For My Family

For My Family
122



Ferdi tersenyum sendu, walau teguk salivanya terasa pahit menjelajahi kerongkongan.


Lelaki itu berusaha ikhlas, menikmati setiap remasan yang membuat jemari tangannya terkepal.


Untuk kedua kali harus kehilangan cinta yang mengetuk hatinya. Mungkin, Tuhan telah merancangnya sedemikian indah. Walau pahit yang terasa, semakin membuatnya lemah.


Berada pada tempat masing-masing. Terpaku pada jarak yang terpaut lima meter.


Hening. Hanya isakan yang terus lepas dari bibir gadis itu. Perlahan ia menundukkan wajah, dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Khadijah terisak, pelan, lalu menjadi kian dalam.


"Maafkan saya, Pak," lirih gadis itu berucap. "Maaf tak bisa menjaga diri agar tak tersentuh pria lainnya."


Ferdi tersenyum, walau melihat gadis itu menangis mampu membuat air matanya ikut mengalir.


Antara sakit melihat gadisnya menangis, pun sakit ketika mengetahui gadisnya mencintai pria lain.


"Lihat aku, Khadijah." Lembut suara itu memberi perintah.


Khadijah menaikan wajahnya, satu air mata kembali melintasi wajah di balik bingkai kacamata. Tersenyum, dengan segala sakit yang mendera.


"Tidak ada yang salah. Kita hanya terjebak permainan semesta. Dan aku, cukup sadar menjadi penghalang di antara cinta kalian berdua."


Khadijah menggeleng, mengapa? Melihat wajah terluka itu sangat menyiksa hatinya?


"Khadijah, aku tak apa. Bersamaku atau bersama Arfi nantinya, kamu harus tetap bahagia bersama pilihan Allah."


Ferdi tersenyum, meneguk saliva yang kian memahit. Menambah kegetiran yang harus kembali ditelan, setelah sekian lama menghilang.


"Pak," panggil gadis itu lembut.


Ferdi menatap wajah cantik itu lamat, pias ditimpahi rintik hujan yang membasuh bumi.


"Maafkan saya. Lagi, dan lagi saya terus menyakiti Anda."


Lelaki berkacamata itu tersenyum, lantas menggeleng pelan.


"Ini adalah hukum yang berjalan, Khadijah. Ketika hati siap terbuka dan menerima hadirnya cinta. Maka bersiaplah juga untuk terluka."


Gadis itu semakin terisak, entah bagaimana menjelaskannya. Namun saat ini, hatinya kembali bimbang.


Kehadiran Arfi cukup membuatnya gamang. Terlebih melihat lelaki itu yang terus memaksa mendekatinya.


"Pak, bagaimana bisa Anda seikhlas ini menerima segala yang terjadi di antara kita? Bagaimana bisa? Anda sama sekali tidak membenci kami berdua?"


"Tidak ada alasan, kenapa aku harus membencimu dan Arfi. Dan ikhlas, tidak butuh ungkapan untuk menjalaninya, Khadijah."


Ferdi mendesah panjang, mendongakkan kepala. Melihat rintik air hujan yang senantiasa menyapa bumi malam.


Dingin, dengan segala kejadian ini semakin membuat gelap ini hening. Senyap, bersama luka hati yang terus menyesak.


"Pulanglah, hujan semakin deras."


Gadis itu mengangguk, tak mampu lagi menjawab karena bibir ranum itu semakin bergetar melihat Ferdi yang sama sekali tidak meluapkan apa pun. Kecuali, keikhlasan.


"Khadijah," panggil Ferdi sebelum gadis itu menutup panggilannya.


"Berbahagialah, denganku atau tidak, nantinya."


Gadis itu membekap mulutnya, menahan tangisan yang membuat bahunya bergetar. Tidak mampu lagi menahan, bahkan menatap wajahnya saja dia enggan.


Terlalu banyak rasa yang tak bisa dibalaskan. Dan dia, merasa berdosa telah melibatkan Ferdi sebagai pelindung masa lalunya.


...***...


Gadis berkaus ketat itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Bibirnya mengerucut panjang, sesekali melirik jam di pergelangan tangan.


Lantas ia mendengkus kesal, sudah sejam berdiri di pintu masuk bazar. Teman janjiannya tak kunjung datang.


Sebuah tarikan pada rambut kuncir kudanya membuat gadis berjeans hitam itu menoleh.


Wajahnya memerah, kesal. Terlebih ketika lelaki berkemeja kotak itu tersenyum tanpa dosa.


"Telat!" Kinara menghentakkan kakinya seraya memutar badan.


Terasa satu rangkulan tangan menimpahi bahu mungilnya. Cepat gadis itu menghempaskan.


"Maaf, Sayang. Aku pulang ke rumah buat ganti baju dan mandi dulu tadi," sesal Pedro.


"Sayang, Sayang, youre eyes!" sungut Nara kesal. "Kalo memang pulang ke rumah dulu kenapa gak pergi bareng aja tadi? Pegel kakiku nunggu sejam di sini, Dokter!"


Pedro mencolek dagu gadis tersebut, gemas melihat Kinara yang menjadi sangat cerewet. Semakin membuat wajah Kinara memadam karena kesal.


"Dokter! Kita batalin ajalah. Udah gak mood aku!" Gadis itu berniat ingin pergi.


"Maafkan aku, Anjani. Maaf karena membuat kamu menunggu dan kesal padaku." Kini wajah tampan itu terlihat serius. Tampak dari tatapan matanya yang begitu teduh.


Kinara menghela napas, menyilangkan kedua tangan di depan dada. Pelan kepalanya mengangguk.


Pedro tersenyum, satu tanganya merangkul kembali bahu Kinara. Berjanji untuk menemani gadis itu menikmati jajanan street event kota. Membuat lelaki itu bertahan mati-matian dari lelah dan kantuknya sehabis piket jaga semalaman.


Beriringan langkah mereka melewati stand-stand penjual makanan tradisional. Sesekali gadis itu berhenti, mencicipi beberapa barang contoh kue dan juga camilan.


Pedro hanya mengikuti, sesekali menguap. Mencoba menahan lelahnya, demi cinta yang baru saja ingin ditata. Bersama dia, yang dipertemukan oleh Tuhan tanpa disengaja.


"Dokter, coba Anda rasa yang ini." Kinara berbalik, satu tangannya menyerahkan kue dari salah satu stand.


Pedro tersadar, ia menghapus sudut mata yang berair menahan kantuk.


"Mana?" tanyanya yang baru saja selesai menguap.


Kinara memberikan tusukan kuenya, lalu ia kembali memutar badan. Mencoba beberapa jenis kue yang lainnya.


"Bagaimana?" tanyanya tanpa menoleh.


"Enak, beli saja kalo kamu suka."


"Emh." Gadis itu mengangguk, setelah meminta beberapa jenis kue. Mereka kembali berjalan, sesekali tangan kurus itu terulur, memberikan jajanan yang baru saja dia beli ke depan mulut Pedro.


Lelaki itu hanya tersenyum, lantas kepala menggeleng pelan. Sama sekali tidak selera makan, karena dalam bayangannya yang ada hanyalah kasur.


Melihat sang suami yang terus menguap. Kinara memalingkan matanya, menyisir sekeliling mencari stand minuman.


Hatinya mulai bertanya, mengapa? Pedro rela menahan kantuk dan lelahnya hanya demi menemaninya bermain di saat weekend?


Gadis itu melepaskan rangkulan tangan Pedro ketika melihat stand minuman ada di seberang. Meninggalkan Pedro di tempat tadi, Kinara memesan dua cangkir kopi.


Mata menatapi tubuh pria di seberang jalanan, menyandarkan pundak di salah satu tiang stand dengan kepala yang terus menggeleng. Mengusir kantuk yang kian berat menyerang.


Bibir gadis itu tertarik, ada rasa yang mulai menyentuh kalbunya. Rasanya senang ketika ada yang rela berkorban demi keinginannya.


Mungkin lelaki itu benar, selama ini dia telah melupakan kebahagiaannya demi mengejar cintanya.


Dua cangkir kopi tersodor ke hadapan gadis berkaus cokelat itu. Tangannya meraih, membawa dua cangkir tersebut mendekati sang suami.


"Ini Dokter, minumlah dulu. Mata Anda memerah, apa ... kita pulang saja?"


Pedro menggeleng, ia kembali merangkul bahu Kinara. Berjalan seraya menyesap kopinya.


"Auuuh," lirih Kinara seraya memegangi bibirnya yang terasa cenutan karena terkena kopi panas.


"Ini panas sekali." Gadis itu membuka penutup kopinya, meniup pelan agar kopi itu bisa segera disesap.


"Mau cepat dingin?" tanya Pedro.


Kinara mengangguk dengan cepat. Lelaki blasteran itu membungkuk, meniup cangkir kopi milik Kinara dengan sangat kuat.


Seketika busa di permukaan kopi itu menguap, berhamburan bahkan sampai terkena kaus Kinara.


"Kinara, maaf," sesalnya menoleh ke arah Nara.


Gadis itu terkekeh, ia mennggelengkan kepalanya. Tertawa lebar hinga jajaran giginya terlihat seluruhnya.


"Anda benar-benar mengantuk ya, Dokter?" ledek Kinara geli.


Kinara mengelap kausnya dan kembali tertawa. Geli melihat ulah Pedro yang malah menjadi lelucon untuknya.


Pedro ikut tersenyum, tangannya menghapus pergelangan tangan Nara yang ikut kotor.


Iris cokelat itu tak luput dari wajah sang istri. Setelah enam bulan mengenalinya, baru kali ini dia melihat Kinara tertawa selepas ini.


Bahkan ketika mereka bertegur sapa saat Kinara menjaga Surya dulu. Gadis itu memang jarang tertawa. Terlebih setelah kesalah pahaman tiga bulan yang lalu bermula.


Jangankan tertawa, melihat wajahnya tidak menangis saja, susah.


Pedro menarik lengan Kinara. Mendekapnya dengan erat, tak peduli seberapa ramai jalanan ini diisi oleh pengunjung yang lainnya.


Lelaki itu merengkuh dengan kuat, terdengar helaan napas yang begitu lelah. Setidaknya, usahanya terbayar dengan tawa istrinya.


Sementara Kinara hanya terdiam, mendengarkan detak jantung Pedro yang bertaluh sekuatnya. Menciptakan irama yang mampu membuat bibir gadis itu ikut tersenyum.


Perlahan, kedua tangannya terangkat. Melingkari pinggang Pedro dengan erat.


Mungkin, cinta bisa hadir dengan mereka yang berusaha untuk saling mendekat.