For My Family

For My Family
130



Arfi menutup pintu mobil dengan membanting kuat. Menarik jasnya dan membuka pintu rumah Ardan dengan tergesa.


"Pada akhirnya Kakak lebih memilih memintaku untuk menyerahkan Khadijah pada kak Ferdi, bukan?" teriak Arfi berjalan menaiki anak tangga.


"Tidak bisakah kakak membiarkan kami menyelesaikan masalah kami sendiri. Kakak gak perlu ikut campur!"


"Arfi, bukan begitu maksudku. Aku tidak memihak siapa pun di antara kalian," jelas Ardan.


"Jadi ini apa?" tanya Arfi membalikan badannya, melihat Ardan yang berdiri di belakangnya.


"Aku hanya--"


"Hanya apa?" desak Arfi.


Ardan bergeming, menghela napasnya dengan sangat berat.


"Nigar itu adiknya Hazel, Arfi."


"Aku tau! Lalu apa masalahnya?" tanya Arfi tidak suka.


"Bukan hanya karena Kakaknya adalah iparku, berarti aku gak bisa menikahi dia? Lagian aku dan Khadijah lebih dulu bertemu, apa hak Kakak melarangku?" sungut Arfi kesal.


Lelaki berambut pirang itu berjalan menaiki anak tangga. Berjalan tergesa menutup pintu kamarnya.


Ardan mendesah panjang, menumpuhkan pinggangnya di pagar tangga seraya mengacak rambutnya.


"Oh Tuhan! Ada aja pun masalahnya."


Suara dentuman pintu terbanting mengalihkan perhatian Ardan. Arfi turun dengan mengenakan jaketnya.


"Mau ke mana?" tanya Ardan ketus.


"Terserahku mau ke mana!" Arfi berjalan melewati Ardan.


"Arfi," panggil Ardan mengikuti langkahnya.


Tak peduli pada panggilan Kakaknya, lelaki muda itu terus berjalan akan keluar dari pintu rumah.


"Arfi!" Cekal Ardan di lengan kekar itu.


Arfi berbalik, menatap wajah sangar Ardan lamat.


"Bukan maksudku untuk mencampuri urusan kalian. Tapi ada hal yang memang membuat kamu dan Khadijah harus berpisah."


"Oh, ya?" tanya Arfi ketus.


"Bukankah Kakak bilang aku harus kejar kebahagiaanku. Tak peduli apa pun itu, Kakak akan mendukungku. Lalu, ke mana ucapan Kakak kala itu? Apa Kakak lupa?"


Ardan terdiam, mana mungkin dia lupa. Tetapi permintaan Hazel yang menginginkan Arfi dan Khadijah pisah juga memiliki alasannya tersendiri.


Arfi melepaskan cekalan tangan Ardan, secepatnya langkah itu keluar. Memasuki mobil Mclaren hitam milik Ardan.


Lelaki bermata tajam itu menghela napas. Sebenarnya dia harus bagaimana?


Ardan mengetuk kamar putranya, sedikit tersenyum ketika mata Mbok Darmi menatap wajah lesunya.


Ardan mendekat, mengelus kepala Surya lembut.


"Malam ini Mbok sendiri di rumah berani?" tanyanya lembut.


"Eh, kenapa?"


"Saya dan Surya akan menginap di luar. Mbok berani?"


Wanita gempal itu mengangguk, Ardan menarik badan Surya lantas menggendong di salah satu lengan kekarnya.


"Hubungi saya atau satpam komplek jika ada hal yang mencurigakan. Kunci seluruh pintu, dan jangan buka jika bukan kami yang pulang."


"Baik, Ardan."


Tak membuang waktu lagi, Ardan membawa anaknya kembali ke kontrakan Khadijah.


Tepat seperti apa yang dia pikirkan, adiknya juga berada di sana. Terdiam di balik kemudinya dengan tatapan mata menembus jendela rumah Khadijah.


Ardan menggeleng pelan, berusaha tak peduli. Ia turun dan mengetuk pintu rumah itu.


"Mas, kok balik lagi?" tanya Hazel ketika melihat suaminya kembali dengan pakaian yang masih sama.


"Kita perlu bicara, Hazel."


Hazel mengangguk, membiarkan Ardan masuk. Menghidangkan secangkir teh untuk suaminya itu.


"Ada apa, Mas?" tanya Hazel seraya memindahkan Surya ke atas pangkuannya.


Ardan menyingkap kain gorden rumah Khadijah, terlihat mobil hitam yang tak asing bagi mereka.


"Lihatlah," ucap Ardan tanpa menoleh ke arah Hazel.


Mata berwarna madu tersebut melirik, menatap apa yang di maksud sang suami.


"Arfi mencintai Nigar, Hazel. Tak ada salahnya mereka menikah. Bukan hanya karena kita suami istri, hubungan mereka juga dilarang, kan?"


"Bukan itu masalahnya, Mas."


"Bisakah kita untuk tidak ikut campur? Adikmu bebas memilih, Hazel. Siapa pun yang akan dia pilih, aku yakin keduanya akan menjaganya sebaik mungkin."


Hazel mendesah panjang, dengan jari-jari tangan mengelus helaian rambut putranya.


"Jangan terlalu ikut ke dalam hubungan mereka, Hazel. Kamu memang Kakaknya, tetapi Nigar juga berhak atas cintanya."


"Aku tau, Mas. Tapi bukan itu masalahnya."


"Lalu apa?"


Hazel menatapi wajah Ardan lamat-lamat. Perlahan kepalanya tertunduk.


"Aku ingin Nigar tidak lagi terluka. Aku ingin dia menjalani hidup yang baik-baik saja. Jika dia menjadi anggota Erlangga, bisakah Mas menjamin Arfi mampu menjaganya dari Papamu?"


Ardan tercekat, terdiam. Menatapi wajah Hazel dengan lekat.


"Keluarga kalian terlalu rumit, Mas. Terlalu sulit, kadang aku saja sesak saat berada di tengah keluarga kalian. Aku hanya ingin Nigar tidak tertekan lagi, aku hanya ingin adikku tidak disakiti lagi. Pikirkan, Mas. Setelah aku yang mengacaukan keluargamu, siapkah Papamu menerima adikku lagi?"


Ardan menundukkan pandangan matanya. Tak ada yang salah dengan keinginan istrinya, dan tidak ada yang salah pada ucapannya. Memang Gerald tidak mungkin menerima Nigar begitu saja.


Setelah kehilangan dirinya, tak mungkin Gerald diam saja kehilangan putranya lagi. Terlebih, dia anak kesayangan Gerald.


"Mas, aku percaya kamu bisa melindungi kami. Namun, yang bisa melindungi hatinya Nigar tetaplah Arfi. Kamu hanya bisa melindungi Nigar dari luar, tetapi dalamnya? Adikmu yang harus melindunginya. Dan adikmu, bisakah melindunginya?"


"Hazel, kita gak pernah tau soal hati seseorang. Jika Arfi saja bisa berkorban seperti ini, mungkin saja dia bisa melindungi Nigar juga."


Lagi, Ardan hanya bergeming. Tak salah dengan ucapan Hazel. Arfi memang tidak sanggup hidup susah. Dan dia, masih sangat glamour dalam bergaya.


"Akan kucoba untuk memberikan penjelasan padanya," jawab Ardan mengalah.


"Gak perlu, Pak Ardan," sahut Nigar dari arah kamar.


Gadis itu keluar dengan menggendong putri Hazel yang telah terjaga.


"Sepertinya dia bangun karena haus, Hazel."


Setelah menyerahkan Yena, kepala Nigar memaling ke arah jendela. Melihat mobil Mclaren hitam yang selalu terparkir di depan rumahnya setiap malam.


"Biar saya sendiri yang menyelesaikannya."


Gadis itu keluar, berjalan menuju mobil Arfi. Pelan, punggung tangannya mengetuk kaca jendela mobil.


"Khadijah," panggilnya lembut.


"Berhenti, atau aku akan pergi!" ucap Nigar tanpa basa-basi.


"Maksudnya?" tanya Arfi tidak mengerti.


"Bertahun lamanya, yang selalu kucari adalah Hazel. Saat ini aku sudah melihatnya, aku bisa saja memutuskan untuk kembali. Menjadi warga negara Turki."


Arfi tercengang, ia membuka pintu mobil. Kedua tangannya meremat ujung bahu Khadijah.


"Lalu, apa sulitnya? Aku juga bisa pindah warga negara," tantang Arfi.


Nigar tersenyum sinis, ia melirik ke arah jendela. Ada Ardan yang sedang memerhatikan mereka berdua.


Arfi mengikuti tatapan mata Nigar, kedua alis matanya bertaut. Tak mengerti dengan tatapan gadis tersebut.


"Ikut saja, lalu akan kubawa Hazel dan juga dua anaknya berkumpul bersama. Turki, bisakah kalian cari kami di setiap desa-desa terkecilnya?"


"Kau menantangku?" tanya Arfi sengit.


"Lakukan saja sesukamu, Arfi. Kita lihat siapa yang lebih mampu menghilangkan diri.


Mungkin kamu mampu mencariku, lalu Kakakmu? Sanggupkah dia kehilangan anaknya?"


Arfi terkekeh, ia menumbuk Mclaren itu dengan kesal.


"Kau mengerikan, Khadijah."


"Kau yang memaksaku, Arfi!"


Kedua orang itu saling pandang, lekat dan dalam. Dari dalam sini, Ardan dan Hazel hanya bisa memerhatikan.


Sebenarnya apa yang mereka rasakan saat ini? Masih sama-sama mencintai? Atau sudah sama-sama mementingkan ego dan ambisi.


Arfi menendang ban mobilnya kasar. Ia benci ketika harus diancam seperti ini. Tatapannya teralih pada Ardan. Haruskah dia mengorbankan hidup Kakaknya juga?


Lelaki itu mengalah, memilih pergi dari rumah Khadijah. Berulang kali ia memaki kesal, memukul setir mobilnya dengan geram.


"Sial! Sial! Sial! Kenapa Khadijah berubah mengerikan?" rutuknya geram setengah mati.


Kencang laju Mclaren hitam itu membelah jalanan raya. Tak tahu mau ke mana? Ia hanya mengikuti arah.


Sampai lajunya terhenti di sebuah kelab malam. Iris pekat itu menatapi gemerlap suasana dari luar.


Perlahan ia membuka seat belt mobilnya. Lantas berjalan memasuki kelab yang terbilang besar untuk kota yang tidak sepadat ibu kota ini.


Lelaki itu memilih duduk di sofa paling pojok. Menyendiri, mencoba menghibur diri dengan dentuman musik yang memekakkan.


Dua gadis berpakaian minim mendekat. Arfi memalingkan badannya, mencoba untuk menghindar. Karena saat ini pikirannya mulai kacau.


Sebotol sampanye terhidang di hadapannya. Ia sempat memesannya sebelum menjatuhkan badan di sofa.


Tak memerlukan gelas, lelaki itu menenggaknya langsung dari dalam botol.


Sedikit mengeryit, saat ia berusaha menelan pahitnya percampuran anggur dan alkohol itu.


"Sial! Kenapa pahitnya lebih pekat dibandingkan hidupku?" Arfi melemparkan botol itu.


Pukkkk


Tak sengaja menimpuk paha seorang gadis belia yang baru belajar menikmati pesta.


Mata sang gadis mendelik, melihat gaun bagian bawahnya basah oleh minuman kelas atas tersebut.


Tergesa, langkahnya menghampiri Arfi.


"Hei, Om! Kalo mabuk itu jangan ngerugiin orang lain, bisa?" teriaknya seraya mengacakkan tangan di pinggang.


Arfi mendongak, dahinya berkerut. Mencoba menatap wajah sang gadis dalam buraman pandangannya.


Arfi terkekeh, lalu ia mengibaskan tangannya untuk mengusir sang gadis.


"Hei, Om! Dasar orang gak waras! Kalo salah itu minta maaf, bukan sok songong dan belagu. Lihat gaunku ini!" teriaknya lagi.


"Berisik!" Arfi bangkit, sedikit bergoyang, badannya mencoba berdiri dengan tegak.


"Tunggu!" Cekal gadis kecil itu di lengan kekar Arfi.


Arfi melirik, melihat tangan mungil itu. Lalu pandangannya beralih pada wajah. Arfi tersenyum, kedua tangannya memeluk gadis itu, dan ...


Bukkk


Badan kekar itu limbung dan menimpahi sang gadis. Lembut jemari Arfi membelai wajah putih gadis tersebut.


"Khadijah, kau menemuiku untuk minta maaf, ya?"


Arfi tersenyum, manis, lalu jarinya merayapi wajah gadis itu.


"Lepas!" teriaknya mendorong badan Arfi.


Kedua tangan Arfi menarik wajahnya, mencium dagu milik gadis kecil tersebut.


Tiga orang teman si gadis mendelik, menganga, melihat kejadian yang dialami temannya.


"Ada apa ini?" tanya seorang lelaki pada tiga gadis belia itu.


Lelaki itu menoleh, wajahnya langsung memadam ketika mendapati tubuh sang adik berada di bawah dekapan seorang pria.


"Sasy!" teriaknya, geram