
Suara ketukan di daun pintu mengalihkan perhatian Ardan. Pria berbalut kaus berwarna biru itu tersenyum saat melihat wanita yang melahirkannya masuk ke dalam kamar.
"Ardan kamu sedang sibuk?"
Pria itu memanyunkan bibirnya dan menggeleng pelan.
"Mama minta tolong, ya."
"Apa?"
"Arsy, keluar bersama teman-temannya, Mama takut dia kemana-mana. Coba kamu ikuti dan awasi dia."
Helaan napas panjang terdengar dari lelaki itu. Ia mengeluarkan benda pipih dari dalam saku celana dan memperlihatkannya ke hadapan wanita itu.
"Lihat GPSnya, dia hanya main di mall dan duduk di cafe, Ma."
"Tapi tetap saja Mama khawatir, Ardan. Dia itu masih kecil, Mama takut dia dimanfaati oleh lelaki dan diajak yang bukan-bukan."
"Dia hanya main, Ma."
"Ardan, ya." Wanita itu tersenyum lembut, tangan keriputnya mengelus rahang putranya tersebut.
"Mama tahu Arsy bagaimana, kan? Dia bisa murka kalau lihat aku di sana."
"Tetapi kamu juga yang paling tahu kelemahannya. Ardan, ya."
Ardan kembali menghela napasnya, ia mengambil tangan keriput wanita itu dan menciumnya lembut.
"As you wish, Mommy." Ardan mengedipkan sebelah matanya.
Bibir wanita itu mengembang, jarinya mengacak rambut putranya tersebut.
"Dasar anak nakal. Cepat pergi sana!"
.
Ardan mengedarkan pandangannya, menelisik satu persatu pelanggan di sana. Senyumnya mengembang saat melihat perkumpulan remaja yang sedang asyik bercerita di pojok cafe.
"Aku sempat bertanya-tanya, kenapa kamu mengajakku ke tempat ini. Ternyata kamu menjadikanku tumbal untuk mengendalikan, Arsy?"
"Ha ha ha. Kamu cukup peka, Kawan."
"Astaga! Kutukan apa yang membuat aku bisa mendapatkan teman sepertimu."
"Kutukan, kamu yang akan menjadi adik iparku, selamanya."
Ferdi tersenyum, menggelengkan kepala sembari menatap Arsy yang sedang bercerita dengan temannya. Sesekali tangan gadis kecil itu menggebrak meja karena terlalu seru terbawa suasana.
"Tidak buruk juga," lirih Ferdy saat melihat Arsy yang semangat mendengarkan cerita.
"Hei ... ayolah. Adikku masih sangat kecil, Sobat."
"Menunggunya juga tidak buruk, tapi restu orang tuamu, mungkin sangat buruk."
Ardan merangkul bahu Ferdi dan berjalan memasuki cafe remaja itu.
"Kamu mau apa?" tanya Ardan.
"Kamu yang mau apa? Biar aku yang antre di kasir."
"Kopi hitam."
"Sadar tempatlah, Kawan. Ini cafe remaja, bukan kedai kopi."
"Hem, green tea less sugar."
Ferdi mengangguk, ia melepaskan rangkulan Ardan. Berjalan ke kasir untuk memesankan minuman.
Ardan menjatuhkan bokongnya di meja belakang Arsy. Memperhatikan senyum di wajah adik kecilnya itu.
Tak menyadari, jika saat ini hampir setiap remaja melirik ke arahnya. Tak ubah, teman Arsy yang melihat Ardan di tempat duduknya. Mengangumi paras ganteng lelaki dewasa tersebut.
Sebuah tatapan tajam mengarah ke arahnya, Ardan tercekat. Ia tersadar dan memakai kacamata hitamnya. Membuang pandangan, menghindari tatapan mata adiknya itu.
Dengan wajah yang memadam, Arsy berjalan mendekati Ardan. Setumpuk kemarahan tergambar di raut wajah imutnya. Memerah dengan bibir yang mengerucut panjang.
"Kak Ardan!" Tangan mungil itu menggebrak meja, Ardan tersentak, detik kemudian ia mengelus dada.
"Kenapa ada di sini?" tanyanya tajam.
"Kenapa gak boleh? Memang cafe ini nenek moyangmu punya?"
"Pasti mama nyuruh kak Ardan ngawasi aku, kan?" tanyanya kesal.
Wajah imutnya semakin terlihat kesal. Sangat tampak dengan pipi yang memerah padam.
"Kalau iya, memang kenapa? Dewi Bulan, bagaimana kalau hilang diculik om-om garang? Hm?"
"Aku bukan anak kecil lagi, kak Ardan. Please ... aku punya duniaku sendiri."
"Yasudah, aku hanya duduk dan melihatmu saja. Memang kenapa kamu marah? Atau jangan-jangan--"
"Kak Ardan!" teriaknya semaki kesal.
"Aku itu--" Arsy menggigit bibir bawahnya pelan saat melihat Ferdi datang.
Perlahan ia menegakan badannya yang membungkuk saat memarahi kakaknya itu. Meremat kedua jemari tangannya dengan lirikan mata yang terus memandangi Ferdi.
"Arsy."
Sedang, Ardan yang memperhatikan tingkah adiknya, menggeleng pelan.
"Astaga! Demi apa? Ferdi bisa membungkam Arsy hanya dengan kehadirannya?"
Tangan gadis itu mentoel lengan kakaknya, mengancam lewat tatapan mata. Lalu ia kembali menatap Ferdi. Tersipu malu dengan bibir yang dimainkan, salah tingkah.
"Kamu kok di sini? Temanmu, bagaimana?"
"Ah?" Arsy melirik ke arah temannya, lalu kembali tersenyum lebar saat melihat Ferdi di depannya.
"Kalau begitu, kak Ferdi nikmati green teanya, ya. Aku ... balik ke meja dulu."
Ferdi tersenyum lembut, ia mengangguk pelan. Tangannya menyisir rambut yang sempat jatuh ke depan.
Gadis itu menggigit ujung kukunya, terkekeh kecil. Detik kemudian ia menutup mulutnya, menggaruk kulit kepala dengan satu jarinya.
Arsy membalikan badannya, menggigit bibir bawah pelan.
"Tunggu!" Tahan Ferdi cepat.
Ferdi bangkit dari kursinya, ia mengetuk pucuk kepala Arsy lembut.
"Jangan terlalu kasar dengan Kakakmu." Ferdi mengacak rambut gadis itu.
Arsy menangkupkan kedua tangannya di pipi saat rasa panas mulai menyerang wajahnya. Senyumnya mengembang, tak lama ia menganggukan kepala.
"Kak Ferdi."
"Iya," jawab Ferdi lembut.
Arsy menatap wajah Ferdi lekat, ia terkekeh, lalu berbalik meninggalkan Ferdi. Berlari kecil dengan kedua tangan yang tertangkup di pipi.
Ardan terbahak, menepukan tangannya ke atas dengkul. Sungguh geli melihat tingkah remaja satu itu.
"Astaga! Arsy? Dia Arsy?" tanya Ardan terbahak.
Detik kemudian kepalanya menggeleng, geli sekali saat gadis kasar si mulut besar itu bisa sangat imut di depan temannya.
***
Brak ....
Seketika, Ardan dan Ferdi mengalihkan pandangan ke arah pintu. Tidak seperti biasa, wajah Arsy akan selalu riang saat melihat Ferdi ada di sana.
Kali ini, wajah imutnya terlihat sangat muram. Ia hanya terdiam, tak lama air mata melintasi pipinya, cepat punggung tangan kecil menghapusnya.
Arsy masuk ke dalam kamar Ardan, ia menarik selimut di atas kasur dan menyembunyikan badan di bawahnya.
Ardan dan Ferdi saling bertukar pandangan, bertanya-tanya dengan apa yang terjadi dengan adik bungsunya itu.
Tak lama, getaran dari balik selimut itu terlihat. Isak tangis yang menjadi sesenggukan dalam.
"Arsy, ada apa?" tanya Ardan mulai cemas.
Tak menjawab, gadis itu hanya semakin tergugu di bawah selimut kakaknya.
Ferdi menghela napas, ia menutup laptop Ardan dan berjalan keluar dari kamar sahabatnya itu.
"Aku balik," pamitnya sebelum keluar dari pintu itu.
Ardan membuka selimut yang menutupi seluruh badan gadis itu. Menarik kepala Arsy dan meletakan di atas pangkuan.
"Ada apa, Arsy? Tidak mau cerita sama Kakak?"
Sesenggukan dari gadis itu semakin terlihat, sesekali napasnya tersengal. Perlahan ia bangkit dan memeluk badan tegap Ardan.
"Ayah ... ayah mau aku jalan sama Beni, Kak Ardan." Tangis gadis kecil itu semakin dalam.
Ardan menghela napas, mendekap punggung mungil adik bungsunya itu.
"Beni siapa?"
"Anak dari teman ayah. Ayah bilang saat makan malam Beni suka sama aku dan ingin pacaran sama aku."
"Terus kamu gak mau?"
"Aku cuma mau sama kak Ferdi."
Ardan menghela napas dan menarik bahu Arsy. Menatap lekat wajah gadis imut itu.
"Arsy, kamu tahu Ferdi itu siapa? Dia hanya seorang karyawan biasa di perusahaan swasta yang sangat kecil. Mana mungkin Papa mengizinkan kamu menikahi dia."
"Aku tahu. Tetapi Beni bukan lelaki yang baik, Kak. Beni tidak sopan, dia selalu memaksa menggenggam tanganku. Merangkul bahu dan pinggang. Aku takut, aku takut sama dia." Arsy kembali memeluk badan besar Ardan.
"Kenapa ayah selalu menjodohkan anak-anaknya? Apakah kita tidak bisa menikahi yang menjadi pilihan kita, Kak Ardan? Aku hanya mau menikahi kak Ferdi, dia lelaki yang sangat baik."
Ardan menghela napas, tangannya memeluk badan Arsy erat.
Ia tahu bagaimana perasaan Arsy saat ini. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia tidak bisa membela adiknya karena dia pun terjebak dalam masalah yang sama.
"Suatu saat nanti Kakak akan membawamu pergi, Arsy. Kakak janji akan membuat Ferdi dan kamu bersatu, tahanlah sedikit lagi. Kakak akan bekerja keras demi kamu, ya."
Arsy semakin mengeratkan pelukannya, menumpahkan beban di dada bidang lelaki itu.
Kali ini, ia merasa kalau Ardan juga hanya mengucapkan itu untuk menghiburnya.