
"Saya terima nikahnya Ezgi Hazel Nazha, binti Ibrahim Pasha dengan mas kawin logam mulia seberat 23gram, dibayar tunai."
"Bagaimana? Sah?"
"Sah." Sorak serentak memenuhi seluruh aula masjid yang menjadi saksi pernikahan itu.
Hazel memejamkan matanya saat mendengar kata 'sah' itu terdengar melalui pengeras suara, melepaskan satu air matanya. Sama sekali tidak ada segurat kebahagiaan yang tergambar di raut cantik miliknya.
Ia memandangi wajah di dalam bingkai cermin yang ada di depannya. Melihat polesan indah menghiasi setiap sudut wajahnya.
Perlahan tangannya menyentuh pipi mulus miliknya. Berlanjut ke bibir ranum yang semerah delima. Hidung mancung kecil dan dagu runcing bak gantungan lebah.
Seandainya wajahnya tak secantik ini? Mungkinkah ia akan mengalami takdir seperti ini? Mungkinkah Iqbal akan menikahinya dan membawanya ke tempat ini? Pada akhirnya ia harus bertahan sendiri dan bertemu lelaki itu?
Jika ia tidak secantik ini, mungkinkah Ardan akan memilihnya dan menikahinya?
Jika dia tidak cantik seperti ini? Akankah ia diperlakukan buruk saat menjadi janda muda?
Wajah ini, wajah yang selalu dipandang buruk oleh para tetangga. Bahkan walau ia hanya diam saja, ia tetap dianggap bersalah.
Salah karena terlahir cantik, salah karena ia memiliki fisik sempurna. Salah karena wajahnya terlihat menggoda bahkan saat ia tidak melakukan apa-apa.
Hazel kembali memejamkan matanya, melepaskan air dari kedua kelopak matanya.
Terkadang, kecantikan yang di anugerahkan Tuhan bisa menjadi boomerang. Untuk sebagian wanita yang tak berdaya, mereka hanya bisa menggunakan wajah untuk meluluhkan dunia.
Seorang wanita masuk menemui Hazel yang masih terduduk di dalam ruang rias. Termenung memandangi wajahnya yang lebih sering membawanya ke dalam takdir derita.
"Mbak, akad sudah selesai. Pak Ardan meminta anda untuk keluar."
"Katakan saya tidak enak badan, saya tidak sanggup berjalan," jawab Hazel malas.
"Tapi, Mbak kan pengantin wanitanya."
"Katakan saja," ucap Hazel ketus.
"Baik."
Wanita itu berjalan kembali ke aula masjid, membisikan pesan yang disampaikan oleh Hazel ke telinga Ardan.
Ardan tersenyum lembut, ia bangkit perlahan meninggalkan tamu yang sedang duduk menyantap makanan. Keluar dari aula itu dan berjalan memasuki ruang rias.
Ardan mengetuk daun pintu yang terbuka lebar itu. Sekilas Hazel memalingkan wajahnya. Lalu kembali menatap cermin di depannya.
Ardan menyentuh dahi Hazel, dengan cepat tangan Hazel menampel tangan Ardan yang ingin menyentuh kulit wajahnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ardan lembut.
"Hanya sedikit lemas, anda tahu, saya belum benar-benar sehat."
Ardan menghela napas dan duduk di sebelah Hazel. Memandangi wajah cantik tanpa senyum ataupun ekspresi bahagia sedikitpun.
"Saya tahu kamu tidak bahagia. Tetapi bisakah kamu menjaga nama baik saya?" tanya Ardan ketus.
"Saya mengikuti keinginan kamu untuk menikah sederhana tanpa dihadiri teman-teman dan para mitra. Tetapi apa ini? Kamu bahkan tidak mau keluar sekadar menyapa mereka?"
Hazel menundukan kepala, meremat kedua jemari tangan yang ia letakan di atas paha.
Ardan menarik dagu Hazel, mencoba menatap wajah wanita itu.
"Saya tidak pernah memaksamu untuk menikahi saya. Kamu yang datang pada saya, saat ini akad sudah terucap. Kamu menyesal juga percuma," ucap Ardan sedikit menekan.
"Saya tahu," jawab Hazel ketus.
Ardan menjauhkan tangannya dari dagu wanita itu. Merapikan jas hitam yang ia kenakan.
"Cepatlah, bukankah kamu ingin ini segera berakhir? Maka lakukan apapun dengan cepat." Ardan bangkit dari duduknya dan berjalan kembali ke aula masjid.
Duduk bersama beberapa saksi dan penghulu yang masih menunggu mereka.
Hazel menyingkap gaun yang ia gunakan, berjalan memasuki aula besar itu.
Seketika, mata para tamu di sana teralih padanya. Dengan tampilan serba putih dan sebuah mahkota di atas kepalanya.
Ia masih terlihat sangat menawan walaupun wajahnya tanpa senyuman.
Hazel berjalan mendekati lelaki yang baru saja ia nikahi itu. Menatap wajah Ardan dengan sangat sinis.
"Wah ... pak Ardan, siapa sangka jika pengantin wanitanya secantik ini?" goda salah satu saksi di sana.
Ardan hanya tersenyum dan menganggukan kepala. Mempersilahlan tamu untuk menikmati hidangan yang tersedia di sana.
Sementara, Hazel sama sekali tidak peduli pada acara itu. Jangankan untuk tersenyum dan menyapa, bahkan bibirnya sedikitpun tidak terbuka.
Bagaimana ia bisa menikmati acara ini? Sementara putranya masih terbaring di rumah sakit. Berjuang untuk hidup dan matinya.
Membiarkan mbok Darmi menjaga dan merawatnya seorang diri.
Ia bukan hanya mengkhianati pernikahannya dengan Iqbal. Tetapi ia juga membiarkan satu-satunya titipan Iqbal berjuang sendiri di sana, di kamar dingin rumah sakit itu.
Bagaimana jika Surya membuka mata? Bagaimana jika Surya mencari Bundanya?
Bagaimana ia bisa menjelaskannya? Bundanya, adalah wanita berdosa. Menikah di saat putranya sedang terbaring lemah.
Hazel menundukan kepalanya, menarik oksigen yang semakin berat terasa.
"Hazel, saya mohon jangan nangis di sini. Sebentar saja, tolong! Jaga nama baik saya!" bisik Ardan sedikit menekan.
Hazel menghapus sudut matanya, menegakan kembali kepalanya. Ia harus bisa melewati ini semua. Bagaimanapun, janji antara ia dan Ardan sudah terjalin.
Ia sudah mengambil hasilnya, saat ini waktunya untuk membayar semuanya.
Setelah beberapa waktu bercengkrama ringan. Para tamu itu pamit untuk pulang.
Lain seperti Hazel, senyum Ardan tidak pernah pudar dari wajah tampannya.
Hazel menjauh dari ruangan itu saat ponselnya berdering. Mengangkatnya dengan cepat saat melihat nama si penelpon itu.
"Hazel, maaf ganggu kamu. Surya sudah sadar, Dokter Pedro meminta seluruh rekam medis Surya selama ini."
Hazel melepaskan senyumnya, lega sekali saat mendengar berita ini.
"Baik, Mbok. Aku akan segera pulang dan mengambil rekam medis Surya."
Hazel mematikan ponselnya, berlari ke arah Ardan dengan sedikit tergesa.
"Pak, itu ... para tamu sudah selesai, kan? Bisakah saya permisi sebentar?" tanya Hazel pelan.
"Mau ke mana? Biar saya antar."
"Tidak apa-apa, saya bisa sendiri."
Hazel menganggukan kepalanya, membiarkan Ardan mengantarnya ke rumah sederhana miliknya.
Hazel menyingkap gaun panjang yang ia kenakan. Berlari memasuki rumah dan membongkar lemarinya. Mengumpulkan rekam medis Surya yang ia simpan di beberapa tempat yang berbeda.
Saat ingin keluar, tanpa sengaja Hazel menabrak badan seseorang. Hazel langsung melihat siapa pemilik badan itu.
Matanya langsung membulat senpurna saat menatap wajah keriput wanita yang ada di depannya itu.
"Mama," lirih Hazel terkejut.
Plaaaakkkk
Sebuah tanparan terlayang ke pipi mulus wanita itu. Seketika wajah Hazel memerah, menahan sakit yang timbul akibat tanparan itu.
"Saat ini kamu benar-benar menunjukan wajah aslimu, Hazel. Saya dengar bahwa anakmu sedang dioperasi, tapi bisa-bisanya kamu menikahi pria lain. Di mana nuranimu?" bentak wanita itu lantang.
"Mama tanya nuraniku? Mama ingat? Bagaimana kalian memperlakukanku saat aku meminta bantuan pada kalian? Sebelum bertanya nuraniku, tanyakan di mana nurani Mama itu."
Plaaak
Satu tamparan lagi terlayang ke wajah cantik wanita itu.
"Jadi seperti inilah wujud wanita yang dinikahi anakku? Bahkan sedikit rasa hormatmu sudah tidak ada lagi."
Hazel terdiam, saat ini sama sekali tidak bisa membela diri. Saat ia benar saja ia tetap dianggap salah. Apalagi saat ia salah.
"Hazel, saya rasa kamu harus pergi dari rumah ini. Pergi!" teriak wanita itu lantang.
Hazel menggelengkan kepalanya, menolak untuk angkat kaki dari rumah peninggalan suaminya itu.
Wanita itu menarik lengan tangan Hazel, menyeret tubuh mungil wanita itu keluar dari rumah putranya.
Wanita itu menghempaskan tubuh Hazel, memaksa wanita itu untuk segera angkat kaki dari rumah putranya.
"Mulai saat ini, kamu tidak berhak tinggal di sini. Hazel, sumpah atas nama Iqbal, kamu dan keluarga saya benar-benar putus hubungan!"
Wanita itu menutup daun pintu rumah putranya dengan keras. Tidak mengizinkan Hazel kembali ke dalam.
Hazel menghapus airmata yang sempat melintas karena perlakuan mantan mertuanya itu. Ia membereskan berkas rekam medis Surya yang sempat berserakan.
Beberapa mata tetangga melirik Hazel sinis, berbisik untuk menjadikan bahan obrolan beberapa hari ke depan.
Hazel menghela napas, resiko yang harus ia tanggung adalah penghinaan. Saat ini ia tidak ada pilihan, selain mengeraskan hati oleh siksaan keadaan.
Ardan membuka pintu mobilnya saat melihat Hazel keluar dari gang rumahnya. Mempersilahkan wanita yang baru saja menjadi istrinya itu masuk ke mobil.
"Setelah ini mau ke mana?" tanya Ardan lembut.
"Turunkan saya di lampu merah pusat kota. Saya bisa pergi sendiri setelahnya," jawab Hazel memandang kosong ke depan.
"Tidak! Katakan kamu ingin ke mana? Saya akan antar kamu sampai ke tempatnya."
"Pak saya mohon. Tinggalkan saya sendiri, saya masih ada urusan yang harus saya selesaikan."
"Katakan kamu ingin ke mana? Jika tidak bersedia mengatakannya, maka saya tidak akan mengizinka kamu ke mana-mana."
Hazel menghela napas, benar-benar tidak bisa melawan.
"Rumah sakit tempat saya dirawat kemarin."
"Untuk apa ke sana?" tanya Ardan penasaran.
"Antarkan saja saya ke sana!" bentak Hazel.
Sesaat Ardan tercekat, terdiam saat mendengar teriakan Hazel.
"Baiklah, tidak bisakah kamu lebih lembut sedikit bicara pada suamimu?"
Ardan menggelengkan kepalanya. Memacu mobilnya melewati kota.
Hazel berlari sembari menyingkap gaun pengantinnya, menemui mbok Darmi yang setia menjaga Surya di ruang perawatannya.
"Mbok." Hazel memberikan berkas itu ke tangan mbok Darmi.
"Tolong berikan pada Dokter Pedro, ya." Ia membuka pintu dengan sedikit tergesa, tidak sabar untuk menemui putra semata wayangnya itu.
Sedang, Ardan masih bingung dengan keadaan ini. Kenapa anak Hazel bisa dirawat di sini.
"Apa yang terjadi?" tanya Ardan saat melihat Hazel mendekati putranya itu.
"Anda, suami Hazel?" tanya mbok Darmi lembut.
Ardan menganggukan kepalanya, ia masih terus fokus oleh Hazel dan putranya di dalam ruangan itu.
"Apa Hazel tidak mengatakan? Bahwa di sini anaknya dirawat?"
"Dirawat? Memang anaknya kenapa?"
"Dia ... baru saja selesai operasi tulang belakang."
Ardan terdiam, ia kembali melihat Hazel dari balik pintu kaca ruangan.
"Sejak kapan?" tanya Ardan mulai garang.
"Sekitar dua minggu yang lalu."
Perlahan Ardan menggeretakan rahangnya, ia membuka pintu kamar dengan sedikit kasar. Menarik tangan Hazel dan menyudutkan badan wanita itu di sisi tembok ruangan. Mengurung tubuh mungil Hazel dalam kedua tangannya.
"Anak kamu dioperasi, tetapi kamu tidak mengatakan apapun pada saya?" tanya Ardan ketus.
Hazel menundukan pandangannya, berusaha membuka dekapan tangan Ardan.
"Saya, bukan sekali atau dua kali menemuimu di rumah sakit ini. Tetapi kenapa kamu tidak pernah mengatakan apapun tentang anakmu?" tanya Ardan garang.
Hazel menatap wajah Ardan lekat, tidak di manapun. Ia selalu diperlakukan sekasar ini. Sungguh ia merasa lelah.
"Kenapa saya harus mengatakannya kepada anda?" tanya Hazel kembali.
Ardan terdiam, jawaban Hazel benar-benar membuat ia bungkam. Jadi, selain suami perjanjian, Hazel tidak menganggap dirinya lebih dari itu?
Naif sekali ia, merasa bahwa Hazel akan membuka hati untuk dirinya.
Ardan tersenyum kecut dan menggeleng pelan. Semakin mendekatkan wajahnya ke arah Hazel.
"Luar biasa, Hazel. Kamu sungguh luar biasa," ucap Ardan getir.
"Kamu menempatkan saya, sebagai lelaki yang tak memiliki hati," sambung Ardan dingin.