For My Family

For My Family
121



Khadijah memundurkan langkahnya saat ingin berjalan keluar dari gang. Menyembunyikan tubuhnya dari seseorang yang terus menjaganya diam-diam sepanjang malam.


Lekat, iris itu memandangi seraut wajah di balik kaca mobil Mclarentnya. Selalu menunggu di tempat yang sama ketika malam tiba.


Khadijah sadar itu, karena itu semenjak ia bertemu lagi dengan Arfi. Gadis itu tak pernah keluar dari kontrakan. Menghindari agar tak selalu berhadapan.


Perlahan, napasnya tertarik dengan berat. Mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi pada jalan hidupnya.


Dulu, ketika cinta itu menyapa, lebih dulu kepingan luka yang tercipta karena dia mencari celah untuk melangkah.


Menata asa bersama, lalu terhempas begitu saja tanpa ada kata. Mencari alasan agar langkahnya kian menjauh, jauh, meninggalkan kenangan dengan kegetiran yang terasa hingga sekarang.


Gadis itu melepaskan tasnya, mengeluarkan sebuah niqab, lalu mengenakan. Jarinya menekan sederet angka.


Tak butuh waktu lama, panggilan itu terjawab sudah.


"Assalamaualaikum, Khadijah," sapa lembut di seberang sana. Mata menatap rumah petak di depan, tak ada cahaya. Dari sore gadis itu belum menampakkan dirinya.


"Waalaikum salam. Arfi, masihkah kamu bertindak bodoh menungguku sepanjang malam?" tanyanya seraya menatap lelaki itu dari ujung gang.


"Jangan temui aku lagi. Karena saat ini aku di perjalanan menuju ibu kota. Aku akan menikah, Arfi. Segera!"


Arfi terdiam, menikmati remasan yang terasa begitu menyakitkan di dalam tubuhnya.


Satu air luruh dari mata itu, bolehkah lelaki secengeng ini?


Pelan ia menjatuhkan kepalanya di atas jok mobil. Memejamkan mata yang terasa memanas, menumpahkan cairan yang selama ini selalu diredam.


"Khadijah," getir lelaki itu memanggil.


Sementara sang gadis hanya bergeming. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana lelaki itu terluka.


"Tak bisakah, yang kamu pilih itu aku?"


Tak ada jawaban, karena seharusnya lelaki itu sadar. Ada bayaran dari setiap tindakan.


"Khadijah, aku mencintaimu. Sungguh!"


"Arfi, aku pernah memberimu kesempatan, bukan? Lalu kenapa kamu hempaskan begitu saja apa yang aku harapkan padamu dulu? Saat ini aku telah melangkah, berjalan meninggalkanmu. Tidak bisakah kamu juga meninggalkan masa lalu?"


Lelaki itu berdiam, hanya membiarkan setiap tetesan menyampaikan luka di dalam dada.


"Apa, perjuanganku yang saat ini tak lagi terlihat oleh matamu, Khadijah? Aku ... tak akan menyakitimu lagi. Aku berjanji."


"Lalu, haruskah aku menyakiti hati yang lainnya?" tanya Khadijah kembali.


Hening. Keduanya masih fokus pada luka masing-masing. Mencoba menata hati, dari puingan kasih yang menguap, menghilang dari dalam diri.


Sampai helaan napas panjang keluar dari bibir ranum gadis tersebut.


"Sudahlah, Arfi. Aku akan bicara pada ayah setelah sampai ke rumah. Aku harap, kamu bisa melepaskanku."


Afri tercekat, ia menegakkan posisi duduknya dan menarik seat belt. Menghidupkan mesin mobil, sampai cahaya dari Mclaren itu hampir menyorot tubuh Khadijah.


"Kamu mau ke mana? Ini sudah malam. Kembalilah ke rumah Kakakmu."


"Aku akan mengejarmu, Khadijah. Biarkan sekali lagi aku mengejarmu, jika aku menemukanmu. Maka aku tak akan melepaskanmu."


Wajah di balik niqab itu tersenyum sinis. Pelan kepalanya menggeleng.


"Jika kamu mengejar saat ini juga terlambat. Aku sudah hampir sampai rumah. Pulanglah, jangan bodoh mengejarku malam-malam begini."


Gadis itu mematikan panggilannya, berbalik untuk berjalan meninggalkan gang. Beserta, puingan kasih yang masih bersisa.


Perih, terkadang luka menjadi pilihan akhir dari sebuah kisah yang harus terselesaikan.


Perlahan ponsel di telinga Arfi terlepas begitu saja. Badannya melemas. Tak memiliki kekuatan walau hanya untuk bernapas.


Kepala itu tertumpuh pada setir mobil. Menghantukkan pelan dengan bibir meracau tentang kebodohannya.


"Sial!" Arfi tersadar.


Segera ia menghidupkan mesin mobil. Menjalankan melewati gang sempit yang ada di daerah kontrakan Khdijah.


Lelaki itu langsung turun ketika melihat punggung berbalut hijab besar berjalan pelan.


Kenapa dia baru sadar? Gadis itu jelas melarangnya untuk mengejarnya tadi. Pasti, dia tahu apa yang Arfi lakukan saat itu.


"Tunggu aku, Khadijah!" panggil Arfi pada gadis berhijab lebar tersebut.


Yang dipanggil terus berjalan, meremat kepalan tangan di dalam hijabnya.


"Khadijah."


Gadis itu tak mendengar, mencoba untuk memalingkan diri. Walau sebenarnya dia tahu, seberapa keras menyembunyikan diri, Arfi pasti akan menyadarinya.


Sigap langkah Arfi berjalan mendekatinya. Mencekal kedua lengan tangan Khadijah dan memutar badan gadis tersebut.


Nyalang mata itu menatap wajah Arfi. Tangan kekarnya menarik niqab yang menyembunyikan wajah cantik Khadijah.


Melihat dengan jelas, apa yang disembunyikan gadis itu dari seraut wajah indahnya.


"Kamu memakai niqab untuk menyembunyikan wajahmu dariku, bukan? Kamu kejam, Khadijah."


Gadis itu mencoba meraih niqab yang Arfi genggam. Lebih dulu lelaki itu menyentakkannya, memindahkan ke belakang tubuh kekarnya, membuat tubuh semampai itu mendekat dan terdekap oleh tangan Arfi yang satunya.


"Kumohon Khadijah, kembalilah padaku," pintanya seraya membenamkan hidung di atas bahu gadis tersebut.


"Jangan sentuh aku, Arfi! Jangan sentuh!" teriaknya geram.


"Kumohon Khadijah, tetaplah bersama denganku." Arfi menangkupkan kedua tangannya di pipi gadis itu. Menempelkan dahinya pada dahi Khadijah.


Khadijah menggeleng, perlahan bulir-bulir air membasahi lentik bulu matanya. Menyampaikan rasa tak rela atas sentuhan yyang diterima.


"Kumohon Arfi jangan seperti ini. Aku haram untuk kamu sentuh," pinta Khadijah terisak.


Gadis itu menggeleng, dengan isakan tangis di sela-sela napasnya.


"Kalau begitu ayo, biar kujadikan kamu halal untukku."


Khadijah mendorong bahu Arfi sekuatnya. Menciptakan jarak untuknya dan juga lelaki di hadapan.


"Kenapa? Kenapa kamu terus memaksaku Arfi? Kenapa?" teriak Khadijah sinis.


"Dulu, kamu memaksaku untuk melupakanmu. Sekarang, kamu memaksaku untuk mengingatmu kembali? Tidak bisakah kamu menghormati keputusanku?" Khadijah menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. Membiarkan bahunya bergetar melepaskan isakan yang menjadi dalam.


Suara guntur perlahan menyambar, dengan beberapa kilatan merah menghiasi langit hitam malam ini.


Gadis itu masih terisak, menangisi setiap perlakuan Arfi yang terus saja mendesaknya. Lelah, rasanya sangat penat berada di tengah kisah cinta tanpa jeda untuk bisa bahagia.


"Pergilah, Arfi. Kumohon jangan dekatiku lagi. Jangan!" teriak Khadijah ketus.


Gadis itu memundurkan langkahnya, mencoba menjauh dari lelaki yang sekuat hati untuk dia lupakan.


"Khadijah--"


"Stop! Kumohon berhentilah. Aku memilih Pak Ferdi! Mengertilah, yang ingin kunikahi adalah dia!"


Gadis itu berbalik, berusaha keluar dari dalam gang dengan punggung tangan yang sesekali menyeka wajah.


Terkadang cinta tak harus bersama untuk membuktikannya. Melepaskan dia yang terlanjur kecewa dan terluka oleh sikap salah satunya. Bisa menjadi ungkapan cinta yang sesungguhnya.


Sebab cinta itu hadir untuk bahagia bersama. Bukan memaksakan bersama walau luka terus tersemat di dalamnya.


Melepaskan bisa sangat menyakitkan, tetapi itu juga yang dapat melegakan. Kekosongan itu ada setiap kali kita memutuskan melangkah menjauhinya.


Tak perlu terburu-buru mengisi dengan cinta yang lainnya. Isilah dengan cinta abadi yang semestinya lebih besar tepatri di dalam hati. Bukan ditujukan untuk makhluk-Nya. Melainkan untuk yang menciptakan segala-Nya.


Langkah gadis itu terhenti ketika sebuah deringan masuk ke dalam gawainyya. Pelan ia mengeluarkan benda pipih itu.


Ragu, jarinya mengusap layar. Menghela napas sebelum menempelkannya di telinga.


"Assalamualaikum, Khadijah."


"Walaaikum salam, Pak."


"Kamu di mana?" tanya Ferdi lembut.


"Aku lagi di jalanan dekat kontrakan."


"Aku sudah mengatakan pada Ardan. Akhir minggu kita pulang ke ibu kota untuk lamaran."


Khadijah terdiam, kepalanya tertunduk dengan helaan napas panjang.


Baru saja dia menolak Arfi dengan dalih untuk menikahi Ferdi sesegera mungkin. Kini Allah mewujudkannya dalam hitungan detik.


"Khadijah," panggil Ferdi lembut.


"Ya."


"Kenapa diam? Apa kamu tidak senang?"


Gadis itu mengusap pipinya, mendesah panjang seraya mendongakkan kepala. Mencoba untuk menghentikan derai air yang terus menjelajahi wajah.


"Saya hanya memikirkan alasan apa yang akan saya katakan saat bertemu ayah nanti."


"Hem. Begitu. Pulanglah Khadijah, ini sudah gerimis. Atau kamu bisa kehujanan nanti."


"Baiklah."


Gadis itu memutar badannya ke lawan arah. Langkahnya mundur seketika, saat melihat Ferdi ada di belakangnya. Tersenyum lembut dengan sorot mata terluka.


Lelaki itu, menyaksikan segalanya. Termasuk kejadian dia dan Arfi di gang tadi.


Dengan ponsel yang masih tertempel pada telinga masing-masing. Keduanya hanya saling pandang, diam, di tengah rintik hujan yang mulai hadir menyapa bumi.


Bibir tipis itu ditarik, membentuk sebuah lengkungan yang sangat indah. Terluka, dengan cinta yang hadir di dalam hatinya.


"Kenapa tak kamu katakan saja. Jika yang kamu cintai Arfi, Khadijah. Kamu, berhak untuk menolakku."


Perlahan bibir ranum itu bergetar, tak tega menyakiti sebuah hati yang menerima dia dengan segala kekurangannya selama ini.


Tak berpikir dua kali, dia pun menyadari dan merasakan ketulusan dari lelaki itu. Tetapi mengapa? Hati miliknya tak bisa utuh menerima lamaran ini.


Satu air luruh dari mata gadis itu, disambut air mata yang lainnya ketika lelaki tersebut masih sanggup tersenyum dengan segala luka yang diterima.


Ferdi mendesah panjang, bersama rintik hujan. Sebuah buliran melintasi pipinya.


"Aku tak akan memaksamu, kamu berhak bahagia. Meski itu, membuat kita tak bisa bersama."