For My Family

For My Family
148



Pekat iris di balik lensa itu menatap dalam dan lekat. Lantas ia menyandarkan punggung pada kursi.


"Benarkah? Seorang Arfi mengatakan menikung di sepertiga malam?" ejek Ferdi.


"Memang kenapa?" tanyanya angkuh.


Ferdi tersenyum, pelan kepalanya menggelengkan.


"Seorang Arfi? Mau melakukan ibadah Tuhan hanya demi seorang perempuan? Jangan bercanda."


Bungsu Erlangga itu mulai membara. Tangannya terkepal, Ferdi terlalu meremehkan niatnya.


"Aku tidak butuh komentarmu untuk melakukan ibadah, bukan?" tanyanya ketus.


Ferdi menganggukkan kepalanya, satu jari menaikan letak kacamata.


"Terserah, tetapi aku tidak akan mundur."


Arfi tersenyum sinis, kepalanya menggeleng, miris.


"Aku dan Khadijah sama-sama mencintai, Kak. Tidakkah Kakak bisa melihatnya?"


"Lalu kenapa? Bukankah dia memilih yang baik agamanya? Bukan yang dia cinta?"


"Hahaha!" Arfi tertawa sinis. "Jangan sombong dengan menganggap agama Kakak yang paling baik!"


"Aku tidak mengatakannya," jawab Ferdi datar.


Kepala lelaki itu mengangguk, amarahnya mulai terbakar. Tampak dari jemari tangan yang semakin mengepal.


Terdiam, sama-sama memandang dengan tatapan yang saling menantang.


Untuk beberapa waktu, dua lelaki itu hanya saling pandang dalam tatapan yang mengobarkan peperangan.


Arfi menumbuk meja stainlees itu dan bangkit tiba-tiba. Dua tangannya tertumpu pada ujung meja. Badan tegap itu membungkuk dan condong ke arah Ferdi.


"Dengar, Kak. Aku akan pastikan bahwa Khadijah. Hanya akan menikah denganku. Tidak peduli sebaik apa agama Kakak, aku akan merebutnya, Pasti!"


Lelaki itu melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi terselip di kerah kaus. Memakainya dengan gaya angkuh, berjalan meninggalkan lelaki itu sendiri.


"Arfi!" Panggil Ferdi menghentikan langkah yang akan keluar.


Lelaki berkaus putih itu hanya melirik. Melepaskan kacamata hitamnya seraya menunggu Ferdi melanjutkan ucapannya.


"Jika ingin ibadah, niatkan Lillahi Ta'ala, bukan karena Khadijah. Atau makhluk yang lainnya."


Arfi memutar matanya, memakai kacamata hitam itu dengan angkuh. Berjalan keluar dari kafe dengan setumpuk amarah yang tertantang lebih dulu.


Sementara, Ferdi hanya menggulum senyum. Menggeleng pelan dengan desahan napas panjang.


Iris itu menatap ke arah kaca, memerhatikan tegap badan itu berlalu menuju parkiran kafe.


"Adik dan Kakak sama saja angkuh dan kerasnya. Bahkan sama juga tingkah dan ancamannya. Apakah tidak ada yang bisa bersikap lembut dari keluarga itu?"


***


Lelaki berwajah lembut itu berjalan dengan tergesa memasuki ruang Rektor salah satu kampus di kota.


Lelaki berkacamata itu tersenyum lembut saat lelaki berpakaian rapih itu telah menanti.


"Maaf, saya terlambat," sesalnya lemah.


Rektor kampus itu tersenyum, dia menggeleng pelan seraya mengulurkan tangan.


"Saya paham. Bukan hal yang mudah meluangkan waktu bagi seorang Direktur muda seperti Anda."


Ferdi hanya tersenyum. "Maaf, seharusnya Ardan Erlangga yang menjadi pengisi seminar."


"Hahaha. Bisa mengundang Anda saja sudah menjadi kebanggaan buat kampus ini. Mau mengundang Ardan Erlangga, sepertinya harus ada keajaiban dulu."


Ferdi tersenyum. "Tidak seperti itu. Kebetulan dia sedang sibuk di urusan perusahaan dan pribadinya."


"Baiklah. Mari saya perkenalkan beberapa ruangan sembari berjalan ke arah aula."


Lelaki berkacamata itu mengangguk, membenarkan letak jasnya seraya berjalan keluar dari ruang Rektor.


Matanya menyisir ke area kampus. Walau jauh berbeda dari kampus-kampus di ibu kota.


Namun, yang namanya kampus tetap akan memberikan suasana yang sama.


Warna-warni sebuah rasa. Banyak hal yang tergambar dari satu nama itu. Bukan hanya tentang perjuangan mendapatkan gelar. Terkadang juga bercampur dengan hiruk pikuk asmara yang bertentangan.


Ferdi tersenyum sendiri, pikirannya menjelajah ke masa lalu. Bagaimana dia dan si kembar Erlangga bisa sangat akrab di kampus.


Padahal dulu Ardan dan Arfan selalu mengejek dia di SMA. Mengatakan kutu buku, tetapi tetap saja datang saat ada PR yang terlewatkan.


Bibir itu semakin melebar, dia menghirup udara dengan sedikit berat. Menikmati suasana yang telah lama memudar oleh kesibukkan.


Bahkan dia tidak mendengarkan penjelasan tiap ruangan yang diceritakan sang Rektor.


"Pak Ferdi."


"Ya." Lelaki itu kembali pada fokusnya.


"Silakan masuk. Anda sudah ditunggu."


Dia mengangguk, lalu langkah tegapnya berjalan memasuki aula. Mencari tempat duduk seraya mendengarkan pengisi seminar yang lainnya berbicara.


Dari luar sini, ada gadis yang sedari tadi memerhatikan dirinya.


Tidak Ferdi sadari, jika saat berjalan menuju aula tadi ia sempat berselisihan dengan Sasy.


Mata gadis itu berbinar, mengikuti Ferdi sampai ke ruangan seminar. Sayang, dia masih mahasiswi baru yang tidak boleh ikut serta ke dalam aula.


Dari balik kaca, gadis itu memerhatikan ke dalam. Mencari keberadaan lelaki berjas navy itu.


Duduk di antara para Dosen, sesekali tertawa sampai mata di balik lensa itu menyipit. Membuat lengkungan yang sama di bibir sang belia.


Sampai suara MC memanggil namanya untuk memulai seminar. Lelaki berkacamata itu melepaskan jasnya, membuka kancing kemeja agar terlihat lebih santai.


"Siang semua," sapanya ramah.


"Siang, Pak!" serentak suara para peserta itu menjawab.


"Perkenalkan saya Ferdi Firmansyah. Direktur dari perusahaan Green Kosmetik. Apa di sini ada yang tau tentang Green kosmetik?"


Mulut belia itu menganga, hampir tidak percaya bahwa lelaki muda itu telah menjabat sebagai Direktur.


"Sebelum saya mulai materinya, ada yang ingin bertanya?"


Antusias beberapa mahasiswi lanjutan di sana mengangkat tangannya. Ferdi menunjuk salah satunya, dan pertanyaan yang terlontar membuatnya menggeleng pasrah.


"Bagaimana dengan umur dan status Anda, Pak?"


Ferdi menyugar rambutnya kebelakang.


"Huuuu ...." Sorakan itu terdengar renyah saat Ferdi mengucapkan statusnya.


Di luar sini ada yang meremat tali ranselnya semakin erat. Tersenyum dengan sangat lebar saat mengetahui lelaki idamannya belum memiliki ikatan.


Selama satu jam, seminar diisi oleh Ferdi. Tiga puluh menit untuk pemberian materi dan setengah jam lagi tanya jawab yang berujung pada godaan untuk dirinya.


Bukan hal yang sulit baginya untuk menarik perhatian wanita. Entah mengapa, selama bertahun-tahun dia memilih untuk sendiri dan menaikan karir setinggi yang bisa dijejaki.


Sampai hari semakin sore, lelaki berkacamata itu keluar dengan sedikit bercengkerama bersama Rektor.


Langkahnya berhenti di ujung koridor kampus. Ferdi memilih untuk di antarkan sampai di sini, ingin menikmati suasana kampus lebih lama lagi.


Setidaknya, ada rasa yang dia rindui di hari-hari yang terlewati dengan setumpuk kerjaan yang terus menuntutnya untuk berperas tenaga.


Lelaki berkacamata itu membenamkan kedua tangannya di saku celana. Menghirup udara sore dengan embusan angin yang menerpa.


Sesaat pikirannya melayang, jauh menjelajahi waktu lampau. Rindu akan masa-masa yang tidak akan pernah terulang.


Sampai sebuah aroma parfum yang sangat lembut membuatnya terbuai. Lelaki itu memejamkan matanya seraya menyesapi harum lembut itu.


"Kak."


Terkejut, lelaki itu sedikit berpindah. Ia menghela napas saat mengetahui ada seseorang di sebelahnya.


"Kamu kok di sini?" tanyanya seraya menetralkan degup jantung yang membuatnya lemas karena terkejut.


Gadis itu menyeringai, lebar. Dengan badan yang bergoyang manja.


"Iya. Aku salah satu mahasiswi di sini," jawabnya mentel.


"Oh." Tidak terlalu peduli, lelaki itu membenarkan letak kacamatanya.


"Kakak mau aku ajak keliling kampus? Sekalian lihat-lihat juga. Mana tau ketemu jodoh," tawarnya manja.


Lelaki itu tertawa, ia menggelengkan kepala pelan.


"Maaf, ya, Sasy. Ini sudah sore dan saya harus kembali."


Lelaki itu memutar badannya, berjalan meninggalkan Sasy.


Gadis itu mengerucutkan bibirnya, dia menghentakkan kaki. Lalu mengikuti sang lelaki.


"Kak Ferdi ... Kak Ferdi," panggilnya seraya mengikuti Ferdi.


"Hem," jawab Ferdi terus berjalan menyusuri koridor kampus.


"Kak Ferdi itu Direktur, kan? Boleh gak ajari aku berbisnis?"


"Buat apa?"


"Buat cari uang dong," jawab Sasy masih setia mengikuti langkah besar Ferdi.


Lelaki itu hanya menggeleng, langkahnya terus berjalan melewati taman kampus yang lumayan luas.


"Kak Ferdi ... Kak Ferdi," panggil gadis kecil itu lagi.


"Apa?" jawab Ferdi sekenanya.


"Ayo, dong ajari aku. Biar aku juga cepet jadi pengusaha gitu," pintanya yang terus mengikuti Ferdi dari belakang.


Lelaki itu tidak lagi menjawab. Rasanya seperti de javu. Diikuti oleh gadis belia seperti ini.


"Kak Ferdi ... Kak Ferdi," panggilnya lagi


Ferdi memutar bola matanya, unik sih, tetapi risih.


"Aku--" Ucapan gadis itu langsung terhenti saat badannya menabrak dada Ferdi.


Pelan langkahnya memundur dengan seringai manja yang menghiasi wajah belianya.


"Kenapa?" tanya Ferdi mulai jenuh.


Sasy menyeringai, satu tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal. Melihat wajah lembut itu berubah datar dan dingin. Mungkin dia sedang marah.


"Ada yang ingin aku beri," ucapnya lemah.


Satu alis mata Ferdi menaik, lalu badan tegap itu membungkuk dengan satu tangan yang terbenam di saku celana.


Pendar mata bundar itu berbinar, bibirnya terkembang saat wajah Ferdi membungkuk, menyamai wajahnya.


Binar jernih itu menatap kagum. Wajah tampan lelaki tersebut terlihat semakin jelas dan memesona.


Menghidupkan degup jantung di dalam dada. Bergemuruh dengan semu yang mulai tampak menghiasi wajah imutnya.


"Kamu ingin memberikan ini lagi?" tanya Ferdi seraya menautkan jari jempol dan telunjuknya membentuk lambang cinta.


Sasy menggeleng dengan cepat, lalu pandangan melihat ke arah bawah. Lama, dengan bibir yang dimainkannha.


Bingung oleh tatapan sang belia, Ferdi ikut melihat ke arah bawah.


Kedua tangan Sasy menaik ke atas, lantas dua jemari tangan itu menyentuh dada kirinya.


Ferdi menautkan alis matanya, apalagi yang sedang dibuat remaja kecil ini.


"Kak Ferdi," panggilnya lembut.


Ferdi menatap wajah itu lamat-lamat. Dua jemari tangan kecilnya yang menyentuh dada, bertautan. Membuat bentuk love dari tautan dua jemarinya.


"Wo ai ni!"


Ferdi terdiam, matanya memandang tautan dua jemari gadis itu yang hadir di depan bola matanya.


Detik kemudian dia terpingkal, tertawa sekerasnya karena ada saja hal konyol yang dilakukan.


Lelaki itu mengusap wajahnya, geli melihat ulah gadis belia di hadapannya.


"Kamu ini--" Baru ingin mengatakan, gadis itu sudah lari meninggalkannya sendiri.


Membuat tawa Ferdi semakin pecah, sampai air menghiasi sudut matanya.


"Gelinya ya Allah," ucapnya menggelengkan kepala.


Mata itu masih memerhatikan tubuh belia yang terus lari di koridor kampus. Perlahan tawanya berubah menjadi senyum kekecewaan.


"Mengapa? Melihatmu yang seperti itu mengingatkanku pada dia?"


Lelaki itu mendesah pelan, kepalanya mendongak, melihat dedaunan yang gugur di atas kepalanya.


"Apakah ini kerjaanmu, Sayang? Kau sengaja mengirimkan gadis yang mirip denganmu agar aku tidak menganggu percintaan Kakakmu?" tanya Ferdi pahit.


Iris pekat di balik lensa itu menatap ke ujung koridor, tempat di mana gadis belia itu terakhir kali menghilang.


"Sampai detik ini. Yang kucintai masih kamu, Arsy."