For My Family

For My Family
259



Beberapa kali Ardan melirik jam di pergelangan tangannya, sedikit kesal ia menjatuhkan badan di kursi stainlees bandara.


"Sabar, Dan. Mungkin Ferdi terkena macet."


"Masalahnya penerbangan tidak bisa sabar, Van."


Evan terkekeh, kadang lucu saat melihat sisi Ardan yang seperti ini. Yang mereka kenal lelaki keturunan kolongmerat itu selalu tenang saat dalam keadaan apapun. Mungkin benar, saat ada banyak hal yang ingin kita lindungi, maka beban yang mengimpit dapat melahap kepercayaan diri.


Sementara, di depan bandara Ferdi berlari sekuat tenaganya. Mencoba memepet waktu penerbangan yang hanya tinggal beberapa menit lagi.


Bibirnya memaki kesal saat tubuh itu harus terhalang beberapa pengguna bandara yang lain.


Sampai siaran penerbangan mulai terdengar, lelaki berkacamata itu mulai kelimpungan. Berulang kali handphonenya berdering, tetapi tak dia acuhkan.


"Maaf, Dan," katanya lirih setelah sampai di depan pembatas pemeriksaan.


Ardan melirik tajam, menghela napas yang sedikit berat.


Tanpa mempedulikan lelaki berkacamata itu Ardan langsung melengos ke arah pemeriksaan. Sementara Evan terkekeh seraya merangkul bahu Ferdi.


"Sepertinya dia sedang datang bulan."


Mereka berdua terkekeh, Ferdi mencoba mengatur napasnya, lalu ikut mengintili langkah Ardan yang sudah berjalan lebih dulu.


"Kacau sekali kau! Bagaimana jika aku harus terbang tanpamu?" Kini amarah itu sudah tak mampu dia tahan.


Ferdi masih terdiam, dia masih mengatur napasnya yang ngos-ngosan.


"Ya sudahlah! Yang penting 'kan Ferdi sudah sampai," sahut Evan merangkul bahu Ardan.


Ardan masih kesal, dia tatap Ferdi sekali lagi dengan sinis. Kesal, jantungnya hampir berhenti berdebar saat jam-jam terakhir tadi. Yang membuat dia khawatir adalah perkataan Gerald yang melepaskannya.


"Jangan sampai gagal! Jangan!"


Ardan menghela napasnya saat ucapan itu kembali terdengar, dia menggelengkan kepala seraya membuka jas sebelum duduk di kursi penumpang.


Entah kenapa? Ada perasaan senang sekaligus beban yang bertambah seiring dengan pengucapan yang Gerald lontarkan.


...***...


Arfi terus memandangi wajah Nigar dengan lekat saat gadis itu tengah melakukan pemeriksaan USG. Bibir ranumnya tak henti-hentinya merekah dengan sempurna. Sesekali matanya melirik ke arah Arfi dengan raut yang begitu bahagia.


Seulas senyum terbentuk di bibir sang suami, dia raih tangan berhiaskan hena itu saat ingin turun dari ranjang.


"Selamat, ya. Umur janinnya sudah 4 minggu."


Tegap tangan lelaki itu menarik kepala Nigar, mendaratkan sebuah kecupan di sana.


"Terima kasih, Sayang."


Nigar hanya mengangguk, pandangannya terus tertuju ke arah perut. Mengelus pelan perut rata itu dengan segala harapan yang dia langitkan.


*


Berulang kali mata tajam itu menatap ke arah apotek, sesekali tangannya mengusap wajah kasar.


"Arfi, kamu yakin?" tanya Nigar yang tak tega menatap wajah lelakinya.


Sehabis melakukan pemeriksaan, Arfi ingin membeli test pack sekali lagi. Dia ingin menghadapi trauma itu, dia ingin sanggup melihat luka itu.


Karena selama ini dia beranggapan bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Tak pernah menduga jika ada sebuah trauma yang membekas pada dirinya.


"Arfi," panggil Nigar lagi.


Arfi mendongak, mencoba menahan bulir dari matanya. Lantas, kepala itu terjatuh di atas sandaran jok kemudi. Pelan dia menutup mata, sanggupkah dia menghadapi itu sekuat Ardan menghadapinya selama ini?


"Kalau kamu nggak kuat jangan dipaksa, Arfi. Semua akan baik-baik saja jika kamu tidak melihat test pack lagi."


Seketika tangan kekar itu menarik tubuh Nigar di sebelahnya, meletakan kepala pada pundak sempit wanitanya.


"Aku malu saat harus terlihat lemah di matamu. Seperti Kak Ardan, aku ingin sekuat dia dalam mempertahankan segala hal yang penting bagiku."


Nigar membelai wajah Arfi, tidak menjawab. Namun, sikap lelakinya yang seperti ini membuat dia bahagia. Untuk pertama kalinya, si Bungsu yang manja ini ingin mencari kekuatan untuk berdiri sendiri.


"Lihatlah bagaimana Kak Ardan berusaha dan bertindak. Dia sangat ahli dalam apapun. Aku kagum sekaligus iri melihat dirinya."


Satu tangan Arfi mengalungi pundak Nigar, bermanja pada gadis itu layaknya dia anak kecil yang tengah mengadu.


"Bahkan papa dan Kak Arfan saja tak bisa sepertinya. Selalu sempurna dalam mengurus banyak hal." Arfi menarik napasnya.


"Sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Apa jadinya jika anakku tau bahwa ayahnya hanyalah putra kolongmerat yang manja?"


Nigar tertawa mendengar itu, ternyata sikapnya berubah bukan hanya karena trauma. Namun, juga karena pengaruh calon bayinya.


"Kenapa ketawa, hah?" Jemari kekar itu menarik kulit pipi Nigar, menatap Nigar dengan tatapan tak suka.


"Habisnya Arfi lucu."


"Aku serius, Nigar."


Nigar mencoba menghentikan tawanya, dia tarik wajah Arfi dan menangkupkan tangan di pipi putih lelaki tersebut.


"Dengar, Hubby. Aku tau kamu ingin sekali terlihat keren di depan anakmu. Tapi, kamu tak perlu menjadi Kak Ardan untuk melakukannya."


"Aku bukannya ingin menjadi seperti Kak Ardan, aku hanya kagum pada apa yang dia kuasai."


"Kamu boleh mengaguminya, tapi tak perlu menyamainya, Arfi. Ada bagian dari dirimu yang hanya kamu yang memiliki di antara anggota Erlangga lainnya, pun sebaliknya. Aku jatuh cinta oleh karakter yang kamu miliki, sifat, sikap dan semua yang ada di dalam dirimu yang tak Kak Ardan miliki. Begitu juga dengan Hazel, dia pasti jatuh cinta pada Kak Ardan atas apa yang Kak Ardan miliki dan tidak dimiliki oleh orang lain."


Nigar tersenyum dan mengelus sebelah pipi suaminya.


"Pada dasarnya kita memiliki apa pun yang tak dimiliki orang lain. Caramu memperlakukanku, cara kak Ardan memperlakukan Hazel, pasti berbeda. Perlakukan aku dengan cara Arfi mencintaiku, jangan pernah berubah apalagi ingin menyamai orang lain. Karena aku, tak ingin kehilangan apapun dari sisi yang Arfi miliki."


Senyum berderai dari bibir si Bungsu itu. Bening binar mata kecokelatan Nigar dia tatap lekat-lekat. Perlahan wajah itu mendekat, menghapus sisa jarak dan saat ingin mencium. Nigar menoleh.


"Ayo jalan, aku ingin makan jagung bakar,"  ucap Nigar sedikit tersenyum.


Sementara wajah Arfi berubah suntuk, melihat senyum tipis di wajah sang istri membangunkan sifat usilnya.


Pelan dia melepaskan seatbelt yang menahan dadanya.


"Lupakanlah soal jagung bakar."


"Apa?" tanya Nigar menoleh.


Lelaki itu langsung menangkap sisi bahu Nigar, menyudutkannya ke sisi pintu.


"Karena sebelum makan jagung aku ingin memakanmu lebih dulu. Salah sendiri kenapa kamu buat aku gemas."


Nigar tertawa, lalu seketika menjadi sebuah jeritan saat Arfi melakukan ucapannya.


...***...


"Kak!" Panggilan itu membuat lelaki yang tengah terfokus pada laptopnya menoleh. Dia berjalan mendekati gadis berperut sedikit membesar yang tengah terduduk di atas kasur, melambaikan tangan lentiknya memanggil sang suami.


Lelaki beriris cokelat itu berlutut di depan Kinara, memperhatikan wajah manis yang tengah tersenyum tersebut.


Kinara langsung mengamit jemari Pedro, meletakannya di perut bagian bawah.


Hening, untuk beberapa saat Pedro hanya memperhatikan wajah istrinya. Detik selanjutnya dia tersentak saat sebuah gerakan di perut itu menyentuh telapak tangannya.


Dia letakan telinga di atas perut istrinya, walau terbilang belum terlalu besar, tetapi samar gerakan anaknya bisa dirasakan.


"Anjani, kamu merasakannya? Dia bergerak," kata Pedro antusias.


"Tentu saja aku merasakannya, jantungnya dan jantungku berdetak seirama, Kak."


Pedro bangkit, dia meletakan bokongnya di samping sang istri, menarik kepala Nara ke dalam dekapan dengan tarikan napas yang diperdengarkan.


"Terima kasih untuk segalanya, Anjani. Terima kasih telah memilihku untuk menjadi suamimu."


Nara hanya mengangguk, dia usap wajah itu ke dada sang suami lantas mendongak. Mencoba melihat ekspresi Pedro.


"Kapan kontrak kerjamu habis?" tanya Pedro saat sepasang binar itu menatapnya.


Seketika bibir Kinara memanyun. "Masih 2 tahun lebih, Kak. Aku baru saja memperpanjang kontrak sebelum menikahi Kakak."


"Berapa banyak biaya penalti yang harus dibayar jika aku ingin membatalkan kontrak?"


Kinara terkejut, manik matanya membulat dengan sempurna.


"Tentu saja sangat banyak. Sebanyak gajiku selama sisa bulan yang belum selesai ditambah biaya pemutusan yang nominalnya tak kalah besar dari seluruh gajiku."


Pedro menghela napasnya, jika nominalnya sebanyak itu dia akan berpikir puluhan kali untuk membayarnya. Jelas itu nominal yang sangat besar untuk dia.


Lamunan lelaki blasteran itu teralih saat rahang tegasnya dielus lembut oleh Kinara.


"Aku akan menjaga bayi kita. Aku akan fokus mengurusmu dan anak kita setelah selesai kontraknya. Bersabarlah sedikit lagi, Kak. Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar, tapi juga bukan waktu yang lama saat kita melewatinya bersama."


Pedro tersenyum, dia raih wajah istrinya dan membelai lembut.


"Jagalah dan katakan jika ada sedikit saja kesakitan yang kamu rasakan. Ini juga cucu pertama yang di nanti orang tua kita."


Kinara mengangguk dengan manja, baru ingin bermanja dengan sang suami. Ponsel dokter muda itu lebih dulu berdering. Secepatnya Pedro mengangkat saat memgetahui siapa penelponnya.


"Ya, Ardan?"


"Dokter, aku sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar pulau. Bisakah aku meminta pertolonganmu?"


"Katakan!"


"Bantu aku merawat mama selama aku tidak di ibu kota. Aku sudah menitipkannya pada Arfi, tapi aku rasa kamu lebih bisa merawatnya."


Seketika Pedro menarik napasnya. "Ardan, aku tidak bisa ke ibu kota sesukaku. Ada tanggung jawab yang harus kuemban di sini."


Kali ini berganti Ardan yang menarik napasnya.


"Aku sudah katakan padamu, bukan? Bersabarlah, kita tidak bisa memaksa ibumu untuk segera sembuh. Semuanya butuh waktu."


"Delapan tahun," kata Ardan lemas.


"Apa?"


"Delapan tahun sudah aku bersabar dan menunggu. Apa waktu itu masih kurang? Bukan aku tidak ingin menunggu, Pedro. Tapi aku takut tak lagi memiliki banyak waktu untuk itu, kau tau 'kan? Jika tak ada yang tau masa depan, aku takut Mama tidak akan bertahan lagi jika terlalu lama," kata Ardan lembut.


"Mama sudah terlalu lama pergi, aku tidak ingin kehilangan dia lebih lama lagi," bujuk Ardan lagi.


"Tolonglah, kali ini aku meminta sebagai anak yang merindukan ibunya."