For My Family

For My Family
54



Ardan memandangi bayangan rembulan dari permukaan air kolam. Sesekali jarinya memetik senar gitar. Mencoba menghibur diri yang terlanjur pedih.


Sakit karena ulahnya sendiri. Namun jika tidak seperti ini, bagaimana ia bisa bertahan saat wanita itu pergi.


"Tuan." Panggilan itu mengalihkan pandangan Ardan.


Lelaki itu tersenyum, melihat wanita gempal yang berdiri di sampingnya saat ini.


"Sudah berapa kali saya katakan. Jangan panggil saya Tuan, Bu. Saya bukan majikan anda."


"Kalau begitu, saya harus panggil apa, Tuan?"


"Panggil Ardan saja. Kenapa sungkan sekali? Kita sudah beberapa bulan bersama."


"Kalau begitu, Nak Ardan juga panggil saya Mbok saja. Saya gak terbiasa dipanggil ibu."


Ardan menganggukan kepala, kembali memandangi bayangan oranye dari atas permukaan jernih kolam renang di taman belakang.


"Hazel sudah tidur, Mbok?" tanya Ardan lembut.


"Sudah."


"Bagus."


Mbok Darmi meletakan segelas kopi di atas meja sebelah kursi Ardan. Ia menghela napas, melihat dua orang yang semakin hari semakin terlihat asing, dan terus menyakiti satu sama lain.


"Nak Ardan."


"Hem."


"Boleh si Mbok berbicara sedikit denganmu?"


Ardan kembali tersenyum dan menganggukan kepala. Melatakan gitar di sebelah kursi santainya.


"Si mbok gak tahu kenapa kamu dan Hazel itu bertengkar terus. Tapi si mbok mohon sama kamu. Jangan terlalu keras dengan dia, bagaimana juga, dia masih wanita dengan umur yang sangat muda. Sikapnya keras dan suka egois sendiri."


Ardan hanya tersenyum kecut, membiarkan angin malam menyapa dirinya.


"Mbok gak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi kalau mbok boleh jujur, semenjak menikahi kamu. Hazel jarang sekali mimpi buruk, apa saat bersama kamu dia pernah bermimpi buruk tengah malam?"


"Tidak."


Mbok Darmi tersenyum dan melihat ke arah air kolam.


"Walau dia tidak mau mengakuinya, tapi si Mbok tahu dia telah lama jatuh hati padamu. Dia hanya berusaha mengingkari hatinya, tapi alam bawah sadarnya tidak bisa berbohong. Bahwa semenjak ada kamu, dia merasa tenang dan aman. Karena itu dia tidak pernah khawatir dengan masa lalunya."


"Jatuh hati padaku, Mbok?" tanya Ardan tidak percaya.


"Hem, dia memang seperti itu. Keras dan mau memang sendiri. Dia memang tidak mau mengatakan apapun pada siapapun. Sok kuat, sok tangguh, tapi tetap saja terkadang dia itu manja dan lemah."


Sejenak Ardan tercekat, ia baru sadar. Kalau selama ini dia tidak pernah mengenali wanita itu. Bagaimana tingkahnya, bagaimana sikapnya. Semua masih samar, entah Hazel yang terlalu pintar, atau dia yang tidak peduli sama sekali.


"Hazel itu masih 24 tahun. Sama seperti wanita seumuran dia. Dia juga masih labil dengan perasaannya. Sifat dan sikap anak-anaknya juga masih ada, tetapi selama ini tidak terlihat karena beban hidupnya terlalu berat. Tetapi saat bersuamikan dirimu, dia terlihat kembali ke Hazel enam tahun lalu. Hazel yang masih baik-baik saja, tidak pernah terluka oleh masa lalu hidupnya."


"Em, Mbok."


"Iya."


"Bicara soal masalalunya, bisakah Mbok cerita sedikit tentang siapa dia?" tanya Ardan penasaran.


Mbok Darmi meghela napasnya, ia memalingkan wajah ke arah Ardan.


"Kamu mau tahu soal apa?" tanya Mbok Darmi lembut.


"Siapa dia di masa lalu?"


"Si mbok juga gak kenal siapa dia di masa lalu. Tapi saat almarhum suaminya menyelamatkan mbok dari konflik masa itu. Dia bilang kalau ada wanita yatim piatu yang ia rawat di tempat asalnya, dia meminta mbok untuk menemani wanita itu. Anak sulung dari imigran yang berasal dari perbatasan Turki Barat Laut, Ibrahim Pasha dan Gulseren Korel. Gadis yang masih berusia 18 tahun namun sudah berstatus ibu persit."


"18 tahun?" tanya Ardan terkejut.


"Iya, Iqbal terpaksa membawanya pindah. Karena daerah itu terlalu kejam untuk gadis belia yang kehilangan keluarganya karena konflik masa itu. Iqbal jatuh cinta, selain menikahinya, Iqbal tidak meiliki cara untuk melindunginya. Entah karena Hazel mencintai Iqbal atau memang dia tidak lagi memiliki pilihan. Yang mbok tahu, dulu Iqbal adalah salah satu Tentara yang paling Hazel takuti di kesatuannya."


"Kenapa?"


"Karena Iqbal salah satu Tentara dengan prestasi terbaik. Membunuh lawan tanpa ampun."


"Lalu?"


"Tidak jelas bagaimana mereka bisa menikah, yang mbok tahu, selama tiga tahun pernikahannya, Iqbal hanya beberapa kali pulang kerumah. Bahkan saat hamil sampai melahirkan Surya, Hazel hanya berdua sama mbok saja. Dia selalu sendiri, kadang Mbok gak tega lihat dia, tapi dia selalu bilang, tidak masalah mas Iqbal tidak di sini. Yang penting hatinya selalu di sini."


"Mbok kehilangan putra pada masa itu, Iqbal datang dan memberikan perlindugan. Untuk membalasnya mbok mengikuti keinginannya, menjaga istrinya di sini, tapi dari Hazel mbok sadar banyak hal."


"Apa itu?" tanya Ardan semakin penasaran.


"Mbok hanya kehilangan satu orang, tetapi dia kehilangan seluruh keluarganya. Mbok tahu dia gak pernah lupa dengan lukanya, tetapi dia selalu berkata 'aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa'. Bahkan, saat suaminya meninggal dua setengah tahun yang lalu, dia tidak bisa melihat jasadnya, pernikahan mereka tanpa restu orang tua, Iqbal dimakamkan di tempat ia bertugas. Keluarganya ada, tetapi Hazel tidak diizinkan dibawa. Alih-alih untuk melindungi Hazel dari luka yang lebih parah, mereka hanya tidak ingin Hazel melihat suaminya untuk yang terakhir kali."


"Apa yang terjadi dengan keluarganya pada saat itu, Mbok?"


"Entahlah, tapi Hazel selalu berkata. Bukan hanya Iqbal, bahkan ayah, bunda dan kedua adiknya, pergi tanpa berpamitan padanya. Dia tidak pernah melihat jasad mereka semua, entah dikuburkan atau dihanyutkan ke sungai, Hazel sama sekali tidak tahu. Saat itu dia terpisah oleh keluarganya, dia tinggal di asrama kampus. Saat ia kembali, seluruh keluarganya telah pergi. Tidak ada yang tersisa, bahkan hanya selembar poto saja tidak ada. Hanya ada ingatan dan kenangan yang menjadi luka sampai detik ini."


"Dia sering bermimpi, memanggil Omer dan Nigar, sesegukan di tengah malam. Tetapi jika ditanya, dia hanya bilang rindu. Rindu dengan Kenari Kecil, rindu dengan ayah dan bunda. Rindu mereka semua yang sudah tidak bernyawa."


"Kenari Kecil?"


Mbok Darmi tersenyum dan mengangguk pelan.


"Omer, adik Hazel yang paling bungsu. Hazel pernah cerita, dia suka sekali memasukan kacang kenari ke dalam barang-barang Hazel. Sampai malam dingin itu datang, kulit kacang kenari milik Omer masih ada di rumahnya, tetapi orangnya tidak lagi ada di sana. Hanya ada tetesan darah yang mewarnai kulit itu di lantai rumah."


"Bahkan sampai detik ini, melihat kacang kenari saja dia tidak sanggup. Mbok tahu dia sangat terluka, tetapi kenapa dia bisa? Bisa menanggung segalanya sendiri. Bisa berdiri dan bertahan tanpa mengeluh sampai saat ini. Bahkan dia masih bisa tertawa saat bersamamu, bermanja dan juga bertingkah seperti anak kecil di depanmu."


Ardan tertegun, perlahan kerongkongannya terasa mengering. Dengan semua kenyataan yang begitu pedih, saat ini ia malah membuat keadaan wanita itu semakin sulit.


"Baru berumur 21 tahun lebih, status janda dengan seorang putra menderita angelman syndrome. Hazel bertahan sendiri, bekerja menafkahi keluarga kami. Tidak peduli susah ataupun sakit, dia selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh apapun. Terkadang mbok berpikir, saat wanita seusia dia masih bermain dan pacaran, dia sudah sanggup menghidupi putranya dan bekerja siang-malam. Tidak mengeluh, tidak mengiba, hanya diam, dan terus berjalan. Sebenarnya dia itu manusia atau malaikat dari surga? Bahkan seorang lelaki saja tidak bisa sekuat dirinya."


Mbok Darmi melepaskan air matanya, rasanya ada sesak yang mengganjal di dadanya saat menceritakan luka dari wanita yang ia dampingi selama ini.


"Dia hanya gadis belia, yang menjadi sebatang kara dalam satu hari saja. Dia anak dari keluarga berada, tapi dia kehilangan segalanya. Memang dia pernah hampir gila, tetapi dia tidak pernah mengeluh dan marah pada keadaan, dia pasrah. Walaupun hatinya sangat terluka, dia hanya bisa menerima, apapun itu, luka atau suka, pahit atau manis. Semua hanya dia terima, dia tahan. Lama sekali dia tidak tersenyum bahagia semenjak mbok bersama dengannya. Tetapi dia bisa tertawa deganmu tanpa beban, mbok pikir dia mulai terbuka, dia mulai bisa merasakan cinta. Tapi akhirnya dia kembali ke semula, dingin dan tidak banyak cerita. Menahan semua sendiri di dalam hatinya."


Ardan menghela napasnya, kali ini ia benar-benar bersalah. Kenapa ia selalu terlambat mengetahui segalanya. Kenapa dia sebodoh ini dalam cinta.


Selalu saja perhatian terhadap apa yang di depan mata. Tetapi melupakan apa yang terlewatkan oleh masa.


"Mbok, apa Hazel pernah cerita. Kenapa dia mau menikahi saya?"


Mbok Darmi tersenyum, ia menggeleng pelan.


"Kan sudah mbok bilang, dia tidak pernah mengeluh ataupun mengadu. Dia hanya bilang ingin menikah, saat banyak para tetangga yang mencercanya, dia hanya mengatakan pada mbok, percaya padanya, dia tidak seperti itu. Padahal, tanpa dia minta, mbok percaya pada apa yang dia lakukan. Mau itu salah ataupun benar, mbok percaya dia sepenuhnya."


Mbok Darmi melihat ke arah Ardan, melihat wajah lelaki itu yang mulai menampilkam ekspresi sendu.


Binar mata elangnya yang biasa terlihat ganas, kini terlihat kilap saat pantulan cahaya mengenai wajahnya. Berkaca-kaca karena menahan tangisan yang ingin segera hadir di mata sayu tersebut.


"Jadi, apa Mbok gak penasaran. Kenapa dia mau menikah lagi, di saat dia masih mencintai almarhum suaminya?"


"Mbok gak perlu bertanya, karena Mbok percaya. Jika dia benar, dia memang berada pada kebenaran. Tetapi jika dia salah, dia hanya mencoba bertahan dalam masalah, tidak peduli pada apapun yang dikatakan dunia. Dia hanya mencoba bertahan pada kerasnya dunia."


"Hazel itu masih gadis kecil, di mata mbok dia masih Hazel si gadis kecil. Umurnya bahkan lebih kecil dari almarhum putra Mbok. Jadi, dia pastiĀ  banyak melakukan kesalahan, dia pasti banyak mengambil keputusan yang tidak benar. Tetapi Mbok percaya padanya, dia, pasti akan melakukan segalanya dengan baik jika dia tahu itu baik. Dia akan berhenti jika dia sadar itu buruk, dia ... dia hanya gadis kecil, Nak Ardan. Jangan terlalu keras padanya."


Ardan menghapus ujung hidungnya yang mulai berair. Kini sesak itu bersarang di dada tegapnya.


"Dia kesepian dengan menjadi sebatang kara. Dia sendirian saat menjadi janda. Dia terlalu banyak menelan derita."


"Hentikan, Mbok." Ardan menutup kedua bola matanya, merasakan sesak yang kian berat bersarang di dadanya.


"Jangan ceritakan apapun lagi tentangnya," pinta Ardan dengan menelan salivanya berat.


"Aku tidak sanggup mendengarnya. Biar masalalunya berakhir di sana. Aku janji, untuk tidak terlalu keras lagi padanya."


Mbok Darmi menghapus buliran air yang tertinggal di pipinya. Ia tersenyum dan berjalan meninggalkan Ardan sendiri.


Membiarkan lelaki berbadan tegap itu berpikir, menelan setiap cerita yang ia buka tadi.


Setelah mendengarkan langkah kaki pergi, perlahan kelopak mata itu terbuka. Buliran air jatuh dari kedua bola mata sayu itu.


Tanpa suara, tetapi terlihat napas yang begitu berat memasuki rongga dada.


Berjam-jam, Ardan membiarkan lukanya terus terbuka. Menangis di tengah malam tanpa suara dan tanpa isakan. Hanya air mata yang tak bisa berhenti untuk menyapa, terus melintasi pipi agar tetap basah.


Setelah malam kian larut, lelaki itu memutuskan untuk masuk. Jalan dengan sedikit gontai menaiki anak tangga rumah. Perlahan ia membuka pintu kamar Surya.


Ada Hazel dan Surya yang tengah pulas di atas kasurnya. Langkah itu mendekati, menciumi pipi putih istrinya tersebut.


Ia membenamkan wajah di sebelah wajah Hazel tertidur. Melepaskan air matanya yang kembali tumpah dengan deras.


Berkali-kali ia menciumi kepala wanita itu, menyesali segala keangkuhannya selama ini.


"Kesalahanku, kebodohanku, yang telah meyakitimu, maaf. Maaf Hazelku, kamu kembali terluka karena egoku."