For My Family

For My Family
65



Hazel berlari keluar dari kamar Arsy, sedikit tergesa mengejar langkah Ardan yang meninggalkannya sendiri. Wanita itu mengedarkan pandangan, melihat ke sekeliling sudut. Mencari keberadaan suaminya.


Ia menapaki anak tangga dengan berlari, mengejar Ardan yang ingin keluar dari pintu utama.


Kedua kakinya tersandung saat berlari di ujung tangga. Dua buah tangan menangkap badan mungil itu sebelum ia sempat tersungkur.


"Hati-hati."


Hazel melepaskan dekapan tangan lelaki itu dan merapikan juntaian rambutnya.


"Terima kasih."


Lelaki itu tersenyum, pandangannya teralih pada lekuk badan Hazel.


"Apa kamu hamil?" tanyanya terus terang.


"Hem."


"Berapa minggu?"


"Hem." Hazel menggaruk kulit kepalanya dengan satu jari. "12 minggu, mungkin."


Arfi tersenyum dan mengacak puncak kepala Hazel. Ia menggeleng dan menapaki anak tangga menuju lantai atas.


Sedang, Hazel hanya mengendikan bahunya, ia kembali berlari mengejar langkah Ardan yang lebih dulu hilang di balik pintu.


"Mas!" teriak Hazel mengelilingi pelataran rumah Gerald.


"Nona nyari siapa?" Seorang lelaki berkaus lusuh datang mendekati Hazel.


"Ardan, Bapak lihat Mas Ardan?"


"Oh, Mas Ardan di taman bunga persik."


Hazel mengangguk, ia langsung berlari kearah hamparan luas taman bunga itu.


Sepanjang jalan, tanah di taman itu tertutupi hijau rumput peking, bersih, luas dan hijau. Beberapa tempat bahkan dipenuhi kelopak bunga persik dan sakura yang berguguran. Menambah kesan indah di tengah hamparan hijau.


Benar-benar indah, akan tetapi, keindahannya terlihat suram dengan tragedi yang membawa tuannya menghilang.


Hazel menarik napas lega saat melihat Ardan duduk setengah tidur, menyandarkan bahu di batang pohon persik. Melipat satu tangannya untuk dijadikan bantal, dan melipat satu kakinya di atas rumput.


Matanya terpejam, dengan sebatang rokok di sela jari tangan. Mensesap nikotin itu dengan mengembuskan asapnya ke atas.


Perlahan langkah kecil wanita itu mendekati Ardan, duduk di dekat kaki Ardan. Menyandarkan punggungnya di lipatan kaki suaminya itu.


Mata tajam lelaki itu terbuka, melihat wajah cantik yang dihiasi senyuman indah dari wanita yang dicintainya.


"Mas."


"Hmm."


"Ada anak kita di sini." Hazel mengelus perutnya lembut. "Bisa jangan racuni dia dulu sebelum dia lahir?"


Ardan tersenyum lembut, jarinya menghempaskan batangan itu ke dalam kolam taman.


Tangan lelaki itu menarik lengan Hazel lembut, memindahkan wanita itu ke dalam dekapannya.


"Hazel."


"Hem."


"Aku ini Kakak yang sangat buruk, seandainya aku menerima perjodohan itu. Pasti Arsy tidak akan pergi, jika dia tidak pergi, pasti Ferla tidak mabuk dan hamil anak Arfan. Seandainya aku tidak terlalu angkuh dan egois, mereka tidak akan menangung semuanya, kan."


"Seandainya semua seperti yang kamu katakan, Mas. Lalu aku ini akan menjadi siapa?" tanya Hazel mengalihkan tatapannya ke arah Ardan.


"Entahlah, aku merasa berdosa pada mereka semua, Hazel. Aku sempat berpikir, mungkin Arsy menanggung karma buruk atas perbuatanku dulu."


"Hem, maksudnya?"


Ardan menghela napas dalam, memandangi sinar matahari yang masuk di sela-sela ranting berhiaskan bunga itu.


"Ada luka yang tegoreh dalam karena kepergian Arsy. Dia tidak mengatakan, dia memang menyembunyikan, tetapi hatinya tidak pernah tersembuhkan. Aku melihat dia hancur perlahan, sakit." Ardan menyentuh dada di bagian kirinya.


"Ada yang teremas di sini, nyeri, sangat sesak, aku bingung menjelaskannya. Mata itu, binar yang tersembunyi di balik lensa kaca. Aku sampai sekarang tidak sanggup memandangnya terlalu lama. Aku bersalah padanya, Hazel. Seandainya aku bisa lebih kuat dan tidak banyak bermain, mungkin Ferdi dan Arsy sudah menikah saat ini."


Hazel mengambil tangan Ardan yang meremat sisi kemeja di dadanya. Mengenggam jemari itu erat.


"Seandainya aku tidak kalah pada kekuasaan Papa. Aku tidak larut dan menikmatinya, mungkin Ferla dan Arfan bisa menikah tanpa kesalahan. Andai--"


Ucapan Ardan terhenti saat wanita itu mendaratkan bibirnya di atas bibir Ardan. Mata berwarna madu itu menatap binar mata Ardan dengan lekat.


Jarak yang sangat dekat, mampu membuat Hazel melihat luka di mata suaminya itu.


Perlahan tangan Ardan meraih pinggang Hazel, mencium bibir mungil itu dengan lembut.


"Aku tidak mau mendengarkannya lagi, Mas. Seandainya ini dan seandainya itu. Apa kamu menyesal menikahiku saat ini?"


"Bukan itu maksudku, Hazel."


"Lalu?"


"Hanya saja, jika dulu aku sekuat saat ini. Mungkin aku bisa melindungi Erlangga dari kehancuran."


"Maksudnya?"


"Dulu aku tidak peduli pada kesusahan Papa. Aku suka bermain dan hanya menjadi beban Papa. Jika bukan karena ingin melindungi perusahaan dari kebangkrutan, Papa tidak akan menjodohkan Arsy dan Beni atau siapalah nama baj*ngan itu. Setelah Arsy pergi, aku baru menyadarinya, aku berusaha untuk menjadi kuat dan menjadi anak andalan Papa. Tujuh tahun, perusahaan Erlangga selalu berada dalam kendaliku, apapun masalahnya, aku akan memaksakan diri untuk menyelesaikannya."


Ardan menarik napasnya, memejamkan matanya yang semakin terasa perih. Bahkan tegukan salivanya jelas terlihat berat.


"Sampai detik ini, yang aku rasakan hanya kesusahan dan penyesalan yang semakin dalam. Karena yang ingin aku lindungi sudah tidak ada lagi. Yang hancur sudah tidak bisa utuh kembali. Ada hati-hati yang patah karena ulahku, dan ada jiwa yang merana karena sebuah perpisahan. Aku gak sanggup menanggungnya lagi, Hazel."


Ardan membuka kedua matanya, satu air melintasi matanya, jatuh ke atas rumput yang lebih dulu disambut kelopak bunga, gugur bersama luka hati yang tidak pernah terobati.


"Mas."


"Hmm."


"Dulu ada yang bilang sama aku."


"Bilang apa?"


"Apakah kamu pikir Allah akan memberikan cobaan yang bisa menghancurkanmu perlahan? Apa yang Dia berikan adalah sesuatu yang bisa menguatkanmu. Tujuannya adalah agar kamu bisa lebih mendekat kepada-Nya. Memohon dan meminta pada-Nya. Tidak peduli seberat apapun bebannya, jika kamu memikulnya dengan bantuan Dia. Percayalah, semua akan terasa ringan dengan sendirinya."


Ardan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu sedang mengejekku?"


Hazel memanyunkan bibirnya, menggelengkan kepala pelan.


"Bukan, hanya saja setelah mendengar ucapanmu dulu. Aku jadi sadar sesuatu, Mas."


"Apa?"


Hazel menghela napas, ia menjatuhkan kepala di atas dada berbalut kemeja hitam suaminya itu.


"Sama sepertimu, dulu aku juga suka berandai-andai, Mas. Seandai ayah masih di sini, seandainya mas Iqbal tidak pergi. Seandainya aku masih mahasiswi, seandainya dan terus seandainya." Jari lentik itu bermain di atas dada Ardan, sesekali bibirnya memanyun dengan napas yang terus terhela berat.


"Sampai saat itu aku sadar. Apa yang Mas bilang memang benar. Allah tidak memberikan ujian untuk menghancurkan. Jika mengingat aku yang dulu dan aku yang saat ini, bahkan aku tidak percaya bisa sekuat saat ini." Hazel mendonggakkan kepalanya, tersenyum lebar dengan jajaran gigi kecil yang ia perlihatkan.


"Saat Surya ditolak sama mama Luna, saat dunia mengecam aku ini wanita murahan. Saat semua yang aku punya telah terampas dari genggaman. Semua itu membuat aku sadar, bahwa Allah ingin aku kuat, Allah ingin aku mendekat. Agar aku bisa meminta dan mengeluh pada-Nya. Nyatanya, tanpa aku meminta Dia tahu apa yang aku butuhkan."


"Apa?" tanya Ardan mengernyitkan dahinya.


Bibir tipis itu mengembang, kembali memperlihatkan barisan putih kecil giginya.


"Kamu."