For My Family

For My Family
227



Gadis berambut kemerahan itu menggigit bibir bawah. Memerhatikan punggung sang suami yang masih sibuk di depan laptop.


Memutar otak, bagaimana menggoda Arfi agar dia mau memberikan izin untuk memenuhi permintaannya.


Perlahan gadis itu mendekat, melilitkan kedua tangannya di bahu kekar itu, lantas sebuah ciuman mendarat di pipi sang suami.


"Arfi," panggilnya manja dan sang lelaki hanya terdiam. Mencerna perbuatan Nigar yang sangat tiba-tiba, demi apa gadis itu mampu bersikap seperti ini?


Arfi menoleh, menatapi wajah Nigar. "Sayang, coba kamu buka kain gordennya."


Mengikuti keinginan Arfi, Nigar membuka kain gorden kamarnya.


"Ada apa?" tanyanya bingung.


"Bulan masih utuh. Tapi kenapa bisa tiba-tiba istriku bersikap manja seperti itu?"


"Ish, Arfi!" teriak Nigar kesal dan Arfi hanya terkekeh.


"Memang kenapa kalo aku manja duluan?"


"Tidak apa-apa. Hanya bingung saja. Kamu tidak pernah senakal ini dulu."


Gadis itu mendesis, lantas menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Membuang wajah menatapi bulan di atas sana.


"Ada apa? Biasa kalau udah lembut dan manja-manja begini, pasti ada maunya."


Gadis itu menggulum bibir, tersenyum malu seraya mendekati Arfi. Menjatuhkan badan itu di atas pangkuan sang suami. Lembut jemari lentiknya memainkan helaian rambut Arfi.


"Arfi."


"Hem," jawabnya masih sibuk pada layar laptop yang ada di depannya.


"Arfi masih ingat Irly, gak?"


"Irly siapa?"


"Temen kampus aku."


Lelaki itu mencoba mengingat, setahu dia tak banyak gadis ini berteman dulu.


"Hem, kenapa?" tanyanya seraya mengingat.


"Irly sekarang kerja di salah satu perusahaan investasi keuangan. Bulan ini ada satu teman divisinya yang mau mengundurkan diri." Gadis itu mengubah posisi duduknya, berhadapan dengan sang suami.


Mengelus dahi dan pelipis lelaki berwajah tampan itu lembut. Bibir ranum itu melebar, memandangi wajah Arfi dalam.


"Boleh gak kalau aku mau coba melamar kerjaan di sana?"


Sepasang mata sayu itu menatap wajah yang ada di depannya.


"Menurutmu?" tanya Arfi tanpa menjawab pertanyaan Nigar sebelumnya.


Seketika gadis itu memanyunkan bibir, ingin bangkit, tetapi tangan kekar itu lebih dulu menahannya.


"Kamu itu nyonya Erlangga, apa kata orang saat mengetahui istriku bekerja di perusahaan kecil seperti itu?"


Gadis itu mendesis kesal. "Arfi sombong tau, gak?"


"Bukannya aku sombong, Nigar. Tapi buat apa kamu melamar di sana? Aku gak mau ngeliat kamu susah, itu perusahaan keuangan, apa kamu pikir mudah bekerja di sana?"


"Tapi kan aku lulusan perbankan. Memang ranahku di sana, Arfi."


Lelaki itu mengalah, menutup laptop dan fokus ke sang istri di dalam pangkuannya.


"Enggak!" katanya tegas.


Gadis itu menarik napas, ingin bangkit dan lagi-lagi ditahan sang suami.


"Kasih aku alasan kenapa kamu ingin bekerja?"


Gadis itu terdiam, bingung untuk menentukan alasan. Jika dia bilang hanya ingin keluar dari rumah ini saat Arfi tidak ada. Mana mungkin lelaki itu mengizinkan.


Nigar menarik napas, memandang wajah Arfi yang masih fokus menatapnya.


"Ya sudahlah. Aku mau tidur." Gadis itu bangkit, berjalan menuju kasur.


Arfi mengehela napas, menggeleng pelan melihat perubahan sikap Nigar.


"Kamu marah?"


"Tidak. Hak Arfi melarangku dan kewajibanku menataati perkataanmu."


Lelaki itu mengusap wajah, "Nigar, aku saat ini suamimu dan kewajibanku adalah memenuhi segala kebutuhanmu. Kita tidak kekurangan materi, kenapa kamu masih menginginkan untuk bekerja lagi?"


"Maaf, Arfi. Aku tau."


"Ya sudah. Istirahatlah."


Gadis itu mengangguk, menarik selimutnya seraya mengambil posisi tidur memunggungi suaminya.


Tidak tega, lelaki itu sebenarnya tidak ingin melarang keinginan istrinya. Namun, membiarkan sang istri bekerja di luar pun ia tidak rela.


Siapa yang tahu jika ada mata yang memandangi wajah cantik itu nantinya? Bukan tidak percaya, hanya tidak rela jika dia harus berbagi wajah istrinya kepada dunia lainnya.


Arfi menarik napas, menghampiri tubuh itu. "Sayang, bagaimana jika kita kencan?"


Gadis itu berbalik, menoleh ke arah Arfi. "Kapan?"


"Sekarang."


"Selarut ini?"


"Memang kenapa? Bukannya kamu belum ingin tidur juga?"


"Tapi mau ke mana?"


"Udah ikut aja."


...***...


Sepasang mata sayu itu memerhatikan wajah cantik Nigar yang berjalan di sebelahnya. Menikmati udara malam di taman pusat kota.


Jemari yang sedang bertaut itu Arfi tarik, menghentikan langkah Nigar.


"Kenapa?" tanya gadis itu menoleh ke sang suami.


"Nigar, apa kamu marah padaku soal ...." Belum siap Arfi mengatakan gadis itu sudah lebih dulu menggeleng.


"Maaf bukan aku ingin mengekangmu, aku hanya tidak suka jika harus berbagi dirimu dengan apa pun itu. Itu perusahaan keuangan, pasti akan banyak menyita perhatianmu nanti. Aku benci jika membayangkan kamu yang sibuk pada hal selain aku."


Bibir ranum itu mengembang, memerhatikan wajah Arfi yang berubah sendu saat mengatakan itu.


"Aku percaya kalau kamu tidak akan melupakan tugasmu sebagai istri. Tapi aku gak suka jika ada prioritas lain selain aku. Aku benci saat pulang ke rumah dan yang menyambutku itu bukan kamu. Kita masih berdua, aku ingin menghabiskan banyak waktu berdua denganmu, Nigar bisakah kamu mengerti maksudku?"


"Iya, aku mengerti, Arfi."


Lelaki itu tersenyum, menarik tubuh langsing itu dan mendekapnya dari belakang. "Tapi jika kamu memang ingin bekerja, kamu bisa menjadi sekretarisku di kantor."


"Tidak usah. Aku tidak ingin membuatmu muak karena selalu bertemu denganku."


Arfi tertawa, melatakan kepalanya di sebelah wajah Nigar. "Atau bagaimana jika kamu kembali kuliah? Melanjutkan S-2 di kampus yang sama?"


"Hm, nanti akan aku pikirkan." Gadis itu menoleh, mengecup bibir Arfi sekilas lantas melepaskan dekapannya.


Memilih duduk di salah satu kursi di tengah taman. Menikmati suasana sejuk yang semakin larut.


Sepasang mata indah itu menatap ke bentangan luas langit hitam. Memandangi gemerlap bintang yang bertebaran.


"Arfi," panggilnya tanpa menoleh ke sang suami.


"Hem."


"Apa kita akan terus tinggal di sini?" tanya gadis itu dan Arfi hanya terdiam.


Sejenak suasana hening, tak ada jawaban, hanya suara angin yang mendentingkan ranting-ranting pohon.


"Aku berpikir, kita sudah menikah. Bagaimana jika kita mencari kontrakan saja? Bukan tidak ingin berkumpul bersama, hanya saja ... kadang aku merasa tidak nyaman saat harus berhadapan dengan papamu."


Tak ada jawaban, lelaki itu sama sekali tak mengeluarkan suara. Setelah beberapa lama berdiam, gadis itu menoleh, tak ditemukan lagi lelaki itu di sana.


"Arfi!" panggil Nigar menoleh ke segala arah.


"Arfi!" panggilnya lebih keras. Tak menemukan yang dicarinya, gadis itu beniat bangkit.


Seketika seluruh lampu di taman itu padam. Pandangannya menghitam, gadis itu kembali duduk dan mencengkeram tepi bangku dengan kuat.


"Arfi," panggilnya dan kali ini lirih terdengar. Napasnya terasa sesak, seperti ada yang mengimpit dada itu karena gelap kembali membawa bayangan kelam itu datang.


Tersengal, gadis itu mencoba menarik napas. Memejamkan matanya berkali-kali dan sialnya bayangan masa lalu itu kian jernih memutar kenangan menyakitkan di dalam angannya.


"Arfi, kumohon kembali. Aku bisa gila jika sendiri di tengah gelap begini."


Tertunduk, kedua jemari itu mengenggam tepi bangku semakin kuat. Perlahan jemarinya terluka, tak lagi dirasa pinggiran bangku itu tajam menyayat telapak tangannya.


"Arfi ...!" teriaknya dan sebuah kembang api meluncur di depannya. Menghiasi langit gelap menjadi lebih indah dipandang.


Satu persatu lampu di taman itu hidup bersamaan dengan kembang api yang berterbangan, memecah di langit malam.


Sepasang mata indah itu terpaku memandangi Arfi yang berdiri di depan sana. Sudah rapih dengan jas dan sebuket bunga di dalam genggamannya.


Lelaki itu tersenyum, menghampiri sang istri dan berlutut di hadapannya.


"Arfi ...."


"Sssttt," ucap lelaki itu menghentikan ucapan sang istri. "Izinkan aku mengatakan sesuatu padamu," sambungnya tersenyum lembut.


"Nigar aku tau banyak luka yang kamu alami di masa lalu. Dan salah satu kepingan luka itu adalah aku."


"Banyak hal-hal yang kamu takuti, seperti gelap, bersentuhan dengan lelaki dan takut untuk ditinggal sendiri."


"Aku ingin menjadi bagian itu, Nigar. Setitik cahaya yang menemanimu di kala gelap, walau tak bisa menerangi seluruh gelapnya, setidaknya ada sependar temaram yang membuat takutmu memudar. Aku ingin menjadi bagian itu, orang asing yang menjadi sangat dekat denganmu. Aku ingin menjadi bagian itu, yang hanya tau caranya datang dan menetap. Tidak lagi meninggalkan dan menghilang tanpa jejak. Aku ingin menjadi orang itu, orang yang mengenalmu lebih dalam dari siapapun itu. Aku ingin menjadi bagian itu, sebagian hatimu, hidupmu dan napasmu."


Lelaki itu menyodorkan sebuket bunga ke hadapan Nigar. Mengeluarkan sebuah cincin dari kelopak bunga yang ada di dalam dekapannya.


"Aku belum pernah melamarmu dengan cara yang benar, walau kita sudah menikah. Tapi aku tidak ingin melompati satu proses pun yang menjadi momen penting buatku dan kamu."


"Nigar, bersediakah kamu menghabiskan sisa umurmu berada di dalam pelukanku? Tak akan pernah melepaskan dekapanku sesulit apa keadaan itu. Tetap bersedia mendampingiku, tak peduli siapa aku di masa depan nanti. Nigar, aku ingin bahagia bersamamu, menangis di dalam dekapanmu dan bermanja di pangkuanmu. Untuk itu, maukah kamu menerima aku sebagai suamimu?" tanya Arfi memperlihatkan cincin itu ke hadapan sang istri.


Gadis itu bergeming, memandangi wajah sang suami dalam-dalam. Satu persatu bulir terlepas begitu saja saat kelopak mata itu berkedip.


Perlahan bibir ranum itu mengembang, mengangguk dengan cepat.


Arfi tersenyum lega, menarik salah satu jemari Nigar. Gerakannya terhenti saat menyadari telapak tangan itu terluka.


Mata sayu itu menatap wajah, Nigar tertunduk seraya menggigit bibir bawah.


"Maaf, Sayang." Lelaki itu melepaskan cincin yang ada di jari manis sang istri, menggantinya dengan cincin baru yang dibawa.


"Kebiasaanku selalu menyakitimu lebih dulu, maaf," sesal Arfi tertunduk.


Gadis itu tersenyum, menangkupkan kedua tangannya di pipi Arfi, lantas mendongakkan kepala lelaki itu.


"Tetapi kamu juga yang selalu membasuh luka itu. Menjadikan luka yang awalnya sakit dengan air mata, menjadi sangat indah karena kamulah penyembuhnya."


Lelaki itu melepaskan tangkupan tangan Nigar. Mengecup lembut punggung tangannya seraya berkata.


"Aku hanyalah manusia biasa, aku tak bisa menjamin untuk tidak membuatmu terluka. Tetapi aku bisa menjamin, bahwa aku akan selalu bersedia membasuh segala lukamu menjadi tawa. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu, setia dalam keadaan apa pun, untuk itu tetaplah di sisiku meski banyak luka menghampiri hubungan ini."


"Aku akan berusaha," jawab gadis itu lembut. Arfi bangkit dan mengecup lembut dahi sang istri.


Duduk di sebelah gadis itu, memandangi seraut wajah indah milik istrinya.


"Khadijah."


"Hmm."


"Seperti Rasulullah yang tidak pernah menikah lagi saat bersama Khadijah. Aku juga ingin teguh bersamamu walau berjuta kekuranganmu kuketahui dengan jelas. Indah kisah cinta sejati Rasulullah dan istri pertamanya yang mampu menimbulkan rasa cemburu di hati wanita lainnya walau Khadijah telah tiada, aku juga ingin mengukir kisah cinta sejati bersamamu, tetap utuh dan tak akan pernah ragu. Karena aku telah menghabiskan seluruh cinta ini untukmu, Khadijahku."