
Arfi menoleh saat mendengar suara daun pintu terbuka. Setelah melihat siapa yang datang, lelaki berambut pirang itu kembali mengancing kemeja seraya mematut diri di depan cermin.
"Mau kubantu?" tanya Nigar menghampiri.
"Sayang, tolong ambilkan dasi di lemari."
Gadis itu membuka lemari, tertegun melihat tatanan baju milik sang suami. Tertata rapih sesuai warna setiap jenis dari bajunya. Sangat banyak dan tak ada satu pun yang menyelip warna berbeda di antaranya. Memang keluarga Erlangga sangat berbeda. Bahkan isi lemarinya saja sangat mengagumkan. Sedikit bingung gadis bermata indah itu mencari tempat dasi milik Arfi, Nigar menoleh, menatap sang lelaki yang masih sibuk pada tampilannya.
"Laci nomor dua dari bawah." Masih sibuk mengancing lengan kemeja, tanpa melihat reaksi Nigar ia seakan tahu bahwa sang istri tengah bingung dengan tatanan lemari pakaiannya.
Cepat gerakan tangan itu menarik laci nomor dua. Terpatri melihat jajaran gulungan dasi milik sang suami, bahkan susunannya lebih rapih dan lebih banyak pilihan dari pada yang pernah dia lihat di toko.
Tangan putih itu ingin meraih, tetapi bingung yang seperti apa biasa lelaki itu pakai?
Karena selama ini Arfi jarang memakai jas saat bertemu dengannya. Gaya tampilannya sering santai dengan jaket dan kaus ketat.
"Arfi, aku bingung. Dasi mana yang cocok dengan kemejamu?"
Arfi menghampiri, tanpa melihat lelaki itu menarik dasi berwarna navy. Seperti paham tata letaknya bahkan dia terbiasa mengambil tanpa melihat.
Sementara gadis itu masih terpaku di depan lemari. Memerhatikan Arfi yang tengah bersiap untuk ke kantor.
Kedua jemarinya meremat kuat, lalu pandangan itu tertunduk ke bawah.
Merasa tidak becus melayani sebagai istri. Bahkan bagaimana selera sang suami dia tak paham.
"Nigar," panggil Arfi saat melihat gadis di sudut sana hanya berdiri.
"Ya."
"Kamu kenapa?"
Bibir ranum itu mengembang, namun raut wajahnya tampak kacau. Arfi mendekati, mengusap kepala berbalut hijabnya lembut.
"Apa kamu takut aku tinggal sendiri?"
Gadis berhijab itu hanya menggeleng, tersenyum lembut. Seperti biasa, dia akan tertutup akan sebuah perasaannya.
Lelaki itu meraih kedua jemari Nigar. Menyatukan kepalannya, lantas mencium kedua genggam tangan itu.
"Jangan takut. Ini juga rumah kita."
"Arfi."
"Hmm."
"Apa kamu masih mencintaiku?"
"Ck, ngomong apa?" tanya Arfi kesal. "Kenapa kamu masih saja ragu setelah apa yang sudah kulakukan? Tidak mudah untuk bisa menikahimu, Nigar."
"Berarti Arfi masih cinta?"
"Tentu saja!"
"Walau aku tak pernah becus menjadi istrimu?"
"Maksudnya?"
Gadis itu tersenyum, melepaskan genggaman tangan Arfi.
"Aku ... sama sekali tidak bisa melayanimu. Entah itu ranjang, pakaian, ataupun makananmu. Bagaimana kamu masih mencintai aku yang tidak becus begini?"
Arfi menghela napas, jika dipikirkan memang Nigar masih tak paham apa pun tentang dirinya, keluarganya dan juga kebutuhannya.
"Semua butuh waktu, Nigar. Pernikahan juga butuh adaptasi. Dua pemikiran, dua sifat dan dua karakter, itu butuh waktu buat disatukan. Kita baru saja menikah, wajar jika kamu tidak memahami aku."
"Arfi, kenapa harus aku? Arfi yang sangat sempurna dan bisa mendapatkan siapa saja. Mengapa harus memilih yang seperti aku?"
Bungsu Erlangga itu menarik napas, entah kenapa sifat Nigar yang selalu merendah seperti ini belum juga hilang.
"Aku terlalu buruk buat Arfi, kan?"
"Cukup, Nigar! Bertahun-tahun kenapa kamu masih saja merasa buruk seperti ini? Kenapa kamu gak pernah ngerasa kalo aku benar-benar serius selama ini? Aku mencintaimu dan aku tak butuh alasan apa pun untuk itu. Hanya kamu, cintaku terjatuh dan dibangun bersamamu. Kumohon berhentilah berkata seakan-akan aku tak memiliki cela," ucap Arfi tanpa jeda.
Geram menghadapi pemikiran Nigar yang selalu merasa rendah. Lelaki itu mengusap wajahnya, mengapa masih sepagi ini sudah ada saja hal membuat emosi?
Sementara sang gadis hanya terdiam. Tertunduk dalam. Detik kemudian kedua tangannya mencengkeram sisi jas Arfi.
Lelaki bermata sayu itu menatap, memandang heran Nigar yang ada di depannya. Gadis itu merapat, perlahan kakinya berjinjit, mendekati wajahnya dan bibir ranumnya menyentuh sudut bibir sang suami.
Arfi bergeming, terkejut, untuk pertama kalinya gadis pemalu seperti dia berani mengambil sikap. Sepasang mata mereka bertaut. Setelah beberapa waktu gadis itu menjauhkan kepalanya.
Bungsu Erlangga itu masih terdiam, memandangi wajah Nigar yang memerah.
"Kalau begitu, aku akan berusaha pantas untukmu. Arfi, biarkan aku yang selalu menyentuhmu lebih dulu."
***
Lelaki berambut pirang itu tersenyum memandangi Ardan yang sedang menjelaskan sesuatu padanya. Satu jari terus menyentuh sudut bibir yang dicium sang istri.
Perasaannya menjadi sangat senang, padahal hanya sebatas kecupan, pun bukan yang terlalu dalam. Namun, Nigar yang mau menyentuh lebih dulu adalah hal yang sangat mengejutkan.
Bahkan selama menikah gadis itu masih enggan untuk bersentuhan. Bisa mendapatkan kecupan, bukankah sangat membahagiakan?
Arfi terkekeh sendiri, mengingat bagaimana kejadian tadi pagi lelaki itu menggigit bibir dan menggeleng pelan. Mengusap kepala dengan senyum yang mengembang lebar.
Kadang cinta bisa sesederhana itu untuk membuat bahagia. Dia yang biasa menggoda, bisa sangat bahagia saat disentuh oleh seorang wanita. Bahkan walau itu hanya sebatas kecupan, setidaknya Nigar mengalami kemajuan.
Sementara Ardan mengerutkan dahinya. Bingung melihat Arfi yang terkekeh sementara perusahaannya sedang kacau.
Satu tangan Ardan mengetukkan ujung spidol ke dahi sang adik. Lelaki berambut pirang itu mengaduh. Memandang Ardan kesal.
"Dasar tidak waras! Kenapa kau malah tertawa saat aku menjelaskan titik masalahnya?"
Arfi berdehem pelan, membenarkan letak jas dan duduk dengan tegap.
"Tidak ada!"
Bibir tipir sulung Erlangga itu memiring. Tiadak mungkin tidak ada apa-apa, jelas sekali bahwa suasana hati sang adik sangat baik.
Ardan menutup laptopnya, lalu mencondongkan badannya ke arah Arfi yang duduk di depan. Berseberangan meja.
"Hei, pengantin baru. Apa yang terjadi? Kenapa kau senang sekali?" tanya Ardan menggoda.
"Apa? Memang mau terjadi apa?" tanya Arfi kembali.
"Hei, kau apakan Nigar?"
"Tidak kuapa-apakan."
Ardan tersenyum sinis, memandangi wajah Arfi yang mulai memerah.
"Tunggu dulu. Memang kalau mau kuapakan memangnya kenapa? Dia itu istriku, terserahku mau diapakan," ketus Arfi dan Ardan tertwa.
"Benarkah? Kenapa aku tidak ingat kalo kamu pernah menikah?"
Arfi berdecak malas. "Pak Regan sendiri yang menjadi saksi. Aku juga tak sebajing*n itu menggunakan tipuan pernikahan hanya demi tidur satu malam dengannya."
"Jadi maksudnya, kamu mau tidur setiap malam dengannya?" tanya Ardan menggoda.
"Ck, ayolah Kak Ardan. Aku juga paham pernikahan bukan mainan!"
Ardan terkekeh, menggelengkan kepala pelan.
"Ah ... kau tak asyik. Tak seperti Ferdi yang tersipu saat digoda."
"Cih, aku bukan lelaki dewasa dengan kepolosan yang termakan perkembang zaman."
Kakak beradik itu tertawa renyah. Lalu, Arfi tersadar.
"Ngomongin Kak Ferdi, gimana rencana pemisahan perusaan kalian?"
Ardan menarik napas, menyadarkan pundak pada kursi. Memainkan spidol di salah satu tangannya.
"Entahlah, mungkin perusahaan akan kuberikan pada Ferdi saja."
"Lalu, Kakak?"
Ardan terdiam, memikirkan lagi ucapan Hazel. Melihat tawa Gerlad yang bermain dengan anaknya, mungkin sudah saaatnya ada yang mengulurkan tangan untuk berdamai.
"Mungkin menjadi CEO juga tidak buruk."
Beberapa kali mata Arfi berkedip dengan, tertawa miris dan mengubah posisi duduk mencondong ke arah Ardan.
"Tunggu dulu, jangan bilang Kakak akan menyerah," kata Arfi tak terima.
Mengingat bagaimana sulit perjuangannya untuk membantu Ardan. Bahkan dia harus melompati gedung agar tak ketahuan.
Nyawanya hampir melayang, bahkan beberapa kali jantungnya harus berdegup sangat kencang. Dia hampir gila dan Ardan ingin menyerah? Yang benar saja?
"Demi kita semua. Mungkin aku akan menetap di ibu kota."
"What?!"