For My Family

For My Family
97



Seorang Dokter wanita tersenyum ramah ke pada dua manusia yang ada di hadapannya. Tangannya sibuk pada berkas dan juga hasil rotgen milik bocah lelaki yang ada di dekapan Ardan.


"Apa fisioterapinya masih berjalan?" tanya wanita berjas putih itu lembut.


"Berjalan, Dok. Tapi tidak terfokus pada tulang belakang lagi. Karena anak saya juga menderita kelainan sindrom, fisioterapinya lebih terfokus pada kegiatannya dan juga pembentukkan karakternya."


Dokter wanita itu menangguk, matanya mengamati foto hitam putih yang ada di genggamannya.


"Kasus skoliosis kongenital ini juga sedikit lebih rumit penangannya, anak Ibu memang sudah dioperasi, namun, dia yang masih dalam masa perkembangan harus terus diawasi. Pembengkokkan bisa lagi terjadi, untuk mengurangi risikonya, Ibu bisa pakaikan dia peyangga sementara."


Mata bulat itu tertunduk, ada sesuatu yang menembus ke dalam dadanya. Sakit dan juga sesak, napasnya terasa sangat berat.


Sebuah sentuhan lembut terasa hangat mengelus puncak kepala. Ardan tersenyum saat Hazel melihat ke arahnya.


"Kalau boleh saya tahu, Dokter Pedro ke mana? Biasa dia yang menangani putra saya."


"Dokter Pedro sedang cuti untuk urusan pribadinya. Mungkin Minggu depan dia sudah kembali ke sini."


"Oh. Lalu, apakah anak saya harus kembali dioperasi, Dok?" tanya Ardan lagi.


Seketika tangis wanita itu pecah, ia menggelengkan kepala. Memandang Ardan dengan mata iba yang dimilikinya.


"Mas, aku mohon, jangan ... jangan, Mas," lirih Hazel seraya menggelengkan kepala.


"Hazel, ini demi anak kamu. Demi masa depan dia, apa kamu gak mau dia sehat?"


"Tapi aku, Mas. Aku yang mau mati saat dia dioperasi. Aku yang gak bisa napas saat lampu di atas pintu operasi itu menyala. Itu aku, aku, Mas." Serak suara itu sedikit menekankan nada.


Deras embunan bening itu membasahi. Ada sesuatu yang ia rasakan di dalam sini. Cemas, khawatir dan segala rasa yang tak bisa dijelaskan, bila harus melihat putranya kembali terbaring di sana. Di atas meja bedah bersama pisau-pisau tajam yang siap membelah.


Menyayat luka, dan itu tidak hanya berbekas pada kulitnya Surya. Akan tetapi, dalam hati, ingatan dan juga trauma Bundanya.


"Tenang dulu, Bu. Saat ini bedah kedua belum perlu kita lakukan. Dengan pemakaian brace dan juga terapi, mudah-mudahan bisa mengembalikan bentuknya ke semula."


Cepat punggung tangan putih itu menghapus pipi. Seketika air matanya berhenti begitu saja.


"Benar bisa gak operasi lagi, Dok?"


"Bisa, Surya masih sangat kecil. Jika kurvanya tidak gawat darurat, kita masih bisa mencari alternatif lain. Operasi kedua, juga bukan satu-satunya jalan untuk bisa sembuh."


Bibir mungil itu terkembang lebar, lega. Ada beban yang terlepas begitu saja.


Ia mentoel pipi putih putranya, mendaratkan ciuman di sana berkali-kali. Tak peduli pada yang lainnya, jika Surya baik-baik saja, semua pasti akan tetap seperti itu, semestinya.


.


.


Ardan berjalan sedikit tergesa, meninggalkan Hazel di belakangnya menuju farmasi rumah sakit. Masih ada rapat yang harus dia pimpin ,sebentar lagi.


Pelan, langkah itu terhenti. Hazel menumpuhkan satu tangannya di tembok kamar saat perutnya terasa kram.


Berhenti sejenak seraya memegangi perut bawah. Wanita bermata madu itu masih mencoba meredam rasa.


Ia menggigit bibir bawah, menghela napas berkali-kali untuk mengurangi kontraksi. Sebuah aliran terasa di antara sela paha.


Wanita itu mulai menangis, terasa dengan apa yang terjadi kali ini.


"Mas," lirih wanita itu pelan. Sayang lelaki yang ia panggil telah berjalan jauh, sampai ke ujung koridor.


Perlahan kedua kaki itu melemas, terduduk di lantai dingin koridor rumah sakit.


"Maaass!" Serak suara itu bercampur tangisan, matanya terpejam ketika aliran merah itu melintasi betis tanpa lapisan tersebut.


Terisak, menempelkan kepala di tembok. Rasa cemas kembali merajai hati, bukan hanya sakit pada perutnya, tapi khawatir pada buah hati yang lainnya.


Ardan tersadar, ketika ia tak lagi menemui istrinya ada di sebelah.


Langkah tegapnya berlari, mendekati wanita yang sedang merintih di lantai dingin tersebut.


"Suster!" teriak Ardan lantang. Ia mencoba membedirikan wanita itu.


Panik, terlebih saat darah memenuhi dress yang Hazel kenakan.


"Suster!" teriknya lagi, tak tahan menunggu lagi. Ardan menurunkan Surya dari atas dekapannya, menggendong Hazel menuju ruangan pemeriksaan. Sementra, putranya masih ia tinggal di sana.


***


Di sini, beberapa kali Ferdi mencebik kesal. Ia melihat ke pergelangan kirinya, waktunya hampir tiba. Di mana GM itu berada?


Ferdi mengelurkan ponselnya, berkali-kali ia menghubungi ponsel Ardan, hasilnya nihil. Malah kini nomornya tidak lagi aktif.


"Sial! Sejak kapan lelaki itu kehilangan profesional kerjanya?" umpat Ferdi kesal.


Malah lebih kesal saat ia tanpa sengaja melihat Khadijah berada di kursinya.


Dari ruangan Ardan, gadis itu sangat jelas terlihat di mata. Hanya terhalang kaca yang begitu bening.


Sama seperti perasaannya saat ini, terlihat sangat jelas dan nyata. Akan tetapi, berseberangan tempat. Ada. pembatas yang tak terlihat.


Itu, saat perasaanmu dan perasaannya tak bertemu pada muara yang sama.


Ferdi tersenyum sinis, ia menggelengkan kepalanya pelan. Takdirnya mengapa begitu rumit. Harus mencintai dia yang tidak bisa dimiliki.


Perhatian lelaki berkacamata itu pecah saat melihat beberapa mobil terparkir di halaman kantor.


Beberapa lelaki berjas rapi turun dari mobil mewahnya.


Seketika alis lelaki itu bertaut, mendapati dua lelaki yang menjadi lawan sengit sahabatnya itu.


"Sial! Makin kacau saja. Bagaimana bisa Gerald dan Arfan di sini?" Lelaki berjas navy itu keluar dari ruangan GM, menemui Khadijah yang sedang bekerja di kursinya.


"Di mana, Nara?" tanyanya ketika tak mendapatkan gadis itu ada di kursinya.


Seketika Khadijah berdiri, matanya melirik ke arah Echa. Jujur dia juga tidak tahu ke mana gadis itu pergi. Dari pagi, gadis bertubuh langsing tersebut tidak bisa dihubungi.


"Maaf, Pak Ferdi, Nara pulang kampung. Nanti Pak Ardan yang urus surat cuti mendadak untuk dia," jawab Echa takut.


"Apa?!" teriak Ferdi kesal. "Bagaimana bisa? Nara memegang konsep penjualan kita, dia yang harus mempresentasekannya di depan para pemegang saham!" Dua gadis itu hanya tertunduk, tak berani melihat wajah Ferdi yang memadam, pasti amarahnya berkobar saat ini.


Beberapa kali bibirnya mencebik kesal, jarinya menekan benda pipih itu dengan geram. Berkali-kali, yang dihubungi juga tak menampakkan diri.


"Ardan, ayolah! Aku benci saat kau sudah mematikan ponsel seperti ini," decaknya kesal.


Lelaki itu kembali menghubungi, gerakannya terhenti ketika Presdir dan CEO sementara itu berdiri di depannya.


Bibirnya tersenyum penuh kepalsuan, Ferdi mencoba tenang, walau keringat di pelipis mata semakin mengucur deras.


"Lama tak berjumpa, Direktur Ferdi." Uluran tangan keriput itu disambut hangat oleh Ferdi.


Lalu, beralih lelaki yang lebih muda menyapanya dengan gaya seperti dulu. Mengadu antar kepalan tangan tanda keakraban.


"Nice to meet you again, My Brother."


"Hai, Arfan," sapa Ferdi kaku.


Lengan kekar itu merangkul bahu, lalu tumbukkan pelan mendarat di dada bidangnya.


"Santai, Bung. Kita ini masih teman sama seperti sebelumnya. Jika kamu dan Ardan saja masih seperti biasa, kenapa harus segan denganku, Kawan?"


Ferdi tersenyum lebar, matanya terus memandang ke arah pintu luar. Semoga malaikat maut menyeret sahabat karibnya itu untuk segera kembali. Sebelum dua malaikat maut yang lainya menyeret dia ke kematian yang sesungguhnya.


'Ardan, dasar kawan tak berguna. Bagaimana bisa kau meninggalkanku pada dua raja neraka ini?' umpat Ferdi dalam hati.