For My Family

For My Family
33



Wanita itu berjalan mendekati meja Ferdi, berdiri di belakang kursi yang sedang di duduki Ardan.


"Maaf, kamu siapa?" tanya Ferdi lembut.


"Perkenalkan, saya Sharon, Pak. Saya diminta pak Arfan untuk datang ke perusahaan ini dan menjadi model."


Ardan membalikan kursinya, menatap wajah wanita yang berdiri di sampingnya dengan sudut mata.


"Bukannya kamu lulusan S-2 di Jerman? Kenapa sekarang jadi model majalah?" tanya Ardan ketus.


"Oh, itu. Dulu saya pernah menjadi model majalah parfume saat di Jerman. Jadi saya rasa, saya sudah biasa dengan jepretan kamera."


"Ferdi, apa anggaran kita cukup untuk menyewa model dari Jerman?" tanya Ardan beralih pada pria berkacama tipis yang berseberangan meja dengannya itu.


"Aku rasa tidak," jawab Ferdi kikuk


"See? Kami tidak sanggup membayarmu. Silahkan, itu pintunya," ucap Ardan sembari menunjuk pintu ruangan.


Ferdi menangkupkan tangannya di depan bibir. Menahan tawa agar tidak terlepas begitu saja. Melihat ulah Ardan yang seperti itu, tentu bukan hal yang aneh buatnya.


"Tapi, Pak Arfan sudah membayar saya."


"Kalau begitu datanglah padanya, jangan pada saya. Ini perusahaan saya, jadi tentu saya yang lebih berhak mengaturnya," jawab Ardan ketus.


Sharon memandangi wajah lelaki angkuh yang sedang duduk di sebelahnya itu lekat.


"Tapi--"


Suara ketukan pintu terdengar memutuskan ucapan Sharon yang belum selesai.


"Masuk!" perintah Ferdi lembut.


Seorang wanita datang dengan beberapa berkas di tangannya. Ia tersenyum lembut saat menatap Ferdi duduk di ujung sana.


"Kenapa, Hazel?" tanya Ferdi saat melihat wanita yang sudah menghipnotis sahabatnya itu. Terdiam, sesaat setelah wanita itu muncul di depannya.


"Pak Galang meminta saya untuk mengantarkan berkas ini. Dia ingin Bapak untuk menandatanginya," ucap Hazel sembari mendekati meja itu. Melewati Sharon dan Ardan yang sedang beradu sengit.


Ardan bangkit dari kursinya dan berdiri di sebelah Ferdi. Sedikit tersenyum saat melihat wajah istrinya itu.


"Duduklah dulu, Hazel. Saya akan memeriksa ini sebentar," tawar Ferdi.


Hazel mengangguk, menarik kursi yang di tempati Ardan tadi dan duduk dengan tenang.


"Bukankah, kamu wanita itu? Wanita yang merebut tunangan Serli?" tanya Sharon lembut di telinga Hazel.


"Setelah dipecat dari cafe, kamu pindah ke sini? Apa ... kamu ingin menggoda salah satu atasan di sini?" sambung Sharon berbisik lembut di telinga Hazel.


Walaupun lirih, Ardan mampu menangkap apa yang diucapkan wanita itu. Gerakan bibir Sharon, terlihat jelas mengejek istrinya itu.


"Hazel, kamu kembalilah dulu ke ruangan. Pak Ferdi akan mengantarnya sendiri saat ia sudah selesai menandatanganinya," perintah Ardan sembari menatap Sharon lekat.


Hazel mengangguk pelan, ia berjalan meninggalkan ruangan itu. Sementara Ferdi mulai bergidik ngerih saat melihat tatapan mata Ardan.


"Sharon, pulanglah. Aku tidak ingin melihatmu lagi, di sini ataupun di tempat yang sama, lain kali."


"Apa?" tanya Sharon bingung.


"Aku bukan orang bodoh. Bukan aku tidak tahu kalau pertemuan pertama kita adalah rencana kamu dan Arfan. Kutegaskan padamu, kalau aku tidak ingin lagi bermain-main dengan wanita sepertimu. Aku sudah muak dengan kaum-kaum yang sepertimu," ucap Ardan sengit.


"Maksudmu?" tanya Sharon mengernyitkan dahinya.


"Ferdi, aku mau makan siang? Kamu tidak ikut?" tanya Ardan mengakhiri percakapannya dengan wanita sexy itu.


"Eh?" Ferdi menatap Ardan bingung, tak lama ia beralih pada Sharon.


"Maaf nona Sharon, dia, memang seperti itu. Mari saya antarkan ke depan," ucap Ferdi sembari menutup map yang ada di tangannya.


Mengajak Sharon keluar dari ruangan Direktur itu. Sementara wajah Sharon sudah memadam merah, malu sekali saat dikatakan seperti itu tanpa basa-basi.


Setelah mengantarkan Sharon ke luar dari ruangan Direktur, Ferdi mengejar langkah Ardan yang sudah pergi lebih dulu.


"Eh, Hazel," panggil Ferdi saat melihat Hazel masih duduk di balik komputernya.


"Iya, Pak."


"Ikut saya makan siang. Ayo!"


Hazel mengangguk, ia menarik tasnya dan berjalan keluar dari mejanya. Beberapa wanita yang masih ada di sana memandangi Hazel dengan sinis.


Termasuk Sharon yang masih berdiri di depan meja sekretaris Direktur.


"Jadi tujuan dia adalah Direktur itu? Kenapa ada waita picik seperti dia di dunia ini?" ucap Sharon geram sendiri.


*


"Ardan, aku yakin suatu saat kamu akan mati disantet orang. Lisanmu itu, bahkan bisa membunuh tanpa pedang."


"Apa kamu berniat untuk jadi korban selanjutnya?" tanya Ardan dingin.


Ferdi menggelengkan kepalanya, ia melihat sekilas ke arah spion mobil.


"Tajam, tajam. Kamu memiliki lisan yang sungguh berat, Kawan," balas Ferdi kembali.


Ardan tak lagi peduli, ia membalik lembaran dokumen yang ada di tangannya.


"Hazel, bagaimana menurut kamu tentang model Rena Marlia?" tanya Ardan beralih pada kaca spion yang memantulkan bayangan istrinya di kursi belakang.


"Cukup bagus, Pak."


"Apa kamu punya resume model yang lainnya?"


Hazel menggeleng, "Rena Marlia adalah model dari saya, Pak. Tetapi mungkin dia juga akan menyulitkan anda," jawab Hazel lembut.


"Maksudnya?" tanya Ardan.


"Dari yang saya tahu, dia saat ini adalah model dengan bayaran paling mahal di kota."


Ardan tersenyum dan menutup mapnya.


"Sepertinya, kamu memang ingin memiskinkan saya," balas Ardan lembut.


"Tunggu dulu," tahan Ferdi cepat. "Pak? Saya? Anda? Apa ini adalah panggilan sayang antara kalian berdua? Kenapa formal sekali?" goda Ferdi.


Ardan menelan salivanya, memandang ke arah luar jendela.


"Oh ya, ngomong-ngomong bukannya kontrak kamu sebagai karyawan belum selesai ya, Hazel? Tapi kamu sudah menikah, bagaimana kamu harus membayar biaya penaltinya?"


"Kalau itu tanya saja sama pak Ardan. Dia yang ingin saya menikahinya," jawab Hazel malas.


Ferdi tersenyum dan melirik ke arah Ardan yang berada di sebelahnya.


Ardan merogo saku celana hitam yang ia kenakan. Mengeluarkan beberapa uang logam receh seribuan dan menyerakannya di atas dashboard mobil Ferdi.


"Simpanlah, mungkin lima puluh tahun lagi itu seharga ratusan juta perkoinnya," ucap Ardan sedikit tersenyum.


Ferdi meraih salah satu koin tersebut, melemparkannya ke arah Ardan dengan kesal.


"Apa kamu pikir aku pengamen jalanan?" tanya Ferdi sengit.


"Oh bukan ya? Aku pikir kamu banci pengkolan," balas Ardan sedikit tertawa.


"Sialan, kenapa aku harus punya bawahan seperti ini, ya Tuhan?"


Dua lelaki dewasa itu sibuk bercanda di depan. Sedang, Hazel hanya mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Memandangi jalanan siang yang begitu padat kendaran.


Ferdi kembali melirik ke arah Hazel saat berhenti di lampu merah. Memandangi wajah wanita muda itu dari kaca spion.


Perlahan, Ferdi mendekatkan wajahnya ke telinga Ardan, berbisik lembut ke telinga lelaki itu.


"Apakah istrimu itu sebongkah es tanpa rasa? Kenapa wajahnya datar sekali, bahkan saat melihat kita bercanda?" bisik Ferdi lembut.


"Hei ... siapa yang mengizinkanmu memandangi wajahnya?" tanya Ardan ketus.


"Memang kenapa? Aku punya mata!" balas Ferdi tak mau kalah.


"Mendekatlah! Akan kukeluarkan biji matamu sekali lagi memandanginya." Ardan menarik kepala Ferdi, tak ingin kalah, lelaki berkacamata tipis itu menahan wajah Ardan yang ingin mendekatinya. Menahan tangannya agar tak bisa menyentuh kacamata beningnya itu.


Sesaat candaan antara dua lelaki dewasa itu semakin sengit, tak ada yang mengalah. Bahkan mereka tak menghiraukan lampu jalan yang sudah berubah warna.


"Bisakah anda berdua berhenti bercanda? Saya masih ada seorang anak yang menunggu di rumah," ucap Hazel malas.


Seketika, dua lelaki itu melepaskan cengkeramannya masing-masing. Merapikan helaian rambut mereka dan juga kemeja yang mulai kusut karena bercanda berdua.


Ardan kembali membuka mapnya, melihat data beberapa wanita.


"Anda berdua, lebih cocok disebut sebagai anak remaja dibandingkan atasan perusahaan," sambung Hazel dingin.


"Hei, Ardan. Ada apa ini? Apakah perusahaan kita saat ini terbalik? Kenapa aku dimarahi sama bawahan terus?" tanya Ferdi kesal.


"Diamlah, menyetir saja yang tenang. Aku masih punya seorang istri dan anak yang harus kunafkahi," balas Ardan datar.


Seketika bibir Ferdi menganga, ia memandangi Ardan yang berubah tenang setelah mendengar ucapan istrinya.


"What the H*ll? Ardan? Are you seriuosly?" tanya Ferdi bingung.


Lelaki berkacamata tipis itu menggeleng sembari memutar kemudi mobilnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa Ardan Erlangga, si pembunuh lisan ini bisa diam dengan satu kalimat yang keluar dari bibir istrinya? Apakah ini karma?" tanya Ferdi menggoda.


Ardan mengetuk pucuk kepala lelaki muda itu dengan map yang ada di tangannya.


"Diamlah! Kenapa kamu banyak sekali bicara?" tanya Ardan malas.


"Karena kamu bukan Ardan Erlangga. Siapa kamu sebenarnya? Hah?" tanya Ferdi meninggikan suaranya.


"Heh Ferdi, jika kamu tidak bisa diam. Akan kunaikan mas Joko--OB perusahaan--menjadi Direktur perusahaan?"


"Astaga! Ardan!" teriak Ferdi sekencangnya, dua orang yang berada di dalam mobil itu terperanjat saat mendengar suara melengking lelaki itu.


"Sungguh teganya dirimu membuangku setelah semuanya telah kuserahkan padamu!"


Ardan memutar bola matanya malas, ia mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik dengan cepat.


"Halo, Pak Presdir. Saya punya kandidat baru untuk menggantikan Direktur yang--" Ferdi langsung mengambil ponsel Ardan dan melemparkan ke atas dashboard mobil.


Ia tersenyum lembut sembari menarik jarinya dari satu ujung bibir ke ujung yang lainnya. Memberikan kode bahwa ia akan menutup mulutnya selama perjalan menuju restoran.


Hazel menggelenglan kepalanya, dua lelaki ini. Kenapa berbeda sekali saat menjadi atasan perusahaan?


*


"Dua Steak, medium rare dan well done.  Satu Caesar salad dan satu summer salad, lalu--" Ferdi menurunkan menunya dan melirik ke arah Hazel.


"Kamu mau makan apa?" tanya Ferdi.


"Samakan saja, Pak."


"Mau medium atau--"


"Well done," putus Ardan langsung.


"Hei Ardan, aku tahu kamu suaminya. Tetapi bukan berarti dia juga harus mengikuti seleramu."


"Aku tidak suka yang berbau amis."


"Bau amis? Memang setelah ini kalian mau ngapain?" tanya Ferdi memainkan kedua alis matanya, menatap Ardan dan Hazel bergantian.


Ardan menggaruk tengkuk lehernya. kenapa pertanyaan Ferdi membuat ia menjadi canggung?


"Kenapa suka sekali bertanya, pesankan saja!"


Ferdi tersenyum, ia memainkan kedua alis matanya sembari memandangi Hazel.


Ardan menutup menu yang ada di dalam pegangan Ferdi, kasar.


"Sudah kukatakan jangan pandangi dia!"


"Kenapa? Aku punya mata!"


"Sini, akan kukeluarkan biji matamu sekarang juga!"bentak Ardan kesal.


"Kenapa harus marah begitu? Lagian sebentar lagi wajahnya akan terpampang di majalah. Dipandangi setiap pria," balas Ferdi mengompori.


"Siapa yang berani memajang wajahnya, ha? Akan kukeluarkan seluruh mata pria di kota ini jika ada yang berani memandangi wajah dia."


"Hei, punya bini cakep itu buat dibagi-bagi kecantikannya. Kenapa pelit sekali?"


"Apa katamu? Sini kukeluarkan lidahmu sekalian," ucap Ardan kesal.


"Kenapa kalian berisik sekali? Tidak bisakah berhenti bercanda dan makan saja? Lihat setiap orang memandangi meja kita," ucap Hazel lembut.


Ardan menarik kepala Hazel dan membenamkan wajahnya ke dalam dada bidangnya. Menatap Ferdi dengan tatapan mengancam.


"Sekali lagi berani memandangi dia, siapkan biji matamu untuk menjadi santapan berikutnya," ancam Ardan ketus.


Sementara yang di dalam pelukan Ardan, hanya bisa menghela napas dengan sedikit berat.


'Kenapa? Harus ada lelaki seposesif dia dalam dunia yang kejam ini? Sungguh menyebalkan, lebih menyebalkan lagi karena aku bisa nyaman dengan keposesifan yang ia tunjukan,' gumam Hazel dalam hati, di dalam dekapan itu wajahnya mulai tersenyum karena ulah suaminya itu.