For My Family

For My Family
30



Ardan membuka kedua daun pintu berwarna madu rumahnya itu. Mempersilahkan Hazel dan putranya untuk masuk ke dalam.


Setelah dua minggu menjalani perawatan pasca operasi. Akhirnya Surya diizinkan pulang dengan syarat kontrol selama tiga hari sekali.


"Karena rumahnya tidak terlalu besar, hanya ada tiga kamar di rumah ini. Paling pojok sebelah kiri kamar saya, ibu Darmi dan Surya bisa menempati dua kamar yang lainnya." Ardan tersenyum sembari melihat wajah paruh baya wanita itu.


"Tidak perlu pakai dua kamar, saya dan Surya bisa tidur di satu kamar saja. Bagaimana juga, Surya harus ada yang selalu mengawasinya," jawab mbok Darmi lembut.


"Terserah, senyamannya saja." Ardan menghela napas dan berjalan menaiki anak tangga.


Membiarkan Hazel dan mbok Darmi membereskan kamar mereka terlebih dahulu.


"Hazel, kamu istirahat saja dulu. Biar ini si Mbok yang bereskan, ya."


Hazel tersenyum dan menggelengkan kepala. Dengan cekatan tangannya mengganti sprai yang ada di atas kasur itu.


"Em, Hazel."


"Ya."


"Apa kita, tidak membawa apapun dari rumah? Si Mbok sudah beberapa hari gak ganti baju."


Sesaat tangan Hazel yang sedang membereskan sprai terhenti. Ia baru ingat, tidak ada membawa apapun selain rekam medis Surya.


"Nanti setelah membereskan ini aku ambil ke rumah, Mbok. Peyangga Surya dan perlengkapan dia yang lainnya juga masih di sana."


"Sudahlah, Mbok cuci saja pakaian yang ada. Kamu jangan kembali ke sana ya," ucap mbok Darmi sembari membawa beberapa buntalan kain memasuki kamar mandi kamar itu.


Hazel melirik ke jam yang ada di tangannya, ini sudah hampir senja. Jika ia tidak cepat ke sana. Bagaimana mereka akan memakai baju malam ini.


Hazel mengetuk daun pintu kamar mandi mbok Darmi. Sesekali melihat Surya yang masih tertidur di atas kasur lipatnya di lantai.


"Mbok," panggil Hazel lembut.


"Kenapa?"


"Tempat tidur sudah aku bereskan. Saat debunya sudah hilang, mbok tolong pindahkan Surya ya."


"Kamu mau ke mana?"


"Pulang."


Setelah mengatakan itu Hazel langsung pergi, meninggalkan Surya dan mbok Darmi yang sedang memanggil namanya. Berusaha menahan Hazel untuk tidak kembali ke sana.


Setelah beberapa saat tak mendapatkan jawaban Hazel, mbok Darmi menyelesaikan mandinya. Mencari sesuatu untuk melilit badan gempalnya.


Tergopoh-gopoh, mbok Darmi berlari ke arah kamar Ardan. Mengetuk daun pintu itu dengan sedikit tergesa.


"Tuan, Tuan Ardan!" panggil mbok Darmi dengan mengetuk daun pintu memburu.


Ardan membuka pintu kamarnya, sedikit terkejut saat melihat mbok Darmi dengan lilitan kain yang membungkus badan gempalnya dari atas kepala sampai menyeret ke lantai.


"Ada apa?" tanya Ardan bingung.


"Tolong, Tuan. Hazel dia pergi, Tuan."


"Pergi ke mana?"


"Dia bilang mau ambil baju di rumah lamanya."


"Oh, yasudah, biarkan saja. Mungkin dia juga gak akan lama," jawab Ardan santai.


"Aduh, tapi masalahnya bukan begitu, Tuan."


"Maksudnya?" tanya Ardan mengernyitkan dahi.


"Rumah itu sudah bukan rumah dia lagi. Sudah diambil alih sama mantan mertuanya. Mantan mertuanya tidak suka sama Hazel. Si Mbok takutnya ... dia akan menyakiti Hazel lagi. Selama ini, dia seperti mertua kejam yang ada di tv."


Ardan langsung menutup pintu kamarnya, berlari menuruni anak tangga rumah. Dengan cepat tangannya menyambar kunci mobil yang terletak di atas buffet.


Memacu mobil menuju perkampungan tempat Hazel tinggal dulu.


***


Hazel mengetuk pintu rumah itu, perlahan, jantungnya berdebar semakin kencang saat mendengar langkah kaki berjalan dari dalam.


Seorang gadis keluar dari rumah itu, matanya langsung membulat saat melihat tamu tak di undang hadir di depan pintu rumah abangnya.


"Kak Hazel, kenapa kak Hazel ke sini lagi?" tanya Sasy langsung.


"Sasy, aku perlu mengambil barang-barangku. Apa mama Luna ada di dalam?"


"Mama gak di sini, tetapi mungkin saja mama akan ke sini sebentar lagi. Kak Hazel, kumohon pergilah."


"Sasy, ada beberapa barang yang harus aku ambil untuk Surya. Biarkan aku masuk dan membawa barang-barang kami, Sasy. Aku mohon," pinta Hazel lembut.


Sasy menghela napas, walaupun ia khawatir, tetapi ia hanya bisa menganggukan kepala.


"Aku mohon cepatlah, Kak. Jika mama datang, pasti dia akan menyakiti Kakak lagi."


Hazel tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.


"Terima kasih," ucap Hazel memasuki rumah sederhana milik mantan suaminya itu.


Rumah ini, belum ada berubah sama sekali. Hanya saja, dindingnya tampak kosong tanpa figura-figura foto ia dan Iqbal dulu.


"Kak, ayo cepat!"


Hazel tersadar, ia menganggukan kepala dan memasuki kamar Surya. Mengeluarkan seluruh baju Surya dan mbok Darmi. Memasukan ke dalam koper tanpa menyusunnya, secepat yang ia bisa. Mengambil semua barang yang tersisa.


Belum sempat ia mengumpulkan semua, suara ketukan daun pintu mengangetkan dirinya.


Sasy terlompat kaget, ia memegangi dadanya, jantungnya hampir terlompat keluar mendengar ketukan itu.


Sasy memejamkan matanya, menyentuh sudut dahi. Bagaimana caranya agar mantan kakak iparnya ini tidak lagi bertatap muka dengan mamanya.


Perlahan Sasy membuka pintu rumah itu, ia tersenyum kaku saat melihat wajah sang ibu.


"Kamu ngapain? Kenapa lama sekali membuka pintu?"


Wanita itu berniat masuk, cepat tangan Sasy menahan tubuh Mamanya itu.


"Em, Ma." Tahan Sasy cepat.


"Ada apa?"


"Aku sakit perut, sepertinya aku diare. Bisakah, Mama membelikan obat di warung depan?" tanya Sasy takut.


"Kamu sakit?" tanya wanita itu meraih dahi putrinya.


"Hem, iya," jawab Sasy lemah.


"Pantas wajahmu pucat sekali. Tunggu ya, Mama carikan obat di warung depan."


Sasy menganggukan kepalanya, ia menghela napas lega saat melihat wanita itu menjauh dari rumah.


Sasy menyusuli Hazel yang masih sibuk mengepak barangnya. Membantu mantan kakak iparnya itu agar segera keluar dari rumah itu.


"Sasy, Mama lupa bertanya kamu minum obat merk a--pa?" Wajah wanita itu langsung memerah saat melihat wanita muda yang paling ia benci di dunia ini kembali menginjakan kaki di rumah putranya.


"Kamu!" teriak wanita itu kuat.


"Beraninya kamu memijakan kaki lagi di rumah ini? Dasar gak tahu malu kamu, ya!" sambungnya kasar.


Secepatnya Sasy menahan tubuh wanita itu. Menggerakan kepalanya agar Hazel segera keluar dari kamar kakaknya itu.


Hazel mengangguk, ia menyeret koper dan beberapa tas keluar dari rumah itu.


Tak tinggal diam, wanita itu menghempaskan pegangan tangan Sasy dan menarik lengan tangan Hazel sebelum wanita itu sempat keluar dari pintu.


Membuat Hazel merintih, menahan kesakitan. Ia membalikan badan Hazel secara paksa, melayangkan sebuah tamparan di pipi wanita yang pernah menjadi menantunya itu.


"Kamu! Kenapa kamu tidak pernah puas menyakiti saya!" teriak wanita itu lantang.


Sesaat beberapa telinga yang mendengarnya dari luar rumah datang mendekati rumah itu.


"Dulu, kamu membuat anak sulung saya melawan saya. Sekarang kamu mengajari anak bungsu saya untuk berbohong pada saya. Kamu itu, wanita seperti apa, hah?"


"Aku ke sini hanya ingin mengambil barang anakku dan juga barang milikku. Kenapa? Apakah hanya tumpukan lusuh bajupun ingin anda rampas dari saya?" tanya Hazel ketus.


Plaaak


Satu tamparan kembali mendarat di pipi Hazel. Mata wanita itu memerah, menahan gejolak amarah yang selalu membara saat ia melihat wanita muda ini berdiri di hadapannya.


"Kamu semakin berani melawan saya?" tanya Luna lantang.


"Kenapa tidak berani? Bukankah saya dan anda sudah tidak lagi terikat hubungan keluarga? Itu artinya, anda hanyalah seorang wanita asing buat saya."


"Kamu--" ucap wanita itu tertahan amarah.


Plaaaakkk


Kembali tamparan keras menghantam wajah putih wanita muda itu. Meninggalkan bekas merah dan sedikit pecahan di sudut bibirnya karena tamparan yang berulang-ulang ia dapatkan di tempat yang sama.


"Sudah cukup!"


Ardan berjalan mendekati kedua wanita itu. Menarik bahu Hazel dengan lembut, menjauhkannya dari wanita paruh baya tersebut.


"Atas dasar apa anda memukuli wajah istri saya? Hah?" tanya Ardan sinis.


"Oh ... jadi kamu suami barunya?" tanya Luna angkuh.


Wanita paruh baya itu melihat lekat wajah Hazel yang sedang berdiri di belakang punggung Ardan.


"Hazel, kenapa kamu bisa seberuntung itu? Bahkan setelah menjadi janda pun. Kamu masih memilih tumbal yang terbaik untuk dirimu."


"Cukup!" tahan Ardan ketus. "Jangan uji batas kesabaran saya dengan terus-terusan menyakiti hati dan fisik istri saya. Jangan sampai seluruh keluarga anda yang harus menanggung akibat dari keangkuhan anda."


Luna tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Memandang sinis wanita muda yang bersembunyi di balik punggung suaminya.


"Kamu tidak kenal siapa dia. Semua orang mengatakan bahwa dia adalah kutukan dari ujung negara. Jangan sampai kamu menyesal setelah semuanya terjadi, tinggalkan dia. Sebelum dia membawa petaka untuk anda."


Ardan menghela napas dan menarik koper milik Hazel keluar dari rumah itu. Mencoba untuk keluar dari situasi panas yang sudah mulai mengundang keruman para tetangga.


Ardan menggandeng bahu Hazel, mendekap tubuh mungil itu erat sembari berjalan keluar dari rumah wanita itu.


Sedang Hazel hanya menundukan wajahnya, menahan perih akibat tamparan tangan wanita itu yang hampir membuat air matanya tumpah.


Setelah beberapa langkah berjalan di perkarangan rumah itu. Ardan menghentikan langkahnya dan memalingkan sedikit wajahnya. Memandang wanita yang berdiri di ambang pintu itu, sinis.


"Satu lagi," ucap Ardan kembali.


"Terserah anda ataupun dunia menganggap dia itu kutukan atau malapetaka. Tapi buat saya, dia adalah anugerah, anugerah yang sangat bercahaya."


Hazel langsung memalingkan wajahnya saat mendengar perkataan Ardan. Melihat wajah arogan Ardan yang masih menatap sinis ke arah Luna dan Sasy.


"Dan saya rasa, anda tidak bisa mengatakan dia kutukan dari ujung negara atau apalah itu. Karena menurut saya, kutukan yang nyata itu adalah--" Ardan membalikan badannya dan menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Ucapan-ucapan yang keluar dari bibir wanita, seperti anda," sambungnya sinis.


Ardan berjalan meninggalkan perkarangan rumah itu. Ia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sinis.


Kembali menggandeng bahu kecil istrinya itu pergi dari perkampungan.


Tidak habis pikir dengan dunianya para wanita. Yang terkadang perkataan mereka bisa membuat hidup itu lebih buruk dari neraka.