For My Family

For My Family
132



Arfi bergeming, kedua jemarinya mencengkeram pagar pembatas dengan sangat erat.


Sekilas pertanyaan Ardan terngiang di telinga. Dengan cara apa nanti Arfi akan meninggalkannya?


Itukah yang dimaksud oleh Kakaknya? Jika, ya. Bukankah janji untuk tetap bertahan di sisi Ardan telah dia ucapkan.


"Kak, aku menyesal. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Selamanya, aku akan berada di sisimu."


Ardan tersenyum getir, ia menggelengkan kepalanya.


"Bukannya karena aku yang melarangmu untuk memperjuangkan Nigar yang membuatmu seperti ini?"


Lelaki itu terdiam, tegukan salivanya memahit. Kering, terasa bekas alkohol itu masih tersisa di kerongkongannya.


"Sumpah! Demi Tuhan, aku juga ingin kau bahagia, Arfi. Sangat ingin, sampai aku membelamu di depan Hazel yang tak mengizinkanmu mendekati adiknya."


Ardan menarik napasnya, entah bagaimana menjelaskan tentang rasa itu padanya. Sejatinya, lelaki tidak pernah mengungkapkan rasa sayangnya dengan kata-kata.


Malah terkesan acuh dan tak pernah peduli pada apa pun itu. Nyatanya, dia yang menyanyangi tetap akan melindungi meski tak terlihat oleh mata dan hati.


"Kau, semakin menjadikan dirimu tak layak berdampingan dengan Nigar, Arfi. Kau menjejaki dunia yang sangat dibenci gadis itu. Apa kau lupa? Dia yang terjaga, hanya layak berdampingan dengan yang menjaga. Entah itu hatinya, pun sikapnya."


Arfi tercekat, perlahan bulir-bulir penyesalan itu memburamkan pandangan matanya.


"Kau lupa? Dia gadis dengan ketaatan yang sangat terjaga. Bahkan dia tak memandang lelaki yang bukan mahramnya. Terlepas dari masa lalunya, catatan hitam itu bukan noda kehidupannya. Dia itu gadis yang menyandang nama Tuhannya di atas segalanya. Dan kau ... bahkan kacau dengan Tuhan yang kau kesampingkan. Entah ke mana!"


Wajah Arfi memerah, kesal dan juga menyesal. Ada sesak yang bersarang di dadanya ketika mendengarkan ucapan sang Kakak.


Benar, kenapa selama ini dia tidak memperbaiki diri? Bukankah Khadijah adalah gadis sempurna dari akhlak dan juga perbuatannya?


Mengapa? Dia tidak menyadarinya selama ini.


"Aku pernah rusak! Dan selama ini aku membiarkanmu bukan karena ingin melihatmu sama rusaknya denganku, Arfi! Aku ingin melarangmu, aku ingin membentakmu, tapi aku terlalu takut akan kepergianmu. Aku takut kehilanganmu, karena dari Erlangga, hanya kaulah yang tersisa."


Ardan meloloskan buliran dari matanya. Lemah, saat ini dia merasa sangat lelah. Bisakah lelaki itu menangis sekali saja?


Berusaha untuk tetap baik-baik saja, adalah hal yang paling melelahhkan yang pernah dilakukan. Karena jiwa yang telah patah, masih harus bersikap seolah utuh dengan semua dusta yang merengkuh kekuatan untuk segera rapuh.


"Aku menyanyangi kalian. Sekuat tenaga berusaha untuk mengembalikan apa yang pernah hilang. Mengapa? Tak ada yang pernah melihat kasih sayangku, sedikit saja? Aku tak pernah ingin menyakiti kalian, sefatal apa kesalahan yang kalian buat. Aku akan menanggungnya, pundakku cukup kuat untuk menanggungnya sendiri. Tapi bisakah, kalian untuk tidak pergi dari sisi? Bisakah?" tanya Ardan getir.


Lelaki berambut pirang itu melorot, bersimpuh di sebelah Ardan.


Ada yang terluka di hatinya, dan dia selalu menahannya sendiri. Menjadi keras dan kejam adalah cara dia melindungi hati, sekaligus menyembunyikan patahan yang tak pernah utuh lagi.


"Aku menyesal, Kak. Kumohon, hukum atau marahi aku. Pukul, hajar, tendang dan lakukan apa pun itu padaku. Tapi jangan seperti ini, Kak. Karena Kakak adalah si sulung kami. Aku percaya, bahwa Kakak menyanyangi kami semua."


Ardan menarik napasnya, cekalan kedua tangannya yang berada di pagar pembatas semakin mengerat.


"Kau tau apa yang sakit itu, Arfi."


Lelaki yang lebih muda itu mendongak, menatap wajah Ardan yang terlihat pias dengan pantulan mentari yang menyapa pagi.


"Saat yang pergi dari sisiku bukanlah ragamu. Melainkan sikap dan perhatian hangatmu yang kian mendingin. Sama seperti Arfanku, kembaran yang selalu berada di sampingku itu, merasa menjadi bayanganku. Padahal, dia adalah aku, bukan bayangan yang mengikuti."


Ardan memejamkan matanya. Kali ini, ia mulai jenuh menyimpan segala masalahnya sendiri. Termasuk, sakit dan lemahnya yang selalu ditinggalkan dengan kepingan hati yang dibawa pergi.


"Kau tau sakitnya? Saat kau tumbuh dan besar bersama, saling berebut dan bertengkar bahkan kau paham siapa dia tanpa dia menceritakan dirinya. Kau tau rasanya? Saat aku dan Arfan yang erat karena hubungan yang terjalin dari dalam kandungan, bisa retak dan pecah karena sebuah asmara?"


"Seperti kau yang kehilangan Khadijah, tidak ada apa-apanya saat kau kehilangan separuh jiwa yang seharusnya tidak akan terpisah. Luka di sini, selalu berdarah setiap aku menyakitinya. Aku sangat menyanyanginya, tapi dia tidak pernah percaya padaku. Dia tidak percaya akan kasihku. Karena di matanya, aku adalah rival yang mencoba merebut segala miliknya. Padahal selama ini, yang kulakukan adalah menjaga apa yang seharusnya tetap menjadi miliknya."


Ardan menghapus sudut matanya, melirik sekilas. Melihat Arfi yang bersimpuh di bawa kakinya.


"Sama sepertimu yang tidak mempercayaiku. Saat aku memintamu menjauhi Khadijah. Apa kau pikir aku akan menyerahkannya begitu saja untuk sahabatku itu? Kau adikku, kau yang kusayangi lebih dari apa pun itu. Aku tidak bisa mendukungmu, tetapi aku juga tidak ingin melukaimu. Kenapa? Kau tidak bisa mempercayaiku?"


Arfi medongak, melihat wajah Ardan yang semakin kacau dengan rentetan luka yang ia buka.


"Kehilangan setiap kenangan dan juga kehangatan hubungan. Itu lebih menyakitkan dari pada melihatmu jauh dari pandangan. Karena kau yang menjauh, pasti akan pulang. Namun, kehangatan yang menghilang. Tidak akan pernah berpulang, sekeras apa kita mencoba mengulang. Kau paham?"


Arfi bangkit dan memeluk pundak kekar itu. Meleburkan rasa di bahu terbuka sang Kakak.


"Aku menyesal karena telah menambah masalahmu, Kak. Maafkan aku," ucap Arfi seraya memeluk bahu itu erat.


Ardan tersenyum tipis, satu tangannya memukul belakang kepala Arfi. Lalu mengacak helaian pirang adiknya.


Sementara lelaki yang lebih muda itu semakin terisak. Menyesal karena sudah membentak dan menyakiti hati sang Kakak.


"Sudahlah, kau memang bocah nakal. Cepat mandi, badanmu bau alkohol."


Arfi masih enggan melepaskan dekapannya. Saat ini, Ardan adalah lelaki yang bisa ia datangi. Karena sosok Ayah yang selama ini tidak pernah ia dapati dari Gerald. Ada pada Ardan.


Bukan ayah yang mendikte, tetapi yang menasihati dari hati ke hati. Bukan yang memaksa dan membentak dengan kekuasaan. Melainkan dia yang mencoba merengkuh, merangkul dan bercerita layaknya teman. Lalu memberikan wejangan untuk keburukan yang dilakukan.


Mereka besar dengan cara mereka sendiri. Tidak ada perhatian layaknya teman, tidak ada pujian layaknya ayah yang melindungi keluarga agar tetap nyaman. Karena dalam keluarga itu, hanya ada bisnis dan didikan agar perkembangan perusahaan terus berjalan.


Mereka menciptakan kehangatan itu sendiri. Terpecah dua, karena orang yang seharusnya melindungi. Kini malah semakin membuat dinding untuk tetap terhalangi. Gerald, tidak pernah menjadi ayah yang mengayomi.


"Hei, sudahlah. Aku gerah, Arfi!" Ardan menarik badan Arfi.


Lelaki itu berusaha menghentikan tangisannya. Ardan tertawa, satu tangannya menepuk kepala sang adik.


"Dasar lelaki manja. Sudah umur berapa? Cengengnya, Masya Allah."


Arfi tertawa, punggung tangannya tak berhenti menyeka wajah.


"Selesaikan urusanmu dengan gadis belia itu. Aku bisa, kan tidak ikut campur ke dalamnya?"


Arfi mengangguk, mencoba menghentikan sesenggukannya.


"Lagian, kenapa suka sekali berurusan dengan anaknya anggota Tentara, sih?"


Alis Arfi bertaut, " maksud, Kakak?" tanya Arfi tak paham.


"Kemarin anaknya Jendral Regan Bagaskara. Sekarang gadis bungsunya Letnan Kolonel Irfan Sandyka. Kau, tidak bisa kalo tidak berurusan dengan pria-pria bersenjata itu?" ledek Ardan.


"T-t-tunggu dulu," tahan Arfi. Ia mencoba mengingat kejadian malam itu.


Ardan menaikan sebelah alis matanya, melihat Arfi yang tertunduk dengan dua jari di pangkal hidungnya.


"Gadis kecil itu? Anak Letnan Kolonel?"


Ardan mengngguk lemah.


"What?!"