
Gesit langkah tua itu menarik tuas pintu saat bel rumah berdentang dengan nyaring. Gerald menahan salah satu asisten yang ingin membuka pintu. Mengambil alih menerima tamu.
Sedikit berkerut dahi tuanya saat mendapati lelaki muda berdiri di depan pintu mewahnya.
"Sore, Pak Gerald," sapanya ramah.
"Sore?" Bingung, Gerald memerhatikan wajah pemuda itu lekat.
"Perkenalkan saya Pedrosa, dokter yang diminta Ardan untuk menangani istri Anda. Boleh saya bertemu Nyonya Erlangga?"
"Dokter?" tanya Gerald kembali.
"Benar. Seharusnya jadwal saya hanya sebulan sekali, namun karena ada keperluan tugas di ibu kota saya sekalian menyapa Nyonya Aulia."
"Tunggu dulu, tapi Ardan tidak memberitahu saya kalau dia sudah mengganti dokter."
"Oh, begitu." Pedro tersenyum, mencoba menghubungi Ardan. Saat panggilan itu terangkat bersamaan tepukan terasa di atas pundaknya.
Ardan tersenyum seraya menempelkan ponsel di telinga.
"Ya, Dokter," godanya menyeringai.
Pedro menggeleng, kembali menyimpan ponselnya dan mengeluarkan selembar kertas.
"Aku sudah membuat resep obat yang baru, seperti yang aku katakan kemarin. Dosis ini lebih aman, tapi jangan berikan jika keadaan ibumu tidak mendesak."
Ardan menerima kertas itu dan membacanya perlahan. Sementara, Gerald masih bingung sendiri.
"Ardan, kenapa kamu nggak bilang jika mengganti dokter?" tanya Gerald tak terima.
"Oh, dia temanku, Pa. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Pedro, masuklah dulu. Aku akan panggil mama, sebentar."
"Tidak usah. Aku tunggu di taman saja. Suasana di luar lebih tenang untuk memulai terapi."
"Baiklah."
Tak terlalu peduli, Ardan melewati Gerald begitu saja. Mendesis, lelaki dengan rambut putih itu mengikuti langkah Ardan menaiki anak tangga.
"Ardan, apa-apaan ini? Kau selalu mengambil keputusan tanpa menunggu persetujuan Papa."
"Aku tau apa yang aku lakukan, Pa. Cukup diam dan tunggu saja hasilnya. Bukankah Papa merindukan Mama?"
"Tapi tidak seperti ini. Dia istriku, apa pun yang ingin diberikan untuknya harus seizinku."
Ardan berbalik dan menghadap ke arah Gerald. "Dia ibuku, sebagai anak, aku pun juga ingin yang terbaik untuk dirinya. Pa, maaf jika selama ini aku selalu membangun benteng di antara kita. Tapi untuk hari ini dan kedepannya, aku ingin menjadi anak sulung yang berguna."
"Dengan mengubah semuanya sesuai keinganmu begitu? Mengabaikanku sebagai pimpinan dan papamu, begitu?" tanya Gerald tak suka.
"Pa, percayalah. Aku hanya ingin memperbaiki apa yang terabaikan selama ini?"
"Oh, ya? Setelah mengacaukan perusahaan kau juga ingin mengacaukan rumah, begitu?" tanya Gerald semakin geram.
"Ardan! Aulia itu istriku, apa pun yang kau ingin lakukan harus melalui izinku. Kau mungkin bisa mengambil keputusan untuk perusahaan dan adik-adikmu, tapi jangan berani-beraninya mengambil keputusan untuk wanitaku! Apa kau paham?"
"Tapi dia ibuku! Aku berhak atas dirinya!"
"Tapi aku lebih berhak atas Aulia!" bentak Gerald tidak ingin kalah.
Kali ini lelaki berambut putih itu benar-benar kehabisan kesabarannya. Apa pun itu jika menyangkut Aulia dia tidak akan bisa menunggu lagi.
Jika dia bisa mengalah untuk berhenti mencampuri urusan perusahaan. Namun, dia tidak akan pernah mengalah untuk urusan istrinya. Gerald benci saat istrinya harus tersakiti, sebab dari itu keadaan Aulia selalu ditutupi rapat-rapat.
Bukan hanya untuk sekadar menjaga nama baiknya, di balik itu semua dia lebih peduli pada kesehatan psikis Aulia yang bisa semakin memburuk saat publik mengetahuinya.
"Pa ...."
"Cukup! Aku tak mengizinkan siapapun menyentuh dan bertemu istriku. Termasuk dokter itu." Tak lagi berdebat, Gerald berjalan melewati Ardan.
"Papa dengarkan aku dulu. Kumohon, ini demi kebaikan mama!"
"Aku tau apa yang terbaik untuk istriku!"
"Dengan membiarkannya terus seperti itu?" Pertanyaan itu membuat langkah Gerald terhenti.
"Dengan membiarkan mama terus-terusan berada dalam imajinasi? Keadaan mama tidak lagi baik-baik saja, Pa. Mama butuh bantuan, tak seharusnya kita hanya bertahan tanpa mencari celah untuk menang melawan keadaan."
Gerald berbalik dan kembali memandang wajah Ardan. Ayah dan anak itu, tak pernah berhenti betentangan walau yang dilakukan sama-sama memiliki satu arah tujuan.
Antara ego yang ingin terlihat menonjol atau takut terlihat kalah oleh salah satunya. Entahlah, sebenarnya pengakuan apa yang ingin mereka dapatkan dari perdebatan itu?
"Apa kau pikir selama ini aku tidak pernah berusaha untuk istriku? Apa hanya kau saja yang berusaha untuk Aulia?"
Ardan menghela napasnya, benar-benar lelah menghadapi sikap dan sifat Gerald yang seperti ini. Entah apa maksudnya, tetapi lelaki itu sangat sulit mengakui kekalahan meski di depan anaknya.
"Aku lelah berdebat dengan Anda, Pak." Ardan mengalah.
Seraya menggelung tangan kemejanya, Ardan berjalan ke arah depan kamar Aulia. Saat akan menarik tuas pintu, tangannya tertahan oleh cengkeraman Gerald.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan, Ardan? Berhentilah bersikap untuk memonopoli segalanya."
Nanar tatapan iris hitam pekatnya memandangi wajah sang papa. Sesulit itukah lelaki itu percaya?
"Yang kuinginkan?" tanya Ardan getir. Lelaki berkulit sawo matang itu tersenyum sinis.
"Tak ada!"
"Lalu, mengapa kau terus-terusan melakukan ini. Mengambil alih perusahaan, mengatur adik-adikmu dan sekarang kau bahkan ikut campur dengan urusan kesehatan Aulia."
Ardan tertunduk, ada yang terluka mendengar penuturan sang ayah. Sebenarnya sudah sejauh apa mereka saat ini? Bahkan sulit mempertahankan dan memperjuangkan perusahaan yang kini diambang kekacauan, tak sesulit untuk meyakinkan Gerald.
Ardan menarik napas, benar-benar sesak. Lelah dengan segalanya, sayangnya dia masih harus bertahan untuk semuanya. Entah bagaimana lagi caranya membuka mata Gerald?
Kali ini dia benar-benar kehabisan cara. Menakhlukan Gerald ternyata lebih susah dari yang dia duga.
"Pa," panggil Ardan lirih. Wajahnya masih tertunduk dengan senyum sinis yang dia sembunyikan.
"Sebenarnya sudah sejauh apa kita berjarak?" tanyanya lembut.
Kedua alis milik Gerald saling bertaut, bingung dengan pertanyaan yang Ardan berikan.
Putra sulung Erlangga itu menggeleng, tertawa renyah padahal tak ada yang lucu. Atau hanya berusaha baik-baik saja untuk tidak terlihat lemah di hadapan sang ayah.
"Kita pernah sama-sama gagal dalam menjalani peran dan kewajiban. Saat ini aku ingin mengulang dari awal. Memperbaiki apa yang rusak dan mengembalikan apa yang hilang. Walau tidak sama, setidaknya ada yang terganti meski dengan yang berbeda." Lelaki berkulit sawo matang itu tersenyum, kembali menunduk seraya menarik napas.
"Pa ... kali ini saja. Izinkan aku memberikan bakti pada mama. Sekali ini saja, izinkan aku memperbaiki apa yang pernah rusak. Aku ingin kembali, Pa. Aku ingin pulang."
Gerald bergeming, dia masih tidak mengerti oleh ucapan Ardan. Memang kepulangan putranya kali ini sesikit berbeda, entah apa maksudnya. Namun, sulit baginya untuk percaya setelah perperangan panjang yang mereka lalui selama ini.
"Aku rindu rumah kita," kata Ardan dan detik selanjutnya dia menggeleng pelan.
"Bukan, aku ingin membangun rumah baru buat kita. Kali ini bukan lagi sebuah rumah yang hanya memberikan kesenangan, melainkan juga ketenangan. Karena saat ini aku mulai paham bahwa rumah bukan lagi tentang mewahnya sebuah bangunan, tetapi tentang hangatnya hati tempat kita berpulang."
"Untuk itu aku butuh kerja sama kita semua, Pa."