For My Family

For My Family
215



Sepanjang perjalanan, sepasang mata indah itu hanya menatap ke arah luar. Memerhatikan jalanan ibu kota yang mulai lengang karena hari yang mulai siang.


Lelaki berambut pirang itu menarik napas, dia benci saat sang istri mulai diam membatu seperti ini.


Arfi meraih tangan putih yang terdiam di atas pangkuan Nigar. Seketika gadis itu menoleh, melihat Arfi yang tengah menatapnya sendu.


"Kamu masih marah?"


Nigar tersenyum dan menggeleng.


"Aku berani bersumpah, Nigar. Aku dan Ayla tidak pernah terikat hubungan apa pun. Dia anak dari Law Firm yang dipakai Erlangga Grup. Dan keluarganya sudah bekerja sama dengan papa selama puluhan tahun. Karena itu papa berniat menjodohkan kami," jelas Arfi dan Nigar hanya memandangi wajahnya.


"Dua tahun lalu aku menolak perjodohan itu. Aku dan Ayla hanya kenal sebatas teman. Kami pernah satu kampus dan aku tidak pernah menganggapnya lebih, Nigar."


"Kamu memutuskan perjodohan karena aku?"


Arfi menggeleng, ia mengangkat genggaman tangan Nigar dan menciumnya lembut.


"Bukan, kamu tidak ada hubungannya sama sekali. Percayalah, Nigar. Aku tidak pernah bermain-main lagi."


Gadis berhijab itu hanya diam, mencoba melepaskan genggaman tangan Arfi, tetapi tidak bisa. Lelaki itu semakin mengeratkannya.


"Kumohon percayalah padaku," kata Arfi lagi.


Nigar memaksa melepaskan genggaman itu, membuat Arfi mendesah pelan. Kembali fokus pada jalanan yang ada di depan dengan sesekali melihat ke arah jendela. Batinnya memaki kesal, ia mulai tidak sabar menghadapi sifat Nigar yang terlalu tertutup.


Sebuah tangan menyentuh lembut sebelah pipi bungsu Erlangga itu, Arfi menoleh. Gadis di sebelahnya masih terfokus pada pipi sang suami yang memerah. Memar, walau tidak sampai menimbulkan pecahan di sudut bibirnya.


"Apa ini masih sakit?" tanya Nigar mengelus lembut sebelah pipi Arfi bekas tamparan Ayla.


Lelaki itu tersenyum, mengambil jemari Nigar yang menyentuh pipinya lantas mencium telapak tangannya.


"Tidak sesakit saat kamu meragukanku."


Bibir ranum itu mengembang, ia menyubit sebelah lengan Arfi. Kesal.


"Gombal!"


Arfi terkekeh, satu tangannya menarik kepala Nigar dan menjatuhkannya di atas pundak. Kembali fokus pada kemudi.


Lalu, kepala lelaki itu ikut tertumpuh di atas kepala Nigar. Mengendalikan kemudi hanya dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan yang lain. Menaut di jemari sang istri.


"Maaf, Arfi. Karena aku datang ke kehidupanmu. Semuanya kacau gara-gara aku."


Arfi menggeleng. "Terima kasih karena kamu telah datang dan mengacaukan segalanya, Nigar. Jika bukan kamu, aku tidak akan pernah berubah. Dan jika bukan kamu, maka aku, hanya lelaki manja dengan segala suguhan dunia."


Arfi melirik, tersenyum seraya mencium dahi gadisnya.


"Terima kasih. Karenamu, aku tau. Bahwa sesuatu yang didapatkan dengan kerja keras. Adalah hal yang tak akan pernah mudah untuk dilepaskan."


...***...


Tak ada perasaan apa-apa. Ibu tiga anak itu berjalan memasuki teras rumahnya dengan wajah datar seperti biasa.


Tidak ada firasat, seperti selama ini. Mungkin Arfan hanya menginginkan haknya dan tidak terganggu oleh para bocah, karena dia meminta untuk Ferla pulang berdua.


Sampai di depan pintu, wanita itu menoleh. Tidak ditemukan suaminya ada di sebelah.


"Arfan," panggilnya dan tidak ada jawaban.


Ferla mengendikkan bahu, tak acuh, membuka pintu rumah dan seketika tubuhnya terpaku.


Sejak kapan rumah itu berubah menjadi seperti ini? Harum bunga menyeruak ke mana-mana. Lantai marmer yang biasa mengkilap, kini tertutupi ribuan kelopak bunga.


Wanita itu berbalik, sebuah buket besar bunga mawar tersodor ke arahnya. Ferla terdiam, bingung melihat sikap Arfan kali ini.


"999 kuntum. For you, My Wife," kata Arfan tersenyum manis.


Alis Ferla bertautan, sedikit bingung ia menerima uluran bunga tersebut. Arfan langsung mendekap badannya, mencium puncak kepala sang istri berulang kali.


"Arfan, apa yang terjadi? Apa otakmu bermasalah?" tanyanya semakin bingung.


Lelaki itu tertawa mendengar ucapan sang istri. Apakah sebeku itu hubungan mereka selama ini?


Tanpa menjawab pertanyaan Ferla, lelaki itu mengangkat tubuh sang istri memasuki rumah mereka.


"Kenapa berat badanmu menurun sekali? Jika kamu memerlukan baby sitter tambahan, katakan padaku." Langkah tegap itu berjalan menuju arah kamar.


Sementara binar hitam milik wanita berumur 34 tahun itu masih memerhatikan sekeliling. Harum bunga kembali menyeruak dan kali ini lebih pekat saat Arfan membuka pintu kamar.


Lembut lelaki itu menurunkan sang istri di atas kasur. Ferla terbodoh, meraih kelopak-kelopak bunga yang ada di atas kasur, lantas menatap ke arah Arfan yang ada di depannya.


"Arfan, apa ini? Apa kamu ingin fantasi baru?" tanya Ferla bingung.


Lelaki itu membuka jasnya, lantas ia berlutut di bawah sang istri. Meraih jemari tangan Ferla dan sepasang mata mereka saling bertemu.


"Aku bukan mengajakmu pulang hanya untuk sekadar melakukan hubungan, Ferla."


"Terus?"


"Aku ingin kamu memberikan aku kesempatan."


"Kesempatan? Maksudnya?" tanya Ferla semakin bingung.


"Kesempatan untuk menunjukkan rasaku padamu. Yang mungkin tidak pernah kamu temukan selama menjadi istriku."


Ferla hanya diam. Memandangi wajah Arfan yang terus menatapi dirinya.


"Aku bukan Ardan ataupun Arfi yang pintar menggoda dan bersikap romantis terhadap perempuan. Dari dulu kamu tau, beginilah aku. Tidak pandai bermain-main dengan perasaan."


Arfan menarik napas, lantas ia bergeser sedikit agar lebih dekat.


"Tapi untukmu, aku akan berusaha untuk bisa bersikap romantis. Menggodamu, menggombalimu, menunjukkan rasa cintaku. Karena selama belasan tahun ini, hatiku hanya dan masih tertuju padamu, Ferla. Aku mencintaimu, walau aku tidak pernah menunjukkan itu."


Wanita itu tersenyum lembut, ia menarik pundak Arfan dan memeluk bahu itu erat.


"Aku tau kamu mencintaiku, tak perlu menunjukkannya dengan keadaan seperti ini. Aku hanya ingin perhatianmu, pada anak-anak kita, Fan. Setiap hari, itu sudah lebih dari cukup."


Arfan membalas dekapan itu, sadar masih ada rasa kecewa yang ditunjukkan oleh wanitanya. Lelaki dewasa itu hanya menghela napas.


Dia berpikir bahwa Ferla akan terkejut dan terharu. Nyatanya, wanita itu hanya sekadar menghargai usahanya.


Mungkin salah dia juga, karena hubungan mereka sudah terlalu membeku. Butuh waktu, entah itu untuk memulainya ataupun mencairkan segalanya.


Ferla melepaskan dekapan itu, tersenyum seraya merapikan helaian rambut Arfan.


"Kamu tidak ke kantor?" tanya Ferla dan Arfan menggeleng.


"Papa sedang asyik bermain bersama anak-anak. Kalau kamu tinggalkan kantor, nanti perusahaan bagaimana?"


"Kantor tidak akan kenapa-napa jika ditinggalkan sehari. Hari ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, berdua, membayar masa-masa yang kulewatkan dengan membiarkanmu kecewa."


"Kalau begitu ayo jemput anak-anak. Mereka pasti senang bisa bermain bersama Dadynya."


Arfan menarik napas seraya memejamkan matanya. Kapan sang istri mengerti. Bahwa dia ingin memulai segalanya dari hati.


"Arfan ...."


"Aku hanya ingin berdua, Ferla."


"Tapi anak-anak?"


"Sehari saja. Bisakah sehari ini saja? Jangan pikirkan tentang anak-anak. Jangan pikirkan tentang pekerjaan rumah atau apa pun itu. Sehari saja Ferla, kumohon. Sehari saja, habiskan waktumu hanya untukku."


Perlahan Arfan bangkit, terduduk di tepi ranjang. Lalu, memindahkan tubuh sang istri ke dalam pangkuan.


Memandangi wajah ibu dari anak-anaknya yang tampak masih kebingungan.


"Maafkan aku yang terlalu cuek padamu. Pada anak-anak, dan pada pernikahan kita. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya, bisakah?"


Ferla memandangi wajah Arfan lamat-lamat. Perlahan tangannya tertangkup di pipi sang suami.


"Jujur aku terkejut melihat sikapmu. Kamu ... tidak seperti lelaki yang kunikahi selama ini."


Pandangan mata Arfan tertunduk. Mulai menyadari bahwa selama ini dia terlalu tak acuh pada keluarganya.


"Arfan," panggil Ferla dan tatapan mata itu kembali memandang wajah.


"Baiklah," jawab Ferla tersenyum lembut. "Tunjukkan padaku, bahwa kamu memang mencintaiku."


Arfan melepaskan senyumnya, menampilkan jajaran giginya. Dengan taring yang membuat senyum itu tampak memesona.


Kedua tangannya menarik kepala sang istri. Mendekapnya erat dan menciumi kepala Ferla berulang kali.


"Terima kasih, Ferla. Terima kasih, Sayang."