
Gadis kecil berkucir kuda itu menyilangkan tangan di depan dada. Memainkan poninya dengan meniup-niup pelan.
Bosan, hampir satu jam dia berdiri di depan perusahaan. Beberapa kali menghubungi ponsel sang lelaki, tetapi sama sekali tidak diangkat.
"Sasy," panggil Ferdi dan gadis itu menoleh cepat.
Seulas senyum terkembang di wajah belianya, menghampiri Ferdi dengan semangat.
"Kak Ferdi."
"Maaf aku sedang ada rapat. Kenapa kamu tidak langsung masuk dan menunggu di ruangan?"
Mata gadis itu melihat ke arah dalam melalui kaca. Dia segan ingin masuk ke dalam karena di sana sama sekali bukan tempatnya. Takut melakukan kesalahan dan Ferdi akan memilih meninggalkan.
Gadis itu kembali melihat Ferdi, tersenyum lembut lantas menggeleng pelan.
"Aku ke sini cuma mau bilang, ayah meminta Kakak datang lagi besok malam?"
"Besok malam?"
"Ya. Ayah, kan, belum memberikan jawaban."
Lelaki berkacamata itu tersenyum, meraih pucuk kepala Sasy. Mengacak rambut hitam lebatnya geram.
"Nakal, apa kamu mati-matian membujuk Pak Irfan agar menerima lamaranku."
Sasy hanya menyeringai, menampilkan deretan jajaran giginya.
"Abisnya, aku takut Kak Ferdi pergi." Bibir kecilnya menyeringai sangat lebar. Imut, dengan tampilan gigi kecilnya.
Ferdi terdiam, wajah imut itu terlihat semakin menawan. Saat dia memaksa menyeringai dengan sangat lebar.
Lelaki dewasa itu mendehem pelan, menaikan bingkai kacamata dan membuang wajah. Takut, jika memandangi terlalu lama.
"Hanya ingin mengatakan itu?" tanya Ferdi dan Sasy semakin menyeringai, menggaruk kepalanya dengan satu jari.
Lelaki berparas teduh itu mendesah pelan. Tak habis pikir oleh kelakuan gadis kecilnya.
"Kenapa tidak chat saja? Kenapa malah menunggu di sini?"
"Abisnya udah beberapa hari gak ketemu Kak Ferdi. Kak Ferdi juga jarang chat, di chat juga balasnya kadang-kadang doang." Sasy menundukkan pandangan.
"Aku kan, kangen," lirihnya malu.
Ferdi hanya tersenyum tipis. Kembali satu tangan menyentuh puncak kepala belia tersebut.
"Maaf, ya. Tidak ada Ardan, jadi aku harus mengawasi perusahaan sendiri beberapa hari ini."
Gadis itu menggulum bibir, kedua jarinya menarik ujung lengan jas Ferdi. Menggoyang-goyangkankan dengan manja.
"Udah ketemu. Mau sarapan bareng, gak?" ajaknya manja.
"Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan. Kamu belum sarapan?"
Sasy menggeleng dengan menggoyang-goyangkan tangan Ferdi.
"Begini saja." Satu tangan Ferdi mengelurakan beberapa lembar uang, memberikan ke hadapan sang belia.
Sepasang mata bundar itu menatapi lembaran yang Ferdi berikan. Rasanya kecewa saat harapan tentang makan bersama hanya diganti dengan nominal.
"Aku ada uang jika hanya untuk membeli sarapan."
Gadis itu melepaskan cengkeraman jarinya di ujung lengan jas Ferdi. Lalu beralih menatap sang lelaki. Kedua tangannya menaikan tali ransel dan tersenyum getir.
"Kalo gitu aku balik ke kampus dulu, ya, Kak. Kakak semangat kerjanya." Satu tangan Sasy terangkat. "Cayo," katanya memberikan semangat.
Entah semangat untuk Ferdi, atau untuk hatinya yang kembali kecewa. Bahkan sampai detik ini rasanya dia yang selalu berjuang agar terus bisa bersama. Lelaki berparas lembut itu memang sangat tenang, dan dari awal memang dialah yang terlalu menyimpan harapan.
"Hati-hati di jalan."
"Ya."
"Chat aku jika kamu sudah sampai kampus."
Sasy hanya mengangguk. Badan mungil itu berbalik, meninggalkan Ferdi dengan kedua tangan yang sesekali menaikan ransel mungil di pundaknya. Berjalan menuju arah halte di dekat perusahaan.
Lelaki berkacama itu hanya memandangi punggung kecil gadisnya pergi. Iba, terlebih saat melihat raut belianya menampilkan ekspresi kecewa.
"Sasy," panggil Ferdi dan gadis itu menoleh.
"Maafkan aku yang kurang memerhatikanmu."
Bibir gadis belia itu mengembang, lalu mengangguk dan kembali melanjutkan langkah.
"Masuklah! Kita sarapan bersama di ruanganku!"
Seketika senyumnya mengembang, Sasy berbalik dan langsung berlari ke arah Ferdi. Memeluk tubuh kekar itu sampai sang empu memundur menahan pelukannya.
"Hei, apa badanmu tidak sakit?" tanya Ferdi terkejut.
Gadis itu berteriak tertahan. Kegirangan, walau hanya hal sederhana, tetapi itu cukup membuat dia gembira.
Karena terkadang, hanya butuh tuamg berdua untuk menciptakan bahagia.
"Kamu mau masuk atau hanya memelukku?"
"Masuk," jawabnya mendongak.
Ferdi terkekeh, menggeleng pelan seraya melepaskan pelukan tangan Sasy. Menggandengnya tanpa rasa segan memasuki perusahaan.
Gadis itu tersenyum tertahan, melihat genggaman tangan Ferdi erat menaut di jemarinya.
Seketika mata-mata yang ada di sana terkejut. Untuk pertama kalinya, Direktur muda itu terang-terangan membawa seorang gadis ke dalam perusahaan. Bahkan lelaki yang terkenal jarang menunjukkan reaksi terhadap wanita, mampu menggandeng gadis ke dalam ruangannya.
Bisik-bisik sumbang mulai terdengar, Kinara hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
"Akhirnya, aku ataupun Nigar kalah dengan gadis belia," gumamnya geli sendiri.
Wajah teduh itu terlihat semakin memesona saat serius bekerja di balik laptop. Tipis mata di balik lensa fokus menatap layar datarnya. Satu tangannya mengepal, meletakan di depan bibir.
"Tampan," lirih Sasy sendiri.
Sebelah alis Ferdi menaik, sekilas dia melihat ke arah Sasy yang tengah memandanginya di sofa. Sebuah ciuman udara gadis itu layangkan dan Ferdi hanya tertawa.
Binar bundar itu tak jemu memandang. Rasanya walau harus menghabiskan waktu seumur hidup hanya memandang raut wajah Ferdi pun ia sudi.
Entah cinta atau hanya kagum semata. Namun, apa pun itu. Dia sangat menikmatinya.
"Permisi, Pak Ferdi."
Sebuah kepala menyembul dari balik pintu setelah ketukan beberapa kali terdengar.
"Pesanan Anda sudah sampai."
"Baiklah, saya minta tolong bawakan kemari ya, Mas."
Lelaki dengan seragam OB itu mengantarkan pesanan, sedikit tersenyum saat matanya bersitatap dengan gadis belia tersebut.
"Silakan, Mbak."
"Makasih, Om," jawab Sasy dan Ferdi kembali tertawa.
"Saya minta tolong bawakan air putih, ya, Mas."
"Baik, Pak."
Setelah OB itu keluar, Ferdi melepaskan jasnya, menggelung kemeja sebatas siku dan menjatuhkan diri di sebelah sang gadis.
"Apa semua lelaki dewasa selalu kamu panggil Om?"
Gadis yang tengah sibuk mengeluarkan makanan itu menoleh ke arah Ferdi.
"Ya. Memang kenapa?"
Ferdi hanya menggeleng, mengambil salah satu makanan di sana.
"Terus kenapa manggilku Kak?"
Gadis itu menggigit bibirnya, hanya menoleh, lalu malu-malu ia membuka makannya.
Memakan sarapannya dengan pandangan sesekali melirik Ferdi. Bukannya menjawab dia malah duduk dengan tertunduk.
Sikapnya yang usil dan cerewet mulai terbenam. Lebih pendiam dan juga kalem. Sayangnya, lelaki dewasa tersebut tak suka itu.
"Sasy."
"Ya."
"Apa ada yang salah?"
"Maksudnya?"
"Kenapa kamu jadi lebih pendiam? Maksudku, tidak seaktif pertama kali kita kenal."
"Memang kenapa? Bukannya Kak Ferdi tidak suka aku begitu?"
"Terus kamu ingin berubah?"
Gadis itu hanya mengangguk, memasukan suapan demi suapan ke dalam bibir mungilnya.
"Bukannya Kak Ferdi selalu pusing melihat aku yang usil? Aku mau berubah lebih dewasa, gak banyak berulah dan buat-buat masalah. Aku janji."
"Memang bisa?"
"Entah," jawabnya menyeringai pasrah dengan kedua pipi yang mengembung.
Ferdi hanya tertawa, lucu. Dunianya memang lebih berwarna semenjak mengenal belia itu.
"Kenapa harus berubah? Aku suka kamu yang aktif dan usil. Kalau ada kamu suasana jadi rame. Kadang melihatmu yang tidak takut pada apa pun, itu lucu," kata Ferdi tertawa geli. Kepala itu menggeleng, mengaduk-aduk makanannya, mengingat tingkah usil belia itu dulu. Memang ada saja yang dilakukan untuk berulah, dan karena itu, dunia kakunya lebih berwarna.
Perlahan pikirannya melayang, sekilas memori lama terputar. Ada perasaan takut, cemas, melihat Sasy yang menjadi lebih pendiam. Karena sebelum Arsy meninggal, dia juga melakukan hal yang sama. Tertutup dan tidak banyak berulah.
Lalu sepasang iris di balik lensa itu kembali menatap ke arah wajah.
"Kamu tidak akan meninggalkanku, bukan?" tanya Ferdi dan Sasy hanya mengerutkan dahi.
"Jangan tinggalkan aku. Jangan jadi pendiam dan jangan jadi kalem. Aku mencintaimu yang aktif, ceria dan juga usil."
Sasy hanya memandangi wajah Ferdi. Tatapan matanya tampak berbeda, bukan hanya ada kehampaan di sana. Melainkan juga luka.
"Kak Ferdi--"
"Jangan. Jangan berubah, aku mohon tetaplah menjadi Sasy yang seperti biasa. Agar duniaku, tidak lagi seperti dulu."
Gadis itu hanya mengembangkan senyumnya.
"Tapi dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Ferdi cepat.
Satu jari mungil itu mengetuk dahi. "Kak Ferdi harus menciumku setiap pagi, di sini."
Ferdi hanya diam, spontan dia mendekatkan wajah dan mencium bingkai pada wajah sang belia.
Sasy terkejut, matanya melebar, beberapa kali mengerjap dan perlahan kotak nasi yang ada di genggaman terlepas saat ciuman yang Ferdi ciptakan kian dalam.
Setelah beberapa lama, pria itu melepaskannya. Mengusap sudut bibir Sasy lembut dengan tatapan lamat ke arah wajah.
"Mulai saat ini. Aku akan memberikan apa pun itu, lebih dari apa yang kamu mau."
"Kak Ferdi, itu---"
"Untuk itu, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku."