
Ardan tersenyum sembari menjabat tangan pria yang lebih tua itu. Setelah melihat punggung badan pria berjas itu pergi. Ia kembali menjatuhkan badan di atas kursi.
Memejamkan mata sembari menghela napas yang begitu lega.
"Ferdi, aku menemukan caranya."
Lelaki yang masih sibuk pada berkas-berkas kantor itu menghentikan pergerakannya.
"Cara apa?" tanyanya melihat ke arah Ardan yang sedang menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi.
"Cara menjebak mereka yang menjafi pengkhianat kita."
Ferdi mengernyitkan dahi, menunggu temannya itu kembali melanjutkan ucapannya.
Ardan membuka mata, ia duduk dengan sempurna seraya tersenyum sinis.
"Ayo kita bermain," ucap Ardan lembut.
***
Berkali-kali Ardan melirik jam di tangan kirinya. Hujan masih sangat lebat membasahi jalanan kota. Bibirnya tak berhenti berdecak, kesal sendiri dengan cuaca yang selalu berubah-ubah mendadak.
"Kenapa? Buru-buru?" tanya Ferdi saat mendengar decakan itu terus berulang.
"Ini sudah hampir senja, aku khawatir Hazel akan mencariku. Ponselku mati," ucap Ardan cemas.
Ferdi terkekeh, ia membetulkan letak kacamatanya.
"Kenapa panik begitu, istrimu tidak sendirian di sana."
"Aku cemas karena dia memesan red velvet padaku. Bagaimana jika toko kuenya tutup?"
"Hahahaha!" Ferdi terbahak seraya mengacak rambutnya.
"Aku pikir kamu benar-benar mencemaskannya. Ternyata mencemaskan hal lain yang tak ada gunanya," ledek Ferdi.
Ardan memandang Ferdi sinis, ia menggelengkan kepala pelan. Mata terus menatap rinai hujan yang masih setia menerbarkan aroma basah kehidupan.
Ferdi melemparkan kunci mobilnya, segera tangan besar itu menangkapnya. Entah karena refleks atau dia lebih dulu memahaminya.
"Pulanglah lebih dulu naik mobilku."
"Lalu, kamu pulang bagaimana?" tanya Ardan bingung.
"Aku masih lajang, tidak ada yang menungguku pulang. Mau tidak pulang juga tidak ada yang mencari."
Ardan tersenyum, ia merangkul bahu sahabatnya itu.
"Makanya jangan terlalu lama. Apa mau kulamarkan Nara untukmu?" goda Ardan.
Ferdi berdecak, ia melepaskan rangkulan tangan Ardan.
"Jangan bermain-main, Ardan. Aku tidak suka kamu melibatkan perasaan orang lain."
"Ck ... kenapa kamu begitu serius saat menyangkut nama Nara, Kawan? Atau jangan-jangan?"
"Jangan sembarangan! Aku hanya tak suka jika ada yang melibatkan perasaannya. Ujung-ujungnya akan menyakiti dan membuat orang lain menjadi benci. Sungguh merepotkan."
Ardan hanya menatap sinis ke arah Ferdi. Benarkah yang dia ucapkan?
"Sudah, jika kamu tidak ingin pulang berikan kuncinya kembali."
Ardan memainkan kunci di tangan, lalu ia berbalik dan meninggalkan Ferdi begitu saja.
Semenjak ia salah membawa mobil pulang, ia lebih sering pergi naik taksi atau kendaraan umum lainnya. Malas menjadi pusat perhatian dengan mobil mewah yang ia kendarai.
Beberapa kali Ferdi menghela napas, menantikan hujan reda sekilas saja. Senja berganti malam, langit hitam terlihat jelas tanpa bantuan cahaya bintang yang mewarnai.
Lelaki itu menyerah, ia membuka jasnya. Lalu langkah besar itu berlari menyebarangi jalan raya.
Tanpa sengaja, matanya menangkap sosok wanita yang selalu ia rindukan selama ini.
Khadijah mendekap kedua lengan tangannya sendiri. Sementara baju gamis yang ia kenakan sudah basah seluruhnya.
"Khadijah," panggil Ferdi lembut.
Wanita itu memalingkan wajah, lalu tersenyum tipis sebelum kepala itu tertunduk ke bawah.
"Kamu baru pulang?" tanya Ferdi mendekati.
Gadis itu hanya mengangguk, tangannya mengusap lengan, sekadar mencoba menghangatkan tubuh yang terlanjur beku.
Ferdi melepaskan kemejanya, meninggalkan kaus ketat yang membentuk tegap badannya.
Lelaki itu meletakan kemeja di sebelah Kahdijah, bibir tipis itu tersenyum ketika mata bulat gadis berhijab tersebut melihat ke arahnya.
"Pakailah, aku tahu kamu tidak nyaman saat bajumu basah dan membentuk lekuk badan."
Tanpa ucapan, gadis itu mengenakan kemeja Ferdi untuk menutupi lekuk badannya, sesekali matanya memandang ke arah langit.
"Dari kapan kamu di sini?" tanya Ferdi memecahkan keheningan.
"Dari sore, Pak."
"Lalu baju kenapa bisa basah?" tanyanya lagi.
"Tadi gak sengaja ada anak kucing kecemplung di aspal yang sedikit landai. Saya gak tega, jadi saya ambil dan peluk dia saja. Walau baju saya basah, setidaknya bulu dia bisa setengah kering."
"Lalu, bagaimana kamu salat magrib?" Entah kenapa lelaki itu menjadi penasaran tentang apa yang gadis tersebut kerjakan.
Bibir ranum itu hanya terkembang, perlahan pipi putihnya bersemu merah. Ia menundukan pandangan dan menggeleng pelan.
Lelaki yang masih berdiri itu menaikan sebelah alis matanya, mencoba menatap ekspresi gadis yang duduk di kursi halte.
"Khadijah," panggil Ferdi lagi.
"Iya."
"Bagaimana?"
"Kenapa anda ingin tahu?" tanya gadis itu.
"Hak saya untuk tidak menjawabnya."
Ferdi menghela napas, ia menjatuhkan bokong di kursi yang sama. Namun, tercipta jarak yang lumayan jauh.
"Kamu aneh, aku hanya bertanya hal yang umum."
"Bukankah hal umum juga jika wanita tidak menjalankan salat?" jawab Khadijah lirih.
Seketika dahi lelaki itu mengernyit, masih berpikir. Lalu ia tertegun dan memejamkan matanya. Jadi malu sendiri oleh pertanyaannya.
Hening. Karena pembahasan tersebut membuat mereka berdua menjadi canggung. Ferdi, bukan lelaki yang bermain-main dengan wanita seperti Ardan. Namun, dia tidak pernah menyangka, mengetahui wanita sedang datang bulan, bisa membuat ia semalu ini.
Hujan masih sangat lebat, beberapa waktu berlalu, mereka hanya terduduk berjarak. Diam, membiarkan derasnya air hujan menyampaikan setiap perasaan.
Sampai malam semakin larut, badan wanita itu mulai bergetar karena kedinginan. Mengigil, memakai baju basah untuk kurun waktu yang cukup lama.
"Haatciiih." Gadis itu menggosok ujung hidungnya, sekilas Ferdi melihat. Hidung mancung itu begitu merah.
"Khadijah, baju kamu sudah sangat basah, kenapa kamu gak pulang dari tadi saja?" tanya Ferdi.
"Saya mau nunggu hujan reda."
"Kenapa nunggu hujan reda? Menunggu dan melanjutkan perjalan juga hasilnya sama saja. Kamu tetap basah."
"Tapi kalau saya lanjut bagaimana jika--" Ferdi menaikan sebelah alis matanya, menunggu ucapan gadis itu selesai.
Khadijah memejamkan matanya, menundukan kepala sembari menghela napas.
Membuat lelaki itu semakin tidak paham.
"Sudahlah, anda kenapa gak pulang juga? Bukannya anda bawa mobil."
"Oh, mobil sama Ardan. Istrinya hamil dan dia tidak ingin membuatnya cemas."
"Lalu, bagaimana dengan anda?"
Ferdi terkekeh, ia mendekap kedua lengan saat angin bertiup lumayan kencang. Ada desiran dingin yang menembus kulit, namun, juga ada kehangatan yang masuk ke dalam kalbu. Bisa berada di dekat gadis yang ia suka, maka sepanjang malam seperti ini ia juga rela.
"Aku belum punya istri."
"Saya tahu. Maksud saya, apakah tidak ada yang mencemaskan keadaan anda?"
"Oh, kedua orangtuaku ada di ibukota."
Khadijah hanya memanyunkan bibir ranumnya. Gemuruh suara di dalam perutnya berbunyi. Keras, sampai telinga lelaki berkacamata itu mendengar.
Seketika matanya mendelik, ia memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya pelan. Ferdi hanya tersenyum seraya bersiul membuang pandangan ke sisi kosong.
"Maaf," lirih Khadijah malu. Wajahnya bersemu merah, bahkan lebih merah dari sebelumnya.
Ferdi terkekeh, ia menarik jas yang ia letakan di atas kursi halte. Lalu ia berdiri, membentangkan jas di atas kepala.
"Ayo cari cafe di dekat sini," ajak Ferdi lembut.
Khadijah mengenggam erat ujung kemeja Ferdi yang ia kenakan. Mata itu memandang lekat, ragu dan juga malu.
"Saya gak bisa." Khadijah menundukan pandangan.
"Kenapa?" tanya Ferdi bingung.
"Pokoknya gak bisa!"
Ferdi menurunkan lagi jasnya, ia berjalan mendekati gadis itu.
"Maaf!" Kedua tangan lelaki itu mendekap lengan Khadijah, memaksa gadis itu berdiri.
Khadijah menarik gamisnya, lalu tangan mengelap kursi halte yang kotor.
Lelaki itu menghela napas, ternyata alasan gadis itu tak pulang adalah ini. Darah yang menembus karena pakaian yang basah.
"Lepaskan kemejaku!"
"Ha?"
"Lepaskan!"
Perlahan jari-jari itu membuka kancing kemeja perlahan, terlihat gamis yang ada di dalam mulai mengering karena hangatnya suhu badan.
Ferdi menarik kemejanya, lalu mengikat pada pinggang gadis itu. Ada debaran yang mulai hidup, entah apa itu. Namun, saat mata bulat itu menatap wajah lesu lelaki berkamata tersebut. Ada gumpalan yang menghangat di dalam tubuh.
"Aku tidak melihat apa pun. Ayo kita ke cafe." Ferdi kembali mengangkat jasnya, menjadikan itu sebagai satu-satunya penghalau air hujan.
Perlahan gadis itu mendekat, berdiri di sebelah Ferdi. Dekat, sampai harum tubuh lelaki itu mampu membuat dadanya terasa hangat.
Perlahan, langkah tegap itu berlari mengikuti langkah kecil Khadijah. Binar di balik lensa itu menatap ke arah depan.
Sedang, gadis itu melihat, menatap dengan lekat. Raut wajah yang begitu dekat, menghidupkan debaran yang tak pernah ada sebelumnya. Bahkan saat ia bersama seseorang yang pernah diperjuangankan dulu.
Ferdi, lelaki berwajah teduh itu selalu bersikap sopan. Namun, perhatiannya dapat meluluhkan apa yang selama ini tak pernah diperlihatkan.
Hati, yang katanya pernah terisi. Pada kenyataannya hanya sebuah ambisi, karena ia pernah egois ingin memiliki lelaki yang tak halal untuk ia cintai.
.
Khadijah menetukan dua jarinya ke atas meja cafe. Mengikuti dentingan jarum jam yang semakin malam memutar bumi.
Ferdi hanya mengantarkannya, memesan makanan lalu pergi entah ke mana. Sudah hampir setengah jam, lelaki berkaus ketat itu belum kembali menampakkan jati dirinya.
Sebuah paper bag terletak di atas meja. Khadijah tercekat, entah sejak kapan lelaki berkacamata itu kembali, sedari tadi ia menatap jendela, namun, kedatangan lelaki itu terlalu tiba-tiba.
"Gantilah dulu, aku akan menunggumu."
Lelaki itu duduk berseberangan meja, memakan hidangan yang telah mendingin sebelumnya.
Tak banyak bicara, Khadijah membawa paper bag besar itu ke dalam kamar mandi.
Tangannya mengeluarkan isi di dalamnya, satu set pakaian lengkap dengan hijab dan ditambah sebuah pembalut yang hampir membuat mata Khadijah terlompat keluar.
Malu, bagaimana bisa ia dibelanjakan pembalut oleh lelaki yang bukan mahramnya?