For My Family

For My Family
104



Ardan memainkan pena di jarinya, sesekali mata tajam itu melirik ke arah depan. Melihat Gerald dan juga kembarannya.


Sedang yang di depan sini berusaha memutar otak untuk membalaskan rasa sakitnya. Terlebih, atas penghinaan terhadap dirinya hari itu.


Setengah perjalanan rapat, gadis berhijab itu terlihat kebingungan. Ia masih belum menguasai materi yang diberikan.


Hening beberapa saat, tatapan seluruh Dewan Direksi membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.


Bibirnya bergetar, terlebih saat semua mata tertuju padanya. Apa yang dia hafal hilang dari dalam pikiran begitu saja.


Ardan menarik dasinya, membuka jas dan menggulung lengan kemejanya. Berdiri menghampiri gadis dengan balutan gamis berwarna pastel itu.


"Biar aku saja. Duduklah," perintahnya lirih saat bersebelahan dengan gadis itu.


Khadijah mengangguk, memberikan alih presentase ke lelaki berwajah tampan itu.


"Maaf," lirih Khadijah saat ia duduk di kursi Ardan sebelumnya, tepat di sebelah Ferdi.


Lelaki berkacamata itu tersenyum seraya berkata. "Ini cukup baik. Kamu sudah berusaha selama dua hari ini. Terima kasih."


Gadis itu tersenyum kecut, matanya teralih pada Ardan yang sedang menjelaskan detail grafik penjualan mingguan. Santai, tak ada groginya sama sekali.


Bahkan ia bisa berbicara dengan sedikit menggoda. Membuat suasana yang begitu tegang sedikit mencair.


"Bagaimana bisa Pak Ardan begitu tenang? Seperti telah menguasai data ini sebelumnya," lirih Khadijah.


"Ardan itu sangat cerdas."


"Hem?"


"Aku rasa dia mempelajari datanya saat memindahkannya pada komputermu. Tak perlu lama, sedikit saja dia mendengar penjelasanmu. Dia akan paham bagaimana alurnya berjalan."


Gadis itu kembali menatap ke arah Ardan, ada binar kagum yang terpancar saat netra menatap pria gagah yang sesekali tersenyum itu. Menampilkan sebuah ginsul yang sangat menawan.


"Menakjubkan," ucap Khadijah kagum.


"Jangan mengaguminya seperti itu. Dia itu suami orang," balas Ferdi, kesal.


Gadis itu tersenyum, ia mengalihkan pandangannya ke arah Ferdi.


"Saya tau. Hanya takjub pada kecerdasan yang ia miliki. Penasaran, seperti apa wanita yang mampu menarik perhatian pria sepertinya?"


"Hem. Kenapa aku panas, ya?" Kesal, lelaki itu menatap sinis ke arah sahabat karibnya. Memang penggoda, bahkan ia bisa menggoda tanpa gombalan sekalipun.


Dahi Khadijah mengerut, tatapannya teralih pada AC di sudut ruangan meeting.


"Tapi, AC-nya hidup, Pak."


"Sssttt ... diamlah. Aku ingin mendengarkan Ardan bicara."


Gadis itu menganggukkan kepalanya, memperhatikan gaya Ardan. Cara bicara dan juga caranya menggoda. Menghidupkan kenangan yang telah lama sirna.


Ada bayangan yang terlihat sama seperti GM itu, entah hanya sekadar bayangan atau memang rindu yang menjelma rasa.


'Kenapa? Dia terlihat sangat mirip dengan Arfi?'


***


Ketukan dari luar memaksa Hazel bangkit dari sofanya. Wanita yang baru keluar dari rumah sakit itu berjalan pelan sembari memegangi perutnya.


Matanya melebar saat melihat lelaki yang mirip suaminya itu tersenyum sangat lebar.


"Pagi, Hazel," sapanya ramah.


"Arfi, kamu kok bisa di sini?" tanya Hazel bingung.


Tak menunggu sambutan Kakak iparnya itu, lelaki berambut setengah pirang itu langsung masuk dan duduk di atas sofa.


"Papa dan Kak Arfan di sini. Kenapa aku gak boleh di sini?" tanyanya seraya mengambil camilan yang sedang di makan Hazel.


"Papa? Pak Arfan?" Bingung gadis itu mengulangi nama saudara dan juga mertuanya tersebut.


"Kamu gak tau? Kak Ardan gak bilang padamu?"


Hazel menggeleng pelan.


"Haduh ... lelaki itu. Masih saja sangat posesif. Sepertinya, ada yang lebih dikekang dibandingkan Emily dulu."


"Emily? Siapa itu?"


Arfi mengibaskan tangannya ke arah Hazel. "Sudah kamu gak perlu tau. Ada kamar kosong gak? Sumpah aku sangat lelah."


"Hem, kamar paling sudut kanan. Kamu pakai saja."


Arfi tersenyum, tangannya mengacak puncak kepala Hazel gemas.


"Thank's. Kakak Ipar," ucapnya berjalan ke arah tangga. Namun, langkahnya terhenti, ia berbalik dan melihat Hazel yang masih berdiri di dekat sofa.


"Hazel," panggilnya lagi.


"Hem."


Tangan lelaki itu mengeluarkan selembar kain bermotif bunga. Memberikannya ke tangan Hazel.


Dahi mulus itu berkerut, menerima hijab berbahan saten dengan warna cokelat muda itu.


"Kamu memberikan aku hijab?" tanya Hazel bingung.


Arfi tersenyum lembut, ia membungkukkan badannya untuk menyejajarkan wajah mereka.


"Bisakah kamu mengenakannya sebentar saja?" tanya Arfi serya menatap lekat ke wajah istri kakaknya tersebut.


"Kenapa? Kok, kamu?" tanya Hazel bingung.


Arfi mengambil kain itu dan meletakannya di atas kepala Hazel.


"Sebentar saja, Hazel. Aku merindukan seseorang. Entah kenapa, melihatmu mengingatkanku padanya."


Hazel mengambil sisi hijab yang masih di pegang oleh Arfi. Melilitkannya dengan benar, lalu mata berwarna madu itu menatap wajah adik iparnya dalam.


"Wajah kalian, sama-sama kental khas Timur Tengah. Jika saja aku lebih dulu melihatmu. Mungkin aku akan berebut kamu dengan lelaki posesif itu." Arfi mengacak puncak kepala Hazel, dan berlalu menaiki anak tangga.


Meninggalkan gadis yang masih bingung itu, sendiri.


"Emily? Kalian? Maksudnya aku dan Emily mirip? Siapa dia?" tanya Hazel bingung sendiri.


***


Ardan berjalan keluar dari kantornya seraya bercanda dengan sahabat karibnya itu. Tenang dan juga sangat santai. Ia tak tahu jika di balik setir ada yang sedang memerhatikannya.


Nyatanya, semua orang berhak bahagia atas luka masa lalunya. Entah luka itu samar atau pun belum hilang sepenuhnya. Kita harus bisa berjalan ke depan, menatap asa yang lebih baik. Untuk harapan yang lebih pasti.


Hanya dia, orang-orang yang membelengu hati akan dendam. Sulit melepaskan diri, karena luka bisa saja samar. Walau tak hilang, waktu pastiĀ  akan membuatnya memudar. Namun, dendam. Dia tak akan pernah samar jika kamu masih memupuknya. Entah itu waktu atau pun masalalu. Dendam hanya akan semakin subur untuk melahap nuranimu.


"Mau sekalian aku antar?" tanya Ferdi sembari berjalan ke arah parkiran mobil.


"Boleh, deh. Katanya Arfi di rumah, syukurlah jika dia bawa pulang mobil."


"Wuih, seru nih. Boleh dong Minggu nanti keluar bareng. Ajak Arfan juga," balas Ferdi keceplosan.


Ardan terdiam, ia menarik napas dalam. Naik ke dalam mobil sahabatnya itu tanpa membuka suara lagi.


Saat baru keluar dari parkiran, mobil itu berjalan melewati gadis berbalut gamis itu. Sendiri, menanti bus di ujung sore menyambut senja.


"Bagaimana hubunganmu dengan gadis itu?" tanya Ardan ketika tak sengaja matanya melihat Khadijah berdiri di halte.


"Buruk."


Ardan tersenyum, ia menggelengkan kepala pelan. "Jangan terlalu cepat menyerah, Ferdi. Kulihat ... dia juga tertarik padamu."


"Jangan membual, dia itu sulit untuk di dekati, Dan."


"Makanya dekatinya jangan terlalu lambat. Sigap sedikit," balas Ardan lagi.


"Aku sudah melamarnya, dan dia langsung menolaknya. Kurang sigap apalagi?" tanya Ferdi kesal.


Ardan menggulum senyumnya. "Jangan seperti itu juga, Ferdi. Wanita itu makhluk yang rumit, dekati dia perlahan, sentuhlah dia tepat di hatinya. Duaar ... dia pasti akan jadi milikmu, Kawan."


"Aku bukan kamu yang pintar membual dan menggombal. Bahkan gunung es saja bisa cair begitu."


Ardan terbahak. "Sialan! Istriku dikatakan gunung es."


"Memang benar, kan? Selama dia bekerja, jangankan lagi tertawa. Tersenyum saja dia gak pernah."


Ardan memandangi jalanan yang semakin terlihat gelap. Matanya menatap ke arah spion, terlihat pantulan gadis itu yang masih sendiri. Celingukan menunggu bus.


Lelaki itu melirik ke arah jam di lengan kirinya. "Putar baliklah."


"Maksudnya?" tanya Ferdi bingung.


"Gadismu sendiri, sebentar lagi magrib. Apa kamu tenang meninggalkannya di sana?"


Ferdi menghela napasnya, ia mengalihkan mata ke arah spion. "Biarkan saja, dia palingan juga gak mau."


"Ayolah, Kawan. Jangan sepecundang itu. Kejar sampai dia lelah berlari. Berjuanglah demi masa depanmu sendiri? Mau sampai kapan terus begini?"


"Aku pernah berjuang untuk masa depanku sekali. Pernah kecewa dan sakit sekali rasanya. Bisa gak berjuangnya jangan sesakit itu lagi?"


Ardan terkekeh dan menggeleng pelan. "Astaga! Pecundang sekali lelaki ini. Minggir, biar aku yang setir mobil."


"Mau apa?"


"Minggir!"


Berhenti berdebat, Ferdi lebih memilih untuk mengalah. Sigap tangan lelaki berkulit sawo matang itu memutar arah dan berhenti di depan Khadijah.


"Biar aku antar kamu pulang, naiklah!" perintah Ardan lembut.


"Tapi, Pak--"


"Naik!" perintahnya lagi.


Gadis itu menundukkan pandangan, berjalan ke arah mobil dan memasukinya. Matanya menatap dua pria yang ada di depannya.


Berbeda dengan Ferdi, Ardan lebih tak ingin dibantah. Apa pun itu.


"Ah ... aku baru ingat, istriku meminta camilan. Sialan si bungsu itu, seenaknya saja menghabiskan camilan wanitaku. Kita ke minimarket sebentar, ya."


"Hem, bisakah cari yang dekat dengan masjid, saya juga mau salat," pinta Khadijah


"Baiklah."


.


Setelah salat magrib, lelaki itu memasuki minimarket. Sementara dua orang itu menunggunya di luar. Duduk seraya menikmati secangkir kopi hangat.


Mata Ferdi tak lepas dari wajah gadis yang ada di depannya. Sedang, sang gadis hanya tertunduk dengan ujung jari memutari bibir gelas kopi.


"Apa yang kamu cari sudah ketemu?" tanya Ferdi membuka percakapan.


Seketika gadis itu menaikkan pandangannya. Terkejut dengan pertanyaan Ferdi.


Seulas senyum pahit ia berikan, lalu kepalanya menggeleng pelan.


"Sampai kapan mau mencari?"


"Saya tidak tau. Saya yakin, cepat atau lambat kami pasti akan bertemu."


"Setelah bertemu, apa kalian akan menikah?"


Pertanyaan itu membuat Khadijah bergeming. Hening, tak ada jawaban dari bibir tipis itu.


"Pak."


"Hem."


"Apa ... Anda masih mengharapkan saya?"


"Jika aku katakan, ya, bisakah kamu memikirkannya lagi?"


"Jika Anda mengetahui masalalu saya, yakinkah hati Anda tidak akan goyah?"


Lelaki itu mengerutkan dahinya, memandangi wajah cantik itu dalam.


"Maksudmu, bagaimana?"


Khadijah terdiam, perlahan iris indah itu terlapisi embunan kaca. Ada luka yang berusaha ia buka. Walau sebenarnya sulit untuk dikatakan. Namun, sepertinya Ferdi memang ingin menjadikannya pendamping.


"Saya bukan gadis suci seperti apa yang Anda bayangkan selama ini, Pak."


Bibir tipis itu bergetar, ada sayatan yang kembali berdarah. Trauma yang mendalam, beban yang sangat menyiksa hati dan pikiran.


Khadijah menarik napasnya, sebuah embunan luruh dari mata indahnya. Bergetar, bibir tipis itu berusaha membuka suaranya.


"Saya sudah ternoda," lirih, perkataan itu teramat menyakiti. Batin, pun ingatannya selama ini.


"Saya pernah diperkosa."