For My Family

For My Family
32



Ardan menarik handuk kecil yang sedari pagi tadi terkalung di lehernya. Menghapus peluh keringat yang membanjiri dahinya sehabis lari mengelilingi taman komplek.


Ardan membuka lemari es, menuang segelas air dan meneguknya habis.


"Tuan, ayo sarapan. Setelah itu baru anda mandi," ajak mbok Darmi saat melihat Ardan berdiri di depan pantry.


Ardan menggelengkan kepalanya, ia menarik kursi sekadar menenangkan debaran jantungnya.


"Makan saja bersama Hazel dan anaknya. Saya habis lari, saya akan makan di kantor nanti." Ardan bangkit dan membawa sebotol air di tangannya.


"Tapi, Tuan--"


Ardan berbalik dengan tiba-tiba dan melihat mbok Darmi di dapurnya.


"Satu lagi, jangan panggil saya Tuan, karena ibu Darmi bukan pembantu saya." Ardan berlari menaiki anak tangga rumahnya. Meninggalkan mbok Darmi yang masih bertanya-tanya.


"Jadi mbok harus manggil apa? Kan dia juga bukan anak si mbok?" gumam mbok Darmi bingung sendiri.


.


"Mbok," panggil Hazel sembari berlari menuruni tangga.


"Iya."


"Surya sudah sarapan. Aku berangkat kerja ya," pamit Hazel sembari mencium tangan mbok Darmi.


"Eh ... tunggu dulu. Kamu gak sarapan?" tanya mbok Darmi menahan tangan Hazel.


Hazel menggelengkan kepalanya, terdengar suara helaan napas dari bibir keriput wanita gempal itu.


Ia mengambil kotak bekal berwarna hijau muda yang terletak di atas pantry.


"Ini, makanlah saat kamu sudah tidak sibuk kerja ya."


Hazel menarik kotak bekal itu dan menganggukan kepalanya cepat.


"Makasih ya, Mbok."


"Oh ya, si Mbok lupa."


"Lupa apa?" tanya Hazel bingung.


"Bawa satu lagi untuk suamimu, nanti makanlah bersama dia."


"Eh ... gak usah, Mbok." Tahan Hazel cepat.


"Loh kenapa?"


"Pak Ardan, em, Mbok bisa kasih sendiri nanti padanya."


"Loh kenapa begitu. Kamu bawakan saja, kamu kan satu kantor dengannya."


"Mbok juga ketemu dia, kan. Jadi berikan saja langsung padanya."


Mbok Darmi menghela napasnya, memandang wajah Hazel dengan sendu.


"Hazel, kamu itu istrinya. Haruskah kamu secuek ini padanya?"


"Bukan begitu, Mbok. Hanya saja ... pak Ardan itu adalah atasan aku. Banyak karyawati yang ingin mencari perhatiannya. Jika ada yang melihat aku membawakan bekal untuknya. Pasti akan banyak yang tidak suka," jawab Hazel lembut.


Hazel tersenyum dan mengelus punggung tangan mbok Darmi lembut.


"Akan banyak yang iri padaku, Mbok. Pada akhirnya, mereka akan menyulitkan pekerjaanku saja."


Hazel melirik jam di tangannya, ia tersenyum sembari mencium kembali tangan gempal wanita itu.


"Saudah siang, aku berangkat dulu ya, Mbok. Assalamualaikum," pamit Hazel berlari keluar dari rumah besar itu.


Ardan menghela napasnya dan menggeleng pelan.


"Jadi, memang itu semua karena aku ya?" lirihnya saat melihat Hazel keluar dari rumah.


***


"Hai," sapa Hazel pelan.


Echa dan Nara memalingkan pandangannya, segurat senyum tersimpul di wajah dua gadis itu.


"Mbak Hazel, ya ampun kangennya," ucap mereka berdua memeluk badan Hazel.


"Bagaimana kabar anak, Mbak. Apa saat ini baik-baik saja?"


Hazel menganggukan kepalanya, tersenyum lembut kepada dua gadis itu.


"Perhatian semua! Tolong ikut saya ke ruang diskusi," perintah Derik.


Hazel melihat Echa dan Nara bergantian.


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Hazel bingung.


"Gak tahu juga, Mbak. Ayo ke sana!"


Hazel menganggukan kepalanya, mengikuti arahan dari manager divisinya itu.


Beberapa kali Derik memberi beberapa penjelasan. Sampai pada akhirnya, ia meminta beberapa nama model untuk menjadi brand ambassador kosmetik perusahaan mereka.


"Pak Ardan mengubah konsep majalah yang kita buat bulan lalu. Ia meminta agar memasukan sebuah wajah model yang bisa menaikan nama brand produk kita. Jadi, saya minta kalian memberikan satu nama model di kota kita."


Seketika ruang rapat menjadi ricuh, bisikan para karyawan satu dan lainnya terdengar.


"Mbak, kenapa gak mbak saja yang jadi modelnya? Untuk ukuran wajah, Mbak sangat sempurna," goda Echa.


"Iya, tinggal poles dikit. Langsung klop, cantik luar biasa," sambung Nara mengompori.


"Jangan bercanda," balas Hazel malas. Ia mulai mencari beberapa nama model di dalam gawainya.


"Pak," panggil Kevin mengangkat tangannya.


"Iya, Kevin."


"Kenapa kita harus susah-susah cari model luar kalau karyawati bagian promosi saja wajahnya gak kalah cantik. Contohnya, Ibel. Ya gak, Bel?" tanya Kevin menggoda.


Ibel tersenyum lembut, menyingkap rambutnya ke balik telinga.


"Jangan bercanda kamu, kita menyewa model karena mereka punya fans dan punya nama untuk menaikan produk kita. Bukan hanya wajah," jawab Derik tegas.


"Tapi mereka juga berawal dari orang biasa yang bukan apa-apa. Kita bisa saja menyewa model untuk satu sesi musim majalah. Lalu menyewa lagi dan lagi. Kenapa kita tidak memakai apa yang ada di kantor kita sendiri, selain juga cantik, mereka ekslusif hanya menjadi brand ambassador kita," balas Kevin tak mau kalah.


"Iya, benar itu, Pak. Banyak cewek cantik di bagian promosi kita. Mereka juga terjun ke lapangan untuk berjualan. Sebagian masyarakat pasti mengenal mereka juga dan pasti, mereka akan lebih percaya dengan produk kita saat mereka melihat kita menggunakan karyawan sebagai model," timpal Bayu


Sejenak Derik terdiam, tidak buruk juga menggunakan karyawan sendiri sebagai model. Terlebih lagi, ini akan lebih praktis dalam beberapa hal.


"Tetapi siapa yang cocok jadi model produk kita?" tanya Derik kembali.


"Siapa lagi?" Kevin dan beberapa karyawan lelaki di sana saling tersenyum memainkan kedua alis matanya.


Issabel merapikan rambutnya, salah tingkah saat beberapa karyawan memandangi dirinya.


"Tentu saja, Hazel."


Sesaat senyum Issabel memudar, memandangi wanita yang duduk berhadapan denganya itu kesal.


"Jangan bercanda kalian semua. Aku tidak suka," jawab Hazel dingin.


"Hah, sudahlah. Hazel, siapa menurut kamu yang pantas untuk menjadi model perusahaan kita?" tanya Derik kembali.


"Ini pak, saya sudah melihat resume milik Rena Marlia. Saya rasa dia cocok untuk menjadi model kita. Selain wajahnya yang terlihat sangat natural, dia juga sedang tidak memiliki kontrak saat ini."


"Hem, bagus. Kamu memang sangat cekatan, Hazel. Yang lain, kirimkan resume model pilihan kalian. Saya harus memberikannya pada pak Ardan siang ini."


"Siap, Pak!" jawab mereka serentak.


.


Ardan melihat beberapa foto wanita muda yang ada di layar laptopnya. Perlahan ia menumpuhkan dagu di atas telapak tangan. Pandangannya teralih melihat wajah istrinya dari balik kaca ruangan GM.


"Bahkan istriku lebih cantik dari pada model-model ini." Ardan menghela napas dan menekan telepon di samping laptopnya.


"Nana, kumpulkan para kepala bagian dan Direktur di ruang rapat. Saya akan mengadakan rapat sebelum makan siang," ucap Ardan saat telepon tersambung di bagian sekrestaris Direktur.


Ardan menutup laptopnya dan langsung berjalan ke ruang rapat. Seperti biasa, ia bahkan tidak menunggu jawaban dari sekretaris Direktur itu.


Setelah beberapa waktu menunggu, para kepala bagian sudah datang memenuhi ruangan.


Tanpa menunggu waktu lagi, Ardan menjelaskan beberap poin untuk perubahan rencana pemasaran mereka.


"Ini ada beberapa nama dari model remaja. Kita akan memakai salah satu dari mereka untuk menjadi brand ambassadir produk kita."


"Tapi, Ardan. Anggaran tahunan kita tidak cukup untuk menyewa model. Perusahaan kita tidak sebaik itu juga. Setiap tahun kita selalu menutupi biaya anggaran tahun lalu dengan tahun selanjutnya," ucap Ferdi tegas.


"Untuk itu, kita perlu menyewa model untuk menaikan pasaran. Aku yakin dengan kita memakai brand ambassador, penjualan kita bisa lebih baik dari sebelumnya."


"Tapi ini tidak bisa, kita tidak tahu seberapa aktif costumer akan menerima produk saat kita memiliki brand ambassador. Jika kita gagal, maka hutang perusahaan ini akan semakin meningkat. Pikirkan, kita tidak bisa melakukan cara ekstrem dulu, kita masih harus bertahan. Berjalan sedikit demi sedikit."


"Berjalan sedikit demi sedikit? Apa kita akan mendaki bukit? Jika kita membuat majalah yang sama setiap edisinya, buat apa diperbarui? Kita hanya menumpuk produk di setiap


lembarannya. Bahkan mereka meletakan foto model lelaki berbadan six pack untuk parfume pria. Kita apa?" tanya Ardan malas.


"Em, begini Pak," ucap Derik mencela.


"Kenapa?"


"Sebenarnya karyawan lelaki dari devisi kami mengatakan bahwa karyawan wanita divisi kami juga gak kalah cantik dari model. Mereka juga terbiasa berkomunikasi langsung dengan customer. Jadi sedikit banyaknya, wajah mereka sudah tidak asing lagi."


"Saya rasa ini tidak buruk," timpal Ferdi lembut.


"Kita bisa memakai wajah cantik bagian promosi sebagai rencana awal. Setidaknya ini meminimalisir pengeluaran. Kita bisa memberikan bonus tambahan untuk mereka," sambung Ferdi kembali.


Ferdi menatap ke arah Derik dan tersenyum lembut.


"Pak Derik, katakan. Siapa di divisi anda yang terpilih menjadi modelnya?" tanya Ferdi lembut.


"Itu, karyawati yang sering menjual produk terbanyak perusahaan kita. Hazel, Pak."


"Apa? Tidak bisa!" sanggah Ardan langsung.


Seketika suasana di ruangan menjadi hening. Seluruh mata menatap Ardan, heran. Lelaki yang biasa tenang itu, mengapa tiba-tiba berteriak?


Menyadari tatapan mata para peserta, Ardan mengelus tengkuk lehernya dan duduk ke kursinya kembali.


Ferdi menepuk bahu Ardan lembut, mendekatkan bibirnya ke telinga Ardan.


"Jangan terlalu mencolok, Ardan. Mereka semua terkejut dengan sikapmu," ledek Ferdi.


Ardan menatap sinis Ferdi yang ada di sebelahnya. Menghempaskan tangan Ferdi yang merangkul tangannya.


"Menjauhlah, jangan dekati aku!"


'Sial! Bagaimana bisa mereka mau memajang foto istriku di sana? Aku akan mencongkel setiap mata pria yang memandang istriku lebih dari dua detik. Lihat saja!' rutuk Ardan geran sendiri.


***


Ardan menghela napas saat melihat nama yang tertera di ponsel miliknya. Dengan malas ia menggeser tombol hijau itu.


"Kenapa?" tanya Ardan malas.


"Hai My Twins? Kenapa judes sekali? Aku dengar, perusahaanmu sedang mencari model ya?" tanya Arfan dari seberang sana.


"Ternyata ada mata-mata diperusahaan ini ya?" tanya Ardan sembari memandang Ferdi yang duduk di depannya.


Ferdi mengangkat kedua tangannya, berusaha menjelaskan keadaannya yang sama sekali tidak ikut campur dengan masalah dua saudara kembar itu.


"Jangan lupa, dulu aku adalah Direktur di sana. Sebagian mereka masih menganggap aku atasan mereka."


"Ya, dan kamu menyerahkannya padaku saat perusahaan ini hampir bangkrut dan kolaps di tanganmu," balas Ardan sengit.


Arfan memecahkan gelak tawanya, selain Ardan siapa yang bisa mengatasi masalah ini.


"Tenanglah, masalahnya juga tidak seburuk itu, Kakakku sayang."


"Jangan basa-basi, aku muak berbicara padamu," jawab Ardan sengit.


"Ha ha ha, tenanglah. Aku tahu bagaimana keuangan di sana, karena itu aku ingin sedikit membantu Kakakku ini."


Ardan memutar bola matanya malas, mematikan panggilan itu sesegera mungkin.


Tak lama berselang, ponselnya kembali berdering.


"Kenapa lagi?" tanya Ardan jutek.


"Astaga! Kenapa jutek sekali? Datang bulan ya?"


Ardan kembali mematikan ponselnya, kali ini ia membuat ponselnya dalam keadaan mode pesawat.


Ferdi yang melihat ulah Ardan hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepala.


"Kamu masih sekejam biasanya, Ardan."


"Tutup mulutmu!" ancam Ardan ketus.


Tak lama, ponsel Ferdi ikut berdering keras. Ferdi melihat namanya, ia menunjukan pada Ardan yang duduk di depannya.


"Angkatlah, apa urusannya denganku?"


Ferdi menggeser tombol hijau di layarnya, menloudspeaker panggilan itu.


"Baiklah, aku tidak akan nermain-main lagi. Aku mengirim seorang model ke sana. Ardan, kumohon perlakukan modelmu dengan baik." Arfan langsung mematikan panggilannya setelah mengatakan itu.


Suara ketukan terdengar dari balik pintu ruangan Direktur itu.


"Masuk!" perintah Ferdi tegas.


Seorang wanita masuk dengan dress berwarna merah yang membentuk lekuk badannya. Tinggi dan juga putih, dengan tampilan wajah dewasanya yang tertutup kacamata hitam itu, namun masih terlihat begitu cantik. Terlebih saat ia tersenyum.


Perlahan wanita itu menyingkap kacamatanya ke atas kepala. Memperlihatkan wajah cantiknya tanpa terhalang benda.


"Selamat siang pak Ferdi, pak Ardan," sapanya lembut.


"Hah ... dia lagi," jawab Ardan malas sembari memutar kursinya membelakangi wanita itu.