For My Family

For My Family
273



Pagi-pagi, bel dari rumah mewah Erlangga sudah berbunyi dengan kuat. Sedikit berlari Arfi menuruni anak tangga rumahnya, membuka pintu rumah itu. Entah pada kemana para asisten rumah tangga hari gini?


Bungsu Erlangga itu sedikit terkejut saat mendapati tubuh dokter muda ada di balik pintu. Tidak biasa dia datang sepagi ini dan di hari libur pula.


"Pagi, Pak Arfi."


"Pagi. Ada apa? Tidak biasa Anda datang sepagi ini, Dokter?"


Pedro tersenyum, dia naikan bingkai kacamata yang sempat menuruni batang hidung mancungnya.


"Saya sudah membuat janji pada Ardan untuk melakukan terapi pagi ini?"


"Memangnya kenapa? Apa terjadi sesuatu pada mama sampai terapinya full seminggu ini?"


"Simpelnya begini, Pak. Saya menanamkan secara paksa tentang ingatan tante Aulia. Saya ingin memastikan ingatannya pagi ini, apakah masih mengulang seperti biasanya, atau ada perubahan."


Arfi mengangguk, dia buka lebar pintu rumah besar itu.


"Sebentar saya panggil mama untuk turun dulu."


Pedro mengangguk, saat berjalan melewati anak tangga. Si bungsu itu berselisihan oleh Ardan.


"Pagi, pedro. Apa kau sudah sarapan?" tanya pria itu mendekati dokter muda tersebut.


"Apa kau terbiasa berbasa-basi begini?"


Ardan tersenyum, dia terduduk di atas sandaran tangan sofa.


"Apa kau sudah menyiapkan apa yang aku minta?"


Ardan hanya mengangguk pelan. "Arfan sudah menuju ke sini sehabis Subuh tadi."


"Ya, baiklah. Apa kau berdebar, Ardan?"


Tajam tatapan mata lelaki itu menatap nyalang.


"Apa kau menyindirku?"


Pedro tertawa, pemuda itu naikan bingkai kacamata dan menggeleng.


"Kak," panggil Arfi menuruni anak tangga tergesa.


"Mama tidak mau keluar, entah kenapa dia murung dan hanya memeluk guling sambil melamun."


Pedro menghela napas, dekapan tangannya di depan perut terlepas.


"Boleh jika aku melakukannya di kamar. Mungkin ini juga akan lebih baik jika dilakukan di dalam ruangan kedap suara."


Ardan menarik napasnya dan bangkit. Mempersilakan sang dokter untuk ke kamar mamanya.


Di atas kasur empuk itu Aulia mendekapkan dirinya. Murung tanpa sebab. Bukan tanpa alasan, tentu saja itu semua efek dari ingatan yang dipaksakan oleh Pedro. Imajinasi indahnya tentang Arsy mulai hancur dan Aulia seperti kehilangan semangat untuk melanjutkan hari-harinya.


"Bismillah," lirih Pedro melangkahkan kaki mendekati Aulia.


Dokter itu mengajak bicara Aulia sebentar, berbasa-basi dan menanyakan apa yang membuat Aulia semurung itu.


Awalnya wanita tua itu hanya diam, setelah panjang lebar Pedro mengajaknya bercerita. Aulia mulai menoleh, memandangi Pedro dengan genangan kaca pada matanya.


"Ayo, bangkit, Tante. Kita harus melepaskan ini semua."


Seperti tersihir, Aulia hanya mengangguk dan menuruti semua perintah Pedro. Mencari posisi untuk Aulia duduk yang pas, Pedro menarik sebuah kursi dan duduk di depan Nyonya Erlangga itu.


"Tante, aku minta untuk rileksnya, Tante tatap mata saya dan cerna setiap perkataan saya."


Aulia memgangguk pelan. Bibir tipis itu tersenyum lembut. Melontarkan pertanyaan demi pertanyaan tentang Arsy secara berulang-ulang.


Jawaban Aulia selalu berbeda-beda, sampai akhirnya bibir keriput itu bergetar saat Pedro menanyakan.


"Apa Tante sadar jika Arsy sudah tidak ada?"


Aulia terpaku, bibirnya bergetar dengan lintasan air mata yang terus luruh sampai kantung matanya menebal.


Pedro tarik tubuh itu agar bangkit, kepalanya menoleh. Melihat suami Aulia yang entah sejak kapan berada di depan pintu memperhatikan mereka berdua.


"Pak Erlangga, saya izin untuk menyentuh beberapa bagian tubuh istri Anda, boleh?"


"Jika itu demi kebaikannya, silakan."


Setelah mendapatkan izin, salah satu tangan itu menekan dada kiri Aulia, tepat di atas jantungnya.


"Tante, pejamkan mata dan rasakanlah seberapa sakitnya."


Wanita itu menurut, dia pejamkan mata. Bibirnya kembali bergetar, namun suara tangisannya tak keluar.


"Jangan ditahan, ayo keluarkan tangisannya."


Terisak pelan, wanita itu mulai menangis dengan guncangan tubuh yang lumayan besar.


"Keluarkan, ayo. Keluarkan sakit yang selama ini bersarang di sini." Pedro menekan dada kiri Aulia.


"Ayo, Tente."


Sesenggukkan Aulia melepaskan tangisan, perlahan suaranya mulai keluar walau hanya desisan dan erangan kecil.


"Saya tahu kehilangan itu menyakitkan, bukan? Apa yang membuat Tante begitu menyesalinya?"


Tersentak-sentak Aulia menahan sengalan napasnya, sedikit demi sedikit suara tangisannya mulai terdengar.


"Apakah karena setelah Arsy pergi rumah ini mulai kehilangan kehangatannya? Sehingga Tante berusaha mengembalikannya dengan imajinasi Tante?"


Mendengar itu suara tangis Aulia pecah, menangis sejadi-jadinya dengan sentakan kepala yang benar-benar membuat jiwanya tersiksa.


Melihat itu Ardan berpaling, tak kuat. Begitu juga dengan Arfi yang ikut menggenangkan kaca-kaca bening di netranya.


"Ayo, Tante. Keluarkan semua emosi, Tante. Katakan apa saja! Apa saja yang ingin Tante luapkan."


Kian lama erang tangisan Aulia makin mengeras, menggema, bukan lagi karena rasa sakit kehilangan Arsy, kini rasa yang lainnya mulai hadir dan berdatangan.


Menghunjam jiwanya dengan segala rasa sakit dan penyesal tanpa jeda.


"Apa, Tante? Apa yang buat Tante semenderita ini?"


"Ge-Ge-Gerald," lirihnya di tengah erangan isak yang meluap. "Maafkan aku, maaf aku gagal," lirihnya bercampur isak tangis yang meledak.


Mendengar itu membuat pria tua itu mengusap wajahnya. Ternyata selama ini ada rasa bersalah yang dipendam Aulia. Mungkin wanita itu takut suaminya kecewa, akhirnya dia memendamnya lagi di atas segala beban yang memaksa keadaannya untuk gila.


"Pak Gerald tidak pernah menyalahkan Anda, Tante," kata Pedro dan kepala Aulia menggeleng.


Suara tangisan Aulia menggema ke mana-mana, setelah hampir delapan tahun emosinya tak pernah meluap dengan stabil. Kini, semua rasa sedihnya keluar tanpa bisa dibendung lagi.


Rasa kehilangan, rasa gagal, kecewa pada keadaan dan harus melihat kehancuran keluarganya. Membuat Aulia tak pernah mengeluarkan emosinya.


Tidak semua yang ditahan bisa menjadi kebaikan, terkadang bertahan dalam keadaan yang salah malah membuat diri terjun ke dalam jurang yang dalam.


"Ma-af, aku mengecewakanmu," ucap Aulia di sela isak tangis yang membuat tubuhnya tersentak sangking pedihnya meluapkan luka yang selama ini tertahan.


Gerald menghela napas, langkahnya ingin mendekat, sayangnya Pedro menahan agar tubuh tua itu tetap diam.


Dia ingin Aulia melepaskan semua sesalnya kini, membiarkan Nyonya Erlangga itu menangis menikmati setiap rasa yang dia hindari selama ini.


Sampai lelah, sampai semuanya berakhir dengan sendirinya dan hanya menyisakan sentakan-sentakan saat tangisan itu mulai mereda.


Pedro kembali menekan dada kiri Aulia, tersenyum lembut dengan perkataan yang sama lembutnya.


"Bukankah sekarang sedikit lebih lega?"


Kepala Aulia mengangguk lemah.


"Sudahkah Tante rasakan semua sakitnya?"


Dia kembali menganguk.


"Sekarang bukalah mata Tante, lihatlah masa depan yang berbeda, biarkan orang-orang yang hadir di sini, membasuh segala rasa perih yang Tante rasakan selama ini."


Perlahan-lahan bulu mata yang basah itu mengembang. Pandangannya masih memburam, tertutup bulir bening yang tertinggal. Setelah berkedip, menjatuhkan air mata yang bersisa, tatapan tua itu langsung tertuju pada kekasihnya.


"Lihatlah, bukankah di masa ini juga tidak terlalu menyakitkan? Setidaknya di masa ini, anak-anak Tante bisa dipeluk dalam raga yang nyata, bukan sekadar bayangan."


Aulia kembali menderaikan lara, nestapa yang selama ini dirasakannya mencuat ke permukaan dan kembali berdarah. Sangat sakit, perih dan rasanya seakan mau mati.


"Kembalilah, Tante. Semua sudah menunggu Tante untuk sembuh. Tak peduli seindah apa imajinasi Tante, kebahagiaan di dunia nyata takkan pernah ada tandingannya."


Sepasang mata tua itu beralih menatap ke arah Pedro.


"Saya akan selalu membantu Tante untuk meluapkan rasa sakit itu, tapi anak-anak yang menantikan kehadiran Tante, akan membasuh semua duka itu. Ayo, kita kembali. Mulai membuka mata dan melihat kenyataan yang ada. Ayo, Tante."


Pedro bentangkan sebelah tangannya, mengajak Aulia untuk keluar dari dunia imajinasinya. Ragu-ragu wanita itu meraih uluran tangan Pedro.


"Sudah saatnya, Tante kembali pada mereka."


Gerald langsung mendekat dan mendekap tubuh Aulia saat Pedro memberikan kode padanya.


"Ke mana saja kamu Aulia? Bagaimana mungkin kamu meninggalkan kami tanpa seizinku?" tanya Gerald seraya mendekap tubuh tua itu


"Arsy Gerald. Arsy pergi."


"Tapi masih ada kami, Ma," Ardan raih tangan Aulia yang berada di atas dada Gerald.


Seketika kepala itu menoleh, menatap Ardan dan kali ini tatapan matanya berbeda. Dua alis mata itu mengerut dalam, seperti perlahan-lahan kesadarannya mulai berdatangan.


"Ardan?"


"Saya, Ma."


Aulia kembali menangis, satu tangannya meraih pipi Ardan dan mengelusnya lembut.


"Arfi juga masih milik Mama. Tak adil bukan jika hanya Arsy yang Mama sayangi?"


Mendengar itu Aulia menangis sambil tertawa. Bersamaan dua tubuh kekar anaknya memeluk tubuh sang ibunda. Banyak rasa yang ingin mereka salurkan. Rasa rindu dan rasa sesal yang paling kentara dirasakan.


Sejatinya, perasaan yang tercurah akan terasa nyata karena dia langsung menyentuh pada inti. Tanpa kata, perasaan bisa mengerti disayangi karena perlakuan dari hati akan lebih dimengerti.


Sebuah mobil sport biru memasuki perkarangan rumah Erlangga dengan tergesa. Decit suara ban mobil terdengar saat dia menginjak pedal rem secara paksa.


Tubuh tinggi itu langsung berlari tergesa melewati anak tangga.


"Bagaimana bisa kalian melewati pesta tanpa aku?" tanyanya seraya menarik napas ngos-ngosan.


Pelukan Aulia terlepas, dia tatapi tubuh dengan baju kaus itu berjalan mendekatinya dengan senyuman.


"Ma, Arfan pulang. Apa Mama juga akan pulang bersama kami?"


Aulia sempat terdiam, dia tatapi wajah si kembar secara bergantian. Melihat ekspresi Aulia membuat Ardan dan Arfan saling pandang.


Detik selanjutnya mereka berdua sama-sama tertawa dan merangkul bahu.


"Kami sudah berbaikan, Ma. Lihatkan, banyak hal yang Mama lewati tanpa memperhatikan kami," kata Ardan dan Aulia menggeleng.


Tangisannya kembali mengerang, kini ada kesadaran yang mulai melawan imajinasi di dalam pikirannya. Perlahan, kesadaran mulai kembali menguasi pikiran wanita tua itu.


"Ayo, kembali, Ma. Kami semua menunggu Mama."