
Hazel kelabakan, tangannya cepat mengusap baju. Merapikan agar kain itu tidak membentuk lekuk badannya.
"Mama, itu ... itu, anu." Ia menggigit ujung jari, kalau sampai anak ini ketahuan, apa yang harus ia lakukan.
Mata Aulia memandangnya dengan sengit, memperhatikan gelagat wanita itu yang tampak gelisah.
"Aku--" Ucapan Hazel terhenti saat wanita itu memeluknya dengan sangat erat.
"Mama mohon jangan pergi lagi, Arsy. Mama akan mendukungmu, bukankah kamu ingin melukis Manhua? Bukannya kamu ingin kuliah animasi? Mama akan membawamu pergi, Mama akan membawamu ke sana."
"Ke?" tanya Hazel bingung.
"Jepang, Korea, China, Beijing atau Shanghai. Ke mana pun kamu mau. Ke mana kamu ingin menjadi komikus. Mama akan membawamu. Soal anak ini, jangan takut, kamu gak boleh takut ya."
Aulia melepaskan dekapannya, meraih pipi Hazel dan tersenyum dengan sangat lembut.
"Mama akan umumkan pada publik, bahwa Mama yang hamil. Mama akan membawamu ke luar negeri. Menjagamu di sana, lahirkan anak ini. Setelah itu, dia akan menjadi anak Mama, statusnya akan menjadi adik kamu, Sayang. Jangan takut, gak akan ada yang tahu, hanya kita. Iya, hanya kita." Aulia kembali memeluk badan Hazel. Mendekapnya dengan sagat erat.
Seakan takut jika Arsy pergi lagi. Takut, jika putrinya meninggal untuk kedua kali. Miris, ketika keadaan yang sesungguhnya tidak bisa diulangi dan diperbaiki lagi. Sakit, jika mengingat kesalahan yang membawa pergi orang tersayang. Sekuat tenaga mencoba mengulang, dia yang pergi ke hadapan Sang Maha Agung, tetaplah tidak akan pernah pulang.
Perlahan, tangan Hazel terangkat. Membalas dekapan erat Aulia. Bulir bening pun ikut luruh saat kelopak mata itu terpejam.
Perasaannya perih, ada sesuatu yang merajam hati. Iya, penyesalan itu. Ketakutan atas luka masa lalu. Membuat wanita ini harus menangung apa yang seharusnya ia lepaskan sejak dulu.
Hatinya terluka, kenangan indahnya terobek duka. Ada sesuatu yang tertinggal dalam ingatan tuanya. Lebih tepatnya, harapan akan putrinya yang telah lama sirna.
Mencoba menghidupkan kembali dengan angan dan caranya sendiri. Bermain pada alam bawah sadar, memupuk luka yang dibalut dengan cinta.
Sampai akhirnya, luka yang coba ia sembuhkan semakin dalam karena sulitnya merelakan.
"Mama, aku akan lahirkan anak ini. Aku berjanji, karena selain Mama, ada seseorang yang menjaga anak ini dengan sepenuh jiwa. Mama gak perlu bawa aku pergi, karena saat ini. Kak Ardan melindungiku dengan sepenuh hati."
Aulia melepaskan dekapannya, menangkupkan tangan di pipi Hazel. Ia mencium dahi wanita itu dengan lembut.
"Mama tenang saat kamu berada bersama Ardan. Dia, memang yang paling menyanyangimu, Arsy. Mama percaya, dia akan menjagamu sangat baik, Sayang."
'Tentu. Tentu, dia harus menjagaku, Ma. Karena dia bukan Kakakku, tetapi imam di dalam hidupku.'
***
"Masuk!" perintah lelaki berkacamata tipis itu saat pintu ruangannya terketuk dengan lembut.
Seorang wanita muda, dengan senyum yang merekah lebar. Menyembul dari balik kayu berwarna cokelat itu.
"Ada apa, Nara?" tanya Ferdi saat melihat wanita dengan baju shifon lengan pendek itu berjalan mendekati mejanya.
"Mbok Darmi membawakan sarapan sekaligus makan siang. Tadi pagi, anda langsung pergi saat azan subuh. Mbok Darmi menitipkan ini sama saya."
"Letakan saja di situ," ucap lelaki itu dengan mengancungkan dagu ke arah meja di dekat sofa.
Wanita itu tersenyum, ia mengangguk dan meletakan rantang itu di atas meja.
"Em, Pak."
"Iya."
"Pak Ardan, kapan pulang?"
"Saya tidak tahu. Kenapa? Apa kamu ingin kembali ke kontrakan?"
Cepat gadis dengan rok selutut itu menggeleng. Jarinya memilin ujung rambutnya yang terurai indah.
"Ada perlu lagi? Kalau tidak, bekerjalah. Saya harus keluar untuk bertemu teman."
Ferdi mengambil jasnya, membawa rantang yang dibawa Nara tadi. Keluar dari perusahaan.
Senyum gadis itu terus mengembang, alasan kenapa Hazel memintanya menjaga rumah. Pasti untuk menjodohkan dia dengan lelaki idamannya itu.
Namun, sikap Ferdi masih sedingin dulu. Ia, lebih dulu menutup hati setelah kekasihnya pergi.
.
.
Sebuah langkah terdengar sedikit berlari dari dalam. Tak lama, kenop pintu terbuka.
"Assalamualaikum," ucap lelaki berkacamata itu saat melihat gadis dengan hijab hijau tua di balik pintu.
"Waalaikumsalam. Anda?"
"Iya, aku datang ingin memberikan kwitansi kepadamu. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Ferdi sedikit sungkan.
"Oh, silahkan." Wanita itu mempersilahkan, akan tetapi ia malah menutup pintu dan keluar.
Dahi lelaki dewasa itu mengernyit, melihat gadis dengan tinggi 165cm itu berdiri di depan pintu yang tertutup rapat.
"Kamu mengatakan silahkan. Kenapa pintu kamu tutup lagi?"
"Oh. Hanya ada saya di rumah ini. Tidak mungkin saya mengajak anda ke dalam. Kita bukan mahram, dan saya takut akan ada fitnah nantinya."
Dahi itu kembali berkerut, ia menganggukan kepalanya. Gadis itu, bahkan berbicara tanpa bersitatap wajah dengannya.
"Terserahlah. Ini ambil kwitansi sewa rumahnya dan simpanlah. Kamu bisa tinggal di sini selama setahun. Jangan takut, tidak akan ada yang mengusirmu."
Gadis itu menatap wajah Ferdi sekilas. Lalu ia duduk di bibir keramik teras.
"Setahun? Lalu berapa saya harus menyicilnya perbulan?" tanya gadis itu bingung.
Ferdi tertawa, ia meletakan rantang itu di sebelah badan Khadijah.
"Aku tidak memintamu mengganti uangnya. Aku niat membantumu, jadi aku ingin membantumu semampuku."
Gadis itu menunduk, dengan tangan yang memilin ujung hijabnya.
"Mana mungkin begitu. Saya adalah orang waras dan mampu bekerja. Saya juga bukan seseorang yang pantas dikasihani. Saya akan sebisanya mengembalikan pada Anda. Beri saya waktu, saya akan mencari pekerjaan dan membayarkannya perlahan."
Ferdi menghela napas, ia memperhatikan gadis itu dengan lekat.
"Khadijah, apa kamu punya ijazah?" tanya Ferdi.
"Ya."
"Buatlah lamaran, kirimkan ke HRD perusahaanku. Kebetulan ada lowongan untuk bagian promosi. Kamu, mau bekerja di bidang kosmetik?"
Gadis itu bangkit dari duduknya, ia berdiri di depan Ferdi dengan mengembangkan bibir ranumnya.
"Benarkah? Anda bersedia membantu saya lagi? Saya akan mempersiapkannya, terima kasih sekali lagi."
Wajahnya putih dan berseri. Kelopak mata yang bulat dan besar, dengan bulu mata panjang lentik dan hidung bangir yang agak tebal. Mirip dengan model hijab yang ada di majalah muslimah, persis.
"Ini kwitansinya, aku tunggu di perusahaan." Ferdi menyerahkan selembar kertas.
Lagi, kulit putih dengan hena yang masih indah menghiasi punggung tangan itu mengambil kertas pemberian Ferdi.
Menciptakan desiran yang sempat terlintas kembali membekas. Jari lentik itu tak menyentuh, namun, hanya melihat punggung tangan itu saja mampu membuat jantungnya terenyuh.
Kali ini ada perasaan aneh yang hadir di dalam jiwa. Tanpa sentuhan, tanpa rayuan. Namun berhasil menumbuhkan rasa yang telah lama menghilang. Menghidupkan degup jantung yang sempat terhenti ketika kekasihnya pergi.
Hanya beberapa kali berbicara, sekilas menatap tanpa rasa. Namun menghadirkan hawa baru yang bernama, cinta.
***
Ardan membuka pintu kamarnya, Hazel melipat kedua tangannya di depan dada dan menyentakan kepala saat melihat suami tampannya itu pulang.
"Ada apa?" tanya Ardan sembari menyampakkan jas di atas kasur.
Ia mendekati Hazel dan langsung memeluk badan mungil wanita itu. Hazel meleraikan dekapan Ardan, menggeser duduknya, menjaga jarak dari suaminya tersebut.
"Hei, ada apa?" tanya Ardan mendekat kembali.
"Jangan dekat-dekat! Dasar pembual!" ketusnya geram.
Dahi lelaki itu berkerut, kali ini serangan tanpa persiapan.
"Maksud?" tanyanya bingung.
"Kamu itu penggoda, Mas! Dasar tukang gombal!"
"Ada apa, Hazel? Kamu menyerang aku yang tanpa pedang. Ini namanya penyiksaan!"
"Gak usah pura-pura gak tahu, deh. Gayanya bilang gak pernah jatuh cinta. Tapi udah terlibat cinta segitiga antar saudara. Pembual! Dasar tukang gombal!" ketusnya lagi.
"Maksudnya ini apa? Jelasin?" tanya Ardan ikut ketus.
"Mama bilang Arfan marah sama kamu gara-gara kamu yang cinta sama Ferla, tapi kamu mengalah dan menyakiti Ferla. Ayo, apa? Mau bilang apa? No gombalan! Aku tidak akan termakan lagi. Sorry!"
Ardan terkekeh, ia mengacak rambut hitamnya dan membuka kemeja marun yang masih melekat di badan tegapnya. Lelaki dengan tinggi 188 cm itu memutar badan istrinya, memandangi binar berwarna madu itu dengan dalam.
"Apa menurut kamu aku ini orang yang suka mengalah? Ingat bagaimana aku menjebakmu berulang kali? Jika aku suka dia, kenapa aku harus mengalah?"
"Karena Arfan adalah adikmu!" Hazel memicingkan matanya, memanyunkan bibirnya sambil melipat tangan di depan dada.
"Cinta itu tidak mengenal hubungan darah, Hazel. Terlebih jika cinta terbalut ego manusia. Jangankan hanya sebatas kakak-adik, bahkan ayah dan anak saja bisa saling berebut."
Hazel memalingkan wajahnya, malas berhadapan dengan lelaki itu. Sadar, jika Ardan adalah penggoda yang paling menggiurkan perasaan.
"Lagian, jika memang aku mencintai Ferla, maka yang harus mengalah adalah Arfan. Karena perasaan dia yang tidak bertuan. Jika seperti yang dibilang Mama, maka aku dan Ferla adalah dua kepakan sayap yang siap untuk terbang, lalu siapa Arfan? Haruskah aku menyakiti dua sayap demi egoku? Atau aku mematahkan sayap lama untuk membiarkan dia terbang dengan sayap yang siap membawanya menjelajahi dunia?"
"Hem?"
"Aku memang menyakiti Ferla, namun bukan karena aku mencintainya. Melainkan aku ingin memutuskan asa dan harapan indahnya tentang hidup bersamaku di masa depan."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka dipaksa, cinta itu ada bukan untuk dipaksa. Tetapi untuk dirasa. Arfan mencintainya dan memaksakan diri untuk menjadi aku. Ferla mencintaiku dan memaksakan diri agar terlihat oleh mataku. Itu cinta?" Ardan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Bukan, itu obsesi. Cinta adalah rasa, yang tidak tahu sejak kapan ada. Namun dia terus masuk ke dalam jiwa, melekat jadi satu, bersarang di dalam dada. Dia yang lebih dulu merasa sesak saat kekasihnya terluka. Dia yang lebih dulu terluka saat kekasihnya mengeluarkan air mata. Dan itu, hanya aku rasakan saat aku melihatmu, Hazelku. Menyakitimu, sama seperti membunuh diri sendiri. Aku pernah melakukan itu bukan untuk melepaskanmu, tetapi untuk melindungimu."
Perlahan pipi putih itu bersemu, ingin tersipu namun terlalu angkuh. Hazel menaikan dagunya, melirik sekilas ke arah Ardan.
"Sudahlah, ini sudah magrib. Bersiaplah, aku akan mengimamimu salat kali ini." Ardan melepaskan beltnya dan memasuki kamar mandi.
Hazel melepaskan senyumnya, ia menghentakan kaki di atas lantai. Hatinya benar-benar tergugah oleh pengakuan lelaki itu.
Gelak tawanya terdengar, Ardan yang ingin keluar dari kamar mandi terhenti saat melihat wanita itu kegirangan sendiri.
"Dasar, masih saja angkuh saat kamu sudah sangat luluh."
.
.
Kepala dengan kupiah itu memaling ke kanan, mengucapkan lafaz lalu memaling ke kiri. Mengangkat tangan untuk mengucapkan doa-doa dalam hati.
Bukan hal yang asing bagi Hazel melihat lelaki itu menjalankan tanggung jawabnya sebagai muslim. Menurut pengakuannya, setelah Arsy pergi, banyak yang berubah dari kepribadiannya. Namun, baru kali ini ia mengajak Hazel untuk berdiri di belakangnya. Menjadi makmum yang mengikuti seluruh gerakannya.
Mata berwarna madu itu lekat memandangi punggung kekar suaminya. Tak lama ia berbalik, tersenyum dengan mengulurkan tangan untuk wanita itu cium.
"Hazel."
"Ya."
"Kita sudah lama menikah. Tapi aku belum menyelesaikan satu tugasku padamu."
Dahi putih itu mengernyit. "Apa?"
"Dulu awal kita menikah, kamu menganggap ini ikatan perjanjian. Menganggap aku pihak pertama yang harus kamu turuti. Lalu, saat aku jatuh cinta, kamu masih belum bisa sepenuhnya menerima. Saat ini, ketika kamu membuka hati. Izinkan aku menunaikan apa yang tertunda selama ini?"
Hazel memandangi wajah tampan itu, tugas yang mana yang Ardan maksud? Bukannya saat ini dia sudah hamil. Mereka juga masih sering melakukannya tanpa paksaan.
"Mendekatlah!" perintah Ardan lembut.
Perlahan wanita itu menggeser duduknya. Ardan tersenyum tipis dan mencium dahi wanita itu dengan lembut. Satu telapak tangannya menyentuh ubun-ubun, terucap lafaz doa yang ia sematkan untuk wanita bermukenah di depannya.
Hazel bergeming, matanya memperhatikan gerakan bibir Ardan. Embun-embun bening perlahan runtuh dari netra berwarna madu miliknya.
Ada desiran hangat, haru, dan yang pasti sangat bahagia mulai memasuki relung di dalam dada. Tak pernah membayangkan pernikahan ini akan menjadi sangat indah. Bukan hanya dengan harta yang diserahkan, namun juga tanggung jawab yang ia junjung sebagai imam.
Tangisan wanita itu pecah, sesaat setelah tangan Ardan terlepas dari atas kepala. Sesenggukan sampai membuat tubuhnya bergetar kuat.
"Ada apa? Kenapa kamu nangis? Aku berdoa bukan merukiyahmu."
Hazel tertawa, ia memukul bahu Ardan. Bahkan di saat seperti ini lelaki itu masih sempat menggoda.
Wanita itu mencoba menghentikan air matanya, mencium bibir lelaki itu lembut. Tangannya mendekap dengan sangat erat.
"Terima kasih, Mas."
"Ini kewajibanku, Hazel."
Kepala berbalut mukenah itu menggeleng.
"Terima kasih karena telah mengajarkanku. Apa itu pernikahan yang sebenarnya."