For My Family

For My Family
231



"Kamu tau kan permasalahannya apa? Terus terang saja, saya ingin kamu mengalah," ucap Gerald tanpa basa-basi seraya berjalan ke arah pintu depan.


Gadis itu tak menjawab, hanya mengikuti langkah sang mertua.


"Khadijah, bantulah suamimu. Saya tidak akan memaksa dia untuk menceraikanmu, kamu masih tetap bisa bersama dengan Arfi selama yang kamu mau. Tapi, ikhlaskan dia menikah lagi."


Langkah gadis itu terhenti, lantas melihat punggung Gerald yang berhenti di depan pintu.


Sesak, walau dia sempat mengatakan ikhlas akan berbagi, nyatanya masih ada rasa yang menyakiti hati.


"Saya ikhlas, tapi Arfi memiliki keputusannya sendiri. Saya tidak bisa menentang keinginannya, Pak."


"Lalu, apa kamu akan membiarkannya terus bersikeras seperti ini?" tanya Gerald berbalik menghadap Nigar.


"Arfi tidak pernah hidup susah. Jika dia tidak menikah lagi, bagaimana dia akan menjalani kehidupan ke depannya?"


"Arfi sudah dewasa. Saat ini pikiran dia mulai matang dalam mengambil keputusan. Saya tidak akan menentang dia untuk menikah lagi, tapi saya juga tidak akan memaksanya untuk menikah lagi. Semua tergantung pada Arfi, karena Arfilah yang akan bertanggung jawab atas keputusan ini di dunia dan di akhirat nanti."


Gerald mengusap wajahnya kasar, mendesis geram. Gadis ini mengapa mulai berani melawan? Lalu, tatapan itu teralih pada Ardan yang terus memerhatikan gerakannya.


Sebelum menimbulkan kecurigaan, Gerald menarik tuas pintu akan berjalan keluar.


Terkejut saat tubuh kekar Arfi menghadang langkahnya.


"Arfi, kenapa kau masih di sini?"


Lelaki berambut pirang itu tersenyum, menarik lengan Nigar dan memindahkan gadis itu ke belakang punggungnya.


"Aku kenal baik siapa Papa. Papa akan melakukan seribu cara agar aku menyetujuinya, bukan?" Tatapan itu beralih ke arah sang istri yang ada di belakangnya, gadis itu tertunduk. Detik kemudian ia kembali menatap Gerald.


"Dulu, Papa bisa mengancamnya. Tapi saat ini tidak! Karena dia istriku, maka aku akan melindungi dia dengan cara apa pun. Dan Nigar," katanya dan kepala gadis itu mendongak.


"Aku melarangmu berbicara dengan Papa. Apa kamu paham?" Nigar hanya mengangguk. Detik kemudian kembali menundukkan pandangannya.


"Pa, kumohon berhentilah mengorbankan kehidupan kami demi bisnis Papa ini. Aku menghormati Papa, tetapi aku juga tidak akan mengikuti keinginan Papa. Kuharap Papa paham kali ini."


Satu tangan kekar itu mencekal lengan Nigar, membuka pintu ferrarinya lalu memasukan gadis itu ke dalam jok.


"Tunggu aku di sini dan ingat apa perintahku. Aku melarangmu berbicara pada Papa!" tegas lelaki itu sekali lagi.


Tegap langkah itu berjalan ke dalam rumah. Gerald mengikuti langkah Arfi memasuki kamarnya. Menurunkan ransel dan menyusun baju-bajunya asal.


"Arfi, kau mau ke mana?"


"Ke mana saja. Menghabiskan waktu bersama istriku. Kenapa? Ada yang salah?"


"Jangan gila kamu! Perusahaan lagi genting, Arfi!"


Bungsu Erlangga itu tak mempedulikan, ia kancing ransel itu dan menyelempangkannya di salah satu bahu.


"Arfi!" Tahan Gerald seraya mencekal lengan putranya.


Malas lelaki berambut pirang itu menoleh. Melepaskan tangan Gerald pelan.


"Jika Papa saja bisa memerintah dan memaksa sesuka Papa. Aku pun bisa bertindak sesukaku."


Gerald berdecak geram, sakit kepala melihat ulah putra bungsunya.


Tegap langkah itu terhenti di ambang pintu. Menoleh sekilas, lalu kepalanya tertunduk. Tak tega, tetapi juga tak mungkin mengorbankan Nigar yang susah payah ia dapatkan.


"Pa, kali ini aku tidak akan membiarkan Papa menekan Nigar lagi. Jika dulu aku tidak bisa bertindak karena bukan siapa-siapa. Kali ini aku mampu bertindak jauh, karena aku, suaminya."


...***...


Di sudut sini tatapan elang itu terus memerhatikan. Bingung melihat ulah Arfi dan juga Gerald, tidak seperti biasa saat bertengkar. Kali ini mereka seperti menyembunyikan pertengkaran di depan dia.


Lelaki berbadan tegap itu turun, mengejar langkah Arfi yang akan menaiki ferrari merahnya.


"Arfi," panggilnya dan si bungsu menoleh.


"Mau ke mana?"


"Oh, aku mau menginap di rumah ayahnya Nigar sementara. Cakra merindukan kakaknya."


Tersenyum, Arfi langsung masuk ke dalam joknya lantas menurunkan kaca jendela.


"Aku pergi dulu, Kak. Jangan terlalu rindu," godanya dan Ardan mendesis.


Sepasang mata itu masih menatapi kepergian sang adik. Lalu, mendapati Gerald yang terburu-buru berjalan ke arah garasi.


"Ck, sebenarnya apa yang mereka sembunyikan? Kenapa aku asing di rumah sendiri?"


Sepasang mata sayu itu menatap Ardan dari spion mobilnya, menghela napas seraya mengusap setir mobil.


"Kita mau ke mana, Arfi?"


"Ke rumah ayahmu, Sayang. Sementara kita tinggal di sana dulu. Aku tidak ingin Papa menekanmu."


Tatapan mata indah itu ikut memandangi spion mobil Arfi. Lalu, menoleh untuk melihat tubuh Ardan.


"Apa Kak Ardan gak tau masalah ini?"


Arfi menarik napas dan menggeleng. "Tolong rahasiakan masalah ini darinya."


Tak bertanya mengapa, gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


Ardan mengusap kepalanya, berusaha tak acuh walau benaknya mulai terganggu. Ia keluarkan ponsel saat benda pipih itu berdering dengan keras. Menggesernya cepat saat melihat nama penelponnya adalah Ferdi.


"Ya, Fer."


"Dan, apa kau tidak akan pulang? Aku kewalahan, Kawan."


Lelaki berkulit sawo matang itu memijat pangkal hidungnya. Pusing.


"Sementara aku kirimkan dulu GM pengganti. Aku masih akan lama untuk kesembuhan Mama."


"Apa ... semuanya baik-baik saja? Kudengar dari Nara katanya Pedro ke sana untuk menangani Tante Aulia."


"Ya, memang apa yang bisa terjadi jika aku ada di sini?" sombongnya.


Tawa dari keduanya pecah, Ardan menggeleng dan suara dari belia di ujung sana membuat sebelah alisnya menaik.


"Kak Ferdi aku membakar dapurmu!"


Ferdi terdiam, cepat ia menurunkan tangannya dan berlari ke arah dapur. Asap tebal mengepul, memburamkan pandangan dan lelaki itu kebingungan mencari gadis belia di dalam sana.


"Sasy!" teriaknya bingung.


Ferdi menarik napasnya, ingin marah, tetapi juga ingin tertawa melihat wajah gadisnya.


"Fer! Ferdi, apa yang terjadi?" teriakan dari seberang sana membuat lelaki dewasa itu tersadar.


"Tidak ada. Aku bereskan dapur dulu nanti kita bicara lagi."


"Hei, tunggu dulu!" Tahan Ardan sebelum panggilan tertutup.


"Mengapa kalian sudah berdua pagi buta begini? Ehem! Apa Yena akan punya teman dalam waktu dekat ini?"


Ferdi menggeleng, mengetuk puncak kepala Sasy geram.


"Jauhkan pikiran jorokmu itu, Ardan. Ini tak sejauh yang kau bayangkan. Aku matikan dulu, atau rumahku akan hancur karena ulah gadis ini."


Seketika bibir milik gadis berumur sembilan belas tahun itu memanyun. Ingin menjadi tunangan yang baik, memasakkan sarapan untuk calon suami, nyatanya malah menghancurkan segalanya.


Cepat gerakan lelaki itu membuka ventilasi, membuka jendela-jendela rumahnya untuk memudarkan asap dari dapur kecilnya.


Sepasang mata teduh itu menatap sendu. Tidak tega ingin memarahi Sasy. Namun, jika dibiarkan sampai kapan dia mau begini?


"M-m-maaf, Kak. Aku tadi mau goreng ikan. Apinya kegedean, minyaknya kebanyakan, jadi apinya naik-naik ke penggorengan. Saat kusiram air, apinya malah bakar ikannya dan berakhir begitu," sesalnya tertunduk.


Ferdi menarik napas, menatap Sasy tajam. Gadis itu sempat mendongak, langsung tertunduk saat sepasang mata itu menatapnya nyalang.


"Kak," lirihnya pelan. "Maaf," sesalnya lemah.


"Sebenarnya kamu itu mau gimana, sih? Kalau udah tau gak bisa ya jangan maksa. Aku tidak pernah memintamu melakukan ini semua. Cukup jadi dirimu, kenapa nakal sekali?" Lelaki itu menggelung lengan kemeja.


Berjalan ke arah dapur untuk membereskan keberantakan yang dibuat gadis belianya. Dia yang menyatakan sanggup menerimanya, mau tidak mau harus sanggup juga menanggung konsekuensi yang dibuat gadisnya.


Cekatan gerakan tangan kekar itu membersihkan pantry yang menghitam. Mengeruk beberapa bekas kerak sisa bakaran. Diburu waktu di hari awal minggu, bukannya lebih cepat malah tambah merepotkan.


Di ujung ruangan gadis belia itu hanya tertuntuk. Menghampiri perlahan, lalu sepasang tangan mungil itu mendekap dari belakang. Menyembunyikan wajah yang hampir menangis menahan sesal.


"Kak Ferdi, maaf," sesalnya parau.


"Sudahlah. Duduk di ruang tamu dan pesan makanan saja. Aku buru-buru karena ada rapat pagi ini."


Kepala di belakang punggung itu menggeleng, semakin mengencangkan dekapan.


"Sasy, apa kamu tak dengar apa yang aku katakan? Aku buru-buru, kamu meluk begini membuat aku gak bisa kerja."


Bukannya menuruti, gadis itu semakin mengeratkan dekapan. Perlahan isakan terdengar, Ferdi menarik napasnya, sabar.


"Maaf, Kak Ferdi. Jangan usir aku. Aku janji akan beresin ini, tapi Kak Ferdi jangan marah."


"Aku gak marah. Cuma minta kamu duduk dan pesan makanan saja. Biar cepet selesai, aku masih ada pertemuan pagi ini, Sayang."


Gadis itu melepaskan dekapannya, mengusap sudut dagu dan tubuh lelaki itu berbalik. Sedikit melompay, Sasy langsung menempel, melilitkan kakinya di pinggang Ferdi seraya mendekap bahu kekar itu manja.


"Maaf, aku hanya ingin belajar melayani Kakak sebelum benar-benar menikah. Aku udah googling gimana caranya goreng ikan, tapi aku gak tau kalo apinya bisa naik ke penggorengan."


Sebelah alis Ferdi terangkat, memandangi wajah belia itu yang tampak sangat menyesal.


"Ya sudah. Turunlah, aku mau beresi ini dulu."


"Em." Gadis itu menggeleng dan semakin kuat melilitkan kakinya.


"Kak Ferdi gak marah, kan?"


"Enggak."


"Kalau gitu senyum, dong."


Lelaki itu menyeringai, lebar, menampilkan jajaran giginya dan seulas senyum simpul tergambar di wajah belia itu.


"Sudah, kan? Ayo turun, aku mau bersihin ini."


Gadis itu kembali menggeleng. "Biar aku yang beresin, Kak Ferdi pergi aja."


"Enggak! Nanti kalo aku pulang rumahku udah tinggal kerangka gimana?"


Gadis itu terkekeh. "Seriusan aku bisa. Kalau beresi rumah, aku jagonya."


"Bener?"


Gadis itu hanya mengangguk. Ferdi menarik napas seraya membungkukkan badan, membuat gadis dalam gendongannya itu sedikit menurun.


Tiba-tiba ia kembali tegak dan sedikit limbung, seketika bibir gadis itu mendarat di bingkai milik Ferdi. Lelaki itu terkekeh, sementara wajah Sasy mulai memerah.


"Kak Ferdi nakal," katanya malu.


"Abisnya, gak dapat sarapan boleh dong dapat kecupan."


Gadis itu memainkan bibirnya, mencoba melepaskan pegangan tangan Ferdi dan langsung turun dari dalam gendongan.


"Gak boleh, kita cuma berdua di rumah. Nanti ada setan gimana?"


"Kan, kamu setannya."


"Kok, aku?"


"Pagi-pagi udah buat orang marah, apa namanya kalau bukan setan?"


Gadis itu mengusap wajahnya, mengambil jas Ferdi yang diletakan di atas sandaran kursi dan segera memberikannya ke lelaki dewasa itu.


Mendorong punggung tegap itu ke arah pintu.


"Eh tunggu dulu, ponselku masih di meja dapur."


Segera kaki pendek itu berlari ke arah dapur. Menyambar ponsel Ferdi dan memberikannya ke sang lelaki.


Ferdi hanya diam, memperlihatkan tangannya yang memegang jas.


"Tolong masukan ke kantung," perintahnya lembut seraya menunjuk kantung di dadanya.


Gadis itu menarik napas, perlahan mendekat dan ingin meletakan ponsel itu. Tubuh tegap itu membungkuk, mencium ujung hidung Sasy dan gadis itu terdiam. Sepasang mata bulatnya menjadi fokus ke arah wajah.


"Untung saja calon istriku seimut ini. Walau sudah membakar dapur tanpa ada sarapan. Tapi masih bisa semangat dengan mengecup wajahnya."


Seketika semu merah menjalari seluruh wajah. Ferdi mengedipkan sebelah matanya seraya berjalan mundur. Menutup pintu rumah dan gadis itu mulai histeris.


Mengibaskan tangannya di depan wajah. Panas.


"Kenapa Kak Ferdi jadi sweet begini?"