For My Family

For My Family
36



Ardan menghela napasnya, ia melirik ke arah kamar sebelum mematikan ponselnya. Ia tahu benar watak keluarganya itu, mereka pasti akan menelpon untuk membatalkan niat Ardan yang ingin membawa Hazel ke hadapan publik.


Hazel keluar dari kamar, dengan riasan tipis dan lipstik senada dengan warna dress yang ia gunakan.


Ardan memalingkan kepalanya saat mendengar hentakan heels dan lantai mendekatinya. Melihat istrinya yang berubah sangat menawan dengan long drees berwarna peach.


'Kenapa kamu harus menawan begitu? Apa aku salah membawamu ke sana hari ini? Bagaimana jika banyak lelaki yang ingin merebutmu dariku?' batin Ardan kesal sendiri.


"Apa begini cukup bagus?" tanya Hazel.


"Hazel, kenapa kamu suka sekali menyanggul rambutmu dan memamerkan lehermu? Dan itu, riasanmu, aku tidak suka," ucap Ardan ketus.


"Jadi, anda mau saya bagaimana?"


"Hapus make-upnya, jangan pakai lipstik berwarna dan jangan pakai riasan mata. Jangan sanggul rambutmu dan jangan pakai baju!"


"Hah? Maksudnya? Jadi saya harus pakai apa?" tanya Hazel bingung.


"Maksud saya jangan pakai baju itu, ganti lain!" teriak Ardan kesal.


"Memang ini kenapa lagi? Bukannya ini sudah panjang dan tidak terbuka?"


"Saya bilang ganti ya ganti saja. Kenapa banyak sekali tanya? Atau saya akan membawa istri tiruan ke sana!"


"Yasudah, bawa saja yang tiruan. Saya juga gak minat ke sana!" jawab Hazel menghentakan kakinya, ia kesal karena Ardan selalu berbicara dengan nada tinggi padanya.


"Iya, benar. Seharusnya aku bawa yang tiruan saja. Jadi aku tidak akan kesal jika dia secantik bidadari." Ardan kembali duduk dan merapikan bagian ujung lengan kemejanya.


Setelah beberapa lama, Hazel kembali turun dengan drees kembang bawah sepanjang lutut, berwarna nude, lengan setengah tiang ditambah heels berwarna perak.


Ardan kembali terdiam, menatap wajah Hazel yang berubah setiap kali ia merubah gaya rambutnya. Bahkan saat rambutnya dikepang seperti ini saja, ia masih sangat mempesona.


'Sepertinya aku memang harus membawa yang palsu saja. Sumpah Lord, aku tidak ingin berbagi kecantikannya dengan siapapun,' batin Ardan.


"Kenapa lagi?" tanya Hazel sedikit kesal.


"Apa kamu memakai make-up?"


"Iya."


"Kan sudah saya katakan! Jangan pakai make-up! Kenapa tidak menurut?" tanya Ardan kesal.


"Jadi saya harus bagaimana? Saya bahkan hanya memakai bedak dan lipgloss, apa saya harus berwajah pucat dan kucel seperti biasa?" tanya Hazel tak kalah kesal.


"Bukan begitu--"


"Ini gak boleh, itu gak boleh. Ini gak bagus, itu terlalu jelek. Sebenarnya anda mau saya pakai apa? Pakai mukenah? Pergi saja sendiri, saya tidak mau ikut!" teriak Hazel sembari membalikan badannya.


"Hazel, tunggu!" tahan Ardan.


Tak mendengarkan ucapan Ardan, Hazel terus berjalan menuju kamarnya.


"Hazel!"


"Apa?" jawab Hazel tanpa menghentikan langkahnya.


"Kembali kamu ke sini!"


"Tidak mau!"


"Saya bilang kembali!"


Hazel terus berjalan, ia mulai melepaskan heelsnya sebelum masuk ke kamar Surya.


"Hei, pihak kedua!" teriak Ardan sekali lagi.


Hazel menghentikan gerakan tangannya yang sudah melepaskan heels itu.


"Saya bilang kembali ke sini. Saya ini pihak pertama, apa kamu lupa?"


Hazel menghela napas dan kembali memakai heelsnya. Berjalan mendekati Ardan yang sedang duduk santai di sofa.


"Baiklah, begini saja tidak masalah. Ayo kita pergi!" ajak Ardan lembut.


***


Ardan menautkan jemarinya dengan jemari tangan Hazel saat berjalan memasuki gedung acara itu. Perlahan ia membalik lembaran daftar tamu, bibir tipisnya tersenyum lebar.


Dugaannya tidak salah sedikitpun, acara ini menjadi acara yang megah saat Gerald Erlangga bersedia hadir ke sini.


"Apa pak Gerald Erlangga sudah datang?" tanya Ardan lembut.


"Belum ada, Pak."


"Baiklah." Ardan menarik tangan Hazel memasuki acara megah itu.


"Ingat untuk jangan jauh-jauh dari saya. Jika kamu disapa pria, maka sebutkan namamu adalah Nyonya Erlangga, paham?" bisik Ardan di telinga Hazel.


"Baik, Pak."


"Jangan panggil saya Pak lagi, Hazel. Saya ini suami kamu!" tekan Ardan ketus.


"Jadi, panggil apa?"


"Terserah kamu, Kak, Mas atau Ardan saja juga boleh."


"Tapi saya--"


"Satu lagi, jangan saya dan anda lagi. Ucapkan aku dan kamu, kamu harus terbiasa dan jangan salah memanggil. Terutama saat di depan tamu utama hari ini."


"Saya mengerti, Pak."


Ardan berdecak kesal dan melirik tajam ke arah Hazel. Baru juga dikatakan, tetapi ia masih saja memanggilnya dengan sebutan yang sama.


"Kenapa masih panggil saya, Pak? Ha?" tanya Ardan mulai kesal.


"Oh iya, maksudnya, Kak. Eh ... Ardan, bukan, bukan, Mas saja."


Ardan menghela napas dan mengusap wajahnya kasar.


"Gunakan satu saja, kenapa malah neyebutin semuanya?" tanya Ardan semakin kesal.


Ardan melepaskan genggaman tangannya dan meraih pucuk kepala Hazel. Perlahan ia menunduk, menyamai wajah istrinya itu.


"Atau kamu panggil saya Sayang saja, bagaimana?" goda Ardan sembari memainkan kedua alis matanya.


"Hah? Gak mau!" sanggah Hazel langsung.


Hazel melepaskan pegangan tangan Ardan di atas kepalanya dan berjalan ke arah luar. Menanyakan toilet pada wanita penerima tamu yang ada di ambang pintu.


Hazel mencuci wajahnya yang terasa memanas karena genggaman tangan Ardan membuat seluruh tubuhnya berubah suhu dalam sekejap.


Entah kenapa, tetapi setelah kejadian di ruang ganti kemarin siang. Ia merasa malu setiap kali bersentuhan dengan lelaki itu.


Hazel menatapi wajahnya dari cermin toilet, perlahan bibir mungilnya melebar. Mengingat raut wajah Ardan saat memintanya memanggil sayang, entah kenapa membuat perasaannya senang.


Sebelum keluar ia melapisi bedak di wajah putihnya, menambahkan lipstik berwarna nude di atas bibir mungilnya.


"Pak Ferdi, kenapa anda di sini?" tanya Hazel saat melihat Ferdi berdiri di ujung toilet.


"Saya menunggu kamu di sini."


"Menunggu saya? Kenapa?" tanya Hazel bingung.


"Untuk membawamu kembali ke dalam."


"Apa ada masalah?"


"Tidak, tetapi Ardan lebih memilih berbagi anda dengan saya dibandingkan dengan orang asing."


Seketika wajah Hazel berubah dingin.


"Apa anda berdua bercanda?" tanyanya dingin.


Ferdi hanya tersenyum dan berjalan kembali memasuki gedung acara. Membiarkan Hazel berjalan di belakang punggungnya, sebenarnya Ferdi juga bingung, tetapi sepertinya Ardan memang sangat protectif pada wanita muda ini.


Ferdi menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Hazel duduk. Wanita itu mengedarkan pandangan, mencari suaminya di antara kerumunan manusia berjas dan bersetelan mewah yang lainnya.


Pencariannya terhenti saat melihat Ardan berdiri dengan beberapa pria, dua di antara pria itu tidak asing lagi buatnya.


"Itu pak Gerald Erlangga, Presdir perusahaan kita. Kamu pasti tidak asing dengan namanya, kan, Hazel?" tanya Ferdi saat wanita itu memandang ke arah Ardan.


"Iya, saya pernah bertemu dia sekali," jawab Hazel lembut.


"Di sebelahnya itu anak bungsu pak Gerald, namaya Arfi. Dia sekarang Direktur di salah satu anak perusahaan Ibukota. Dan yang di sebelahnya kamu tahu siapa?" tanya Ferdi kembali.


"Pak Arfan, Direktur Green Kosmetik sebelum anda, kan?" jawab Hazel langsung.


Ferdi tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Selain itu, dia adalah kembaran suamimu."


Mata Hazel melebar seketika, ia memalingkan wajahnya menatap Ferdi yang duduk di sebelahnya.


"Benarkah?" tanya Hazel tak percaya.


"Bukannya saya sudah pernah bilang sama kamu, kalau Ardan adalah anak dari pemilik perusahaan. Kenapa kamu terkejut?"


"Tapi anda tidak bilang kalau pak Ardan adalah anak dari pak Gerald Erlangga. Saya pikir dia hanya salah satu anak dari dewan Direksi, karena kalau dia adalah anak pak Gerald, kenapa dia hanya menjadi GM dan bukan Direkturnya seperti pak Arfan?"


Ferdi tersenyum dan mulai menceritakan sisi Ardan yang sebenarnya.


Berbeda dengan dua saudaranya, Ardan lebih suka dengan jabatan yang langsung bekerja pada lapangan. Mengawasi secara langsung setiap kinerja para kepala bagian tanpa harus tertahan tumpukan berkas yang menunggu tanda tangannya.


Bekerja lebih keras dari karyawan lainnya dan juga mengawasi secara langsung perkembangannya.


Jika dua saudara lainya lebih suka pada posisi Direktur dan menyerahkan apapun pada bawahannya. Ardan malah lebih suka selalu ikut ke dalam setiap masalah yang ia tangani.


Karena itu posisi yang selalu ia tempati adalah General Manager, di mana pun ia di tempatkan oleh Gerald. Walau pada kenyataannya Direktur sekalipun tetap akan berada di bawah kendali dia.


Sebagian Dewan Direksi yang bekerja sama dengan perusahaan Erlangga mengenal baik siapa Ardan. Karena selalu dialah yang paling inti bergerak saat perusahaan mulai mengalami kemunduran.


"Selain itu, Ardan juga yang paling pintar dalam mengurus perusahaan dibandingkan Arfi dan Arfan. Karena itu pak Gerald mencetuskan ia sebagai CEO selanjutnya."


"Apa?" tanya Hazel tidak percaya.


Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah Ardan dan perkumpulan lelaki-lelaki kaya itu. Tidak pernah menyangka kalau suami perjanjiannya itu seseorang yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis.


"Sekarang kamu tahu siapa suamimu, kan. Tidak akan mudah memasuki keluarga mereka, Hazel. Kamu harus tahan banting dan tahan oleh perlakuan mereka semua."


"Apa ... Pak Ardan memiliki tunangan sebelum menikahi saya, Pak?" tanya Hazel lemah.


Bagaimana juga, ia sudah benar-benar lelah jika harus menerima perlakuan yang sama seperti dulu.


"Ardan itu pria bebas, Hazel. Ia tidak ingin terikat apapun, dia hanya bolak-balik ganti pacar tapi tidak pernah bertunangan ataupun merencanakan pernikahan sebelumnya."


"Lalu ... apakah ada wanita yang sudah keluarganya pilihkan untuk dia?" tanya Hazel kembali.


"Dari yang saya dengar, katanya ada. Tetapi saya tidak tahu siapa, dan kamu jangan khawatir, Ardan itu si lisan tajam. Jika dia tidak suka, maka tidak ada yang bisa tinggal di sisinya."


Hazel menundukan pandangannya, hal yang paling ia takutkan adalah jatuh cinta lagi. Terlebih pada lelaki dengan latar belakang seperti Ardan.


Lelah sekali, rasanya ia sudah tidak mau berjuang untuk cinta lagi.