Mbok saja, ya, Hazel."


"Gak usah, Mbok. Surya biar aku saja yang urus."


"Kalau begitu, Mbok belanja sayur aja."


Hazel mengangguk, wanita gempal itu keluar dari kamar Surya. Memberikan ruang untuk Hazel dan Nara berdua.


Hening, Nara hanya terdiam seraya memandangi Surya yang sedang makan dari setiap suapan yang Bundanya berikan.


Mengoceh dan bermain, sesekali ia menyemburkan nasinya. Hazel hanya tertawa, cekatan tangannya mengurus anaknya yang luar biasa aktif. Bergerak terus dengan bibir yang senantiasa meracau.


"Beratkah menjadi ibu tunggal, Mbak?"


Seketika Hazel memalingkan wajahnya saat mendengar pertanyaan Nara.


"Maksudnya?" tanya Hazel tak paham.


"Single parent, apa itu berat?"


Hazel menggeleng pelan.


"Bukan cuma berat, Nara. Tetapi juga lelah."


"Lelah?" tanya Nara bingung.


Hazel tersenyum dan mengangguk. "Lelah, bukan hanya tanggung jawab yang harus kita penuhi sebagai ayah dan juga ibu. Berat saat harus menghadapi semua sendiri, tak ada tempat mengeluh dan mengadu. Terlebih, pandangan tetangga dan juga orang sekitar. Janda itu selalu dianggap buruk, Nara. Walau kamu benar, dia tetap salah. Kamu salah, maka semakin jelek saja."


Hazel membersihkan sisa kotoran di bibir Surya. Lantas ia kembali duduk di tepi ranjang. Menatap wajah gadis itu dengan lekat.


"Di dunia ini, yang berat bukan cuma ujian yang datang dari Tuhan saja, Nara. Tetapi juga ujian dari mulut para tetangga. Kamu akan semakin lemah saat mereka mengatai keburukanmu. Tak peduli, yakinkah kamu bisa acuh sepenuhnya?" Hazel menggelengkan kepalanya pelan.


"Tetap ada ucapan yang menyakiti, tetap ada ucapan yang menghakimi. Kamu gak salah, dunia tahu itu. Mereka juga tahu, tetapi sayang. Walau mereka tahu, mereka tetap akan menyakitimu. Bukan karena kamu buruk, tapi karena kamu adalah seseorang yang paling banyak mencuri perhatian mereka. Dan itu, membuat mereka iri. Cara mereka unik, Nara. Dan kita, tak sanggup menahannya. Karena kita tak seunik mereka."


Nara tersenyum, ia terkekeh, lalu menjadi isakan tangis yang sangat menyedihkan. Jika Hazel saja menghadapi itu semua masih sangat kesusahan, apalagi dia?


Ia yang lemah dan selalu mengeluhkan segala sesuatunya. Terlebih, statusnya yang gadis namun bukan lagi perawan.


Semakin membuat ia merasa terjatuh, dalam dan tenggelam di dasar penyesalan. Suara isakan terdengar, pilu dan sangat menusuk di kalbu.


Hazel hanya mengelus bahu itu lembut, tak perlu ditanya apa? Saat orang sedang terjatuh, cukup diam dan kuatkan dirinya. Jika dia bercerita, artinya dia sanggup untuk membuka luka.


Jika dia tidak bercerita, hanya terdiam dan menangis dalam. Jangan paksakan pertanyaanmu padanya.


Sebab, lukanya tak akan pernah sembuh jika terus terbuka tanpa keinginannya. Lebih baik diam, perhatikan dan berikan dukungan.


Dari pada memaksa, mendengarkan lalu menjadi bahan gibahan.


"Mbak," lirih Nara pelan.


"Iya, Nara."


"Aku ... aku, aku--" Gadis itu memeluk badan Hazel dengan sangat erat. Membenamkan wajah di bahu sempit itu.


Kembali menangis dengan sangat dalam. Entah bagaimana dia mampu menceritakannya, sangat menjijikan, bahkan sekadar mengingatnya saja. Ia merasa ingin muntah, jijik dan juga geli. Sayangnya itu semua terjadi, bukanlah mimpi buruk yang bisa dilupakan saat ingin pergi.


"Tenang, Nara. Tak ada yang selesai hanya dengan tangisan. Tenang dan buka pikiranmu, ayo, jangan nangis lagi." Hazel mengusap pundak wanita itu lembut. Menarik badan Nara dan memandangi wajah cantik itu, sendu.


Beberapa kali kepala itu tersentak, menahan sesenggukkannya. Matanya terus berair, entah bagaimana menghentikannya. Dia juga tak tahu caranya, jika dengan menghabiskan air mata bisa membuat ia kembali bersih. Maka itu lebih baik.


Hazel menangkupkan kedua tangannya di pipi Nara. Bibirnya tersenyum lembut, sesekali ibu jarinya menghapus buliran yang jatuh ke sudut dagu.


Pelan, gadis itu mulai membuka setiap kancing kemejanya, memperlihatkan bahu dan juga sebagian kulitnya yang memerah karena bercak ciuman yang pedro tinggalkan.


Seketika mata Hazel mendelik, ia menutup mulutnya yang menganga dengan sangat besar.


"Nara, siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Hazel cemas.


Nara kembali menangis, ia menarik badan Hazel dan membenamkan wajah di atas bahu.


Tanpa sengaja matanya menatap kulit pungung Hazel yang tersingkap kain. Ada bekas yang sama, di kulit putih wanita itu.


Namun bedanya, itu adalah bekas tanda pahala. Dan miliknya adalah dosa. Itu adalah bekas tanda cinta, dan miliknya adalah kesalahan. Itu adalah kebahagian Hazel dan Ardan. Sementara miliknya adalah kehancuran dirinya dan juga Pedro.


Sama, namun kenapa bisa sangat berbeda?


Karena di dunia ini ada sebuah ikatan yang melegalkan apa yang haram. Bukankah Allah telah mengaturnya sedemikian rupa agar hal yang mampu menyesalkan tidak terjadi.


Terkadang, kita manusianya yang tak mau dilarang. Tak mau mendengarkan. Tak mau diatur dan seenaknya sendiri.


Jangan jatuh pada cinta, karena jatuh bisa membuatmu terduduk dan tak bisa bangkit lagi. Parahnya bisa membuatmu tenggelam dan terbenam di dalam lautan kekecewaan.


Bangunlah, bangun itu cinta pun iman. Agar apa yang menjadi bahagia tetap akan menjadi bahagia, bukan lagi bahagia di awal dan penderitaan di akhir.


Karena Dia, Maha Adil.