
Pendar binar bundar itu memaling saat untuk kesekian kalinya pesan yang terkirim hanya menggantung di udara. Tidak mendapat balasan, bahkan pesannya saja hanya bercentang satu, tanda ponsel yang ada di seberang sana masih tidak aktif. Masih di pesawat mungkin.
Bibir mungir sedikit pucat itu memanyun, detik selanjutnya dia melemparkan ponsel di atas kasur. Disusuli tubuh mungilnya ikut berbaring di sana. Menatapi plafon kamar seakan-akan wajah kekasihnya akan muncul di sana. Dia rindu, padahal baru beberapa jam saja terpisah. Namun, raganya tak terlihat lagi oleh mata, dan itu membuat perasaannya bercampur kalut dan cemburu. Bukan tak percaya, mungkin hanya sekadar firasat saja.
Melihat gelagat putri kesayangannya membuat tarikan napas di dada tua milik Irfan Sandyka terhela. Lelaki paruh baya itu berjalan ke arah balkon, ada satu orang putranya yang masih berkutat di depan laptop.
Lelaki gagah itu menjatuhkan badan di sisi sang putra, sekilas Ikram hanya melirik, lantas kembali sibuk pada pekerjaan.
"Ikram, apa kamu tahu perusahaan Erlangga?" Awalnya Irfan tidak terlalu peduli pada apa pekerjaan calon menantu, tetapi jika melihat padatnya jadwal yang Ferdi miliki, dia jadi berpikir sekali lagi. Bagaimana jika putrinya tak diacuhkan nantinya?
"Tentu saja, Yah. Dalam dunia bisnis Erlangga adalah nama yang paling dijunjung tinggi, perusahaan raksasa yang memiliki pengaruh besar dalam pasar saham." Sekilas Ikram menatap wajah ayahnya, lemas lelaki paruh baya di sebelahnya bersandar pasrah pada bangku.
"Ada apa?" tanya Ikram akhirnya. Melihat raut wajah sang ayah pasti ada yang tidak baik-baik saja.
"Bukan apa-apa," jawab Irfan sekenanya.
"Apa ini masalah Sasy?" Tepat sasaran, pertanyaan Ikram seperti tidak membutuhkan penjelasan iya atau tidak. Karena di wajah Irfan telah tertera jawabannya.
"Apa Ayah ingin menanyakan soal Ferdi?"
Irfan hanya diam, dia ingin tau, tentu saja. Namun, di saat yang bersamaan dia juga takut untuk mendengar jawabannya.
"Dia pasti bukan orang biasa, Yah. Di usia yang semuda itu dia bisa mendapatkan kepercayaan untuk memimpin salah satu anak perusahaan Erlangga, itu adalah prestasi yang sangat diimpikan banyak karyawan muda."
"Apa menurutmu Ferdi lelaki yang baik?"
Ikram menutup laptopnya, dia mengubah posisi duduk agar berhadapan dengan ayahnya.
"Mungkin saja."
Jawaban Ikram malah makin membuat napas Irfan terhela. Jawaban yang sama sekali tidak dapat memuaskan rasa khawatirnya.
"Sebagai seorang pasangan mungkin Ferdi akan menjadi baik. Tapi dalam dunia bisnis mungkin dia adalah orang yang kejam."
"Bagaimana kamu tau?"
"Ibarat air yang tenang, Yah. Biasa semakin tenang airnya semakin tidak bisa kita duga kedalamannya, Ferdi mungkin terlihat sangat tenang, tetapi apa yang ada di dalam pikirannya, siapa yang tau?"
...***...
Apa yang dikatakan Ikram memang tidak melesat, bagaikan air yang dalam, tampak tenang di permukaan, tetapi bagaimana bahayanya? Tidak akan ada yang menduga.
Ardan memandangi wajah Ferdi yang tengah membaca pesan-pesan yang terkirim dari kekasihnya, beberapa kali bibirnya melengkung dengan indah, sehabis turun dari pesawat lelaki itu sibuk pada ponselnya.
Sampai pada tempat pertemuan dengan teman janjian Ferdi. Lelaki bermata teduh itu terus memainkan ponselnya.
Tidak ada yang tau apa yang akan pemuda itu rancang di dalam pikirannya, bahkan Ardan saja kesulitan memahami isi pikiran Ferdi jika dia sudah serius terhadap sesuatu. Ferdi terlalu tenang, dan itu semakin membuat dia menyeramkan.
Jika suatu saat nanti Ferdi berkhianat dan berada di seberang yang berlawanan, mungkin dia adalah lawan yang akan membuat Ardan kewalahan. Nasib baik, orang seperti Ferdi selalu berada di sisinya.
"Hei, Mata Empat!" panggilan itu membuat tiga lelaki yang tengah berdiri di pesisir pantai menoleh ke arah suara.
Gadis berkulit eksotis dengan rambut bergelombang sepinggang tengah berdiri seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Mengenakan pakaian renang berwarna merah, sekuntum mawar terselip di salah satu telinganya. Khas seperti gadis pantai pada film-film barat.
Secepatnya pemuda itu menjauhkan pipinya, lalu sebuah tangan terulur ke hadapan sang gadis.
"Aku orang Indonesia, seharusnya seperti ini cara kita bertanya kabar," katanya seraya mengulurkan tangan.
Gadis dengan kulit eksotis itu membuang wajah, menyilangkan tangannya di atas perut ratanya.
"Aku tidak mau. Ini pantai, Ferdi. Santai sedikitlah," sahutnya tak terima.
Pemuda berkacamata itu menarik salah satu tangan gadis berambut panjang itu. Menjabat tangan secara paksa.
Senyum berderai indah dari bibir gadis seksi itu, jajaran giginya terlihat sangat indah dengan warna putih terawat. Sangat kontras dengan warna kulitnya.
Di sudut sini ada sepasang mata yang terpesona dengan senyum gadis pantai tersebut. Kecantikkannya natural, sekilas raut wajahnya seperti orang luar. Tanpa riasan, bahkan kulit wajahnya terbilang cokelat sedikit kehitaman. Namun, senyumnya sangat menawan.
"Perkenalkan ini Ardan dan di sebelahnya Evan. CEO Erlangga Grup dan backing hukumnya."
Gadis itu berpindah menatap Ardan dan Evan bergantian, dengan tangan yang masih tersilang di depan perut, senyumnya terus merekah dengan gerakan bibir yang sesekali mengunyah, permen karet mungkin.
"Hai," kata Ardan tanpa mengulurkan tangan. Melihat gelagatnya, gadis seperti dia tak suka dengan perkenalan yang terlalu formal.
"Tampan," katanya.
Ardan hanya terkekeh mendengar itu, sementara Evan malah membatu.
"Tapi tak menggoda sepertimu." Gadis itu bermanja di hadapan Ferdi, lelaki yang digodain hanya terkekeh dan menggeleng.
"Aku sudah bilang 'kan, kalau kami ke sini ada yang ingin dibicarakan. Kalau kau belum ada waktu untuk serius, ayo kita atur ulang pertemuannya. Aku mungkin bisa menunggu, tapi Ardan, tidak!"
"Baiklah, kalau begitu ayo kita berbicara di cafe." Kaki tanpa alas gadis itu mendahului.
Tepukan tangan Ardan di bahu Evan membuat lelaki itu tersadar. Ardan menundukkan wajahnya, berbisik pelan seraya berkata.
"Pastikan kalau gerakan kita kali ini tidak akan diketahui siapapun."
Evan hanya mengangguk, "aku sudah meminta beberapa anak buahku untuk melindungi privasi tempat kita tinggal dan siapa saja yang kita temui. Tapi kita harus cepat, Ardan. Ini terlalu genting jika kita mengulurnya."
Ardan mengangguk, lantas menatap Ferdi. Yang ditatap hanya mengendikkan bahu. Dia menunjuk gadis yang tengah berjalan di pesisir seraya menghitung langkahnya.
"Semua ini tergantung moodnya dia," kata Ferdi seraya menunjuk sang gadis di sana.
Sementara, gadis itu menoleh kembali. Sedikit terheran saat melihat tiga pemuda itu masih berbisik-bisik di sana.
"Hei, Mata Empat! Ayo, katanya kalian tidak punya waktu."
Ferdi menggeleng pelan, setelah mengatakan itu sang gadis kembali melanjutkan langkahnya.
"Dan kau! Siapa namamu?" Kini pertanyaan itu terlontar dari mulut Evan.
Gadis berkulit eksotis itu kembali menoleh, dengan kibasan rambutnya yang melayang di udara. Senyumnya kembali berderai dengan tampilan jajaran giginya.
"Nola," katanya dan di sini ada sepasang mata yang tengah terpesona. Terpenjara dalam senyuman indah yang menyihir perasaannya di saat pertama kali berjumpa.