
Lilin-lilin kecil dengan ribuan kelopak mawar merah menghiasi air kolam. Ide Ardan untuk menutupi seluruh air dengan kelopak mawar mewah.
Tentu saja, suasana malam ini semakin menjadi indah saat sudah tersentuh tangan Ardan.
Sebuah meja kecil diisi dengan beberapa olahan makanan dan tak lupa kue tart di tengah meja, merayakan satu tahun pernikahan yang berawal dari sebuah perjanjian.
Menjadi sangat indah saat Tuhan menyematkan cinta di dalam hati masing-masing. Bersemai dan menjadi akar yang kuat. Karena sejatinya cinta itu ada di dalam ikatan yang suci. Sudah halal dan tanpa tersentuh godaan setan. Semua menjadi sangat damai, karena Tuhan menciptakan cinta untuk menyatukan, bukan menyakitkan.
"Mbok sama Surya di dalam saja. Biar ini jadi malam kalian berdua," ucap Mbok Darmi segan.
Ardan melihat ke arah Hazel. Wanita itu masih sibuk dengan hidangan di depannya.
"Gak perlu, Mbok. Kalian berdua bagian dari keluarga ini. Akan lebih bahagia jika kita merayakan bersama," balas Ardan lembut.
"Ah ... kumpirnya mana?" Hazel bangkit dengan cepat, langkahnya terhenti saat Ardan meraih tangannya.
"Ini sudah sangat banyak, tidak bisakah kita memulainya, aku sudah sangat lapar."
Mbok Darmi tersenyum, ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Hazel memang selalu seperti itu, sibuk sendiri. Ingin sesuatu yang ia kerjakan selesai dengan sempurna."
Ardan tersenyun lembut dan kembali mendudukan Hazel di sebelahnya. Tangannya mencolek krim cake berwarna putih itu dan menyuapi ke mulut Hazel.
"Kesempurnaan itu bukan tentang makanannya, tetapi tentang keberadaan orangnya. Apa pun itu, walau hanya nasi dan garam, akan terasa sempurna jika memakannya bersama denganmu."
Hazel menjulurkan lidahnya, bersikap ingin muntah saat mendengar gombalan suaminya.
Sedang, lelaki itu hanya tersenyum lebar. Menarik kue tart berhiaskan namanya dan Hazel. Menghidupkan lilin-lilin yang tertata cantik di atasnya.
"Sudah, ayo tiup!" perintah Ardan lembut.
Hazel mengembangkan senyumnya, mata indahnya mulai terpejam, memanjatkan doa yang tersemat di dalam hati. Ardan hanya menatapi wajah itu lekat dan dalam.
Perlahan bibirnya ikut mengembang, keinginannya hanya satu.
"Semoga jodoh kita berkepanjangan, Hazel."
"Amin ...." Mbok Darmi mengaminkan seketika.
Wanita itu membuka mata, wajahnya tampak sangat kesal.
"Mas, aku lagi berdoa, loh," ucapnya kesal.
"Berdoa itu di atas sajadah, bukan di depan kue tart begini. Cepat tiup sebelum lilinnya mengotori makanan."
"Cih ... dasar!" Wanita itu meniup lilin-lilin itu, seketika tangannya menepuk penuh kegembiraan.
Ardan hanya menggelengkan kepala pelan, tangannya mulai sibuk mengambil makanan yang terhidang di meja.
Makan malam ini berbeda, bukan hanya tempatnya, pun juga suasananya. Menjebak Hazel, adalah kesalahan dan juga anugerah yang hadir secara bersamaan.
***
Sinar rembulan menghiasi indahnya malam. Seperti ikut merestui, malam ini terlihat sangat indah dengan taburan bintang di atas sana.
Kedua kaki mereka masukan ke dalam kolam, duduk di tepi seraya mendekap erat tubuh Hazel dari belakang.
Tangan wanita itu membelai rahang tegas Ardan. Sementara kakinya ia mainkan di dalam air yang penuh kelopak mawar.
Menikmati harum kelopak itu bersatu dengan lilin aromaterapi yang ia hidupkan. Romantis, kata yang menggambarkan suasana malam dibantu dengan indahnya rembulan.
"Kamu belum mandi, kan, Mas?"
Ardan menggeleng pelan.
"Gak mau coba mandi di kolam?" tanya Hazel menggoda.
"Mau, tetapi jika istriku mau ikut menemani."
"Hahaha, bagaimana jika aku masuk angin?" tanya Hazel lagi.
"Sebelum masuk angin, bagaimana jika aku memasukimu lebih dulu? Hem?" goda Ardan kembali.
Seketika wajah putih itu memerah, bersemu malu. Ardan mencium lembut pipi merah tersebut. Semakin menghidupkan rona di wajah wanita bermata madu di dalam dekapannya.
Ardan mendesah panjang, ia meletakan dagu di atas bahu.
"Mungkin, dalam waktu dekat ini aku akan kembali ke ibukota."
Seketika, jari lentik yang membelai rahang Ardan terhenti. Hazel memalingkan wajahnya, membuat wajah mereka bertatapan dengan sangat dekat.
Mata itu saling berpandangan, lekat dan dalam sampai harum aroma dari mawar dan lilin-lilin itu membangkitkan hasrat.
Perlahan Ardan mendekat, menghapus jarak di antara keduanya. Bibir dingin itu mendarat di atas bibir mungil istrinya, perlahan mata Hazel terpejam, menerima dan membalas keinginan suaminya.
Tak lama, Ardan meleraikannya, tersenyum lembut dan kembali mengeratkan dekapannya.
"Ada yang mau aku selesaikam dengan Arfan," sambung Ardan lembut.
"Apa karena masalah perusahaan lagi?"
Ardan menghela napas panjang, sesaat ia terdiam. Memandang jauh ke arah air kolam.
"Bukan, atau iya. Entahlah, aku gak sanggup berpikir."
"Maksudnya?" tanya Hazel bingung.
"Arfan, aku baru tahu kalau dia bermain gila di belakang Ferla."
Seketika mata Hazel melebar, ia memandang wajah Ardan dengan lekat.
"Maksudnya soal gosip dengan Nana?"
Ardan melepaskan pelukannya, memandang wajah istrinya itu dengan sedikit memerah.
"Kamu juga tahu?" tanya Ardan ketus.
"Hem, hanya pernah dengar gosip. Tapi, aku tidak terlalu peduli."
"Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku?" tanya Ardan mulai sengit.
"Mas, selama beberapa tahun ini aku hanya peduli pada Surya. Jadi, aku tak tahu gosip itu benar atau enggak, dan aku gak peduli. Itu bukan urusanku."
"Sekarang itu jadi urusanmu karena kamu istri aku. Dia iparmu!"
"Aku tahu. Tapi aku juga gak tahu jika kamu gak tahu masalah ini, Mas."
"Lantas, jika aku gak tahu kamu berniat untuk bungkam selamanya, iya?" tanya Ardan mulai geram.
"Mas, apa hubungannya denganku? Itu terjadi bertahun-tahun lalu. Aku peduli apa sama dia? Aku juga punya masalah sendiri yang orang lain gak pernah peduli!" teriak Hazel kesal.
Suasana hening, mereka berdua terdiam dengan emosi yang sama-sama kembali membakar.
Bergeming, membiarkan suasana malam menyejukkan hati masing-masing. Ardan hanya terdiam seraya memandang ke arah kolam. Menghabiskan waktu beberapa lama untuk membiarkan hampa menyapa.
"Maaf," lirih suara itu akhirnya terdengar.
Hazel menghela napasnya, ia kembali menyandarkan kepala di atas bahu Ardan. Tangannya meraih jemari Ardan, baru ia sadari kalau telapak tangan itu terluka.
"Lagi, kamu menyakiti tangan ini, Mas." Hazel menarik telapak tangan Ardan, menciumnya lembut lalu meletakan kepalanya di atas telapak tangan tersebut.
Perlahan satu bening air luruh, lalu di susul oleh beningan yang lainnya.
Ego lelaki itu runtuh, ia tak bisa melihat air mata kekasihnya turun karena segala sikap gilanya.
"Kenapa nangis?" tanya Ardan mulai lembut kembali.
"Kamu menyakiti tangan ini, Mas."
"Itu tidak sakit, Hazel."
"Tapi di sini sakit." Hazel meletakan tangan Ardan di atas dada kirinya.
Matanya memandang wajah Ardan dengan sangat dalam. Sendu, binar berwarna madu itu mencoba meneduhkan amarah Ardan lewat tatap matanya.
Bukankah, sejatinya perasaan itu bisa hadir lewat pandangan. Terkadang ungkapan tanpa ucapan itu lebih jujur dan lebih tepat mengenai sasaran.
"Sakit karena tangan ini pernah membelaiku dengan sangat manja. Sakit karena tangan ini selalu menggendong Surya. Sakit karena tangan ini yang selalu mencari nafkah. Tangan ini selalu menciptakan kebahagiaan, dan tangan ini juga yang selalu mengelus calon bayi kita."
Ardan melepaskan senyumnya, menarik kepala wanita itu kembali ke dalam dekapan.
"Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyakitinya, Hazel. Tetapi, aku akan berusaha untuk selalu melindunginya, mengingat kamu sangat menyanyanginya."
Hazel menangkupkan tangannya di pipi Ardan. Tersenyum lembut saat mata itu kembali bertemu pandang.
"Bukan hanya tangannya, tetapi juga seluruh raganya. Yang aku sayangi itu kamu, Mas. Raga dan juga jiwa, seluruhnya, aku menyanyanginya."
Ardan menghela napas panjang, bibir itu mengeluarkan suara yang terdengar sangat lelah.
"Dulu aku pernah disuruh cepat nikah. Kata mereka, saat ada istri emosional akan lebih terjaga. Aku pikir itu omong kosong belaka. Karena setahu aku, wanita hanyalah makhluk manja yang sangat merepotkan. Bahkan aku pusing saat mendengar celoteh mereka." Ardan tersenyum getir, lantas ia menggelengkan kepala.
"Kini aku termakan kesombongan itu sendiri. Karena nyatanya, banyak yang aku lakukan tanpa aku sadari untuk mengalah padamu. Salah satunya ego dan amarah. Kamu, tahu cara mengendalikanku, Hazel."
Hazel terkekeh, ia mengeratkan pelukan tagannya di pinggang lelaki itu.
"Yang mengendalikanmu bukan aku, Mas. Tapi hatimu sendiri, karena sudah ada cinta di sana. Kamu bisa melakukan apa pun agar cinta itu tetap terjaga."
"Hem, ya. Mungkin kamu benar. Sekarang aku menyesal, kenapa kita tidak bertemu lebih awal?"
"Jika kita bertemu lebih awal, mungkinkah kita menikah lebih cepat?"
"Tentu saja."
Hazel menggeleng pelan, ia melepaskan dekapan itu dan kembali memandang wajah Ardan.
"Banyak hal yang terjadi di hari ini, tetapi tidak mungkin terjadi di lain hari."
"Hem?"
"Jika kita bertemu lebih awal, mungkin aku ini masih gadis. Dan mungkin saja pikiranku bukan menikah tapi mengejar asa. Mimpi yang ayah minta dan kembali ke Turki, setelah sampai sana, mungkin aku akan bekerja, menjadi wanita karir dan melupakan soal cinta. Benar, kan?" Ardan terdiam, sejenak ia memikirkan ucapan Hazel.
"Tak akan ada Surya, tak akan ada cobaan berat yang membuat aku terperangkap jebakanmu, Mas. Tak ada yang membuat kita bersama, karena alasan itu adalah luka, jika hidupku baik-baik saja? Akankah kita bisa jatuh cinta?"
Ardan tersenyum, jarinya mengelus pipi putih itu dengan lembut.
"Tentu saja, akan ada selalu hal yang membuat aku jatuh cinta kepadamu. Salah satunya, pemikiranmu, Sayang."
Hazel menggeleng pelan.
"Aku yang saat ini, terbentuk karena apa yang aku alami di masa lalu. Jika aku masih mahasiswi biasa, maka aku juga hanya gadis manja yang kamu bilang berisik dan merepotkan itu, Mas."
Ardan terkekeh. "Ya, kamu benar, Hazel."
"Sejatinya manusia terbentuk atas apa yang dia alami. Seperti besi yang ditempah dengan cara dipanaskan dahulu, maka kita juga seperti itu. Bagaimana kita akan dewasa, itu tergantung separah apa ujian yang melanda. Semakin pelik dan semakin rumit pembuatan sebuah benda, maka akan semakin baik pula hasilnya. Tak ubah dengan kita, apa yang kita lalui, seharusnya menjadikan kita lebih berkualitas, cara berpikir, cara pandang dan segalanya. Akan terbentuk, bagaimana kita mempelajari setiap likunya dengan baik."
Hazel menghela napasnya, ia menatap rembulan yang ada di atas langit. Bibirnya kembali tersenyum dengan lebar.
"Sama seperti matahari yang akan muncul saat fajar, atau rembulan yang akan timbul seusai senja. Apakah mereka terlambat? Atau mereka seharusnya bisa lebih indah jika muncul lebih awal? Tentu saja tidak. Rembulan akan indah karena sinar redupnya yang ada di tengah gelap gulita malam tanpa cahaya. Sedangkan matahari, dia dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup manusia. Mereka berada pada porosnya, pada waktunya, pada masanya, karena Allah, telah menetapkan segala sesuatunya sesuai dengan urutannya. Tak ada yang terlalu cepat, atau tak ada yang terlalu lambat. Karena di mata Dia, semua berjalan tepat pada waktunya."
Sejatinya kita manusia lebih sering berpikir buruk tentang apa yang menjadi ketetapan-Nya.
Bertanya mengapa aku belum dan dia sudah. Atau mengatakan aku terlambat dan menyesali segalanya.
Bagi-Nya, apa yang terjadi adalah tepat untuk kamu dan kesiapan hatimu. Sebab Dia lebih tahu, kapan dan apa yang terbaik untuk Dia berikan padamu.
Tak pernah terlambat, karena Dia telah mengukur dengan sangat tepat. Tak ada yang terlalu cepat, karena Dia adalah perancang yang paling hebat.
Hari ini, kamu bukan kamu yang sekarang jika tidak mengalami banyak waktu yang tidak tepat, menurutmu. Tapi buat-Nya, itu adalah cara agar kamu paham, saat lalu dan saat ini, adalah waktu yang tepat bagimu untuk menjalani segala sesuatunya.
Tak ada yang terlambat, dan tak ada yang terlalu cepat. Semua tepat waktu, karena Dia tahu, siapa kamu di waktu ini dan siapa kamu di waktu itu.
Jika Dia membalikkan waktunya, yakinkah kamu sanggup menahannya?