For My Family

For My Family
243



Gerald terdiam, wajah tuanya terlihat sangat terkejut mendengar permintaan putranya.


Tatapan mata itu sinis ke arah bocah yang ada di dekapan Ardan. Lalu, berpindah ke wanita mungil yang ada di sebelah putra tertuanya.


"Aku tidak menginginkan anak perusahaan ataupun bisnis yang lebih menguntungkan lagi. Karena saat ini aku menginginkan yang lebih besar dari itu."


Gerald mengendurkan dasi yang melilit di lehernya. Masih memerhatikan Hazel dan bocah yang ada di dekapan Ardan.


"Apa kau sudah gila?" tanyanya ketus.


Ardan menggeleng. "Tidak, Pa. Aku serius, karena saat ini aku ingin apa yang pernah hilang, kembali. Aku ingin sesuatu yang tak pernah hadir, terisi di sini. Aku hanya ingin mengembalikannya."


"Maksudmu?" tanya Gerald tak mengerti.


"Rumah kita."


Ada seulas senyum yang tercetak dari bibir seseorang di atas sini. Sepasang mata tua yang terus memerhatikan pertentangan itu dari tadi.


Gerald menunduk, hanya mengangguk pelan. "Jangan pernah berbicara padaku sebelum perusahaan baik-baik saja," katanya meninggalkan ruang tengah.


Sementara Arfan dan Arfi menarik napas lega, serentak menatap ke arah Ardan seraya menggelengkan kepala. Mereka hampir tidak bernapas melihat pertengkaran dua orang itu.


Detik selanjutnya, senyum terbit di wajah-wajah lelaki Erlangga itu. Menggeleng seraya meninggalkan ruang tengah, melanjutkan aktifitas mereka yang sempat terhenti karena keadaan ini.


"Mas," panggil Hazel lembut. "Sebenarnya ada apa? Kenapa Pak Gerald bisa semarah itu padamu?"


Ardan memberikan Surya ke dalam dekapan Hazel. Membelai pipi gembil sang istri dengan hangat.


"Tidak ada. Kamu istirahatlah dan jaga anak kita."


"Mas ...."


"Kita akan baik-baik saja, Sayang." Putus Ardan langsung.


Gadis bermata madu itu hanya mengangguk pelan, menuruti perintah Ardan untuk kembali ke atas.


Sementara lelaki beralis tebal itu menarik napas panjang. Mengusap rambut kebelakang. Hampir saja, dia kehilangan segala yang diupayakannya hanya karena emosi sesaat.


...***...


Sebuah berkas tercampak ke hadapan lelaki berkulit sawo matang itu. Ardan hanya memandang berkas itu, lalu kembali mengedarkan pandangan pada jajaran dewan direksi.


"Apa kamu mulai gila, Ardan? Melepaskan Firma Hukum dan memberikan anak perusahaan yang paling menopang saham untuk mereka? Kau mau menghancurkan Erlangga Grup?" protes salah satu lelaki di sana.


"Ini adalah cara kita untuk bertahan. Kita tidak punya pilihan lain selain melepaskan Ruby Jewelry," katanya tenang.


"Kalau begitu kenapa tidak kau tahan saja agar Firma Hukum kita tetap meneruskan kontrak kerja samanya?"


Lelaki bermata elang itu menyandarkan pundak pada kursi. Menatapi wajah dewan direksi satu persatu.


"Karena aku tidak mau," jawabnya tenang.


Sebagian dewan direksi itu mendesis, tak habis pikir dengan cara Ardan kali ini.


"Kau ingin mengganti Firma Hukum Guard yang sudah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia hukum dengan Firma Hukum baru? Bahkan nama Firma Hukum yang kau pilih sama sekali tidak ada dalam jajaran yang ...." Lelaki itu hanya mengendikkan bahu. Meremehkan.


Ardan melirik ke arah Evan, lelaki yang dilirik hanya tersenyum miring. Sepak terjangnya di dalam negeri memang tak diketahui. Karena selama ini dia memilih mengembangkan kariernya di Macau.


"Saat ini kendali Erlangga Grup ada di bawahku. Jadi, aku ingin merubah beberapa hal. Termasuk mengganti backing hukum."


"Tentu aku bisa." putus Ardan langsung. "Aku hanya butuh dukungan dan kepercayaan. Aku tak butuh komentar. Saat ini, pintu untuk pemisahan saham terbuka lebar. Jika ada yang meminta pecah kongsi, maka aku akan memberikannya saat ini juga."


Seketika jajaran yang ada di sana terdiam. Walau terbilang gila, tetapi siapa yang tak tahu kepiawaan lelaki itu dalam mengelola saham.


"Bagaimana?" tanya Ardan dan semua yang ada di sana hanya terdiam.


Ardan tersenyum, lantas ia bangkit dan berkata. "Rapat kali ini selesai. Setelah pemutusan kerja sama dengan Guard Law Firm selesai. Aku akan umumkan Evan sebagai backing hukum yang resmi."


Tanpa mengucapkan yang lainnya lelaki itu langsung pergi keluar. Sementara jajaran para direksi hanya diam. Mau bagaimana lagi? Meski terbilang gila, mereka tak punya alasan untuk tidak memercayai kemampuan Ardan.


...***...


"Kak, bagaimana jika Guard Law Firm tidak terima dengan keputusan Kakak kali ini?"


Ardan tersenyum dan menggeleng. "Jangan bilang kau menyesal karena tak jadi memiliki dua istri."


Arfi berdecak sebal, menenggak botol sodanya seraya membuang pandangan ke arah bawah. Memerhatikan jalanan kota dari atas rooftop gedung megah itu.


"Walau aku tak menikahi, Nigar. Aku juga tidak akan pernah menikahi Ayla," jawabnya sendu.


Ardan melirik, memerhatikan wajah sang adik yang berubah sendu tiba-tiba.


"Setelah kepergian Arsy, aku bersumpah bahwa tidak akan pernah menikahi wanita pilihan papa." Arfi tersenyum sendu, kosong tatapan mata itu menyimpan luka.


"Papa bisa mengatur apa saja. Tapi aku tidak akan bertaruh untuk masa depanku. Aku tidak akan menikahi siapapun yang menjadi pilihan papa. Karena aku, tidak akan mau menjadi Arsy yang selanjutnya."


Ardan tersenyum lembut, satu tangannya menepuk bahu sang adik. Lalu merangkulnya dengan sedikit menyentakkan.


"Setelah ini, jika kau tak ingin mengurus perusahaan maka aku tak akan memaksa. Kau suka menggambar bangunan, maka carilah pekerjaan sesuai keinginanmu, hm?"


Arfi tertawa, ia melepaskan rangkulan Ardan dan berjalan ke pagar pembatas. Menarik napas panjang, sayu mata itu tak luput dari pemandangan kota.


"Terima kasih, Kak. Tapi kini aku mengerti, bahwa dalam hidup tak semuanya yang kita ingini bisa kita jalani. Ada yang menjadi pilihan dalam hidup. Antara kebutuhan dan keinginan."


Lelaki bermata sayu itu menoleh, melihat Ardan yang masih berdiri terpaut tiga meter di belakangnya.


"Aku ... memilih kebutuhan. Karena aku lebih ingin membahagiakan Nigar dibandingkan mengejar keinginan untuk menggambar."


Ardan tersenyum simpul, berjalan mendekati Arfi. Menepuk lembut kepala belakang lelaki itu.


"Kau dewasa dengan cepat."


"Harus, dong. Adiknya siapa dulu?" Kata Arfi seraya memainkan alis matanya.


Ardan terkekeh, menggeleng. Detik kemudian menatap langit yang sama.


"My Boy." Rangkulnya di pundak kekar itu.


Sementara Arfi masih sangat lekat memandangi wajah Ardan. Wajah yang tengah berusaha bergerak dari segala impitan beban yang mendesak.


Dia tahu bagaimana sulitnya mengatur sebuah perusahaan. Apalagi dengan perusahaan sebesar ini. Sebagai adik, dia bisa saja meninggalkan Ardan sendiri.


Namun, dia memilih untuk tetap tinggal. Walau tak memiliki kemampuan sekuat itu untuk melawan, setidaknya dia punya kemampuan untuk tetap bertahan.


Sekilas Ardan melirik, memainkan alis matanya saat menyadari tatapan Arfi. Lelaki berambut pirang itu tersenyum, menggeleng pelan dan tertunduk.


'Aku ingin berterima kasih padamu, Kak. Jika bukan karenamu, maka aku. Masihlah Arfi yang manja dan tak mampu berbuat apa-apa. Terima kasih, karenamu aku juga ingin kuat untuk orang-orang yang aku sayangi.'