
Ardan menghidupkan lilin-lilin kecil, meletakan lampion air di kolam kecil taman bunga persik kesayangan adiknya itu.
Di dalam lampion air paling besar, ia meletakan sebuah kalung dengan inisial A. Kado untuk adik bungsunya yang akan berumur tujuh belas tahun sebentar lagi.
"Aku lihat, dua bulan ini Arsy tidak seperti biasa, Ardan. Saat bertemu denganku, dia hanya menangis dan menunduk. Ada apa?" tanya Ferdi yang masih sibuk menggantungkan hiasan di ranting-ranting pohon persik.
"Dia hanya khawatir, karena Papa akan menjodohkan dia setelah lulus SMA."
Ferdi tersenyum kecut, ia menggeleng pelan. Memindahkan hiasan ke pohon yang lainnya.
"Apa rencanamu?" tanya Ferdi kembali.
"Aku meminta Papa untuk memberikan anak perusahaan yang ada di kota sebelah. Aku akan membawa Arsy pindah ke sana."
"Memang bisa?"
Ardan membalikan badannya, melihat Ferdi yang tengah asyik melilitkan lampu tumblr ke ranting pohon persik.
"Akan kunikahkan kalian berdua."
Seketika, Ferdi memeluk tangga yang saat ini ia naiki. Hampir saja ia jatuh saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Gak waras! Kamu mau aku jadi buronan karena membawa kabur anak bungsu Erlangga?" tanya Ferdi, terkejut.
"Membawa lari dari mana? Lupa kalau aku juga wali dari Arsy? Aku bisa menikahkan kalian berdua."
"Tapi Arsy masih tujuh belas tahun, Ardan. Dia masih punya masa depan yang harus dia kejar."
Ardan menghela napas, ia menangkupkan tangan di depan dahi. Masalah ini memang membuat ia pusing.
"Jadi aku harus bagaimana? Arsy selalu merengek, dia bilang ingin menikahimu. Tetapi kamu tahu sendiri bagaimana watak papaku, kan?"
Ferdi menghela napas, perlahan ia turun dari atas tangga dan menepuk bahu Ardan lembut.
"Jangan pikiri masalah ini dulu, Ardan. Aku yakin papamu juga tidak akan memaksa Arsy kalau aku tidak berada di dekatnya. Setelah malam ini, aku akan pindah, aku titip Arsy padamu, ya."
"Pindah? Ke mana?"
"Perusahaan tempat aku bekerja saat ini melakukan mutasi. Aku akan pindah ke sana awal bulan nanti, jaga Arsy. Aku akan kembali saat dia sudah mulai dewasa, akan kubuktikan bahwa aku juga bisa menjadi lelaki sukses walaupun dari keluarga sederhana."
Ardan tersenyum lembut, merangkul bahu sahabat karibnya itu.
"Aku akan menjaganya hanya untukmu. Aku tahu dan kenal siapa kamu, Arsy benar. Dia tidak akan mendapatkan lelaki yang lebih baik darimu, Kawan."
Ferdi tersenyum, bersama dengan dua lelaki yang lainnya datang dengan sekotak kue.
Arfan menata kue bertingkat dengan warna ungu muda itu di atas meja yang telah dihias oleh Ardan.
Sekuntum kelopak persik gugur menimpahi kue yang baru saja dibawa oleh Arfan.
Ardan dan Ferdi saling menatap ke arah kue itu. Lalu mereka saling pandang satu sama lain. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi malam ini.
Arfi mengambil kuntum itu dan melemparnya sembarangan.
"Sudahlah, hanya sekuntum bunga. Lagian kuenya juga masih baik-baik saja." Arfi tersenyum dengan lebar, namun sama seperti kakaknya, ia merasa ada kejanggalan.
Arfan melihat jam yang melingkari tangan kirinya. Masih ada waktu setengah jam sebelum pestanya dimulai.
"Apa kuenya harus dibiarkan di sini? Aku takut angin akan membawa kelopak lebih banyak lagi."
"Perasaan aku gak enak," jawab Ardan memandangi pepohonan persik yang mulai bergoyang tertiup angin malam.
Ferdi mengedarkan pandangan, melihat ke sekitar yang tiba-tiba menjadi lebih hening dari sebelumnya. Beberapa api di dalam lampion air yang dihidupkam Ardan tadi mulai padam.
"Kenapa tiba-tiba angin jadi kencang?" tanya Arfi memandangi langit malam yang terlihat semakin hitam.
"Apa kita bawa kuenya ke dalam dan bangunkan dia saja?" tanya Arfan yang mulai menangkap sinyal kejanggalan malam ini.
Ardan menghela napas, menangkupkan tangan di depan dahi. Ia kembali mengeluarkan pemantik api, menghidupkan lampioan air yang sempat padam karena angin.
Sampai di lampiom terkahir, pandangannya teralih pada lampion besar yang menampung kalung hadiahnya. Ikut padam walau tanpa angin yang berembus.
"Gawat!" Ardan berlari meninggalkan taman pohon persik itu.
Diikuti oleh tiga lelaki yang lainnya, serempak langkah empat lelaki itu membangungkan seisi rumah Erlangga.
Tergesa, Ardan menapaki tangga panjang rumah Erlangga. Berlari menuju kamar yang ada di paling sudut.
Meraih kenop pintu, beberapa kali Ardan mencoba membuka. Namun, pintu itu terlihat terkunci dari dalam.
"Arfi, minta kunci cadangan!" perintah Ardan, panik.
Beberapa kali Ardan mencoba membuka kenop pintu, bahkan kayu berbahan jati itu tidak bisa dibuka setelah tidak terkunci.
"Ardan, apa yang terjadi?" tanya Aulia yang ikut terbangun saat mendengar gedoran pintu.
"Aku tidak tahu, tetapi perasaanku gak enak. Arsy, apa yang dia lakukan di dalam?"
Beberapa kali, Ardan menendang pintu itu dengan bahunya. Tetap saja pintu itu masih tertutup rapat menyembunyikan tuannya.
Gerald datang dengan mengikat tali kimono tidurnya. Berjalan tergesa mendekati perkumpulan anaknya itu.
"Ardan apa yang kalian lakukan? Tengah malam mendobrak pintu begini?"
"Arsy, buka pintunya!" teriak Ardan lantang.
"Ardan! Bisa saja Arsy tertidur degan headsetnya. Kenapa kalian buat ribut?"
"Diam!" ketus Ardan dengan tatapan tajam pada pria paruh baya itu.
"Sepertinya ada benda yang menahan pintu, Arfan, tendang pintu ini bersamaan denganku."
Arfan mengangguk, ia berjalan ke sebelah Ardan. Menendang pintu kayu itu setelah mendapatkan aba-aba dari kembarannya itu.
Bersamaan dengan pintu yang hancur, sebuah nakas terseret jauh, dari pintu.
Dua kembar itu terdiam, menatap lekat ke dalam kamar. Tanpa suara, namun air mata luruh dari mata tajam keduanya.
Teriakan Aulia membuat seisi rumah pecah, Ardan terduduk lemas di depan pintu. Mengambil napas dengan memburu setelah berhenti sesaat pintu terbuka.
Arfan berhambur ke dalam. Memeluk kaki Arsy yang telah tergantung di atas. Memeluk badan mungil itu yang terjerat kain kasurnya sendiri.
"Arsy, apa yang kamu lakukan, Dek?" tanya Arfan mengangkat tubuh mungil gadis itu, melepaskan jeratannya yang telah membawa nyawa gadis itu terbang meninggalkan dunia.
Sesaat suasana ricuh, tangisan Aulia begitu menusuk pilu ke dalam kalbu. Terdiamnya Ardan dengan banjiran air yang terus mengalir. Teriakan Arfan, memeluk badan gadis kecil itu, dan Arfi, yang hanya bisa memeluk Aulia tanpa tahu mau berbuat apa.
Ardan menangkupkan tangannya di depan dahi. Menggelengkan kepalanya, menyesal karena tidak mampu menjaga perempuan satu-satunya di rumah ini.
Jantung keluarga ini, yang selalu membawa cahaya dan keceriaan lewat canda tawanya.
Tak lama Ardan membuka tangkupan tangannya, matanya memandang Gerald yang berdiri tepat di hadapannya. Meratapi tubuh putri kecilnya yang telah kaku dan membiru.
"Ini semua salahmu," lirih Ardan, memandangi wajah lelaki paruh baya dengan kimono hitam menutupi badan tegapnya.
"Ini semua salahmu!" teriak Ardan, bangkit dan mencengkeram kimono lelaki itu.
Cepat, Ferdi menahan badan lelaki yang lebih tegap darinya itu. Menjauhkan badan Ardan sembari menepuk lembut bahunya.
"Ardan, tenanglah. Tenanglah, Kawan."
Ardan menatap sinis ke arah Ferdi. Perlahan genangan air kemarahan kembali tumpah. Ia memeluk bahu Ferdi dengan erat. Menumpahkan lara di atas bahu temannya itu.
"Arsy, adikku. Dia, dia--"
Ferdi menghela napas dalam, tanpa Ardan bilang, dia juga tahu kalau Arsy sudah pergi. Tahu kalau adik sahabatnya yang ingin ia jadikan kekasih itu sudah meninggalkan dunia.
Perlahan, tetesan yang sempat tertahan itu melintas dari mata di balik kaca. Melihat ke arah Arsy yang berada di dalam pelukan Arfan.
Tak bergerak, tak lagi bisa menjerit dan tertawa ceria. Kini tubuhnya lemah, terbujur kaku tanpa membuka mata.
"Maaf, maafkan aku Ferdi." Ardan memeluk badan Ferdi dengan erat. Menumpahkan air mata yang tak bisa berhenti menghiasi wajah.
Ferdi menghela napas, ia membalas dekapan Ardan lebih erat. Menikmati rasa sesak yang perlahan menorehkan luka di dalam dada.
Kesedihannya tertahan, saat ini pundaknya dibutuhkan Ardan. Untuk menopang badan tegapnya yang mulai kehilangan keseimbangan untuk bertahan.
"Kak Ardan," panggil Arfi lembut.
Ardan melepaskan dekapannya, mendekati Arfi yang sedang memeluk tubuh Aulia.
Tak lama Ardan terkekeh, melihat ke arah Gerald dengan tatapan tajam setelah melihat benda yang diberikan adiknya itu.
Ardan berjalan sembari terkekeh miris, mendekati Gerald yang berdiri di pintu kamar. Ia melemparkan sebuah test pack tepat di wajah Gerald.
"Lelaki seperti apa yang anda kenalkan pada adikku? Baj*ngan mana yang sudah menghamili adik kesayanganku?!" tanya Ardan lantang.
Ardan kembali terkekeh, menertawai kemirisan hidup ini. Tak lama kekehan itu menjadi tangisan yang terus tumpah dengan mata yang membakar amarah.
"Kamu!" Tunjuk Ardan tepat di depan mata Gerald.
"Telah membunuh adikku."