
Bungsu Erlangga itu tertawa getir, ia mengacak rambut dan menatap Ferdi sinis.
"Terakhir kali kukatakan, minggir atau aku tak segan memukulmu!" ancam Arfi.
Lelaki berkacamata itu membalas tatapan Arfi, tajam.
"Siapa kau berani memerintahku?"
Satu tangan Sasy meremat lengan jas Ferdi. Melihat wajah Arfi yang memadam membuat ia takut.
Lelaki berambut pirang itu tersenyum, kepalanya mengangguk dan satu kepalan tangan melayang. Ingin menghantam wajah teduh pria di depannya.
Kepalan tangan Arfi tertangkap sebuah tangan. Ardan menahan tumbukan tangan tersebut. Satu tangan menepuk pipi adik bungsunya lembut.
"Hei, Boy! Sadarlah, kau mau memukul siapa?" tanya Ardan seraya meraih kedua ujung bahu Arfi. Menyentakkannya agar lelaki itu tersadar.
Arfi menatap Ardan nanar, satu tangannya mengacak rambut.
"Aku hanya ada urusan sama Sasy, Kak! Kak Ferdi yang mulai," adunya.
Ardan menoleh, melihat sahabatnya itu, lantas beralih pada Sasy yang bersembunyi di balik badan Ferdi.
"Kendalikan amarahmu, Arfi. Gadis belia itu pun takut melihat sikapmu."
Arfi menarik napasnya, tatapannya terus tertuju pada Sasy, belia itu memang tampak ketakutan. Dia geram, badannya berbalik dan menendang-nendang tiang lampu jalanan.
"Arrrgggg!" teriaknya kesal.
Ardan kembali mendekati Arfi, menepuk lembut bahu sang adik untuk menenangkan amarahnya.
"Ada apa, hem? Kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin. Tidak ada yang selesai jika kau pun kacau," kata Ardan seraya menarik bahu kekar itu.
Lelaki muda itu mengacak rambutnya geram. Pandangan matanya teralih ke arah Ferdi dan Sasy.
"Nigar salah paham, Kak. Dia berpikir aku ada hubungan dengan Sasy," adunya lagi.
Lelaki berkacamata itu beralih menatap Sasy yang masih meremat sisi lengan jasnya. Gadis belia itu hanya tertunduk, cengkeramannya terasa semakin erat.
"Sekarang aku tanya, memang gak bisa minta baik-baik sama dia? Kau pun tau, dia akan membantumu walaupun kau memintanya tanpa memaksa."
Arfi tertunduk, benar kata Ardan, Sasy akan bersedia menjelaskan walaupun dia tak menariknya secara kasar.
Seketika pikirannya kacau, terpikir harus mencari Nigar seperti selama ini lagi. Mrmbuat pikirannya kalut tak karuan.
Ardan tersenyum tipis, ia kembali menepuk pipi sang adik dengan lembut.
"Minta maaf pada Ferdi dan juga belia itu. Belajarlah untuk tenang menghadapi masalah, Arfi. Hem." Ardan tersenyum, menepuk pipi sang adik yang masih panas bergejolak.
"Belajarlah untuk mengendalikan amarah, Arfi. Kau sudah cukup dewasa, jangan selalu mengedepankan amarah saat kau kacau. Tenang, dan buat pikiranmu nyaman. Baru bicarakan dan cari penyelesaian. Hem."
Lelaki berambut pirang itu mengangguk, baru akan berjalan mendekati Ferdi, langkahnya terhenti saat melihat dua lelaki yang tak asing lagi buatnya.
"Pemandangan yang mengharukan."
Seketika Ardan membalikkan badannya, melihat sang pemilik suara yang tak lain adalah papanya.
"Presdir," lirihnya kaget.
Lelaki tua itu tersenyum ramah, seramah apa pun wajah itu dibuat. Tetap ada makna yang tersirat di baliknya. Biasa, itu tidak akan baik-baik saja.
"Apa kabar Direktur dan GM perusahaan Green Kosmetik? Sepertinya apa yang kalian inginkan sudah tercapai, ya? Hebat sekali kau bermain, Ardan."
Alis tebal milik Ardan bertautan, ia tak mengerti dengan ucapan Gerald. Estimasi yang dia pikirkan rembukkan bersama Ferdi, seharusnya Gerald akan bertindak sedikit lebih lama dari ini. Kecuali ....
Ardan menoleh ke arah Arfi, lelaki berkaus hitam itu hanya menunduk. Membuat desahan napas keluar dari bibir Ardan.
Seringai terbit di wajah garang Sulung Erlangga itu. Berusaha untuk tetap tenang. Walau kini hatinya mulai berdebar, cemas, karena keadaan keluar dari pengendalian.
"Apa yang membuat Anda sudi menginjakkan kaki di sini? Presdir Erlangga?"
Gerald terkekeh, ia melepaskan kancing jasnya dan membenamkan kedua tangannya di saku celana. Berjalan menghampiri sang putra.
"Menuruti keinginanmu, pastinya."
"Aku tak mengerti."
"Tentu kau mengerti. Dan juga .... " Gerald melirik ke arah Arfi.
"Aku merindukan putra kesayanganku. Setelah ke kota ini, sepertinya para putraku melupakan rumahnya," sindir Gerald berjalan memasuki gedung perusahaan.
Ardan menarik napas, ia menatap ke arah Arfi tajam. Sementara yang ditatap hanya bisa diam.
"Ferdi, ayo masuk!" ajak Ardan dengan sedikit ketus.
Lelaki berkacamata itu mengangguk, ia melepaskan cengkeraman tangan Sasy. Lalu meraih sebelah pipi belia itu.
"Kamu pulang dulu, ya. Aku ada urusan, tak apa?" tanya Ferdi lembut.
Sasy tersenyum, ia mengangguk pelan. Ferdi ikut tersenyum, mengacak puncak kepala Sasy dengan gemas.
"Hati-hati."
Saat lelaki itu masuk, sudah ada Gerald dan Arfi di dalam ruangan GM. Sementara Ardan sibuk membaca berkas yang Gerald bawa.
Pandangannya langsung teralih pada Ferdi saat lelaki itu mendekat. Memperlihatkan isi berkas itu dan membuat Ferdi menghela napas.
Berkas pemisahan perusahaan yang terlegalisasi, bagaimana bisa terjadi? Di saat mereka masih menyusun siasat agar kesalahan tidak terjadi.
"Kau mungkin bisa memisahkan anak perusahaan, Ardan. Tapi jangan lupa, 60% saham perusahaan ini telah menjadi milikku. Aku telah membelinya dari para mitramu. Aku bisa saja mengakuisisi perusahaan ini dalam satu malam."
Ardan tertawa sinis, ia menutup berkas itu dan menyampakkannya ke atas meja.
"Satu malam?" tanyanya kecut.
"Jangan terlalu meninggi. Anda pun tak sehebat itu, bisa mengakuisisi dalam satu malam? Menurut perhitungan, walau saham kami tak sampai setengah, tapi akuisisi masih tidak bisa dilakukan?"
Gerald tertawa, ia menumpuhkan kedua sikunya di atas meja, menatap Ardan yang duduk berseberangan dengannya. Tepat di depannya.
"Jangan terlalu meremehkan, GM Ardan. Bahkan Erlangga bisa mengakuisisi saat saham masih berada di kurva 65%."
Ardan tersenyum simpul, ia ikut menumpuhkan kedua sikunya di atas meja dan menatap Gerald tajam.
"Sepertinya Anda semakin tua, Pak Presdir. Banyak hal yang Anda lupakan." Ardan semakin mencondongkan badannya ke arah Gerald.
"Termasuk, yang mengakuisisi perusahaan lawan adalah aku! Ardan Erlangga, bukan perusahaan Erlangga."
Ferdi menatap ke arah Gerald, tak seperti biasanya. Kali ini Gerald terlihat tenang, tampak dari senyumannya yang semakin licik menghadapi anak sulungnya sendiri.
"Benar, untuk itu aku menawarkan perjanjian denganmu."
Ardan menegakkan badannya, menatap wajah Gerald yang tersenyum penuh makna.
"Katakan!"
"Akan kulepaskan anak perusahaan ini dan memerger cabang perusahaan di sini ke perusahaan Green Kosmetik atas nama Direktur saat ini. Aku akan melepaskan saham dan perusahaan ini bisa memulai manajemen baru tanpa campur tangan pusat."
"Lanjutkan," kata Ardan malas.
"Akan kubiarkan Arfi memilih untuk berada di perusahaan yang mana. Tetap bersama dengan Erlangga atau bergabung bersama sekawanannya. Membela kawanannya dibandingkan papanya."
Ardan melirik ke arah Arfi, lelaki itu hanya tertunduk, tak memberikan pembelaan. Entah apa yang ada dipikirannya, namun dari perkataan Gerald, lelaki itu akan terancam kehilangan nama Erlangga di belakangnya.
Detik kemudian tatapannya kembali beralih ke arah Gerald.
"Lalu, apa yang kau inginkan dari kami?"
"Kami?" Gerald terkekeh. "Lebih tepatnya, kau! Hanya kau," tekan Gerald.
Ardan menarik napasnya, ia menyandarkan pundak di kursi. Mengusap wajahnya kasar.
"Baiklah, aku mengerti," jawab Ardan lemah.
Gerald bangkit dan membenarkan jasnya. Ia melirik ke arah Ferdi dan tersenyum lembut.
"Baiklah, aku tak memiliki waktu untuk berlama-lama di sini. Permisi."
Lelaki itu berjalan ke arah pintu, diikuti seorang ajudan yang tak lain adalah kaki tangan Arfi di perusahaan.
"Oh, ya. Satu lagi," ucap Gerald sebelum keluar dari ruangan.
"Aku butuh kejelasan. Apa yang kau mengerti dengan perjanjian ini?"
Ardan hanya diam, kali ini memang dia yang harus memundur untuk menyelamatkan segala usaha dan perjuangan mereka selama ini.
"Ardan?"
"Aku akan kembali ke ibu kota, mengumumkan bahwa aku telah bersedia menjadi CEO Erlangga Grup."
Mata Arfi dan Ferdi terbelalak, serentak mereka menatap ke arah Ardan. Sedangkan sang Papa tertawa riang di ujung ruangan.
Keluar dengan seringai yang tercetak karena kemenangan.
Ardan bersandar lemas, ia menutupi wajahnya. Tak tahu harus berbuat apa, selain menyerah.
"Ardan, apa yang kau lakukan?" tanya Ferdi menyentakkan sebelah bahu Ardan.
Lelaki itu hanya diam, mengusap-usap wajahnya kasar. Tak mampu lagi berpikir, entah bagaimana dia bisa menghadapi masalah ini. Lalu ia terduduk dengan tegap, menatap Arfi nyalang.
"Katakan padaku!" ucap Ardan ketus.
"Arfi, kenapa kau mengkhinatiku?"
***
**Akuisisi, adalah pemindahan hak kendali ke pemilik saham terbesar.
Jadi percuma perusahaan terpisah tapi hak kendali masih dimiliki sang Presdir.
*Merger, penyatuan dua perusahaan atau lebih*.