
Gadis berjeans putih itu memainkan kedua kakinya, sesekali kepalanya menoleh. Melihat ke arah lintas busway.
Bibir mungil itu memanyun, meniup-niup poninya seraya menunggu busway terakhir datang.
"Kenapa selalu pulang kehabisan bus, sih?" gerutu gadis itu.
Dia mendesis, menepuk-nepuk betisnya yang masih terasa pegal. Beberapa hari ini selalu pulang kesorean, dan dia harus jalan untuk bisa kembali ke rumah.
Sedang asyik menunggu, sebuah mobil oranye berhenti di depan halte. Gadis itu langsung bangkit dan akan berlari. Rambut kucir kudanya tertarik. Kuat.
"Ah ... ah ... ah," rintihnya menoleh.
"Mau ke mana?" tanya lelaki itu ketus.
"Mau pulang, lah!" ketus jawaban itu diberikan.
"Masih punya rumah?"
"Ish .... " Gadis itu menendang tulang kering betis Arfi. Seketika lelaki berambut pirang itu mengaduh ke sakitan.
Tarikan di kucir kudanya terlepas, lelaki itu mengelus betisnya seraya menatapi wajah Sasy.
Sudut bibir gadis itu tertarik, dengan silangan tangan di kedua dadanya.
"Kasar, sih. Main tarik-tarik sesuka hati. Om pikir ini apa? Tali tambang?"
"Kupikir ekor kuda," balas Arfi datar.
"Dih .... " Gadis itu mengelus rambut kucir kudanya. Lantas badan kecil itu kembali duduk di kursi halte.
"Ada apa Om nyari aku? Pasti Om rindu, kan? Ya, kan? Ya, kan?"
"Cih .... " Lelaki itu tersenyum miris dan menggelengkan kepalanya.
"Apa kau pikir aku kurang kerjaan merindukanmu? Ha? Memang kau siapa?"
"Aku? Sasy Sandyka, si gadis imut yang baik hati."
"Hooo .... baik hati? Tentu, kau tidak ada riwayat penyakit lever, kan?"
Gadis itu memutar bola matanya malas.
"Kalo gitu kenapa Om cari aku? Jika bukan jadi bucinku, apalagi alasan Om menemuiku?"
"Hahahahaha!" Arfi tertawa keras, satu tangannya menepuk dahi mungil itu kasar.
"Hei anak kecil, bangun! Kau berubah cantik seperti Bae Suzy saja aku tidak akan menjadi bucinmu. Kau paham?"
Bibir mungil itu memain, mengejek ucapan Arfi.
"Dih ... Bae Suzy. Bisa dapat yang secantik aku aja Om harusnya bersyukur! Daun muda yang masih .... " Sasy bersiul seraya memainkan alis matanya, menggoda lelaki berambut pirang di depannya.
Sudut bibir lelaki berkaus hitam itu ditarik. Ia mengacakkan tangan di pinggang.
"Bisakah kau singkirkan dulu kepedeanmu itu? Aku ke sini mau mengajak kamu mengakhiri segalanya," ucap Arfi ketus.
"Segalanya?" Gadis itu berdiri dan menepukkan kedua tangannya di depan wajah Arfi.
"Hello, Om! Memang pernah ada apa di antara kita?"
Arfi menganggukkan kepalanya, ia berjalan mengelilingi tubuh mungil itu. Lalu, badannya condong ke depan Sasy. Dengan silangan kedua tangan di depan dada.
"Kau lupa? Kau mengancamku berulang kali. Mengajakku pacaran tiba-tiba, lalu memperkenalkanku." Arfi menyugar rambutnya. "Lelaki tertampan Erlangga ini sebagai pacar dari seorang kecambah muda sepertimu! Kau lupa?"
Gadis muda itu ikut menyilangkan kedua tangan di depan dada, lantas ia membuang pandangan ke arah kosong.
"Itu, kan hanya pura-pura. Sekarang aku udah gak tertarik, tuh!"
"Hahahahaha! Baguslah, itu artinya aku tidak harus terikat lagi padamu. Bisa fokus pada calon istriku!"
Kepala gadis itu menoleh, melihat Arfi dengan tatapan bingung.
"Om mau menikah?"
"Iya, kenapa?"
"Wah, kasian banget, dong si Tante. Harus menikahi lelaki seperti Om."
"Hahaha, kau mengatakan kasian? Tapi dia merasa beruntung, tuh!" Angkuh Arfi.
"Wah, sakit jiwa. Mendapatkan lelaki angkuh dan kasar seperti Om di mananya yang beruntung?"
"Cih, gadis kecil ini." Arfi meremat kepalan tangannya, geram setengah mati.
Kedua tangannya terangkat, ingin meraih kepala mungil itu. Lalu, tertahan dan teremat sendiri.
"Eh, tunggu!" Sasy meletakan satu tangannya di depan dahi Arfi.
Lelaki itu terdiam, melihat telapak tangan kecil itu menyentuh dahinya. Detik kemudian dia tersadar dan mengempaskannya.
"Kau--"
"Aku punya syarat sebelum kita putus hubungan," putus Sasy seraya menatap wajah tampan itu.
Arfi melirik, tajam tatapan mataku itu menelisik.
"Aku tidak mau!"
"Hah ... Pak Ardan--"
"Baiklah, katakan!" ucapnya mengalah.
Gadis itu tersenyum, ia menarik kaus Arfi sampai badan tegap itu menunduk. Berbisik pelan di telinga lelaki itu.
Netra lelaki itu memutar, mendengarkan setiap ucapan gadis itu. Lalu dia melirik, sinis.
"Bagaimana, Om?" tanya Sasy girang.
"Hanya itu?" tanya Arfi balik.
Gadis itu mengangguk.
"Lelaki sepertimu, jika tidak menyakiti lalu bisa berbuat apa lagi?"
"Kau--"
"Ssssttt .... " Sasy meletakan satu jarinya di depan bibir.
"Sudah jangan banyak bicara. Ayo antar aku pulang."
Gadis itu langsung berjalan ke arah mobil. Naik tanpa rasa bersalah.
Sementara Arfi masih bergeming. Terbodoh menghadapi gadis kecil itu.
Suara klakson mobil menyadarkan lamunannya.
"Om! Cepatlah, keburu magrib!" teriak gadis itu dari dalam mobil.
"Sial! Kenapa seperti aku yang budaknya?" rutuk Arfi geram sendiri. Lebih geram lagi, karena dia hanya bisa menuruti segela perintahnya.
***
Dari balik kaca mobil, bibir lelaki berambut pirang itu tersenyum sangat lembut.
Iris hitam pekat itu tidak bisa berpaling. Memandangi sang gadis pujaan yang sedang duduk di teras rumah dengan sebuah mushaf di tangannya.
Bibirnya bergerak, mengalunkan ayat-ayat itu. Namun sangat lirih, nyaris tidak terdengar.
Tangan berhiaskan hena itu membalik lembaran mushafnya. Namun, malah membuka setiap lembaran masa lalu di dalam kenangan Arfi.
Melihat gadis itu yang seperti ini, sama seperti beberapa waktu lalu. Dia, selalu membaca mushaf sembari menanti Arfi datang. Entah datang untuk menjemputnya dari kampus, pun datang menemui dirinya di rumah Regan.
Lelaki itu turun, berjalan mendekati sang gadis. Masih sama persis, tidak terdengar sama sekali alunan ayat-ayat yang dibaca. Hanya gerakan bibir yang terus meracaukan setiap barisnya.
"Kenapa kamu selalu membaca tanpa bersuara?" tanya Arfi kala itu.
"Aku membaca di tempat umum yang banyak orang berlalu lalang. Dan suara bagi perempuan adalah sebagian dari auratnya, Arfi," jawaban itu sangat sendu. Dan karena kelemah lembutan itu dia masih terus terjatuh pada hati yang sama hingga saat ini.
Tidak mampu berpaling, walau gadis itu telah menghilang. Sejauh apa, pasti akan dikejar.
"Khadijah." Gadis itu menoleh, ia tersenyum lalu kembali melihat mushafnya.
Beberapa waktu lama, sampai tangan itu menutup mushaf dan mengusap wajahnya pelan.
"Ya."
Ada yang kembali berdesir, lembut jawaban itu masih sama rasanya. Ada cinta, walau dia tidak pernah menunjukkannya dengan cara seperti gadis lain pada umumnya.
"Boleh aku duduk di sana?" tanya Arfi menunjuk kursi di sebelah Khadijah.
Gadis itu mengangguk, Arfi meremat gulungan berkas yang ada di tangannya.
Terdiam, hanya hening malam yang menjelma menjadi teman. Lekat iris hitam itu memandangi map yang ada di tangannya.
Ragu, lalu ia menghela napas untuk memantapkan niatnya.
"Khadijah, seandainya. Aku bertanya seandainya, jika Kak Ferdi melepaskanmu. Maukah kamu menerimaku lagi? Mengizinkan aku, menjadi imammu dan pelindungmu?"
"Jika memang itu jalannya. Lalu, aku bisa apa?"
"Cobalah memberikan jawaban. Bukan kepasrahan!"
Gadis itu menoleh, lantas bibirnya terkembang dengan sangat lebar.
"Berhentilah untuk memaksakan diri, Arfi. Cinta, tidak selamanya harus bersama."
"Tapi jika aku cinta. Aku maunya bersama. Demi Allah, mengikhlaskanmu adalah hal yang tidak bisa kulakukan, Khadijah."
Bulu mata itu tertutup, sebuah senyuman kembali terbit dari wajah cantiknya.
"Jika kukatakan, ya. Lalu adakah yang berubah dari posisi kita?" tanyanya lembut.
Arfi meremat gulungan berkas itu, ia mendesah pelan. Lalu membuka map itu perlahan.
"Khadijah, bisa aku meminta bantuanmu?"
"InsyaaAllah jika aku mampu."
Arfi menyerahkan map yang ada di tangannya. Sedikit bingung tangan indah itu meraihnya.
Membuka pelan, lalu membacanya perlahan.
"Ini?" tanya Khadijah menoleh ke arah Arfi.
"Iya, perusahaanku di ibu kota akan melakukan kunjungan dan memberikan bantuan ke beberapa panti asuhan. Aku tidak mau namaku ada di sana, karenanya aku meminjam namamu. Boleh?"
"Jika tidak ingin memberitahu namamu, kenapa gak buat hamba Allah saja?"
Lelaki itu tersenyum. "Kamu bacalah baik-baik. Berkas ini juga sebagai bukti untuk diteruskan ke beberapa anak perusahaan. Jika kamu ingin aku menceritakan detailnya, maka dengarkanlah."
Gadis itu menggeleng, satu tangannya meraih lembaran itu. Membaca lembaran yang lainnya. Isinya hanya copyan saja.
"Lalu, jika namaku yang dipakai, bagaimana pertanggung jawabannya kelak? Apa setelah ini aku harus melakukan hal lain?"
"Hei, Khadijah. Apa aku ini lelaki jahat? Yang akan menjerumuskanmu ke masalah besar? Atau mengubah masalahku menjadi masalahmu."
Gadis itu menggeleng, lalu mengambil bolpoin dan melihat nama yang tertera di bawah meterai.
"Nigar Hatice Sezin?" tanyanya bingung.
"Ya. Karena dunia mengenalmu Khadijah Bagaskara. Bisa kupastikan bahwa kamu akan tetap aman. Misalnya ini kejahatan."
Gadis itu kembali tersenyum, ia menandatangi nama di atas meterai itu. Membubuhkan coretan di setiap lembaran.
Mata Arfi melirik sinis saat Khadijah membuka lembaran terakhir. Tanpa menunggu lama gadis itu mencoretnya begitu saja.
Arfi menghela napas, ia tersenyum lega.
'Maafkan aku, Khadijah. Jika setelah ini kamu membenciku, aku akan terima.'