
Ferdi terpatri, sepasang binar jernih itu menatap lekat dan dalam. Memandang dalam diam, semu kemerahan di wajah sang belia menumbuhkan desiran di dalam dada.
Berat ia meneguk saliva, dadanya bergemuruh, mulai berhasrat. Terlebih saat deru napas hangat itu berulang kali menghantam wajahnya.
Lelaki berkacamata itu menarik kepalanya. Menjauh dari Sasy sekadar menenangkan degup jantung yang semakin tak karuan.
Berulang kali ia menghela napas, bagaimana juga dia lelaki normal dan berumur dewasa.
"Kak Ferdy." Satu jari mungil Sasy mencolek tangan Ferdi yang terekspose tanpa lapisan.
Lelaki itu bergidik, merinding, ia menarik tangannya, beringsut semakin jauh. Lengan kemeja yang awalnya ia gelung sampai siku, ia tarik dan mengancingnya kembali.
"Kak Ferdy kenapa?" tanya Sasy bergeser mendekat. Kini paha gadis itu berdempetan pada pahanya.
Lelaki itu bangkit dan berpindah, ia memilih untuk membayar makanannya dan masuk ke dalam mobil.
Menenangkan debaran dadanya yang semakin bergejolak panas.
Sementara gadis itu masih terduduk, kebingungan dengan sikap Ferdi yang berubah dingin seketika.
"Apa Kak Ferdi marah karena aku cium?" tanya Sasy bingung sendiri.
Satu jarinya menggaruk kulit kepala, lalu jari itu ia gigit seraya memandangi Ferdi yang duduk di balik kemudi.
"Ih, masa sih Kak Ferdi marah gara-gara aku cium? Kayak anak SD aja?"
Dia mengendikan bahu, tidak merasa bersalah, kembali melahap makanan di dalam mangkuknya.
Sementara di dalam sini Ferdi mulai tidak karuan. Ia membuka dua kancing teratas kemejanya. Panas, gelisah dan resah. Tak tahu mengapa.
Di pelupuk matanya terus terbayang tatapan jernih gadis belia itu. Raut wajah imutnya, seringai nakalnya dan segalanya.
Ia mengacak rambut, membiarkan helaian hitam itu berantakan. Berusaha waras, di saat hasratnya tertantang setelah sekian lama teredam.
"Apa-apaan aku ini? Apa aku benar-benar pedofilia? Yang berhasrat dengan gadis belia?" tanyanya bingung sendiri.
"Waraslah ... waraslah!" rutuknya geram sendiri.
Ia menaikan suhu pendingin di mobilnya, sementara keringat semakin deras mengaliri pelipisnya.
Lalu kepala itu tertumpuh pada jok, memejamkan mata dengan tegukan saliva yang luar biasa beratnya.
Gadis polos itu masih bertahan di meja bakso. Membentang kertas-kertas yang sempat ia remat dan kembali merapikannya. Melipat rapih dan kembali menyimpan di lembaran bukunya.
Detik kemudian dia menghampiri Ferdi, membuka pintu mobil dan begitu saja tertegun saat melihat Ferdi yang tampak berantakan tanpa kacamatanya.
Rambut yang biasa tersisir rapih kini acak-acakan, wajahnya penuh dengan peluh. Dan tegukan salivanya terlihat jelas dari jakun yang naik turun tidak karuan.
Gadis itu naik dan menarik tisu di atas dashboard. Mencoba menghapus peluh di pelipis Ferdi. Tiba-tiba saja tangan lelaki itu mencengkeram kuat.
Mata tipis tanpa kacamata itu menatap tajam. Dengan desahan napas berat tertahan.
"Sasy aku ini lelaki dewasa dan masih normal."
Gadis itu menyeringai, bingung.
"Yang bilang Kak Ferdi gak normal siapa?" tanya Sasy polos.
Cengkeraman itu terlepas, ia memijat pangkal hidung pelan. Sakit kepalanya, jelas-jelas gadis di sebelahnya sama sekali tidak paham dengan apa yang diperbuatnya.
"Kak Ferdi baik-baik saja?" tanya Sasy lembut.
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Kembalilah," ucap Ferdi tanpa melihat Sasy.
"Oh. Ya sudah. Kak Ferdi benar-benar baik-baik saja, kan?" tanyanya cemas.
Lelaki itu mendesah berat, ia mengangguk dengan tangkupan tangan di dahi.
"Ya, pulanglah. Jika kamu tidak ada uang, ambil saja di dompetku."
Lelaki itu menyodorkan dompetnya tanpa menoleh ke arah Sasy. Satu tangan Sasy menolaknya, mata itu masih terfokus oleh kepala Ferdi yang memaling.
Udara di mobil sangat dingin, namun peluh di pelipisnya semakin membanjiri. Bahkan kemeja cokelat muda itu tampak basah.
"Kak, Kakak yakin gak apa-apa?"
"Ya. Pulanglah, akan bahaya jika kamu terlalu lama di sini."
Alis gadis itu bertautan, bingung dan juga tak paham.
"Maksudnya?"
Ferdi mendesis, geram.
'Astaga! Kenapa sulit sekali mengendalikan diri jika bersama dia?' rutuk Ferdi dalam hati.
Gadis itu masih kebingungan, melihat peluh Ferdi yang semakin banjir tak karuan. Ia kembali mengambil tisu dan menghapus sudut pelipis Ferdi.
Mata tipis itu tajam menatap Sasy. Mengapa susah sekali gadis itu mengerti?
Kini satu tangan yang lainnya menyentuh dahi Ferdi. Lelaki itu mencengkeram tangan Sasy lalu mendorong badan itu ke belakang. Sampai punggung gadis itu menempel di pintu mobil.
Deru napasnya menjadi kencang tak karuan. Lamat dan juga lekat, mata tanpa kacamata itu menatap Sasy yang ada di bawah dekapannya.
Gadis itu terkejut, ia beringsut. Ingin mundur, tetapi punggungnya telah terpojok di sudut pintu.
Matanya melebar, deru napas Ferdi yang hangat membuat dia berdebar-debar. Bukan takut, perlahan bibir itu terkulum, manis.
"Sasy, aku ini lelaki dewasa. Apa kau tak paham?" Susah payah Ferdi mengatakannya, entah bagaimana dia menjelaskannya.
"Memang Kak Ferdi dewasa. Terus masalahnya?"
Mata lelaki itu terpejam, ia mengacak rambutnya semakin berantakan.
Itu, malah semakin membuat mata Sasy membelalak lebar. Kali ini, Ferdi terlihat benar-benar tampan.
"Pulanglah, atau aku tidak akan bisa menahan hasrat saat harus semobil denganmu."
Mendengar ucapan Ferdi, gadis itu mulai mencerna. Kedua tangannya mendorong dada Ferdi, kali ini berganti lelaki itu yang tersudut ke arah pintu.
"Kenapa Kakak bisa berhasrat padaku? Apa jangan-jangan ...." Jari telunjuk gadis itu bermain-main di depan wajah Ferdi.
Bukannya takut, dia malah menganggap ini lucu.
Ferdi mendesis, geram setengah mati. Satu tangannya membuka tuas mobil dan berjalan keluar. Mencari toilet umum untuk sekadar mencuci wajahnya yang semakin panas tak karuan.
Di mobil, Sasy terkekeh. Lucu dan juga unik. Seorang lelaki dewasa mengapa bisa begitu berhasrat karena sebuah kecupan sesaat?
***
Sepasang tangan kurus itu mengusap lembut bahu sang suami. Merapikan sisi kemeja yang Ardan kenakan.
"Mas."
"Hem."
Kepala itu terbenam di dada sang suami. Lelaki itu mendesah, mendekap bahu mungil itu erat.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ardan lembut.
"Mas benar-benar tidak apa-apa?"
Bibir tipis itu terkulum, mengusap kepala sang istri dengan lembut.
"Aku baik-baik saja."
"Lalu kenapa Mas dan Arfi bertengkar? Aku gak sengaja dengar, kalo Mas minta Arfi buat melepaskan Nigar. Kenapa?"
Ardan hanya diam, dia tidak mungkin menjelaskan alasannya pada Hazel.
"Mas yang bilang kalo itu bukan ranah kita, kan? Mas boleh, kok kasih saran. Tapi hati Arfi adalah milik dia, pun juga dengan hati dan cinta Nigar."
"Aku tau, Hazel."
Kedua tangan Hazel menyelip di antara tangan Ardan. Memeluk pinggang Ardan dengan erat. Lantas kepala itu mendongak, menatap wajah Ardan dengan tersenyum manja.
"Aku bisa melihat Arfi dan Nigar masih saling mencintai. Kita tidak bisa memisahkannya, Mas. Cinta itu anugerah Allah, kuasa Dia ingin menyematkannya di dalam hati yang mana. Ada alasan kenapa Nigar masih belum memutuskan, dan kita tidak bisa ikut campur di dalamnya, bukan?"
Jari-jari kekar itu membelai wajah sang istri. Bibirnya tersenyum tipis. Namun, sorot mata tajam itu memancarkan kesedihan.
"Adikku lelaki yang manja, Hazel. Aku takut dia tidak akan bisa berkomitmen dengan kuat. Dia itu labil dan tidak sanggup menahan beban. Bagaimana jika adikmu terluka? Bukannya dulu kamu yang tidak setuju mereka bersama?"
"Ya, benar. Tapi bukannya dulu juga Mas yang mengatakan bahwa Arfi bisa berubah."
Lelaki itu terdiam, dia percaya bahwa adiknya akan tumbuh dewasa. Namun, melihat Ferdi yang sulit untuk melupakan mendiang adiknya, ada sesal yang terus menerus tergerus. Ia mulai lelah menahan segalanya.
"Mas, banyak hal yang aku pelajari dari pernikahan kita, pun dengan sikap Mas yang susah dimengerti."
"Oh, ya? Apa?"
"Mas yang suka menanam benci, Mas yang suka melindungi dengan cara menyakiti. Mas terima dimaki, dibenci di apa pun itu. Aku sempat bertanya, mengapa Mas melakukan itu."
"Hazel, itu--" Ucapan itu terhenti saat Hazel meletakan satu jarinya di bibir Ardan.
"Aku belum selesai bicara, dengarkan aku dulu."
Ardan tersenyum simpul. "Baiklah."
"Jika aku lihat selama ini. Mas bukan hanya memindahkan beban kami, aku dan adik-adikmu ke pundakmu. Tetapi Mas juga selalu berusaha membuat kami nyaman dan tetap aman. Tak peduli apa pun yang akan Mas terima. Aku berpikir, mengapa Mas begitu rumit. Perlahan aku menyadari Mas tidak rumit, hanya saja sebagai anak Sulung Mas ingin menjadi pundak untuk semuanya. Dan tidak peduli seberat apa, asalkan kami bahagia, Mas akan lebih bahagia."
Ardan menarik wajah bulat itu, menciumi setiap inci wajah milik wanitanya.
"Aku bersyukur memiliki istri sebijak kamu, Sayang. Terima kasih sudah berusaha memahami."
"Tapi tidak seperti itu juga, Mas. Kan, Mas yang bilang, bahwa pernikahan itu bukan hanya aku dan kamu. Tetapi kita, beban tidak bisa dipikul sendiri, namun bersama. Saat ini kita dua pundak, Mas. Berbagilah denganku, walau pundakku tidak sekuat milik Mas. Tapi pundakku akan kuat untuk menjadi sandaran Mas."
Ardan tersenyum, ia menarik napas dan mendekap badan mungil itu dengan sangat erat.
"Dengar, Sayang. Aku tidak butuh pundakmu. Yang aku butuhkan adalah dekapanmu, lembut usapanmu dan juga segala pengertianmu. Dan satu lagi, percayalah padaku. Itu saja."
"Mas .... "
"Jika aku bilang aku baik-baik saja. Maka aku akan baik-baik saja, tidak usah cemas dan tidak usah khawatir. Aku adalah Ardanmu, dan aku akan baik-baik saja saat bisa memeluk dan mencium harum tubuhmu."
Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Hazel. Gadis bermata madu itu hanya tersenyum simpul, membenamkan wajahnya di dalam dada Ardan.
'Aku tau kamu sangat tangguh, Mas. Dan perlahan aku juga ingin tangguh, agar kamu memiliki tempat untuk mengeluh.'
Gadis itu mendongak, lantas bibirnya tersenyum saat Ardan melihat ke arahnya.
"Aku menyanyangimu, Mas. Sungguh, hanya sayang padamu."