
Sendu alunan sepinya waktu subuh, menghantarkan rasa dingin yang mampu menembus ke dalam kalbu.
Gadis itu mengerjap, perlahan lentik bulu matanya mengembang. Terbangun dari lelapnya bersama sang pujaan.
Dia menghela napas, lalu menoleh ke arah belakang. Melihat sang suami yang masih lelap dalam mimpi indahnya.
Kinara membuka selimutnya, selembut mungkin ingin beranjak. Satu tangan menahan bahunya, mendekapnya dari belakang. Erat, seakan tidak mau melepaskan.
"Mau ke mana?" lirih suara itu bergumam.
"Sudah pagi, Kak," jawab Kinara mencoba melepaskan dekapan tangan Pedro.
Lelaki itu semakin mendekap, kali ini kepalanya terbenam di helaian rambut Nara.
"Ini masih terlalu pagi, Sayang. Tidurlah lebih lama di Minggu pagi seperti ini."
"Aku gak bisa, Kak. Udah telanjur membuka mata." Kinara mengelus lengan tangan Pedro yang melingkari bahunya.
Membujuk lelaki itu untuk mau melepaskannya. Menunggu, tidak ada lagi jawaban Pedro setelah mengatakan itu.
Bibir itu terkulum, pelan-pelan ia mencoba melepaskan dekapan tangan Pedro.
Lelaki itu mendekap semakin erat. Kini satu tangannya menelusup ke bawah kepala Nara, menarik badan langsing itu agar lebih lengket padanya.
"Kak, ayolah. Aku mau masak."
"Tidurlah lagi, Nara. Atau kita sambung lagi yang semalam.
Gadis itu berdecak kesal, ia mencoba melepaskan diri.
"Ayolah, Kak. Aku sudah telanjur bangun."
"Biar dulu seperti ini. Aku ingin lebih lama lagi begini."
"Nanti kita sambung lagi. Sekarang aku mau mandi dulu, ya."
"Hmm." Lelaki itu bergumam, tetapi kedua tangannya masih erat mendekap Kinara.
"Kak."
"Hmm."
"Lepasin, dong."
Pedro mendesis, geram. Ia melepaskan dekapan tangannya dan memutar badan. Memunggungi Kinara.
"Masaklah sana. Tapi aku tidak akan makan."
"Kok gitu?"
"Menurutmu?" tanya Pedro merajuk.
Gadis itu menggulum senyum, terduduk dengan tangan yang mengelus kepala Pedro lembut.
Memasukan jari-jari lentiknya ke dalam helaian kecokelatan itu.
"Mau, gak mau. Harus tetap mau." Kinara memainkan hidungnya di helaian rambut sang suami. Menggodanya, biasa Pedro akan luluh jika dia sudah bersikap manja.
Kali ini tidak, lelaki itu hanya mendesah dengan silangan tangan di depan dada.
Nara terdiam, melihat ulah Pedro yang mungkin saja akan terlihat semakin jelas bersamaan dengan pernikahan yang terus berjalan.
Perlahan sikap yang samar akan kelihatan. Kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing pasti akan ketahuan. Tidak mungkin disembunyikan, karena pernikahan tidak berjalan dalam hitungan hari dan tahun.
Akan tetapi selama raga bersatu dengan nyawa. Sepanjang napas mengembuskan udara dan selama akad masih mengikat keduanya.
"Kak," panggil Nara lembut.
Lelaki itu hanya diam. Membuat helaan napas Nara terdengar panjang.
Tidak diacuhkan, wanita itu mengalah. Perlahan ia menggeser badannya, akan turun dari kasur.
Pedro menarik lengan tangannya dan menjatuhkan badan Nara kembali. Meletakan di bawah dekapan dengan tatapan sendu yang ia perlihatkan.
Bergeming, dua binar itu saling bertaut. Dalam dan kian melekat. Sampai lelaki itu membenamkan wajahnya di bahu polos Nara.
Gigit-gigitan kecil menggetarkan badan gadis tersebut. Satu jemari Nara membelai helaian kecokelatan itu.
Sampai suara tertahan itu lolos dari bibirnya.
"Kak," panggil Nara mulai bergairah.
"Sepertinya tidak ada cara lain untuk menahanmu. Kecuali memintamu untuk melayaniku."
Pedro mengangkat wajahnya, melihat bercak-bercak merah yang menghiasi tubuh sang wanitanya.
Dia tersenyum, satu jemarinya diautkan ke jemari sang istri.
"Nara, bukankah kita telah menyatu. Kapan akadnya akan diulangi? Aku tidak sabar untuk mengumumkanmu sebagai wanitaku di hadapan dunia."
Gadis itu tersenyum, membalas tautan jemari sang suami.
"Bukannya Kakak masih sibuk, ya? Kakak belom bisa ambil cuti lagi, kan?"
Pandangan lelaki itu menyayup, seperti ada kekecewaan yang tidak bisa diungkapkannya.
"Kita menikah sipil aja dulu, setelahnya baru gelar resepsi."
"Jika yang kunikahi tetap kamu. Mau sepuluh ribu kali diulang, aku tidak akan peduli."
Gadis itu tersenyum, mengangkat wajahnya dan memainkan ujung hidung Pedro menggunakan ujung hidungnya.
"Sekalian saja. Bersabarlah sedikit lagi, sampai cutimu bisa diurus kembali."
Sayup mata itu menunduk ke bawah. Pedro mengalah, ia hanya mengangguk lemah.
"Berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkanku, Nara."
Lelaki itu kembali membenamkan wajahnya di bahu sang wanita. Ingin rasanya terus mengulang dan mengulang kembali.
Memberikan banyak tanda agar seluruh semesta tahu. Bahwa gadis itu miliknya, dan hanya akan menjadi miliknya.
Entah kapan semua rasa itu bermula, tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu. Karena saat ini, rasa di dalam hatinya kian menggebu.
Tidak peduli kapan ini tercipta. Jika selamanya bisa bersama. Peduli apa pada waktu yang bermula?
***
Ardan mengusap wajahnya dan terduduk dengan segera. Suara Yena lantang ke mana-mana. Menangis sekuatnya.
Baru tertidur setelah subuh, rasanya mata itu baru saja terpejam. Kini tangisan Yena memaksannya bangkit.
"Hazel," panggilnya serak.
"Mas! Aku lagi di kamar mandi. Bisa tolong diami Yena sebentar?"
"Hmm," gumamnya.
Lelaki itu kembali merebahkan bantal. Memeluk guling dan terpejam. Tak ia hiraukan lagi tangisan Yena yang memekakkan, karena kini dia mulai terbiasa tertidur di tengah keributan.
Sementara di dalam sini Hazel mendengkus dengan kesal. Secepatnya ia menyelesaikan ritual paginya walau belum kelar. Tangisan Yena semakin lantang, parahnya papanya semakin terlelap dengan tenang.
Hazel langsung berjalan ke arah box bayi. Ia mendesah pelan melihat sang suami yang kembali tiduran. Padahal anaknya sudah menangis kejar.
Telaten kedua tangan itu mengangkat tubuh sang bayi. Mendiamkannya di dalam dekapan.
Menenangkan Yena, sebelum Bundanya mengibarkan bendera perang dengan sang suami.
Wajah gembil putri kecil itu memerah, terseduh bahkan isakannya masih menganggu dia saat menyusu.
Pelan jari-jari lentik itu membelai pipi gembilnya. Lantas bibirnya terkembang lebar, semakin hari hidungnya semakin terbentuk mirip dengan sang papa. Di tambah alis yang mulai menghitam dan bertautan. Persis seperti Ardan.
Setelah tenang, wanita itu kembali menidurkan sang bayi ke dalam boxnya. Bersiap untuk memarahi Ardan.
Bisa-bisanya dia membiarkan sang putri menangis sekuat itu dan memilih menjelajahi mimpi.
Dengan kasar ia duduk di tepi ranjang. Ingin menjewer telinga lelaki itu agar bangun dan mendengar celotehnya yang akan panjang. Mungkin bisa sampai makan malam.
Jemari itu terhenti sebelum sempat menarik daun telinga sang suami. Melihat wajah sangar itu terpulas, ia tidak tega.
Napas yang begitu beraturan menaik-turunkan dada bidangnya menandakan Ardan tengah asyik bergelut dengan mimpinya.
Hazel mendesah pelan, perasaan sayang lebih mendominan. Walau kesal dengan ulahnya, tetapi ia bisa apa?
Bibir mungil itu mengembang, bagaimana juga, cinta dan kasih sayang selalu Ardan curahkan setulus hati. Pun dengan tenaga dan lelah yang tak pernah dihiraukannya demi dia dan sang putra.
Jemari lentik itu membelai lembut kepala Ardan. Sebuah kecupan ia berikan di atas bingkai pada wajah.
Lalu menarik lengan Ardan dan membukanya. Menidurkan badan di sebelahnya dengan wajah yang terbenam di bawah ketiak sang suami.
Tidak jadi memarahi, malah semakin mendekati. Melihat Ardan nuraninya mengiba sang kekasih.
Setidaknya, Ardan butuh energi lebih untuk berjuang memenuhi kebutuhan keluarga kecil ini.
"Aku sayang kamu, Mas. Sayang sampai mati. Jangan pernah berubah, dan tetaplah menjadi suami terbaik untukku, hari ini, besok dan sampai nanti."
Wanita itu mengangkat wajahnya, memandangi wajah sang suami lamat-lamat. Rasanya semakin cinta, mengingat Ardan yang awalnya bukan siapa-siapa, kini sekuat tenaga bertarung demi dia.
Memberikan dadanya untuk bercurah. Pundaknya untuk bersandar. Telinganya untuk mendengar, dan dekapannya untuk menguatkan.
Lama, iris berwarna madu itu memandang lekat dan dalam. Lalu satu jarinya menyentuh dagu Ardan. Membuka tangkupan bibir tipis Ardan.
Perlahan Hazel mendekat, mencium bibir itu dan mensesapnya pelan.
Ardan bergumam, ia memeluk tubuh mungil itu erat.
"Hazel, biarkan aku tidur, Sayang. Kumohon, aku lelah."
Hazel berdecak geram, ia melepaskan dekapan Ardan. Memukul dada bidang itu, kesal.
"Jangan cari aku kalo Mas lagi butuh. Gak sudi!"
Ardan kembali tertidur, tenang dengan tarikan napas teraturnya.
"Mas!" pekik Hazel geram.
Ardan membalikkan badannya, menutupi telinga dengan bantal.
Gadis itu berdecak, semakin kesal.
"Ish ...," desisnya geram. Bantal dan guling ia lemparkan ke badan itu. Sayang, Ardan terlalu dalam masuk ke dalam lelapnya.