
Ardan turun dengan sedikit bersiul, melihat meja makan yang biasa sepi, kini mulai bising dengan kehadiran orang-orang baru.
"Mas, duduklah. Aku siapin piring buat Mas dulu, ya."
Baru akan berbalik, satu tangan Ardan mencekal lengan gadisnya lembut. Menahan gerakan Hazel.
"Gak usah, Hazel. Sudah ada para Bibi yang mengatur, kamu duduk saja bareng aku di sana, ya."
"Aku gak biasa, Mas. Semenjak kita menikah, kan aku terus yang layani kamu makan. Rasanya gak enak kalo liat Mas dilayani orang lain."
Ardan tersenyum manis, mencubit pipi sang istri lembut.
"Hari ini saja, Sayang. Aku ingin duduk dan makan dengan keluarga Erlangga. Lihatlah, pagi ini sangat lengkap, bukan?"
Hazel menoleh, melihat jajaran kursi di meja makan. Sangat ramai, berbeda dari sebelumnya, kini warna mulai menghiasi awal pagi keluarga ini.
Ibu dua anak itu memainkan bibirnya, lantas tawanya berderai dengan sangat lebar.
"Apa Mas bahagia?" tanya Hazel kembali ke arah Ardan.
"Ini sempurna, Sayang. Untuk itu aku ingin kamu makan di sebelahku, jangan terus sibuk mengurus dapur sampai kamu melupakan bahwa posisimu adalah Nyonya Erlangga," kata Ardan lembut.
Hazel terkikik, ia menarik ujung hidung Ardan, gemas.
"Baiklah, hari ini aku akan makan bersama Mas."
"Pintar." Gemas lelaki itu mengacak puncak kepala sang istri.
Arfi yang melihat itu berdehem kuat, "masih pagi woy ... pagi!" teriaknya ketus.
Ardan terkekeh lantas berjalan ke arah meja. Menarik kursi yang ada di depan Arfi.
"Yena biar saya pangku dulu, Pak," pinta Hazel dan Gerald menggeleng.
"Saya bisa. Akhir-akhir ini saya sudah jarang mengendongnya. Jika bukan sekarang, saya tidak tau kapan lagi bisa menggendongnya," kata Gerald dan Yena menjerit, seolah mengiyakan ucapan sang Opa.
"Ih, centil kamu, Nak. Pake jerit-jerit segala," sahut Hazel dan Gerald hanya tertawa, menyuapi roti tawar ke dalam mulut putri Ardan itu.
Sepasang mata tajam di samping Hazel itu terus memerhatikan raut wajah Gerald. Dari awal lelaki tua itu tampak sangat bahagia bermain dengan cucu terkecilnya.
Lalu, tatapan itu beralih ke arah Surya yang ada di sudut meja. Makan disuapi oleh Mbok Darmi, walau berada pada jajaran yang sama, tetapi keberadaannya masih sangat asing dibandingkan cucu yang lainnya.
Ardan tidak tega, ia menarik napas dan melambai saat Surya melihat ke arahnya. Memanggil putra Hazel itu agar duduk di atas pangkuannya.
"Anak Papa makan apa, Sayang? Makan sama Papa, ya," katanya dan Surya mengangguk.
"Mas ...."
"Gak masalah, Hazel. Aku ingin putraku." Sedikit menekan Ardan mengucapkan itu, lalu tatapannya beralih ke arah Gerald yang juga tengah menatapinya.
Tajam tatapan sang anak seakan menegaskan tentang status Surya. Gerald menarik napas, menggeleng dan kembali sibuk dengan Yena.
"Kau ikut aku ke kantor pusat!" perintah Arfan dan Arfi menghela napas.
"Aku tidak sempat."
Arfan berdecak sebal. "Kau bukan lagi anak-anak, kau sudah dewasa. Bantulah aku, aku kewalahan, Dek."
"Maaf, Kak. Tapi, perusahaanku sedang membutuhkanku."
Mendengar ucapan itu Ardan tersenyum sinis. "Seperti pernah saja kau serius mengurus perusahaan itu. Kerjaanmu selalu tak becus," jawab Ardan ketus.
Arfi mendesis, memasukan makanannya ke mulut dan tak mengacuhkan Arfan yang duduk di sebelahnya.
"Arfi ayolah. Perusahaan kacau karena ulahmu. Tidak bisakah kau memerhatikan ini sedikit saja?" tanya Arfan meradang.
Arfi tersenyum dengan sisa makanan di dalam mulut yang membuat kedua pipinya mengembung.
"Terima kasih Kak Arfan sudah mau membantuku mengurusnya."
"Ck, anak ini!" Arfan menjitak kepala adik bungsunya itu. Benar-benar menyerah menghadapi segala tingkah Arfi.
Melihat Arfan yang menyerah menghadapi anak bungsunya, Gerald berdehem dan memindahkan Yena kepangkuan sang istri.
"Kalau begitu ikut Papa ke rumah Ayla."
Seketika Arfi menarik napas, meletakan sendok dengan membanting kasar. Ia bangkit dan menarik kepala Nigar untuk dikecup.
"Aku sudah selesai, aku berangkat duluan," pamitnya meninggalkan ruang makan.
"Arfi, Papa tidak main-main. Papa akan ke rumah Ayla siang ini!" teriak Gerald dan langkah itu terhenti.
"Lakukan saja apa yang ingin Papa lakukan, tapi pernikahanku dan Nigar sudah sah di mata negara," jawab Arfi tanpa menoleh.
"Apa kau kira Papa tidak bisa membuat surat pembatalannya?"
Seketika tubuh tegap itu berbalik, menatap Gerald dengan binar amarah yang mulai membara.
"Papa gak bisa lakuin ini sama aku!" tekannya sengit.
"Jika kamu bisa, kenapa Papa tidak?" tantang Gerald.
Arfi tertawa sinis, ia menggeleng dan melihat ke arah sang istri. Menghampiri Nigar dan menarik tangan gadis itu untuk segera bangkit.
"Kalau gitu aku pergi!" katanya berjalan menarik tangan Nigar.
Gerald terdiam, kepalan tangannya menguat. Tampak sangat geram, terlihat dari kedua rahangnya yang semakin mengeras.
"Tidak ada yang boleh keluar dari pintu itu tanpa seizinku!" teriak Gerald dan Arfi tak peduli. Terus berjalan, saat tangan itu akan menarik tuas pintu, Ardan menyahut.
"Berani kau buka, maka kau akan mati." Datar ucapan itu membuat niat Arfi urung, ia berbalik dan melihat ke arah Ardan yang sudah berdiri seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Arfi tau sekali, saat gaya dan ekspresi Ardan sudah begini. Itu tandanya dia tidak main-main oleh ancamannya.
Bungsu Erlangga itu menarik napas, kembali memegang gagang pintu dan Ardan kembali berkata.
"Aku tak main-main, Arfi!" ancamnya dan si bungsu itu terpejam.
"Berani kau keluar. Bersiaplah untuk mati," ancamnya datar.
Arfi kesal, ia berbalik dan membentak Ardan geram.
"Aku tidak tau! Makanya ceritakan padaku," sahut Ardan tenang.
Gerald ikut bangkit, ia benarkan letak jas dan berjalan keluar dari meja.
"Termasuk Anda, Pak Presdir. Aku menahan siapapun keluar dari pintu itu pagi ini," kata Ardan saat melihat Gerald bangkit.
"Aku ini Papamu. Bukan kau, tapi aku yang mengatur!"
Ardan hanya tersenyum, lantas duduk kembali.
"Ayo duduklah, Arfi, Pa. Susah payah aku mengumpulkan keluarga kita agar bisa menikmati sarapan bersama. Apa tidak bisa kita makan dengan tenang sehari saja?"
Melihat tingkah Ardan, Arfi tertawa getir. Bagaimana bisa si sulung itu memintanya pulang hanya untuk makan bersama?
"Kau bercanda, Kak."
"Aku serius."
"Bagaimana bisa kau memintaku pulang hanya untuk sarapan bersama?"
"Kenapa tidak bisa?"
Bungsu itu berdecak geram, bagaimana caranya agar dia bisa keluar tanpa harus membongkar rahasia. Tanpa dia sadari bahwa Ardan sudah mengetahui segalanya.
Ardan mendongak, melihat Gerald lantas satu tangannya terulur. Mempersilakan Gerald untuk kembali duduk.
Lelaki tua itu tertawa, ia mengancing jasnya dan berkata. "Papa sudah selesai, masih ada yang harus Papa kerjakan. Nikmatilah makanan kalian."
Baru ingin berbalik, Ardan kembali memanggil.
"Pa!" panggilnya ketus. "Aku melakukan ini semua demi Mama. Agar Mama bisa kembali sadar, agar ingatan Mama kembali berdatangan. Melalui kehangatan dan juga kebisingan yang diciptakan. Tak bisakah Papa membantuku?"
Gerald menarik napas, ia mengalah dan kembali duduk. Detik selanjutnya pandangan Ardan kembali ke arah Arfi.
"Kau juga Arfi!" perintahnya dan lelaki di sana masih bergeming.
"Arfi!" bentak Ardan.
"Arfi!"
"Aku tidak mau!" sungutnya. "Aku tidak bisa, Kak. Aku memiliki keinginanku dan aku tak ingin terus dipaksa. Entah itu olehmu ataupun keegoisan Papa."
Mendengar itu Gerald geram, ia kembali bangkit dan menjawab. "Di mananya yang keegoisan Papa?" tanyanya ketus.
"Kau yang egois, Arfi! Kau hanya memikirkan nasibmu, kebahagianmu dan istrimu. Tanpa kau pikiri berapa banyak karyawan perusahaan kita. Mereka terancam, kebahagiaan mereka dipertaruhkan. Tapi kau sama sekali tidak mau mengerti, kau bertindak bukan untuk Papa! Tapi buat banyak orang yang bergantung pada perusahaan kita!" bentak Gerald.
"Tapi aku tidak mau menikah lagi!" teriak Arfi tak kalah lantang.
"Tak ada yang akan memaksamu untuk menikah lagi dan Papa! Tak perlu lagi Papa pikirkan masalah ini," sungut Ardan dan seketika seluruh mata tertuju ke arah Ardan.
Terdiam beberapa waktu, detik selanjutnya Ardan menoleh ke arah sang istri.
"Karena mulai hari ini," kata Ardan terus memandangi Hazel dan Surya.
Lelaki itu menarik napas, "aku yang akan menjadi CEO Erlangga Grup."
Seketika mata Hazel melebar, terkejut dengan keputusan yang diambil Ardan. Karena sebelumnya, lelaki itu sama sekali tidak pernah menyinggung soal menjadi CEO.
Arfi ikut bergeming, masih terkejut. Sementara Arfan lebih santai mendengarnya. Dia sudah menduga, bahwa Ardan pasti akan bertindak untuk masalah kali ini.
Sepasang mata elang itu menyayup, menghela napas dan kembali berkata. "Biar aku yang menangani masalah kali ini. Papa istirahatlah dan tenangkan pikiran."
Gerald tertawa sinis, menggeleng pelan lantas menjawab. "Hanya karena kamu memutuskan untuk menjadi CEO, bukan berarti masalah akan pecah begitu saja. Perusahaan sedang dalam masalah besar, Ardan."
"Aku tau. Karena itu aku mengambil posisi ini. Papa gak perlu khawatir, karena aku pasti akan mencari jalan keluarnya."
"Kita terdesak, menurutmu bagaimana kita bisa mengeluarkannya dalam waktu sesingkat ini? Apa kau punya sesuatu buat meyakinkan Guard Law Firm?"
"Aku tidak akan meyakini mereka," jawab Ardan datar.
"Lalu?"
"Aku akan melawannya, jika Guard Law Firm meminta putus kontrak. Maka aku akan mengabulkannya."
Gerald semakin terkejut. "Jangan bercanda kamu, Ardan. Jika Guard Law Firm memutuskan kontrak kerja sama. Mau jadi apa perusahaan kita? Kita dalam masalah, bisakah kamu jangan membuat masalah yang ada semakin parah?"
"Ini keputusanku. Dan sebagai CEO, aku punya rencana sendiri."
"Rencana apa? Memusnahkan Erlangga Grup dalam sehari?" tanya Gerald emosi.
Ardan hanya menghela napas, perhatiannya masih teralih pada Hazel yang perlahan menundukkan wajah. Pasti, wanita itu kecewa dengan keputusannya.
"Ardan! Berpikirlah jernih, Erlangga benar-benar dalam masalah saat ini."
"Papa benar, Dan. Kalau kita melepaskan Firma hukum saat ini. Mau berapa banyak rahasia perusahaan yang akan bocor ditanggung di masa depan?" sahut Arfan ikut cemas.
"Jangan main-main, Ardan. Erlangga Grup bukan taruhan permainanmu!" tekan Gerald tak suka. "Dan aku! Tak bisa membiarkan masalah ini hanya berujung padamu."
"Pernahkah Erlangga Grup tanpa masalah selama ini?" tanya Ardan datar. "Selama berdiri hingga saat ini, masalah demi masalah selalu saja menghampiri. Dan pernahkah aku mempertaruhkan Erlangga Grup selama ini?" tanyanya lagi.
Ardan memandangi wajah Gerald dan Arfan bergantian.
"Apa pun yang dihadapi Erlangga, aku pasti bisa mencari jalan keluarnya."
Hazel bangkit dari duduknya, menggendong Yena seraya berkata.
"Kalau begitu aku siapkan jas Mas dulu." Gadis itu berlalu, menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
"Kali ini pun, aku pasti bisa mencari solusinya. Dan aku rasa, masalah kali ini belum separah itu."
💜💜💜
*Law Firm/ Firma hukum, biasa digunakan sebuah intansi atau perusahaan untuk segala permasalahan hukum yang datang. Dalam setiap perusahaan pasti ada kuasa hukum sebagai backing yang akan melindungi hukum-hukum perusahaan.
Dalam cerita ini Guard Law Firm adalah Firma hukum yang dipakai Erlangga Grup secara turun temurun. Jadi biasa ada anak pengacara yang mengikuti jejak ayahnya dan Ayla salah satunya.
Selama belasan tahun bekerja sama, otomatis rahasia perusahaan banyak dipegang oleh pihak hukum mereka.
Jadi tau kan, kenapa Gerald maksa banget, karena dia takut rahasia perusahaan akan bocor ke mana-mana.