For My Family

For My Family
150



Gadis itu mondar-mandir di dalam kamar. Sesekali matanya melirik ke arah ponsel di atas nakas.


Dia mendesis geram, lalu mengambil ponsel itu dan menghubungi seseorang.


Beberapa kali panggilannya tersambung, tetapi tidak diangkat.  Sasy merutuk geram.


Ia membuang ponselnya di kasur, lantas merebahkan badan.


"Om Arfi, lihat saja. Besok kita akan berperang!"


***


Gadis itu menendang kerikil-kerikil kecil di atas paving. Sesekali matanya melirik, menatap nama perusahaan di atas sana.


Matanya terpejam, dengan helaan napas yang diperdengarkan. Sesekali punggung tangan menghapus sudut pelipis yang berkeringat.


Alasan apa yang akan diberikan jika ia lebih dulu bertemu Ferdi dibandingkan Ardan?


"Om Arfi, tiga hari aku menunggumu. Lihat saja aku akan menghancurkanmu," rutuknya geram sendiri.


Kepalan tangannya ia tumbukkan di telapak tangan sendiri. Meremat-rematnya geram.


Sampai mobil oranye berhenti tepat di depan gedung perusahaan. Mata gadis itu membelalak. Langkahnya akan berlari, kali ini rambut kepang satunya kembali ditarik.


"Ah ... Om Arfi! Sakit!" Gadis itu ingin menendang lagi, refleks Arfi menghindar dan menarik rambutnya lebih kuat.


"Om Arfi!" teriaknya meringis.


"Makanya jangan bergerak kalo gak mau makin sakit."


"Apaan sih? Udah tua kok main jambak?"


"Kau menantangku?"


"Auw, sakit!" teriaknya ketus.


"Kenapa kau ke sini, ha? Sudah kubilang sabar! Emangnya enak memasukanmu yang belom ada ijazah ke perusahaan sebesar ini?"


"Ish ... lepas dulu!"


Lelaki itu melepaskan tarikannya, gadis itu mendengkus kesal dengan tangan mengusap kulit kepala.


"Ngapain ke sini? Sudah kukatakan sabar. Walau memasukanmu sebagai anak magang, tapi aku juga butuh alasan untuk memberitahu Kak Ardan dan Kak Ferdi!" bentaknya kasar.


Gadis itu memanyun. "Seharusnya Om kasih kabar, jadi aku gak akan nekat menemui Pak Ardan."


"Oh, jadi kau ke sini mau bertemu Kak Ardan. Sini kau!" Arfi ingin meriah badan mungil itu, satu kakinya menendang betis Arfi kuat.


Lelaki itu mengaduh, menatap Sasy sinis.


"Dengar ya, Om. Bukan hanya Om yang bisa menyiksaku!"


"Heh! Kau jangan keterlaluan!"


"Om yang keterlaluan! Berapa kali aku teleponi kenapa Om gak angkat?"


"Apa kau pikir hidupku hanya mengurusimu saja? Aku juga punya urusan lain yang lebih penting!"


"Hooo ... paling juga tidur-tiduran. Kan, Om pengangguran."


"Sembarangan! Yang kau bilang pengangguran itu siapa, ha?"


Sasy memainkan bibirnya, mengejak ucapan Arfi.


"Terus kapan Om mau masukin aku ke sini?"


"Sabar! Memasukan anak magang itu susah! Apalagi kau yang kulihat dari wajahnya, belajar aja ogah! Emang di otakmu ada apa?"


Gadis itu melepaskan kedua silangan tangannya, ia memandang Arfi sinis. Berulang kali tangan kecilnya memukuli badan Arfi.


"Ih, jahat! Gini-gini aku bisa! Bisa!"


Arfi mencoba menghindar, di bawah pukulan tangan Sasy ia mencari celah.


Menangkap kedua lengan gadis itu dan mencengkeramnya kuat.


"Heh! Kau itu gadis! Bisa gak lembut sedikit?" tanya Arfi sedikit membentak.


"Ehem! Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar di sini?"


Deheman itu mengalihkan pandangan dua orang tersebut. Sasy melepaskan cengkeraman tangan Arfi dan berlari menghampiri Ferdi.


"Kak Ferdi, tolong aku! Dia, Om Arfi menyiksaku," adunya manja.


Ferdi tersenyum dan menyentuh pucuk kepala gadis itu. Lucu, melihat ini di pagi hari. Semakin mirip dengan kehidupan yang dulu.


Ferdi berjalan mendekati Arfi. "Kamu? Sejak kapan halaman kantor jadi parkiran mobil?" tanya Ferdi melirik ke arah Mclaren oranye yang terparkir tepat di depan pintu perusahaan.


"Entah itu! Sesuka hati aja! Dasar gak tau aturan! Huuu," sahut Sasy mengompori.


Bibir Arfi merutuk geram.


"Sini kau!" Tangan Arfi ingin meraih badan gadis itu.


Secepatnya ia memeluk lengan Ferdi dan berlindung di balik lengan kekar itu.


"Kak Ferdi, lihat itu dia ingin menyiksaku lagi," adunya kembali.


Ferdi melirik ke arah Sasy. Lantas ia tersenyum lebar.


"Kamu pasti nakal, kan? Makanya disiksa sama dia?" Ferdi mentoel ujung hidung kecil itu.


"Ish, mana ada. Aku hanya ingin pergi ke kampus. Lalu dia mengejarku dan menarik rambutku. Sakit," ucapnya seraya mengelus pucuk kepalanya.


"Mana yang sakit?" tanya Ferdi lembut.


"Ini." Gadis itu menepuk puncak kepalanya, lantas satu tangan Ferdi mengelusnya.


Membuat senyum tertahan tergambar di wajah belianya.


"Cih ... gadis ini pintar bersandiwara. Jangan percaya, Kak. Dia ke sini--"


"Kak Ferdi, lihat itu. Om Arfi membentakku." Gadis itu semakin erat memeluk lengan tangan Ferdi.


"Arfi, kenapa dibentak?" tanya Ferdi seraya tersenyum lembut.


"Astaga! Kak, aku gak salah! Dia yang terus-terusan mengancamku. Kau, kembali ke sini!"


Sasy mengeleng, lalu badannya berpindah ke belakang Ferdi. Mengejek Arfi dengan menjulurkan lidah.


Lelaki itu panas, ia mengangguk geram dan ingin menarik tubuh mungil itu. Kedua tangan Sasy memeluk badan Ferdi dari belakang. Erat.


Ada yang hidup, setelah sekian lama meredup. Kini desiran itu kembali menguap kepermukaan. Debaran jantung yang melemahkan. Sebuah kehangatan yang menembus sukma yang selama ini kesepian.


Ferdi melihat kedua lilitan tangan mungil itu di perutnya. Sangat erat, dan perlahan mendegupkan debaran yang membuat seluruh tubuhnya menghangat.


Sementara Sasy membenamkan wajahnya di punggung belakang Ferdi.


Mulutnya terus berteriak, karena Arfi yang semakin memaksanya untuk melepaskan pelukan tangannya di badan Ferdi.


Lelaki berkacamata itu hanya diam. Membiarkan gadis itu memeluknya, kenapa rasanya sangat nyaman?


Gadis itu menoleh, bibirnya terkembang lebar. Pahlawan yang ditunggu akhirnya datang.


"Pak Ardan! Pak Ardan tolong! Om Arfi menyiksaku!"


Seketika tangan Arfi yang memegang bahu kecil itu terlepas.


"Dia bohong, Kak. Sedari tadi, dia yang menyiksaku! Dia juga yang mengancamku. Dia Rubah Kecil!"


"Aku tidak berbohong, Pak Ardan. Kak Ferdi saksinya, Om Arfi memang menyiksaku," tudingnya melirik sinis ke arah Arfi yang ada dibelakangnya.


Melihat tiga orang itu, Ardan menaikan sebelah alis matanya. Ada yang berbeda, dan ini tidak asing sama sekali.


Gadis kecil yang memeluk badan Ferdi dan terus bertengkar dengan Arfi. Seperti Arsy yang memang tidak pernah akur dengan Kakaknya tersebut.


Bibir lelaki itu melengkung, dia berjalan menghampiri tiga orang itu. Melihat tangan Sasy yang melingkari perut Ferdi. Erat, dan anehnya lelaki itu hanya diam saja.


"Kau Sasy si anak Letkol itu, kan?"


Gadis itu mengangguk.


"Kenapa ada di sini?"


"Aku mau ke kampus. Dan Om Arfi, dia mencegatku!"


"Apa? Kapan aku mencegatmu? Jelas-jelas kau yang mengancamku jika aku tidak bisa--"


"Om Arfi, dia terus menyiksaku, Pak Ardan." Gadis itu terus meracau, tidak membiarkan Arfi memberikan penjelasan.


"Kak, dia berbohong! Dia Rubah Kecil yang sangat licik."


"Mana ada, Om bahkan ingin menyiksaku di depan Kak Ferdi!"


Ardan tertawa mendengar panggilan gadis itu.


"Tunggu dulu, kau memanggil Arfi, Om? Lalu memanggil Ferdi Kakak? Gak salah?" tanya Ardan terkekeh.


Gadis itu menunduk, mengigit bibir bawah dengan pipi yang bersemu kemerahan perlahan.


Arfi terdiam, ia baru menyadarinya. Matanya menatapi wajah itu, lalu melihat pelukannya di perut Ferdi. Kenapa dia baru menyadari itu?


"Oh ... aku mengerti. Jangan-jangan kau suka--"


"Pak Ardan, Om Arfi menjambak rambutku dua kali. Lihat, sebagian anak rambutnya tercabut. Bagaimana jika aku botak?" adunya lagi.


Ardan tertawa, lantas mata beralih pada Arfi.


"Benar kau menjambaknya?" tanya Ardan lembut.


"Benar, Pak Ardan. Lihat tatanan kepanganku jadi berantakan!" Tidak memberikan kesempatan untuk Arfi berbicara gadis itu terus meracau.


"Tunggu dulu! Kenapa kau terus memfitnahku?"


"Aku tidak memfitnahmu! Itu nyata, kalo Pak Ardan gak percaya. Coba cek CCTV saja!" Tunjuknya pada CCTV di sudut gedung.


Arfi merutuk kesal, bagaimana gadis itu bisa sangat licik mempermainkannya.


"Lalu kau ingin aku bagaimana gadis kecil?" tanya Ardan menggoda.


"Hukum dia, Pak Ardan."


"Baiklah. Arfi kemari!" perintahnya lembut.


"Tapi, Kak. Dia yang salah. Dia selalu mengancamku!"


"Pak Ardan, mungkinkah gadis kecil sepertiku mengancam lelaki kekar sepertinya?"


Ferdi dan Ardan menahan tawanya. Lelaki berjas hitam itu menggaruk dagunya, lantas ia memutar bola mata. Seperti berfikir.


"Tentu saja tidak mungkin. Arfi kemari!" perintahnya lagi.


"Kak!"


"Arfi!"


Lelaki berambut pirang itu mendesah panjang. Satu tangannya menepuk kepala belakang gadis itu. Geram.


"Tuh, kan, Pak Ardan. Dia menyiksaku lagi."


"Kau Rubah Kecil!" rutuk Arfi geram.


Pelan langkahnya menghampiri Ardan. Lelaki berkulit sawo matang itu menggeleng dengan tawa yang mengembang.


Saat lelaki berambut pirang itu menghampiri, satu telinganya dijewer dengan keras.


Lelaki itu mengaduh, dengan tangan yang berusaha menahan tarikan tangan Ardan.


Gadis kecil itu terkikik, satu tangannya terlepas dari perut Ferdi dan menutupi bibirnya.


Ferdi melirik, kejadian ini kenapa bisa terulang dengan orang yang berbeda?


"Kamu puas?" tanya Ferdi lembut. Iris di balik lensa itu memandangi raut wajah yang tengah riang itu. Menang mempermainkan Arfi.


Mata bundarnya melihat ke arah wajah. Lalu semu merah menghiasi seraut wajah imutnya. Ardan terdiam, sama seperti Ferdi, dia juga merasakan suasana yang lama menghilang. Kembali datang.


***


Arfi terus meracau dengan kelakuan Ardan yang menghukumnya di depan semua karyawan.


Seketika harga dirinya sebagai Erlangga tertampan hilang di depan semua orang.


"Kakak kenapa bisa belain dia? Aku ini adikmu! Adikmu, jeweran Kakak sakit tau!"


Ardan hanya tertawa, sesekali menggeleng seraya memasuki ruangannya.


"Kau itu nakal," jawabnya datar.


"Kak, dia itu Rubah Kecil. Otaknya sangat licik. Kakak tau! Dari awal dia terus mengancamku untuk mengikuti semua keinginan dia."


Ardan menghela napas, satu tangannya menyingkap kain gorden. Melihat Sasy yang masih ada di depan gedung. Berbicara berhadapan dengan Ferdi.


Sesekali matanya tertunduk, dengan semu merah yang terus menghiasi pipi gembilnya.


Ardan terdiam, perlahan genangan air memburamkan pandangan.


Ada rindu tertahan yang tidak bisa diungkapkan. Dan kini, sedikit berkurang saat ia melihat kejadian tadi pagi. Ada yang terulang, meski di masa yang berbeda.


Seperti Arsy yang selalu mengejar Ferdi. Ia menangkap gelagat yang sama pada gadis kecil itu.


Hanya saja, dia sangat berani berterus terang dengan rasanya. Tidak seperti Arsy yang selalu pura-pura manis di depan Ferdi. Menutupi perasaanya, meskipun terlihat kentara dari gelagatnya.


Satu genangan melintas saat kelopak mata Ardan berkedip.


"Kak, kau kenapa?" tanya Arfi cemas.


"Lihatlah, itu."


Arfi melihat ke arah luar, memerhatikan gadis itu berinteraksi dengan Ferdi.


"Katakan padaku, Arfi. Dia Arsyku? Atau hanya gadis yang mirip dengan Arsyku?"