For My Family

For My Family
116



Ardan membuka dua teratas kancing kemejanya saat masuk ke dalam ruang perawatan Hazel.


Gadis itu langsung mengalihkan matanya ketika melihat sang suami datang.


"Hai Sayang," sapanya seraya mencium dahi wanita tersebut.


"Mas, kamu baru pulang?" Binar bewarna madu itu melihat jam di dinding, sudah hampir setengah sembilan malam.


"Iya. Maaf ya, agak telat karena banyak yang harus diurus dulu tadi."


Hazel meraih kedua jemari Ardan, mengenggamnya sembari menatap wajah tampan itu.


"Mas, kamu udah pilih nama buat bayi kita?" tanya Hazel manja.


"Ehm." Ardan memutar bola matanya. Bibirnya tersenyum tipis, ingin sekali melihat wajah cantik itu kesal.


"Katanya Ferdi udah nyiapin nama buat anak kita, Hazel."


"Oh, iya? Apa?" tanya Hazel semangat.


"Bagaimana kalo ... Tukinah?"


Seketika senyum di wajah itu memudar, wajah cantiknya terlihat sangat datar. Kuat Hazel menghempaskan tangan Ardan.


Ardan terbahak, lucu melihat wajah shock istrinya tersebut.


"Gak lucu!" sungut Hazel kesal.


Ardan mencoba menghentikan gelak tawanya. Ia menjatuhkan bokong di sebelah Hazel. Satu tangannya terangkat, mengacak puncak kepala gadisnya itu.


"Bercanda, Hazel. Jangan terlalu serius."


Hazel menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Membuang pandangannya ke sisi kosong. Kesal dan juga sebal.


Jari-jari kekar itu meraih helaian cokelat di sudut pelipis. Merapikan anak rambut Hazel yang sedikit berantakan.


"Aku ingin beri nama dia, Yena. Yena Erlangga. Bagaimana?" tanya Ardan serius.


Gadis itu terdiam, memikirkan nama yang Ardan berikan.


"Bisa gak Erlangganya gak usah di pakai, Mas?"


"Eh, kenapa?" tanya Ardan.


Gadis itu melirik ke arah Ardan, lalu jari-jari itu terlihat memilin ujung selimutnya.


"Kenapa?" tanya Ardan lagi.


"Mas, kamu sebenarnya anggap Surya itu siapa?" Bukannya menjawab, ia malah kembali bertanya.


"Maksudnya?" tanya Ardan bingung.


"Mas sebenarnya anggap Surya itu siapa? Anak aku atau anak kita?"


"Tentu saja anak kita."


"Surya tanpa Erlangga, Mas. Bagaimana perasaannya nanti ketika dia besar dan dia tau nama Erlangga itu adalah jati diri sebuah keluarga?"


Ardan mendesah panjang, bibir tipis itu tertarik. Pelan tangannya menarik kepala Hazel. Mengecup kedua belah pipi chubbby itu lembut.


"Hei, dengar. Kalo memang hanya itu masalahnya, aku bisa memberikan namaku pada Surya."


"Tapi dia bukan darah keturunan Erlangga."


"Aku tak peduli. Asalkan dia bagian dari dirimu, jangankan hanya nama Erlangga, Hazel, apa pun itu, termasuk hidupku siap aku berikan untuknya, agar kamu bisa terus bahagia."


Hazel tersenyum, kedua tangannya tertangkup di pipi lelaki beralis tebal itu.


"Tapi aku gak ingin mengubah status Surya, Mas."


"Jadi, kamu mau bagaimana, hem?" tanya Ardan mengalah.


Hazel memutar bola matanya. "Bagaimana jika nama belakang putri kita tidak usah dikasih nama Erlangga?" tanya Hazel.


Ardan mengangguk, kedua tangannya menarik pinggang Hazel agar lebih dekat.


"As you wish, Baby."


"Nergissah, atau Mihrimah juga bagus, Mas suka yang mana?" tanya Hazel polos.


"Menurutmu bagus yang mana?" tanya Ardan lagi.


Gadis itu memainkan bibirnya, mencoba menimbang nama.


"Yena artinya keinginan, bagaimana jika Yena Mihrimah. Mihrimah gabungan antara matahari dan bulan. Selain menjadi keinginanmu dan juga aku. Lebih bagus jika Yena bisa menjadi sinar yang terus menerangi keluarga kita, tak peduli siang atau malam."


Ardan tersenyum dan mengangguk, mengecup bibir mungil itu sekilas.


"Setau aku, Mihrimah itu anaknya Sultan Ottoman, bukan?"


Hazel mengangguk. "Benar. Nergissah cucunya Sultan Sulaiman."


"Benarkah? Apa anak-anakku nanti akan terus membawa asal-usul keTurkiannya?" goda Ardan.


"Tentu saja. Memang kenapa? Kamu gak suka?" tanya Hazel ketus.


Ardan tersenyum, tangannya mengacak rambut kusut itu geram.


"Tentu saja suka. Jika bukan karena darahnya, mana mungkin anakku bisa berwajah Timur Tengah seperti itu."


Hazel bergeming, sejenak ia terdiam. Memandagi wajah Ardan lekat. Perlahan ia memalingkan wajah dengan satu air yang lolos begitu saja.


"Hei, kamu kenapa, Sayang?" tanya Ardan bingung.


Hazel menggeleng, cepat ia menghapus sisa air matanya.


"Kenapa?" tanya Ardan lagi.


Terisak, lalu tangisannya menjadi dalam.


"Ada apa? Ada yang sakit?" tanya Ardan cemas.


Kepala itu menggeleng, beberapa saat Ardan membiarkan gadis itu terus masuk dalam tangisannya.


Setelah lebih tenang, Hazel mengangkat kepalanya. Bulat mata itu menatap wajah Ardan.


"Ada apa, Sayang? Kenapa menangis?" tanya Ardan lagi. Tangannya mulai sibuk menyeka wajah istrinya tersebut.


"Hanya kangen ayah, bunda, dan juga adik-adiku, Mas."


Ardan menarik napasnya dalam, tangannya kembali menarik kepala gadis itu dan membenamkannya di dada.


"Maaf, ya. Bahkan setelah menikah pun, aku tak bisa memberikan hangatnya sentuhan Ibu dan juga keluarga yang baik-baik saja. Malah, adikku membuat kamu berada di sini?"


Hazel menggelengkan kepalanya, ia menarik diri dari dalam dekapan Ardan.


"Bicara soal adik. Arfi ke mana ya, Mas? Dia gak pernah ke sini?" tanya Hazel bingung.


"Iya. Di rumah juga gak pernah jumpa. Ke mana anak itu?"


"Apa dia sudah pulang ke ibu kota?"


"Belum. Mobilnya masih ada di garasi rumah."


"Ke mana dia?"


***


Lelaki berbalut jaket Lee itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tatapan di balik kacamata hitam itu terus mengikuti gerakan gadis berhijab yang tengah memilih buah.


Bohong. Setelah kejadian itu dia terus mengikuti keseharian Khadijah. Tetapi gadis itu tak pernah pulang dengan lelaki atau pun menerima tamu di kontrakannya.


Dan baru ia sadari kalau gadis itu bekerja di perusahaan sang Kakak. Pantas saja dia tidak terkejut saat bertemu kembali.


Pasti gadis itu sudah melihat dia di perusahaan ketika menjemput Ardan kala itu.


Arfi menarik napasnya, perlahan langkahnya mendekati gadis berbaju gamis tersebut.


Jemarinya mengenggam tangan Khadijah yang akan mengambil buah apel di jajaran buah.


Kepala berbalut hijab itu menoleh, ia menghempaskan tangan Arfi kasar.


"Jaga sikapmu, Arfi!" ketusnya kesal.


"Ikut aku!" tarik Arfi pada pergelengan tangannya.


"Ke mana?" tanya Khadijah tak suka.


Tak menjawab pertanyaan gadis itu, Arfi mencengkeram tangan itu kuat. Menariknya ke arah Mclaren hitam yang terpakir di tepi jalan.


"Arfi, lepas!" teriak Khadijah berusaha berontak.


Tak peduli pada teriakan gadis itu, Arfi langsung membuka pintu mobilnya ketika berada di depan pintu mobil.


"Masuk!" perintahnya lembut.


"Enggak!" sanggah Khadijah.


Arfi mendorong badan Khadijah ke dalam mobil, menekan pucuk kepala itu sebelum masuk ke dalam. Langkah besar itu berpindah ke sisi satu lagi.


"Arfi, kita mau ke mana?" tanya Khadijah yang bersuha membuka pintu mobil. Sayang lelaki itu telah menguncinya lebih dulu.


"Pulang," jawab Arfi lembut.


"Maksudnya?" tanya gadis itu semakin tak mengerti.


"Ke ibu kota. Dan akan kunikahi kau saat ini juga."


"Apa?"


🌹🌹🌹🌹


Malam gaes ....


Kesempatan kali ini author mau menyapa kalian semua yang selalu setia baca kisah ini.


Makasih sebelumnya udah mau bagi waktu untuk baca kisah ini dan selalu menunggu kelanjutannya.


Di sini author mau ngucapin kata maaf karena belakangan ini update kisah ini mulai jarang.


Karena ada beberapa naskah yang harus dikerjakan sekaligus, alhasil Ardan jadi renggang updatenya.


Sorry gaes ... author kece lagi sok sibuk.


Duileh ... sok sibuk 😂😂😂


Sebenarnya kisah ini mau author endingin, dan taulah kalau sebelum ending itu author suka buat masalah atau konflik itu sampai klimaks.


Tapi kayaknya gak bisa, sebagian readers gak nahan dengan gregetnya konflik ini. Belum sampai puncak udah banyak yang gak tahan. Alhasil author ulur lagi biar konfliknya gak terus kusut.


Takut yang baca kejang-kejang, terus banting hape sangking keselnya. 😂😂😂😂


Buat yang penasaran kesibukan author kece di naskah baru, kuy bisa kepoin akun fb author kece badai pasti berlalu ini dengan nama april pearl.


Bakalan ada cerbung-cerbung update-an dari grup literasi di sana.


Sekian dan terima gajih.


See you buy ... buy, gaes.


Aku cinta kalian semua. 😚😚😚