
Hazel langsung mengencangkan langkahnya saat mendengar ucapan Ardan. Berusaha untuk mencegah perbuatan Ardan yang ingin menyakiti anaknya itu.
Langkahnya terhenti saat melihat wajah Surya dan Ardan. Dahinya mengernyit, lalu detik kemudian ia memecahkan tawanya.
Terkekeh saat melihat wajah Surya menjadi tua dengan tambahan kumis di bawah hidungnya, sementara wajah lelaki dewasa itu penuh dengan kotoran bubuk kopi, bercap lima jari kecil putranya itu.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Hazel saat melihat kedua wajah lelaki itu berhiaskan bubuk kopi.
"Bermain. Apalagi?" tanya Ardan sembari mengeluarkan ponselnya, mengambil satu jepretan foto dirinya dan Surya.
Hazel tersenyum dan ikut duduk di sebelah Ardan. Merapikan berkas yang berserakan, bahkan sebagian sudah basah oleh cairan hitam itu.
Sementara Ardan dan Surya masih bermain dengan bubuk kopi basah itu, bahkan kaus putih yang digunakan Ardan sudah berhiaskan bercak hitam di beberapa bagian.
Hazel menarik tisu dan mengambil jemari putranya, membersihkan jari mungil yang kotor karena bubuk kopi hitam.
"Sudah ya, ini sudah malam. Kamu harus makan dan tidur, jangan main terus," ucap Hazel lembut.
Setelah membersihkan wajah Surya, Hazel beralih ke wajah suaminya itu. Membersihkan wajah tampan lelaki berkulit sawo matang itu.
Ardan memperhatikan wajah Hazel yang terfokus oleh kotoran di wajahnya, tanpa sengaja mata mereka bertemu. Menatap lekat dan dalam ke binar mata lawan.
Detik selanjutnya Hazel tersenyum, menundukan pandangannya. Menjauhkan tangan dari wajah lelaki itu.
"Ayo turun dan makanlah dulu, sebelum makanannya dingin."
Ardan mengangguk, ia berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Hazel mengambil salah satu kertas yang ada di lantai. Melihat seberapa penting berkas-berkas itu. Matanya membulat saat melihat nama di bawah kertas itu, lengkap dengan tanda tangan dan stempel yang mengesahkannya.
Hazel berlari ke arah Ardan yang baru keluar dari kamar mandi.
"Pak, ini," ucap Hazel tergesa.
"Kenapa?" tanya Ardan sembari menghapus wajahnya dengan handuk kecil.
"Bukannya ini kontrak dengan Dewan Direksi, ya? Bagaimana anda setenang ini saat berkasnya rusak?" tanya Hazel takut.
Ardan tersenyum dan mengambil kertas itu dari tangan Hazel.
"Kontrak ini ada data softnya, dan ini juga sudah hampir selesai, kamu gak perlu khawatir, hm," ucap Ardan lembut.
"Maaf, seharusnya anda tidak membawa Surya ke sini. Dia hanya bisa menghancurkan pekerjaan anda saja," kata Hazel tertunduk lesu.
"Surya anak saya, Hazel. Apakah saya tidak boleh bermain dengannya?" tanya Ardan ketus.
"Bukan tidak boleh, tetapi dia hanya akan merepotkan anda. Bagaimana jika kontrak ini masih berjalan, anda pasti akan kerepotan mengurusnya?"
Ardan meraih kedua bahu Hazel, menekannya sedikit kuat, mencoba menatap wajah wanita itu dengan lekat.
"Hazel, apakah ada yang lebih penting dari keluarga? Saya bekerja untuk keluarga kecil kita, tak peduli sebesar apa kesalahan yang kamu dan Surya buat. Saya yang akan menangungnya, kamu jangan khawatir."
Hazel mendongakan kepalanya, melihat wajah lelaki itu yang terlihat sendu. Terkadang perkataannya seperti seorang suami sungguhan.
"Maaf, saya dan Surya selalu merepotkan anda."
Ardan tersenyum, menarik bahu Hazel dan mendekap tubuh mungil itu erat.
"Kalau kamu merasa bersalah, cukup peluk saya seperti ini. Saya akan memaafkanmu sebesar apapun kesalahan itu."
Hazel terdiam, ia bahkan tidak membalas dekapan lelaki itu. Entah kenapa, semakin banyak hal yang dilakukan Ardan untuk dia, semakin membuat hatinya tidak tenang.
'Haruskah aku menerima semua kebaikan ini, Pak? Jujur, aku takut untuk memulainya, karena lelaki itu anda. Aku takut, takut membuat kesalahan dan membuat anda kecewa.'
***
"Masuk!" perintah Ardan saat mendengar suara ketukan terdengar dari balik pintu kacanya.
Ibel tersenyum dengan beberapa berkas di tangannya. Ia meletakan di atas meja Ardan.
"Pak, ini perubahan konsep untuk
majalah kita. Dan ... ada beberapa produk yang menurut saya kurang tepat untuk dipegang oleh model kita," ucap Ibel lembut.
"Maksudnya?" tanya Ardan sembari membalik lembaran konsep itu.
"Sebagian produk itu adalah stok gudang, dan itu sama sekali bukan best seller kita."
"Benarkah?" tanya Ardan lagi.
Ibel mengangguk, ia menjelaskan beberapa produk yang tidak terlalu laku di perusahaan itu. Menunjukan best seller yang sama sekali tidak muncul untuk halaman majalah.
"Kenapa kamu tidak bahas ini dulu baru serahkan konsep akhirnya pada saya?" tanya Ardan ketus.
"Saya sudah bicarakan dengan pak Derik, tetapi Hazel bersikeras ingin menggunakan produk-produk ini, Pak," jelas Ibel kembali.
"Kalau begitu, panggil Hazel kemari!" perintah Ardan ketus.
Ibel menyeringai puas, ia mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan. Kali ini Hazel akan mendapatkan ceramah singkat dari GM yang terkenal tegas dan angkuh ini.
"Anda memanggil saya, Pak?" tanya Hazel di ambang pintu
"Benar, coba jelaskan konsep yang kamu buat? Kenapa kamu pakai stok lama untuk majalah edisi depan?" tanya Ardan terus terang.
"Oh, itu karena saya dengar kalau produk best seller kita mengalami penundaan produksi, sementara majalah akan dirilis sebentar lagi, jika kita menunggu produk best seller yang belum tahu kapan akan kembali produksi, maka penyewaan model juga akan sia-sia saja."
"Ya, kamu memang benar. Tetapi stok lama juga tidak terlalu baik untuk di jual dalam skala besar, tanggal expayerdnya sudah dekat dan akan bermasalah jika kita menjualnya dalam skala besar."
"Walaupun ini stok lama, tetapi saat anda menempatkannya dengan model, ini akan menjadi produk baru, Pak. Dan untuk perkenalan, toko tidak akan memesan dalam skala besar karena mereka juga tidak tahu bagaimana dengan hasil penjualannya."
"Kenapa saya harus memasarkan stok lama? Walaupun ini bukan produk baru, tapi sebagian costumer juga sudah tidak asing dengan produknya."
"Best seller tidak perlu diletakan di dekat model juga sudah akan banyak pemesanan, Pak. Berbeda dengan barang yang terbilang kurang laku, model, kita gunakan untuk mendongkrak brand produk tersebut, jika hanya memasarkan yang best seller, maka perusahaan juga akan rugi dengan stok lama yang akan kadarluwarsa dengan sendirinya."
"Kamu benar, tapi bagaimana kita bisa memastikan kalau usaha pengunaan model kita tidak akan sia-sia? Banyak kekurangan pada produk lama ini, Hazel."
Hazel tersenyum dan berjalan mendekati meja lelaki itu. Ia memberikan daftar list barang-barang keluaran perusahaan itu.
"Pasti akan ada kekurangan dan kelebihan dalam setiap produk, Pak. Bahkan best seller produk kita juga masih memiliki banyak kekurangan. Efek yang timbul pada produk itu juga bertahap, tidak berbeda dengan produk lama kita. Mereka memiliki kekurangan pada efek pemakaian yang lama tetapi lebih aman saat pemakaian efek jangka panjang."
"Bagaimana kita akan memasarkannya? Resiko ini juga tidak main-main, kita bisa kehilangan penjualan satu edisi kalau salah menempatkan produk."
"Efek edit dong, Pak. Kita memiliki tenaga ahli dalam bidang desain grafis, mereka bisa membuat efek gambar dalam majalah lebih hidup dan sedikit berbeda dari produk asli. Pastinya dengan sedikit trik tipuan, perusahaan kalau terlalu jujur juga akan kalah dalam peperangan."
Ardan terkekeh dan menyandarkan badannya ke sandarkan belakang. Menatap wajah wanita cantik yang berdiri di depannya itu.
"Pak, ini akan menjadi penjualan terbaru. Memang di awal toko tidak akan memesan dalam jumlah banyak, kita juga tidak akan menyetok dalam skala besar, namun perlahan dengan banyaknya brand ini terpajang di setiap toko, costumer juga akan penasaran dan mencobanya, toko akan melakukan pemesanan sesuai dengan permintaan, perusahaan kita akan menerima pemesan bukan dalam skala besar namun dalam skala bertahap dan berkepanjangan."
Ardan terdiam, perlahan bibirnya mengembang. Memainkan satu jarinya agar wanita itu mendekat.
Hazel berjalan mendekati lelaki itu, berdiri tepat di sebelah lelaki berkulit sawo matang itu duduk.
"Kamu memang pintar, Hazel. Perusahaan beruntung memiliki karyawan cerdik sepertimu," puji Ardan lembut.
Ardan memainkan satu jarinya, meminta agar wajah wanita itu segera menunduk.
"Dan saya ... beruntung memiliki istri sepertimu," bisik Ardan lembut di telinga wanita berdarah Turki itu.
Hazel menghela napas dan melirik tajam ke arah Ardan. Menegakan kembali badannya yang sempat menunduk menyamai wajah lelaki posesif itu.
"Boleh saya mengatakan sesuatu, Pak?" tanya Hazel lembut.
"Katakan!"
"Anda lebih cocok jadi satpam komplek depan rumah, dari pada jadi GM, Pak."
"Kenapa begitu?" tanya Ardan bingung.
"Tukang goda," jawab Hazel terkekeh.
Ardan ikut terkekeh mendengar ucapan wanita itu. Bagaimana bisa ia disamakan dengan satpam depan komplek?
"Hem, tapi saya terlalu tampan untuk menjadi satpam komplek depan rumah. Bukan saya yang menggoda, tetapi saya yang akan digoda oleh emak-emak millenial jaman now."
"Hem, narsis!"
"Tapi memang benar, kan. Jika suamimu ini memang tampan?" tanya Ardan sembari memainkan kedua alis matanya untuk menggoda.
"Ya, tampan," jawab Hazel ketus. "Hanya saja ... sedikit gila!"
"Apa?" tanya Ardan terkejut.
"Hanya orang gila yang meminta anak dari seorang wanita asing," balas Hazel ketus.
"Dan ... hanya orang asing secantik kamu yang membuat pria tampan seperti saya tegila-gila," goda Ardan lagi.
Hazel memutar bola matanya malas, bibirnya menyungging sebelah lalu berbalik meninggalkan ruangan Ardan.
"Permisi!" ketusnya geram sendiri.
Hazel menangkupkan kedua tangannya di pipi saat merasakan panas di seluruh wajahnya.
'Apa aku juga sudah mulai gila? Kenapa wajahku memanas saat digoda oleh satpam gila komplek depan rumah itu?'
Suara dentuman pintu yang beradu itu membuat Ardan terlompat. Terkejut saat pintu kaca itu terbanting kuat.
"Masih sangat kasar seperti biasanya, tetapi sudah tidak sedingin sebelumnya." Ardan menghela napas dan melipat kedua tangannya ke belakang kepala.
"Hazel, apakah kamu sudah mulai goyah dengan godaan satpam tampan komplek depan rumah?"
Seringai terpatri di wajah ganteng lelaki berkulit sawo matang itu, melihat wanita dengan balutan kemeja putih itu menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan tertangkup di pipinya.
Mengusir rasa panas di wajahnya, saat ia digoda oleh lelaki bermata sayu tersebut.
"Tunggulah, satpam ini akan menjaga agar senyum itu terus merekah, Sayangku."