For My Family

For My Family
82



Hazel menghela napas dengan sedikit berat, duduk di tepi ranjang sembari mengelus perutnya yang semakin membesar.


Deru helaan napasnya mengalihkan perhatian Ardan. Lelaki yang masih duduk di balik laptopnya itu memalingkan wajah. Lalu ia mendekat dan duduk di sebelah istrinya.


Meletakan telapak tangan di atas perut wanita itu. Merasakan sesuatu yang bergerak di dalam sana. Bibir tipis itu tersenyum, tangannya menarik kepala Hazel dan mencium pucuk kepala dengan lembut.


"Bahagia banget rasanya. Kayak merasakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya."


"Hem?" Hazel mengernyitkan dahi, tak mengerti ucapan suaminya itu.


"Kayak ada aku yang baru di dalam situ. Tapi, Dokter bilang anak kita perempuan, kan?"


"Iya, perkiraannya perempuan."


"Mau perempuan atau lelaki, yang penting kamu dan anak kita sehat. Sudah cukup," balas Ardan lembut.


"Tapi sering kram, Mas. Ini saja rasanya masih begah, nyeri di bawah sini." Hazel memindahkan telapak tangan Ardan ke area bawah perut.


"Kalau tersentuh, rasanya kulitku seperti terkelupas. Sakit," rengeknya manja. Hal yang tak pernah ia lakukan saat menikahi Iqbal dulu.


Ardan menarik badan Hazel, mendekap tubuh wanita itu dari belakang.


"Apa Dokter bilang tidak apa-apa?" tanyanya cemas.


"Katanya, itu kontraksi karena aku sempat stres berat di awal kehamilan."


Ardan menghela napas berat, bibirnya menghujani pucuk kepala wanita tersebut.


"Karena sikap aku hari itu, kan? Maaf ya, Sayang."


Hazel hanya memainkan bibirnya, tangannya membelai lembut rahang tegas suaminya.


Sejenak, suasana hening. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Namun, ia takut akan menyinggung perasaan lelaki itu.


"Kapan USG selanjutnya?" tanya Ardan lagi.


"Kamis ini."


"Sudah memasuki bulan ke enam, ya? Berarti gak lama lagi anaknya keluar, dong."


"Iya."


"Apa kamu sudah siapin nama?"


"Hem, bagaimana kalau ... Nergissah Sezin, Nihan, Nilufer, atau Fahriye? Bagus yang mana menurut kamu, Mas?"


"Bisa gak jangan terlalu ke Turki-an?


"Kenapa?" tanya Hazel langsung.


"Payah manggilnya, nanti lidahku keseleo bagaimana?"


Hazel terkekeh, ia memainkan jarinya lembut, menyapu rahang lelaki tersebut.


"Memang kamu sudah nyediain nama, Mas?"


"Hem?" Ardan memutar bola matanya, memikirkan beberapa nama yang pernah ia searching di google beberapa hari lalu.


"Bagaimana jika Nadean atau Sashenka? Atau sekalian Nadean Sashenka?"


"Memang apa artinya, Mas?"


"Nadean itu harapan dan Sashenka itu penolong. Jadi, biar dia bisa menjadi harapan dan penolong buat kita."


"Bagus, aku suka Sashenka. Itu kamu ambil dari mana?"


"Itu, bahasa Rusia."


Hazel menganggukan kepalanya, ia membalikan badan dan meraih pipi suaminya itu.


"Mas."


"Hmm."


"Apa ... semua baik-baik saja?" tanya Hazel lembut.


"Iya."


"Bohong!" Hazel menarik ujung hidung Ardan. "Sudah hampir sebulan kamu terus murung, Mas. Kamu kelihatan stres saat di rumah. Kadang juga gak nyambung saat diajak bicara. Jujurlah, ada apa?" tanya Hazel lembut.


Ardan hanya tersenyum, ia merapikan helaian rambut Hazel lalu mengecup bibirnya sekilas.


"Nothing," jawab Ardan lembut.


"I don't believe. No nothing. But, something."


Ardan hanya bisa menghela napas, sadar jika wanita yang dinikahi bukan wanita bodoh. Mana mungkin ia bisa menutupi banyak hal dari istrinya tersebut.


"Mas," panggil Hazel manja.


"Tidak ada apa-apa, Hazel. Jangan khawatir, ya. Semua, baik-baik saja."


"Mas, kenapa gak pernah mau jujur, sih? Dari dulu, kalau ada masalah Mas selalu menyelesaikannya sendiri. Jangan Mas pikir aku gak tahu, Mas itu suka melakukan semuanya sendiri."


Ardan melepaskan dekapannya pada pinggang wanita itu. Lantas ia mengacak rambut dan kembali menghela napas. Berjalan ke depan laptopnya.


"Mas, bukankah dasar pernikahan itu adalah kejujuran? Apa selama ini keegoisan dan kebohongan yang selau kita pertahankan bisa membuat pernikahan kita baik-baik saja?" tanya Hazel mulai kesal.


Ardan menatap ke arah Hazel, tak lama tangannya menepuk space kosong di sebelahnya.


Perlahan wanita itu mendekat, duduk di sebelah lelaki berkaus ketat itu. Tangan Ardan kembali membelai perut istrinya, menempelkan telinga ke atas perut buncit itu.


"Aku hanya ingin melindungimu dan anak kita. Awal kehamilanmu dulu sudah kubuat kamu dan anak kita dalam bahaya. Aku gak mau lagi menempatkan kalian dalam bahaya, Hazel."


"Kami baik-baik saja, Mas."


"Baik-baik saja bagaimana? Sekarang saja kamu sering kram, kan."


Hazel menghela napasnya, ia mengambil kepala Ardan yang menempel di atas perut, mendonggakkan kepala lelaki itu agar dapat menatap matanya.


"Yang buat aku stres itu bukan masalah yang datang dari luar. Yang buat aku stres itu adalah sikap suamiku yang selau berubah. Sayang, aku gak peduli masalah apa pun itu. Tapi aku peduli pada perubahan sikapmu, mengertilah, Mas. Aku hanya ingin membantu."


Ardan melepaskan tangkupan tangan Hazel, ia menegakkan badan, lalu menarik kepala Hazel dan membenamkan ke dalam dada.


"Perusahaan kita, perusahaan kita ...."


"Perusahaan kita kenapa?"


"Hampir kolaps karena sebagian Direksi menarik sahamnya?"


"Ha?" Hazel melepaskan dekapan Ardan dan melihat ke arah suaminya itu. "Apa ini gara-gara masalah CEO itu, Mas?"


Perlahan kepala pria itu mengangguk, mata sayunya terlihat begitu teduh. Dengan senyum kepasrahan yang terpancar dari bibir tipisnya.


Hazel menggaruk kulit kepala menggunakan satu jarinya. Ia kembali menjatuhkan kepala ke dalam dada bidang itu.


"Apa papamu memaksamu dengan cara ini?"


"Lalu apa rencanamu?"


"Entahlah, mungkin mem-PHK sebagian karyawan."


Hazel kembali menarik badannya, menatap wajah yang semakin terlihat stres itu.


"Mas memang seburuk itu ya keadaannya? Pikirkan lagi, kalau mereka di PHK, lalu--"


"Belum seburuk itu, tapi akan," jawab Ardan lemas.


"Jangan menyerah dong, Mas. Aku yakin mas cukup kuat untuk mempertahankan perusahaan. Ada Ferdi dan ada aku, Mas pasti bisa."


Ardan tersenyum dan mengacak puncak kepala istri cantiknya itu.


"Jangan panik. Bukankah jadi istri CEO akan lebih baik?"


Hazel meremat jemari tangannya, ia menundukkan wajah. Terbesit sesuatu yang membuat hatinya semakin cemas, tentang keadaan Surya. Bagaimana jika keadaan Surya diketahui oleh keluarga besar Ardan?


Seperti tahu dengan kecemasan yang dirasakan wanita itu, Ardan meraih jemari tangan Hazel. Tersenyum lembut saat Hazel menatap wajahnya.


"Aku belum menyerah, aku akan pertahankan perusahaan itu bagaimanapun caranya. Karena--" Ardan menarik dagu Hazel dan mengecup kedua belah mata wanita tersebut.


"Perusahaan itu adalah tempat yang mempertemukanku dengan istriku."


Hazel tersenyum, kedua tangannya melilit pinggang lelaki tersebut. Terdengar helaan napas berat keluar dari bibir suaminya.


"Bagaimana mungkin kamu tidak mampu melawan, Mas? Kamu bukan orang lemah yang bisa ditindas."


"Aku juga tak tahu, Hazel. Kurasa ada seseorang yang masih berpihak pada Arfan di sana."


"Siapa?" tanya Hazel semangat.


"Entahlah, dua bulan ini aku dan Ferdi mencarinya. Sayang, sedikit petunjuk pun tak ada."


"Masa sih? Gak mungkin, kalau mereka memang mata-mata, pasti mereka akan menunjukkan gerak-gerik yang tidak biasa."


"Misalnya?"


"Hem?" Hazel memutar bola mata, perlahan dekapannya terlepas. Jari kecil itu menggaruk kulit kepala yang tak gatal.


Melihat ulahnya, Ardan terkekeh. Kadang keluguannya masih sering timbul tanpa ia sadari.


"Sudahlah, otakmu masih sangat kecil. Jangan dipaksa berpikir, nanti busuk lagi."


Plaaak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Ardan. Mata lelaki itu memerah, menatap Hazel yang memukulnya tiba-tiba.


"Mulutmu itu, Mas. Masih tajam saja."


Ardan merengkuh bahu wanita itu dan menjatuhkannya di atas sofa.


"Berani kamu menamparku, lihat bagaimana aku akan menghukummu!" Ardan membuka kaus ketat yang ia kenakan.


Seketika wanita itu menutupi wajahnya, padahal bukan pemandangan baru lagi. Bergaya seolah-olah dia malu.


Jari-jari kekar itu menari di sekitar pinggang dan perut. Gelak tawa terdengar dari bibir wanita tersebut. Menahan gejolak geli yang terus menjalari seluruh tubuh.


"Mas, kumohon! Hentikan!" teriak Hazel yang masih tertawa terbahak di bawah dekapan Ardan.


"Berani menampar suami. Rasakan hukumannya." Tangan Ardan terus menari, menggelitiki setiap sudut pinggang wanita itu.


"Mas! Ya Allah, anakku!"


Seketika tangan Ardan berhenti mendengar teriakan Hazel. Gelak tawa masih berlangsung, sulit untuk dihentikan saat geli itu sudah terlanjur menjalari badan.


Hazel mengambil napas yang memburu kencang. Ngos-ngosan karena kehabisan napas.


"Dia akan mencari tahu lebih detil dibandingkan yang lainnya. Dia yang akan lebih menentang keputusan terbaik yang akan kamu ambil, Mas."


Ardan menaikan sebelah alis matanya. "Maksudnya?"


"Yang memata-mataimu, pasti akan sangat peduli pada urusanmu dan sangat peduli akan keputusanmu."


Ardan tersenyum tipis, ia mengangkat tubuh wanita itu dan memindahkan ke atas ranjang.


"Lalu?" tanyanya sembari meletakan tubuh wanita itu dengan hati-hati.


"Dia, akan mencegahmu untuk melakukan sesuatu yang akan menyelamatkan perusahaan."


"Bagaimana jika tidak ada yang seperti itu selama ini?" tanya Ardan, badannya terus berpindah, mendekap wanita itu di bawahnya.


"Jika tidak ada." Hazel kembali memutar bola matanya.


"Ya, karena selama ini tidak akan ada yang berani menentangku."


Wanita itu memutar otaknya, berpikir mencari jalan keluarnya. Sementara, lelaki itu tak peduli, ia menyapu seluruh kulit leher wanita itu dengan bibirnya.


"Mas! Aku sedang berpikir!" teriak Hazel mulai gerah.


"Ya sudah. Berpikirlah, aku sedang menikmati pikiranmu."


"Ish." Hazel mendorong badan tegap Ardan. Ia duduk dengan mengancing kembali piyamanya.


"Pikirkan, apa ada yang menanyakan hal ini lebih dalam padamu?"


"Tidak ada, Hazrl."


"Lalu pada teman dekatmu?" tanya Hazel lagi.


Raut wajah lelaki itu mulai serius, ia berpikir sejenak.


"Ferdi?" tanya Ardan bingung.


Hazel mengangguk, ia memindahkan badannya ke atas pangkuan lelaki itu.


"Tak akan ada yang berani pada suamiku ini. Tetapi, Ferdi? Bukankah dia lebih lembut dan lebih polos darimu, Mas?"


"Benar." Ardan menarik dagu Hazel dan mencium bibir wanita itu sekilas. Memindahkan badan Hazel ke atas kasur dan menarik jaketnya.


"Aku ke tempat Ferdi dulu, kamu mau kubelikan sesuatu?" tanya Ardan menarik kepala Hazel, mendaratkan ciuman di sana.


Hazel mendengkus kesal, ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Menggelengkan kepala pelan. Kesal.


"Telepon aku jika kamu ingin sesuatu atau terjadi sesuatu. Jangan tunggu aku pulang, aku mungkin akan kembali sangat larut." Lelaki itu berjalan keluar, menghilang di balik pintu.


Hazel melemparkan guling ke arah pintu ketika lelaki itu pergi. Kesal sendiri, Ardan yang memulai, lalu dia yang meninggalkan.


"Dasar, kalau tahu begini. Lebih baik tidak aku katakan!" umpatnya kesal.


"Bukan, seharusnya tidak perlu kutanyakan."


Hazel menarik selimutnya, menyembunyikan badan di bawahnya.


"Kalau sudah masalah kerjaan, istri pun terlupakan," omelnya kesal.